The Unexpected Love

The Unexpected Love
Menuju Final



happy reading ♥️


Setelah tahu siapa lawan Elang besok, pemuda itu melihat pada Leo yang tengah menyunggingkan senyuman seringai di wajahnya. Pada akhirnya mereka akan benar-benar bertanding dengan cara yang fair.


Leo tersenyum miring, matanya menantang Elang. Sepertinya ia sudah tak sabar untuk melawan Elang besok.


Elang abaikan segala intimidasi yang Leo berikan, ia tak mau terpancing. Bagi Elang yang terpenting saat ini adalah bagaimana menyelamatkan Nayla dari musuh besarnya itu.


"Ayo pulang!" Ucap elang pada sang adik.


"Kamu juga, Nay !" Ucap Elang tanpa mau dibantah dan herannya Nayla menuruti perkataan pemuda itu. Ia berjalan berdampingan dengan Amelia. Sedangkan Elang berada tepat di depannya.


" Lo liat kan ? Si Elang beneran suka sama cewek culun itu ! Apa bagusnya dia sih ? Gue lebih segala-galanya dari dia," Raung Vony seraya menghentak-hentakkan kaki.


"Pokoknya cari cara biar si Elang mau sama gue !! Atau gue aduin semua kenalan loa nyokap !" Ancam Vony pada sepupunya itu sembari pergi meninggalkannya sendiri.


Leo memaki kesal, mami Vony adalah seorang ibu-ibu sosialita yang suka bergosip dengan bumbu-bumbu tambahan. Sudah terbayang apa yang akan terjadi pada dirinya jika Mami Voni tahu tentang semua kenakalan yang dilakukannya.


***


Keesokan harinya jam jam 08.00 pagi semua anggota tim basket Elang sudah berkumpul di tepian lapang begitu juga dengan Nayla Amelia dan teman-teman yang kemarin memberikan dukungan. Mereka sudah duduk manis sambil membawa bendera-bendera kecil bertuliskan nama-nama pemain.


Elang duduk di atas lantai lapang sesekali ia melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan Leo yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Selain pada Leo, mata Elang sering tertuju pada Nayla.


Elang sadar diri, seharusnya ia tidak selalu memperhatikan Nayla agar gadis itu tidak dalam bahaya. Karena keteledorannya Leo dan Vony mengetahui jika Elang ada hati pada Nayla.


Tapi si gadis polos itu malah tidak mengetahuinya, sepertinya Nayla tidak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun sehingga ia tidak peka bahwa Elang menaruh rasa padanya.


Sedangkan Rafa, pemuda itu semakin frustasi karena sikap Amelia yang semakin galak padanya, sejak Gadis itu mematahkan bendera bertuliskan namanya di depan mata. Semua gara-gara Angela yang dengan jelasnya meminta pada Rafa untuk pulang bersama. Padahal sumpah demi apapun Rafa tidak ada Rafa tidak ada rasa pada gadis itu.


Tapi bukan Rafa jika dirinya menyerah, ia bangkit dari tempatnya duduk untuk menghampiri Amelia yang kini sedang melambai-lambaikan bendera kecil bertuliskan nama Elang.


"Nay.. maaf ya, kayaknya benderanya tertukar, "ucap Rafa seraya merebut bendera bertuliskan namanya dari tangan Nayla dan memberikannya pada Amelia kemudian ia melakukan hal yang sama yaitu mengambil bendera bernama elang kemudian menyerahkannya pada Nayla.


"Ish apaan sih ? Gak tertukar !! Aku mau nama Elang," protes Amelia dengan memberikan tatapan sengit pada pemuda itu.


Tapi Nayla malah menggenggam erat tongkat penyangga bendera itu seolah-olah dia ikut menggoda Amelia padahal yang sebenarnya terjadi memang ia ingin bendera yang bernama Elang.


"Rafa bisa menang kalau Amelia yang dukung. Kalau bukan, hati Rafa jadi lemah gitu, "gombal Rafa.


Mata Amelia langsung melotot mendengar perkataan Rafa itu.


"Eh kok hati, maksud Rafa kakinya. Jadi Rafa nggak bisa lari gitu, Mel," ralat nya cepat.


"Bodo amat !!" Sengit Amelia seraya merebut kembali bendera bernama Elang dari tangan Nayla.


"Kamu bisa minta dukungan sama yang kemarin ngajakin pulang bareng, bukan sama aku," sahut Amelia galak seperti biasanya.


Bukannya marah, Rafa malah melengkungkan senyuman jahil di wajahnya.


"Ayank cemburu ?" Tanya Rafa.


" Kalo gak cemburu harusnya mau aja pegang bendera nama Rafa," ucapnya dengan tersenyum penuh ledekan.


Mendengar itu Amelia langsung menukar kembali benderanya dan kini ya mengibar-ibarkan bendera bernama Rafa. Pemuda itu tersenyum puas melihatnya.


"Nih lihat !! Aku gak merasa cemburu atau apa pun," ucap Amelia.


"Oke makasih, jangan di tukar lagi ya," ucap Rafa seraya meninggalkan gadis galak itu untuk kembali ke timnya yang sedang berkumpul meninggalkan Amelia yang tengah merangkai kata dalam bahasa asing untuk pemuda itu.


"Lo seneng banget sih godain adek gue," ucap Elang saat Rafa duduk tepat di sebelahnya.


" Adek lo gemesin," sahut Rafa.


"El, lo nanti tahan emosi ya gue yakin si Leo pasti ngincar lu tapi tenang aja gue pasti baking lu dari belakang," lanjut Rafa.


Elang anggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Rafa memang seorang sahabat yang baik terlepas dari sifatnya yang terkadang konyol dan sering mengganggu adiknya. Berita tentang dirinya yang akan bertanding melawan Leo sudah tersebar luas bahkan beberapa teman Elang dari SMA yang lama hadir di pertandingan itu untuk memberikan dukungan padanya dan berjaga-jaga bila terjadi keributan maka mereka akan turun tangan. Para teman Elang itu duduk tersebar di setiap pojok ruangan agar kehadiran mereka tidak mencolok.


Tak lama, tim sekolah Bakti Bangsa yang dikapteni oleh Leo pun tiba. Mereka memasuki ruangan dengan angkuhnya. Mata Leo langsung tertuju pada Elang ketika ia sampai. Senyuman miring meremehkan kembali terukir di wajahnya.


Tapi kini bukan elang saja yang Leo cari keberadaannya. Ia edarkan matanya ke bangku-bangku penonton yang letaknya tak jauh dari Elang. Mata Leo menatap tajam pada seorang gadis lugu yang sedari kemarin menarik perhatiannya.


Elang yang menyadari tentang hal itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya Ia membawa Nayla dan menyembunyikannya dari tatapan para pria terutama Leo.


Di bangku penonton Amelia bergerak dengan gelisah. "Nay, kayaknya aku 'dapet' deh. Antar dulu ke toilet yuk sebelum sebelum pertandingannya dimulai,"


"Ayok ! Aku temenin," ucap Nayla dan gadis itu pun lebih dulu berdiri daripada Amelia.


Keduanya turun dari bangku penonton dan berjalan menuju toilet yang berada di dalam gedung itu. Keadaan toilet cukup ramai saat Amelia dan Nayla memasukinya. Ternyata tim pemandu sorak sedang berada di dalam sana dan merapikan riasan mereka.


Vony si ketua tim mengembangkan senyum palsu di wajahnya saat ia melihat kedatangan Amelia dan Nayla. Sedangkan Angela, gadis yang menyukai Rafa menatap sinis pada Amelia.


Amelia dan Nayla tidak menanggapinya, keduanya hanya tersenyum samar basa-basi. Amelia memasuki salah satu bilik toilet sedangkan Nayla menunggunya di luar.


Setelah beberapa menit berlalu, Amelia pun keluar dari bilik itu dan segera mencuci tangan di wastafel. Kemudian mengajak Nayla untuk pergi.


Vony berbisik-bisik dengan Angela sambil memperhatikan kedua gadis itu. Senyum seringai menghiasi wajah Vony juga Angela saat ini.


Nayla hampir sajak terjatuh ke atas lantai toilet jika Amelia tidak sigap menahan tubuh temannya itu. Langkah Nayla terjegal salah satu kaki pemandu sorak yang dengan sengaja menahan langkahnya.


"Kamu nggak apa-apa ?" tanya Amelia yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Gak apa-apa Mel," jawab Nayla dengan wajahnya yang pucat karena terkejut.


"Makanya kalau jalan hati-hati," Sahut Vony berpura-pura baik.


Amelia langsung memberikan tatapan membunuh kepada gadis itu dan juga pada anggota tim pemandu sorak yang lainnya. Ia tahu jika ada seseorang yang dengan sengaja berusaha mencelakai sahabatnya itu. Nayla yang dikerjai tapi Amelia juga ikut merasakan sakit hati.


"Jika kalian menyakiti Nayla, maka kalian berurusan denganku juga," ucap Amelia dengan jelasnya. Dia tak merasa takut walaupun yang dihadapinya saat ini adalah senior-seniornya di sekolah.