The Unexpected Love

The Unexpected Love
Alasan



Amelia hentikan langkahnya saat ia berada di titian tangga dan melihat heran pada kesibukan banyak orang di lantai bawah.


"Nay ? Mau ada acara apa ?" Tanya Amelia seraya mengerutkan keningnya. Ia melihat banyak orang yang menata kembali letak kursi-kursi. Ruang tengah keluarganya di tata ulang dengan meninggalkan ruang lebih banyak ditengah-tengahnya. Tak hanya itu, kue-kue yang tadi malam dibuat pun ditata dengan rapi di atas meja.


Nayla tak menjawab, ia menggandeng tangan adik ipar yang sekaligus sahabatnya itu untuk menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan yang letaknya ada di bagian belakang rumah.


Di sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Nayla tak juga menjawab pertanyaan yang tadi Amelia lontarkan padanya. Dan Amelia juga tak lagi bertanya. Ia pikir, semua dilakukan karena sang Oma dan keluarganya yang lain masih berada di rumahnya.


Sesampainya di ruang makan, pandangan Amelia beradu dengan Elang. Lelaki jangkung itu duduk tepat di sebelah sang oma dan ia sedang menikmati sarapan paginya.


Amelia melirik Nayla dengan ujung mata, dirinya merasa tak enak hati karena membuat sahabatnya itu tak duduk bersama suaminya. Rambut Elang pun tak basah. Bisa dipastikan jika Elang tak mendapatkan jatahnya tadi malam.


"Nay, kamu duduk dekat Elang gih ! biar aku di sini sama Noel, sepupuku," titah Amelia.


ruang makan itu terdiri dari 6 kursi yang saling berhadapan jadi bisa di duduki oleh 12 orang. Elang dan sang Oma duduk saling bersebalahan di bagian ujung dan di hadapan Elang masih ada sebuah kursi yang belum diisi. Oleh karena itu ia meminta Nayla untuk duduk dekat dengan suaminya. sedangkan Amelia memilih kursi yang letaknya di bagian ujung yang lainnya.


"Mami yang duduk di sana, biar aku deket kamu aja," sahut Nayla sembari menggeserkan sebuah kursi untuk ia duduki. Selama Nayla melakukan itu, Elang memperhatikannya dari kejauhan.


Padahal mereka berada dalam satu meja yang sama dan jaraknya pun tak begitu jauh. Tapi Elang sangat merindukan kehadiran istrinya itu di sisinya.


Bukan berarti Nayla tak peduli padanya dan lebih memilih Amelia. Sarapan Elang pun Nayla yang menyediakannya. Padahal itu hanya setangkup roti berisikan selai kacang dan coklat. Begitu juga dengan secangkir kopi yang berada di hadapan Elang. Sang istri lah yang menyeduhnya.


Nayla layangkan senyuman untuk Elang dari kejauhan dan itu membuat sang suami membalasnya dengan sedikit malu-malu.


Tadi pagi, Mami Elang berbicara pada Nayla. Ia meminta maaf atas nama Amelia. Sang mami bercerita jika Elang sangat dimanja oleh Oma mereka sejak kecil. Entah kenapa bisa begitu tapi memang itulah kenyataannya dan sekarang pun Nayla bisa melihatnya.


Apa yang Elang inginkan pasti akan Omanya turuti, dan sebagai anak kecil tentu Amelia merasa cemburu pada kakaknya itu.


Jika Elang memiliki sang Oma yang begitu sayang padanya, maka Amelia mempunyai seorang Nayla yang menurutnya hanya milik dia seorang. Sahabat yang sangat menyayangi dirinya lebih dari seorang saudara. Sahabat yang sangat perhatian dan tak dimiliki siapapun.


Dari remaja yang Amelia ceritakan hanya tentang kebaikan Nayla saja. Bahkan saking beratnya Amelia untuk mengatakan kata-kata perpisahannya dulu, ia terus mengulur waktu dan berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Karena menurut Amelia, Nayla itu sangatlah berharga.


Tak heran jika Amelia merasa sangat kecewa saat mengetahui Elang akan melamar Nayla. Ia merasa benci pada Elang yang sudah memiliki segalanya tapi masih menginginkan apa yang Amelia miliki yaitu Nayla, sang sahabat.


Walaupun pada akhirnya Amelia menyetujui pernikahan mereka dengan alasan ternyata Nayla pun sudah mencintai Elang sejak lama. Tak mungkin Amelia menghalangi kebahagiaan sahabatnya sendiri. Hanya saja terkadang sifat egois dan tak ingin kalahnya dari Elang sering muncul dan itu pasti berkaitan dengan Nayla.


Mendengar cerita Mamih membuat Nayla dan Elang pun lebih mengerti bagaimana perasaan Amelia. Sebisa mungkin keduanya akan lebih berkompromi dengan situasi yang ada. Nayla akan berusaha untuk tak berubah sikap pada Amelia walaupun kini ia sudah menjadi seorang kakak ipar.


"Nay, ngelamunin apa sih?" tanya Amelia hingga membuat Nayla tersadar dari lamunannya.


"aku lagi bingung mau makan nasi atau roti ya?" jawab Nayla beralasan sembari menyudahi tatapan matanya pada Elang.


"Nay, Elang gak marah karena kamu duduk di sini sama aku?" tanya Amelia takut-takut.


"nggak kok" Sahut Nayla sambil tersenyum.


"kamu yakin Elang gak marah ?"


"iya, aku yakin Elang gak marah. jadi tenang saja," Lagi-lagi Nayla mengatakan jika ia dan Elang baik-baik saja.


Amelia pun tak bertanya lagi, yang ia lakukan adalah menikmati sarapannya. Dirinya merasa begitu lapar dan juga lemas karena perseteruannya dengan Elang tadi.


"sesudah sarapan ini kamu datang ke kamarku ya, " titah sang Oma pada Amelia. dan dari nadanya berbicara terdengar jika ia tak suka dengan sebuah penolakan.


***


Amelia bergegas ke kamar Omanya itu, ketika baru saja selesai dari makan pagi bersama. dirinya sangat terkejut ketika sang Oma memberinya sebuah dress satin berwarna pink kecoklat- coklatan. Gaun itu membuat Amelia terlihat sangat cantik dan manis.


" Oma harap kamu mau memakainya hari ini," ucapnya lagi dengan bahasa asing yang bisa Amelia mengerti.


" Terimakasih oma, tapi untuk apa aku harus mengenakannya ?"


" karena itu akan sangat berarti bagi Oma," jawab sang Oma dengan tatapan penuh arti pada cucunya itu.


Amelia pun mengalah. Ia merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh omahnya. setelah selesai membersihkan diri Amelia pun mengenakan mengenakan gaun pemberian Omahnya itu. selain karena menghargai pemberian sang omah, Ia juga sangat menyukainya


pukul 10.00 pagi rumah Amelia terdengar gaduh, padahal kini dirinya sudah berada di dalam kamar yang berada di lantai 2 tapi suara bising orang-orang yang saling berbicara bisa terdengar jelas oleh Amelia.


"Mel, udah mandinya ? turun yuk ajak Nayla dari balik pintu,"


"oke tunggu sebentar," sahut Amelia sembari memoleskan sebuah lip gloss di bibirnya yang berwarna merah muda alami itu.


"ada apa sih Nay ?" tanya Amelia pada sahabatnya itu sembari menggandeng tangannya dan berjalan menuruni tangga.


Nayla tak menjawab, ia malah membicarakan hal lain yang lebih menarik perhatian Amelia hingga tanpa mereka sadari sudah berjalan menuruni tangga sambil mengobrol dengan serunya


langkah Amelia terhenti tepat di tengah-tengah tangga. ia terkejut luar biasa saat melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenali tengah duduk bersama kedua orangnya.


to be continue


jangan lupa tinggalkan jejak ya