
Masih berlanjut
Cepat-cepat Rio memungut ponselnya yang terjatuh dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana.
"Ayo kita makan," ajak Rio dan Nayla pun tersenyum menyetujuinya.
Keduanya berjalan berdampingan sembari membicarakan banyak hal. Termasuk film yang baru saja mereka tonton. Setelah berkeliling beberapa menit lamanya. Memilih-milih? Makanan yang menggugah selera.
Untungnya Nayla bukanlah seorang pemilih makanan. Hampir semua jenis makanan ia akan menyukainya apalagi yang rasanya pedas. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk memakan ramen di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan itu.
Sebenarnya Rio mengajak Nayla untuk makan di tempat yang mewah tapi karena di luar cuaca sedang hujan deras dan Nayla pun malas untuk pergi ke tempat lain, maka mereka pun memutuskan untuk tetap tinggal di sana.
Rio menyukai kesederhanaan Nayla dan gadis itu semakin mempesona dengan kepandaiannya. Mereka juga berbicara mengenai pekerjaan dan bisa Rio lihat jika Nayla begitu hati-hati saat membicarakan perusahaannya. Ia tak mau salah bicara yang dapat merugikan tempatnya bekerja.
Sedangkan Nayla, ia pun cukup senang menghabiskan waktunya bersama Rio. Pria itu cukup menyenangkan di mata Nayla. Dia cerdas, supel dan juga memperlakukan perempuan dengan baik. Misalnya saja, tadi Rio yang menggeserkan kursi untuknya duduk, bahkan ia menawarkan jaketnya untuk Nayla karena udara memang cukup dingin.
Tak seperti Elang, pemuda itu langsung menjatuhkan hoodie hitam miliknya ke atas Nayla tanpa terlebih dahulu menanyakan Nayla memerlukannya atau tidak.
" Lagi-lagi Elang !" Keluh Nayla dalam hati. Sampai-sampai Nayla terdiam untuk sesaat seolah waktu berhenti begitu saja.
"Nayla ? Nay ?" Tanya Rio karena Nayla terdiam dengan pandangan mata kosong.
"Hah? Ah sorry...," Nayla tersenyum canggung karenanya.
Rio pun tersenyum, " ada yang lagi kamu pikirin ? Dari tadi aku beberapa kali lihat kamu melamun. Apa kamu gak suka dengan kencan ini ?" Tanya Rio.
Nayla terhenyak mendengar itu semua. Tak menyangka jika Rio ternyata memperhatikannya. Tapi tak mungkin Nayla mengatakan hal yang sebenarnya bukan ?
" Emm... Biasalah kerjaan.. ada beberapa laporan yang belum selesai dan kenapa aku harus ingatnya sekarang ya ?" Jawab Nayla dan tentunya saja ia bohong. Semua laporan yang Nayla maksudkan sudah selesai semuanya dan sudah diberikan kepada Alex tadi pagi.
" Mikirin kerjaan emang gak ada habisnya," sahut Rio menyetujui.
" Aku kira kamu gak suka dengan kencan kita hari ini," lanjut Rio.
Nayla yang mendengar itu mengulum senyumnya. " Suka kok, walaupun kita baru pertama kali pergi bersama tapi aku menyukainya," ucap Nayla yang sudah bertekad untuk membuka hatinya untuk pria lain.
" Benarkah ?" Tanya Rio dengan melengkungkan senyumnya lebar dan Nayla mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kalau begitu, boleh kah aku mengajakmu untuk bertemu lagi ?"
" Sure," jawab Nayla.
" Bagaimana jika makan siang besok ? Kantor kita kan gak terlalu jauh jaraknya,"
" Boleh," jawab Nayla lagi. Bibirnya tersenyum karena merasa kencannya kali ini berjalan lancar tapi hatinya masih saja terasa hampa.
***
Keesokan harinya Rio sudah menghubungi Nayla sejak pagi. Laki-laki itu memberikan ucapan selamat pagi dan kata-kata yang memberikan vibes ( getaran ) positif sebagai saat. Rio juga tak lupa mengingatkan janji temu siang ini untuk makan bersama.
Pukul setengah dua belas siang Nayla sudah merapikan mejanya dan bersiap untuk pergi. Ia menarik nafas dalam seolah berat untuk melakukannya.
" Nay, mau ikut makan sama Mbak Nadia? " Tanya sang kakak yang baru saja tiba di mejanya untuk mengajak Nayla makan siang bersama.
"Mmmm nggak Mbak,"
"Kamu mau makan si kantin kantor ?"
"Ngh... Nggak juga," jawab Nayla.
" Lah.. terus mau makan di mana ?" Tanya Nadia. Ia adalah tipe yang sangat melindungi adiknya hingga kadang merasa khawatir berlebihan. Nadia harus tahu kemana dan dengan siapa Nayla pergi padahal gadis itu sudah berusia 23 tahun.
" Aku makan di cafe XX, sama... ,"
" Sama siapa, Nay ?" Tanya Nadia tak sabaran.
" Sama Rio, Mbak,"
" Rio yang kemarin nonton sama kamu ?" Tanya Nadia dan Nayla pun mengiyakan.
" Hubungan kalian berlanjut ?"
" Hubungan apa Mbak ? Aku cuma temenan dan ini yang kedua kali ketemu,"
" Hati-hati ya Nay... Bukannya mbak berburuk sangka atau gimana tapi kita harus waspada Apalagi dengan laki-laki yang baru kita kenal. selain itu kamu juta jangan mau kalau dia mengajakmu ke apartemennya, Mbak takut dia ngerjain kamu." Nadia mulai memberikan ceramah panjang lebar pada sang adik. Ia mengingat bagaimana pertama kali Alex mengajaknya ke apartemen. Laki-laki itu menceburkan Nadia ke dalam kolang renang.
Jika teringat kejadian itu Nadia sering merasa kesal pada Alex tapi anehnya malah dirinyalah yang lebih dulu merasakan cinta.
Nayla mendengarkan ceramah Nadia dengan sabar. Ia hanya akan mengangguk patuh dan tak berani membantah perkataan sang kaka. Nayla tahu jika Nadia lakukan itu semua karena ia sangat menyayangi dirinya.
Pukul 12 siang Rio sudah menjemput Nayla. Mau tak mau ia pun harus meninggalkan Nadia sang kakak yang melepasnya pergi dengan rasa cemas padahal Nayla sudah berjanji untuk jaga diri.
Nayla pun pergi dengan Rio untuk makan siang bersama.
***
Nadia kembali me ruangannya dan ternyata sudah ada Alex di sana menantinya. " Kamu dari mana" tanya Alex seraya merengkuh pinggang Nadia dan menarik tubuh istrinya itu agar mendekat dan padu tubuh mereka.
Tanpa memberikan kesempatan kepada Nadia untuk menjawab, Alex lebih dulu membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan memagutnya lembut.
Semakin lama ciuman itu semakin penuh tuntutan, Alex melibatkan belaian lidah dalam ciumannya bahkan ia menahan kepala Nadia agar tak menjauh darinya.
"Mmmmhhhh...," Gumam Nadia karena ia kesulitan untuk bernafas.
Walaupun enggan tapi akhirnya Alex melepaskan tautan bibir mereka. " Ini agar kamu ingat jika kamu telah memiliki suami yaitu aku," ucap Alex seraya menyentuh bibir Nadia yang basah karena ulahnya.
Bukan tanpa alasan Alex memberikan ciuman panas pada istrinya itu. Siang ini Alex akan makan siang dengan calon kliennya sedangkan Nadia akan makan siang bersama dengan para sahabatnya yang di dalamnya terdapat Bimo si mantan dan juga kakak Elang.
Alex memang tak pernah melarang Nadia untuk bertemu dengan para sahabatnya. Tapi ia masih saja memberikan sesuatu yang akan diingat Nadia jika mereka berjauhan.
" Aku selalu ingat padamu, Alex. Jangan khawatir," ucap Nadia seraya meletakkan satu telapak tangannya di dada Alex dan menatap lembut mata hitam suaminya yang berkilat itu.
" Good girl," sahut Alex.
" Baiklah aku pergi ya," Alex berpamitan pada istrinya itu.
Nadia pun mengantarkan sang suami hingga keluar pintu ruanganmya. Alex kembali mencium bibir Nadia sekilas sebelum ia benar-benar pergi dan Nadia hanya tersenyum saja menanggapinya.
Nadia tatapi punggung suaminya yang kian menjauh pergi ditemani oleh Heru sang asisten. Untung saja Nadia belum masuk ke dalam ruangannya karena ternyata Alex menolehkan kepalanya dan melihat pada sang istri. " I love you !" Teriak Alex dari kejauhan. Tak peduli jika ada yang mendengarnya. Nadia hanya tersenyum dan menggumamkan kata-kata yang sama untuk suaminya.
***
Nadia menikmati makan siang bersama Meta juga Bimo yang belum lama ini datang dari luar negeri. Seperti biasa laki-laki itu membawakan Nadia dan Meta banyak oleh-oleh.
Selama makan siang berlangsung Nadia beberapa kali melihat pada ponselnya seolah tengah menunggu sesuatu.
" Alex nyariin ?" Tanya Meta.
" Hah ? nggak kok, dia udah tahu kalau aku makan siang sama kalian,"
" Terus kenapa ?.kamu kelihatannya lagi cemas karena sesuatu," lanjut Meta. Ia sangat tahu tentang sahabatnya itu.
Bimo yang sedang menikmati minumannya pun memperhatikan Nadia yang memang terlihat cemas.
" Mmmhh... Aku khawatir sama Nayla,"
" Kenapa si Nay ?" Tanya Meta.
" Mmmh.... Dia mulai berkencan dan beberapa hari ini selalu menghabiskan waktunya bersama laki-laki itu padahal mereka belum lama kenal,"
" Pffftttttt," Bimo langsung menyemburkan minuman dalam mulutnya saat ia mendengar apa yang Nadia ucapkan.
" Lu kenapa, Bim ?" Tanya Meta
" Ah shiiitt !!! sorry ya," ucap Bimo sembari membersihkan diri dan meja yang terkena minumannya tanpa menjawab pertanyaan Meta.
" Ya udah sih gak apa-apa, Din. Udah waktunya Nayla kenal cowok, dia udah cukup dewasa," ucap Meta lagi.
" Iya aku tahu, tapi ini pertama kali Nayla berhubungan dengan laki-laki, walaupun usianya 23 tahun tapi dia minim pengalaman. Aku jadi khawatir aja," jelas Nadia.
" Setuju ! Setuju sama Adin !! Nayla emang usah berusia 23 tahun tapi dia gak boleh berhubungan dengan pria lain !" Ucap Bimo dan itu membuat Nadia dan Meta terheran mendengar ucapan Bimo.
" Sejak kapan Bimo menjadi peduli pada Nayla ?" Tanya keduanya dalam hati.
to be continued ♥️