The Unexpected Love

The Unexpected Love
Cinta Kamu



"Apa kamu juga kangen aku ?" Tanya Elang seraya memeluk Nayla dengan melingkarkan kedua tangannya. Padahal ia sudah tahu jika Nayla merasakan hal yang sama. Hanya saja Elang ingin mendengarnya langsung dari mulut sang istri.


Nayla tersenyum jahil dengan kepala menengadah, melihat pada Elang. "Nggak kangen, biasa aja," jawabnya bohong. Dan ia tersenyum jahil pada suaminya itu


Elang merajuk, ia mencebikkan bibirnya sembari memicingkan mata. Tak ingin kalah, Elang pun merogoh benda pipih di sakunya. Ia menggulir layar, membuka galeri foto di ponselnya dan menunjukkan namanya yang tertulis di permainan scrable yang ada di atas meja. Bahkan Elang tak merapikannya sama sekali karena ia sangat suka dengan apa yang Nayla lakukan dalam merindukannya.


"Lalu ini apa ?" Tanya Elang sembari menunjukkannya pada Nayla.


Wajah Nayla bersemu merah. Ia tersenyum malu-malu pada suaminya itu. Dan sumpah demi apapun Elang sangat menyukainya. Itulah yang sangat Elang rindukan. Si istri yang menggemaskan.


Mati-matian Elang menahan diri, untuk tak memangku Nayla bagai koala dan memberinya banyak ciuman mesra. Untungnya Elang masih sadar ia berada di mana.


"Sebaiknya kita pergi. Gak enak dilihatin gini," ajak Nayla. Kini keduanya menjadi pusat perhatian karena berpelukkan erat di tengah-tengah lobi kantor di mana banyak orang-orang yang berlalu lalang.


Elang tersenyum menyetujui. Elang masukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Tapi, ia belum juga mau melepaskan pelukannya. Membuat Nayla sedikit mwnggeliat gelisah. "Sayang," rengek Nayla terdengar manja. "Ayolah, orang-orang liatin kita,"


"Katakan dulu..," pinta Elang.


"Katakan apa ?" Nayla balik bertanya dengan matanya yang bulat itu.


"Katakan.. kamu kangen aku," jawab Elang tanpa mengalihkan pandangannya dari Nayla. Menuntut kekasih hatinya itu mengatakan kata-kata rindu seperti dirinya.


"Tapi aku nggak...,"


"Nay ! Kamu mau kita berpelukan sampai pagi di sini ?" Potong Elang cepat.


Nayla tersenyum lalu balas pelukan Elang sama eratnya. Ia letakkan salah satu sisi pipinya di dada Elang dan mendengarkan debaran jantung suami yang sangat dirindukannya itu.


"Kangeeen.. kangen banget sama kamu sampai-sampai sering gak bisa tidur," jawab Nayla terdengar nelangsa tapi yang ia katakan adalah sebenarnya. "aku selalu mikirin kamu," lanjut Nayla seraya mengeratkan pelukannya seolah tak ingin kehilangan.


"Yang aku lakukan setiap hari hanyalah menunggumu pulang, agar bisa memeluk kamu seperti ini. Mendengarkan debaran jantungmu dan merasakan hangatnya pelukan kamu. Aku kangen, Elang. Kangen banget sama kamu," lanjut Nayla lagi dengan matanya yang mengembun.


Apa yang Nayla katakan membuat jiwa Elang terguncang. Tiba-tiba saja rasa bersalah menghantui dirinya. Elang sudah mencintainya sejak remaja. Dan walaupun pernah terpisah lama, nyatanya cinta itu tak pernah sirna. Tapi kini setelah resmi bersatu dalam ikatan pernikahan, Elang malah meninggalkannya.


"Maafin aku..," ucap Elang dengan bibirnya yang gemetar.


Mendengar nada suara Elang yang berubah membuat Nayla menengadahkan kepala. Nayla tak mau sesuatu terjadi diantara mereka yang baru saja bertemu.


Dengan sekuat tenaga Nayla tersenyum pada Elang. Mengenyahkan rasa galaunya yang tadi tiba-tiba saja menghampirinya. Ia berikan senyuman termanis nya. "Dimaafin, kalau traktir makan yang enak," sahut Nayla.


Senyuman manis Nayla adalah obat paling manjur untuk Elang karena lelaki itu pun ikut tersenyum jadinya.


"Ayo !" Ajak Elang seraya menguraikan pelukannya. Tangannya kini beralih pada jemari Nayla dan menggenggamnya. Mereka berjalan berdampingan dengan jemari yang saling bertautan.


Nayla menurut saja saat Elang menutupi kepalanya dengan hoodie hitam miliknya. Lelaki itu juga membuat simpul tali di leher sang istri agar ia tak kedinginan. "Masih aja gemesin kaya dulu," ucap Elang yang tak bisa menahan rasa gemasnya.


Melihat Nayla dalam balutan sweater hoodie hitamnya membuat Elang merasa loncat ke beberapa tahun yang lalu saat ia dengan sengaja meminjamkan nya pada Nayla.


"Ayo ! Nanti hujannya tambah besar !" Elang meraih jemari Nayla dan mengajaknya berlari kecil menerjang rintikan air hujan untuk mencapai mobilnya yang terparkir.


Elang membuka kunci pintu otomatis mobilnya saat jarak sudah dekat. Keduanya segera berlari memasuki mobil milik Elang.


'blam !' baru saja Nayla menutup pintunya, tiba-tiba saja Elang menarik dagunya dan menyatukan bibir mereka dengan sempurna.


Elang menangkup wajah Nayla dengan kedua telapak tangannya agar kepala istrinya itu tak menjauh darinya.


Elang memagut bibir Nayla dengan pelan-pelan dan penuh perasaan. Seolah-olah menyatakan rasa rindunya yang sangat membuncah.


Nayla pun balas ciuman suaminya itu dengan sama lembutnya. Melampiaskan rasa rindunya yang tak terkira.


Cukup lama keduanya berpagutan bibir hingga Elang mengakhirinya lebih dulu. Matanya menatap sayu pada wanita di hadapannya. Elang usap bibir Nayla yang basah karena ulahnya.


"Aku cinta kamu, selalu...," Ucap Elang dengan sangat jelasnya.


"Aku cinta kamu, selalu..," Sahut Nayla, ia pun merasakan hal yang sama dengan Elang. Bahwa dirinya selalu mencintai Elang dan hanya lelaki itu saja yang dicintainya.


Elang tersenyum, lalu menyalakan mesin mobilnya. "Mau makan di mana?" Tanya Elang.


"Tadinya aku mau kasih kejutan makan malam romantis untuk kamu besok. Tapi malah kamu yang lebih dulu beri aku kejutan," ucap Nayla.


"Baiklah, jika begitu kita akan malam romantis," sahut Elang penuh semangat. Ia pun memacukan mobilnya menuju sebuah tempat untuk membeli makan malam mereka.


***


"Bagaimana suka ?" Tanya Elang seraya membersihkan saus di ujung bibir Nayla dengan jempolnya.


Nayla mengangguk tegas. "Suka !" Ucapnya seraya mengunyah burger keju di dalam mulutnya.


Keduanya membuat kemah khusus untuk malam ini di depan televisi. Dengan kasur dan selimut tebalnya. Ditemani beberapa potong ayam goreng, burger, kentang dan minuman ringan.


Inilah kencan romantis Elang dan Nayla malam ini.


to be continued