The Unexpected Love

The Unexpected Love
Curiga



Happy reading ♥️


"makanya kamu harus hati-hati, El. coba kalau kamu tetap diam sama aku mungkin kamu tak akan merasa sakit seperti ini," ucap Vony yang terdengar ambigu di telinga Elang.


Mata Elang yang tengah fokus pada tangannya kini beralih pada Vony dan melihatnya penuh tanda tanya.


"Ma-ma maksud aku kalau kamu nggak tiba-tiba bergerak dan diam saja di atas ranjang dekat aku, tentunya selang infusmu tak akan berdarah dan membuat panik semua orang" jelas Vony tanpa diminta.


Tapi Elang menangkap arti lain dari kalimat yang diucapkan Vony. Elang menyimpulkan bahwa jika ia tidak memberikan perhatiannya pada Nayla maka ia tak akan mengalami hal ini. Terbaring di rumah sakit. Bila Elang memilih Vony maka semua akan selamat, begitulah kira-kira.


Apakah saat ini Vony sedang memberikan ancaman atau peringatan pada Elang?


"Sudah," ucap Papi Elang setelah membetulkan posisi selang infusan Elang hingga cairan merah itu sudah tak terlihat lagi.


"Kamu jangan banyak bergerak, El," pinta Papi Elang, dan Elang pun menganggukan kepala mengiyakan ucapan ayahnya itu.


Elang kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata terpejam. Dalam kepalanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang Nayla.


Bila kata orang jatuh cinta itu sangat indah rasanya tapi kenapa bagi Elang semuanya terasa menyiksa. Sesak di dada yang selalu Elang rasakan saat ia melihat Nayla. Hanya mengagumi tanpa bisa memiliki.


Vony masih saja duduk di dekat Elang, padahal lelaki itu sudah tak ingin lagi berbicara dengannya. Orang tua Elang juga tak bisa meminta Vony pergi begitu saja, karena rasanya tak tega mengusir anak gadis orang yang sudah baik-baik datang untuk menjenguk anak mereka.


Merasa kehadirannya diterima, Vony segera membawa bingkisan yang tadi ia letakkan di atas nakas dan kini berpindah ke atas meja di mana Mami Elang sedang duduk di dekatnya. "aku bawa banyak makanan loh, Mam," ucapnya sembari mengeluarkan apa saja yang ada di dalam 2 paper bag itu.


"oh terima kasih banyak, maaf jadi merepotkan kamu," sahut Mami Elang.


Vony melengkungkan senyuman karena ia merasa senang Mami Elang bisa menerim kehadirannya. "kalau untuk Elang aku tidak merasa direpotkan kok," timpal Vony sumringah.


Mami Elang pun dengan terpaksa memakan kue yang Vony bawa. Ia berusaha untuk menghargai kebaikan anak gadis itu. Apa yang mami Elang lakukan membuat Vony semakin senang saja.


"El, aku suapin ya ? mau kue apa ?" tawar Vony.


"Aku pengen tidur," jawab Elang menolak tawaran dari Vony.


"ya udah, nanti bangun tidur aku suapin kamu kue," jawab Vony. Amelia yang mendengar itu membolakan matanya tak percaya.


"Dasar gak tahu malu," lirih Amelia hampir tidak terdengar tapi sang Mami rupanya mendengar itu semua karena ia menyikut tubuh Amelia agar gadis itu diam.


"aku kalau tidur lama, kayak orang mati," jawab Elang mengisyaratkan agar gadis itu cepat pulang saja.


"Selama itu kah ?"


"iya, jadi sebaiknya kamu pulang karena kepala aku masih sakit kalau terlalu banyak ngomong," jawab Elang sambil terbaring dan memejamkan mata tanpa sekalipun ia melihat pada gadis yang kini tengah duduk bersama ibunya itu.


"Elang masih harus banyak beristirahat, "Mami Elang menambahkan.


Hati Vony mencelos seketika ia sadar bahwa Elang menginginkannya untuk pergi.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Tante. Besok aku datang lagi untuk melihat keadaan Elang," ucapnya sambil berdiri dan merapikan diri.


"Terima kasih banyak sudah peduli pada Elang. Kamu kan besok harus sekolah, tak usah memaksakan diri untuk datang kemari. cukup doakan saja Elang agar cepat sembuh," ucap Mami Elang lembut.


Vony tersenyum kecut, niatnya untuk menemui Elang setiap hari ditolak dengan telak. Padahal momen ini ingat ya gunakan sebaik-baiknya sebagai ajang pendekatan pada Elang.


Bukankah perhatian akan dapat meluluhkan hati seseorang ? ibarat sebuah batu yang terkena tetesan air terus-menerus, akhirnya batu itu pun akan membentuk cekungan akibat dari tetesan air yang turun di permukaannya dan itulah yang sebenarnya Vony harapkan. ia ingin perhatiannya yang tulus dapat meluluhkan dan membuka hati Elang untuk mencintainya.


"Baiklah Tante, saya pulang," ucap Vony berpamitan dan ia pun menyalami Papi Elang yang sedari tadi tak banyak bicara. Mungkin darah sang Papi lebih banyak mengalir di dalam tubuh elang sehingga mereka memiliki sifat yang hampir sama yaitu Tak banyak bicara.


"El, aku pulang ya.. kamu cepat sembuh.."


"Terimakasih," ucap Elang singkat.


Vony pun pergi meninggalkan tempat Elang dirawat.


"Oh Tuhan....," gumam Mami Elang seraya menarik nafas dalam.


"ada apa? "tanya Papi Elang pada istrinya itu.


" apakah begitu sikap anak gadis di zaman sekarang ini?"


"maksud kamu? "tanya Papi Elang sambil berkerut dahi tanda tak paham.


" iya apakah semua gadis bersikap seperti itu? sangat agresif! "


"aku tidak! "protes Amelia "dan Nayla juga tidak begitu, " tambahnya lagi.


"Yang aku taksir gak ada, tapi yang naksir aku banyak," sombong Amelia.


"Tapi mereka gak berani maju karena takut dia," tunjuk Amelia pada Elang yang terbaring di atas ranjang.


Mami dan Papi Elang tertawa mendengarnya.


"Nayla juga banyak yang suka beberapa hari lalu ia baru saja ditembak oleh teman satu kegiatan ekstrakurikulernya,"


"Uhuk-uhuk-uhuk," tiba-tiba Elang langsung bangkit dari pembaringannya karena ter batuk-batuk hingga wajahnya memerah.


Mami Elang segera berdiri dan menghampiri anak lelakinya itu dengan segelas air putih. "Mami kira kamu sudah tidur El, "ucap Mami Elang sambil menyodorkan segelas air putih untuk Elang minum.


Elang sedikit mengaduh karena ia merasakan sakit di belakang kepalanya saat ia terbatuk-batuk.


"kok kamu jadi batuk gini sih El? apa sakitnya nambah? "tanya Mami Elang.


"aku sehat kok Mih, Besok juga Elang sudah bisa sekolah, " jawab Elang buru-buru.


"Tunggu sampai kamu benar-benar sehat," ucap Papi Elang.


"Elang udah merasa sehat kok, Pih," kukuh Elang.


Papi dan Mami Elang saling beradu pandang dan tersenyum penuh arti secara bersamaan.


***


Di tempat lain, Nayla baru saja sampai di depan rumahnya.


"terima kasih sudah nganterin aku ya Kak, " kata Nayla pada Bimo.


Nayla membuka seat belt dan menyampirkan tas selempangnya di bahu. iya cukup terkejut saat melihat Bimo pun membuka seat belt yang digunakannya.


"kakak.... ?" Nayla sedikit panik melihat Bimo pun akan turun dari mobilnya.


"Aku ingin melihat keadaan Nadia sebentar," ucap Bimo seolah-olah paham apa yang ada dalam pikiran Nayla.


"mmm.. ta... tapi...,"


"Apa ada Alex ? gak apa-apa kok, kak Bimo kenal dengan suaminya. Lagian kan aku dan kakakmu masih berteman baik, Nay. Aku rasa Alex pun akan mengerti,"


"Bu-bukan begitu...," ucap Nayla sembari menundukkan kepala.


"Hah ? lalu apa ?"


"se-sebenarnya Mbak Nadia gak ada di rumah," ucap Nayla penuh sesal karena telah berbohong.


"Loh... tadi kamu bilang pengen pulang karena Nadia membutuhkanmu,"


"i-iya maaf... sebenarnya kak Nadia ada di Jakarta,"


"Jadi... sebenarnya kamu hanya ingin pulang saja ?" tanya Bimo dan Nayla pun mengangguk pelan. Sungguh ia merasa malu karena ketahuan telah berbohong.


"Kenapa pengen pulang ? Elang gak jahat kan sama kamu?" tanya Bimo.


"Kak El baik kok sama aku," jawab Nayla.


"Lalu kenapa? Apa karena Vony? "


"Hah ?" Nayla seketika mengangkat wajahnya saat nama Vony terucap dari bibir Bimo. mata gadis lugu itu membulat, iya tak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Ngh.. nggak kok bukan karena siapa-siapa," jawab Nayla bohong dan Bimo pun tersenyum penuh arti karenanya.


"Ya udah gak apa-apa, ayo aku anterin kamu sampai pintu rumah sekalian pamitan sama ibu,"


Nayla pun mengiyakan dan menyetujui ucapan Bimo.


Nayla berjalan lebih dulu daripada Bimo. lelaki itu memperhatikan tubuh Nayla dari arah belakang dengan banyak pikiran di kepalanya. "Jangan-jangan...," batin Bimo bertanya-tanya tentang sesuatu yang ia curigai.


To be continued ♥️


thanks for reading ♥️