The Unexpected Love

The Unexpected Love
Ayo Bicara



"Harus mau ! Pokoknya kamu harus mau !" Rafa sama kerasnya dengan gadis itu.


"Nggak !!"


"Harus mau !! Kamu harus belajar nurut sama aku. Karena aku ini calon suami kamu, Mel,"


Deg !


Amelia berhenti berontak saat Rafa mengatakan itu. Matanya membola seketika. Dan debaran jantungnya kian menggila hingga ia takut Rafa bisa mendengarnya.


Rafa sedikit uraikan dekapannya saat Amelia tak lagi berontak tapi ia pun masih tak rela untuk melepaskan seluruhnya. Sungguh ia menikmati keberadaan Amelia dalam dekapannya


"Lepaskan, aku," pinta Amelia dengan lirih. Dekapan tubuh rafa membuatnya tak berdaya.


"Akan aku lepaskan jika kamu tak lagi berontak,"


"Aku tak akan berontak lagi," janji Amelia.


Tapi setelah beberapa detik Rafa belum juga melepaskan pelukannya.


"Rafa..," lirih Amelia seolah memohon.


Rafa yang mendengar itu melengkungkan senyumnya. Ia merasa senang Amelia tak memanggilnya dengan embel-embel 'Kak' lagi.


"Aku akan melepaskanmu jika kamu berjanji mau berbicara denganku lagi dengan tenang,"


Rafa eratkan pelukannya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain mengangkat dagu Amelia agar gadis itu melihat padanya.


Pandangan mata mereka beradu, dan terkunci untuk beberapa saat. "Kamu semakin cantik, Amelia," gumam Rafa. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


"Dan kamu terlihat... Babak belur," jawab Amelia.


Rafa tertawa mendengarnya. "Tapi aku masih ada manis-manisnya kaya dulu kok, Mel. Sumpah !" Bela Rafa.


"Jadi... Mau ya kita bicara ?"


Amelia menganggukkan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah ia bisa terlepas dari dekapan tubuh lelaki itu. Masalah bicara, ia bisa menghindarinya lagi nanti.


Sesuai yang Rafa janjikan, laki-laki itu uraikan pelukannya dan kini tubuh Amelia telah terbebas.


Rafa tak tahu jika selama dalam dekapannya, tubuh Amelia melemah hingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang saat ia melepaskan dekapannya.


"Mel !" Cepat-cepat Rafa merengkuh pinggang gadis itu agar tak terjatuh.


Wajah putih pucat Amelia kini merona merah. Rengkuhan tangan Rafa di pinggangnya terasa begitu kuat. Pemuda itu telah dewasa, auranya sangat berbeda dengan saat ia masih remaja.


"Aku harus kembali bekerja," Amelia mengusir halus laki-laki itu agar pergi. Dirinya belum siap menerima kehadiran lelaki itu didekatnya.


Rafa pun mengerti. " Pulang jam berapa ?" tanya Rafa.


"Aku dijemput Elang,"


"Aku gak nanya siapa yang jemput, aku nanya pulang jam berapa ?"


" Jam 7 pagi," walaupun enggan, akhirnya Amelia memberikan jawaban.


Rafa melihat pada jam yang berada di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, agar cepat sembuh," lagi-lagi Amelia mengusir halus lelaki itu.


"Ya aku akan pulang dan kembali lagi untuk menjemputmu,"


"gak u.....,"


"Kita akan bicara, tadi kamu udah janji," potong Rafa yang tak ingin mendapatkan penolakan dari Amelia.


Laki-laki itu berjalan mendekati, mengikis jarak antara keduanya. Seperti tadi, ia mengangkat dagu Amelia dengan jempolnya hingga bertemu pandang mata mereka.


"Jangan coba-coba lari dariku. Aku tak akan segan-segan untuk memelukmu seperti tadi. Dan jika itu terjadi, aku tak akan melepaskannya lagi," ucap Rafa dengan serius. Suaranya terdengar berat dan dingin hingga Amelia tak berkutik di buatnya.


Yang bisa gadis itu lakukan hanya mengangguk patuh.


"Good girl," ucap Rafa. Ia pun mengacak puncak rambut gadis itu dengan telapak tangannya.


"Aku pulang, jam 7 pagi aku akan datang ke sini untuk menjemputmu." Rafa lebih dulu keluar dari tirai itu dan di susul oleh Amelia kemudian.


Amelia tatapi punggung kokoh Rafa yang bergerak kian menjauh. Lelaki itu berjalan dengan jas yang tersampir di satu lengan dan satu tangan lain merogoh kantong celananya.


Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bentuk wajahnya yang tegas dan dihiasi lebam membuatnya terlihat sangat maskulin. Sungguh berbeda dengan Rafa di masa SMA.


Untuk beberapa saat Amelia terpaku melihatnya.


Tapi, cepat-cepat Amelia kembali pada pekerjaannya. Menyibukkan diri agar lelaki itu pergi dari kepalanya.


***


"Gimana ?" Tanya Elang cemas saat Rafa memasuki mobilnya.


"Gue dipukulin pake sarung tangan," jawab Rafa dan tawa Elang pun meledak seketika.


"Dan bertubi-tubi !" Tambah Rafa. Maka, semakin meledak lah tawa Elang saat mendengarnya.


"Dia bilang benci gue. Terus bilang kenapa gue datang lagi. Kenapa ya, El ?"


"Gue janji mau nyari dia," jawab Rafa.


"Mmmm... apa gue terlambat, El ? Dia beneran mau nikah ?" Tanya Rafa.


"Mau dijodohin ma anak temennya bokap gue," jawab Elang tanpa beban.


"Gue terima kiriman foto dari lo, pas lagi ada acara kantor. Gue yang waktu itu menjadi penerjemah buat atasan gue tiba-tiba nge-blank gak bisa ngomong gara-gara lihat foto adek lu pake gaun pengantin. Sampai-sampai gue dikira kesambet setan," jelas Rafa dan lagi-lagi Elang tertawa.


"Terus kerjaan Lo udah beres ?" Tanya Elang.


Rafa menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, gue langsung minta cuti buat ketemu Amelia,"


"Bos lu ngasih izin ?"


"Alhamdulillah ngasih, soalnya dia takut gue kesambet setan lagi," jawab Rafa.


Tawa Elang pecah entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Gue serius !!" Sela Rafa.


" Tiba-tiba gue jadi speechless, gak bisa ngomong apa-apa lagi. Gue gemetaran dan jadi gagap pas menterjemahkan bahasa. Semua kosa kata yang gue inget langsung bubar jalan dari dalam kepala," jelas rafa.


"gue ngerasa senang, terpesona dan takut pas lihat foto Amelia. Tapi banyaknya takut sih, takut gue telat jemput dia,"


Rafa terlihat serius saat berbicara tentang sang adik. Membuat Elang yakin jika lelaki itu benar-benar mencintai adiknya.


"Gue tinggalin kerjaan gue, biar bisa ketemu adek lo, El."


"Sekalinya ketemu digebukin," ledek Elang.


"Digebukin ma kakaknya juga," sinis Rafa.


"Eh itu kan idenya dari lo !" Protes Elang tak terima.


Rafa menarik nafasnya dalam sembari menyadarkan tubuhnya di kursi. "Tapi walaupun digebukin, gue seneng," ucap Rafa.


"Gue bisa peluk dia lama, gue bisa rasain Amelia dalam dekapan gue. Kalau bukan di rumah sakit udah gue cium bibir dia, El," Rafa menghela nafasnya saat menceritakan hal itu.


"Mati-matian gue tahan diri buat gak cium bi-bibir A-amel," mendadak Rafa menjadi gagap saat berbicara, karena Elang sudah memberikannya tatapan mata horor.


"A-apa El ?" Tanya Rafa takut-takut.


"Yang lo bilang peluk cium itu adek gue !!" Hardik Elang galak. Saat ini ia sedang dalam mode 'Kakak' hingga ia tak melihat Rafa sebagai sahabatnya.


"Lo berani macam-macam terus nyakitin adek gue, awas aja lo !" Ancam Elang sembari memelototkan matanya.


"Ya calon istri, ya calon kakak ipar... Galak semua... Apa salah Rafa, ya Allah..," gumamnya nelangsa.


***


Tepat pukul tujuh pagi Rafa sudah duduk di bangku yang berada di lobi rumah sakit. Ia telah datang dari 30 menit yang lalu.


Rafa sengaja datang lebih awal karena takut ada seseorang yang melarikan diri darinya. Lelaki itu sudah mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya untuk bertemu gadis yang menjadi cinta pertamanya.


Di ujung lorong Amelia berjalan dengan jas putih yang tersampir di lengannya. Ia tak sendirian, di sebelahnya terdapat 2 orang gadis lainnya tapi bagi Rafa hanya Amelia yang mencuri perhatiannya.


Rafa langsung berdiri menyambut kedatangan gadis yang terus berjalan mendekatinya. Inginnya Rafa menyapa gadis itu dengan panggilan mesra dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan seperti semalam.


Tapi tak mungkin ia lakukan itu karena pasti Amelia akan memukulinya dengan jas dokter yang berada di lengannya. Jadi yang ia lakukan hanya menyapanya dengan cara biasa.


"Mel," sapanya sembari tersenyum lebar secerah sinar mentari pagi.


Amelia hanya tersenyum tipis dan ia berpamitan pada dua temennya yang lain sebelum menemui Rafa.


"Mau ngomongin apa ? Aku ngantuk," Amelia kembali judes tapi Rafa berusaha mengerti karena pasti gadisnya itu sangat kelelahan karena menjadi dokter jaga semalaman.


"Pagi ini kita hanya akan sarapan, terus pulang," ucap Rafa.


Amelia tak banyak bicara, ia hanya menatap Rafa


dengan pandangan yang sulit diartikan.


"kamu pasti cape karena begadang semalaman kan ? jadi sebaiknya kita pulang saja setelah sarapan. malamnya baru kita bicara berdua," jelas Rafa.


"sebenarnya kamu mau ngomongin apa sih ?"


"Mau jelasin semuanya tentang...,"


"ku rasa udah gak perlu lagi," potong Amelia cepat.


"kenapa ?"


"Itu hanya cerita konyol masa remaja kita. Sudah tak berarti apa-apa untuk ku. lagian aku...," Amelia menjeda ucapannya.


Rafa menunggu dengan cemas kelanjutan dari kalimat yang hendak hendak katakan. "apa?" tanya Rafa tak sabaran.


"lagian aku sudah dijodohkan dengan lelaki lain pilihan Papi,"


to be continued