
"Satu lagi sumpah ku di hari itu yang belum menjadi kenyataan tapi sebentar lagi akan tercapai,"
"Apa ?" Tanya Amelia takut-takut.
"Aku bersumpah akan datang ke kota cinta itu dengan kamu sebagai isteri ku,"
Blush !
Amelia merasakan panas di pipinya dan ia yakin jika wajahnya yang putih pasti sudah merona merah. Karena tiba-tiba saja debaran jantungnya berdetak lebih kencang dan tak karuan.
"Gemesin banget sih ayangnya Rafa," ucap Rafa sambil tersenyum lebar, menikmati wajah cantik merona merah si gadis impiannya.
"Apaan sih," sanggah Amelia sembari mencebikkan bibirnya kesal.
"Eh iya bukan ayang lagi tapi calon isteri," sahut Rafa dengan wajahnya yang malu-malu.
Keduanya berdiri saling berhadapan dengan gerak tubuh yang sama-sama salah tingkah. Rasanya baru kemarin Amelia berusia 16 tahun dan mendapatkan ciuman pertama tepat di hari ulang tahunnya.
Kini 8 tahun kemudian ia kembali berdiri saling berhadapan dengan lelaki yang sama, lelaki yang memberikan....
'Cup !' kecupan Rafa di bibir Amelia menyadarkan gadis gadis itu dari lamunannya. Rafa mencium bibirnya lagi untuk yang kedua kalinya.
Mata Amelia membola saat ia rasakan bibir kenyal Rafa mengulum bibirnya rasa-rasa. Lelaki itu menahan kepala Amelia dengan kedua tangannya agar sang gadis tak menjauh darinya.
Dunia Amelia terasa berhenti berputar untuk sesaat. Yang ia rasakan hanya luma-tan bibir Rafa di atas bibirnya. Amelia pun pejamkan matanya dan membalas ciuman lelaki itu dengan susah payah karena ia sangat tak berpengalaman dalam berciuman.
Satu-satunya lelaki yang pernah mencium bibirnya adalah Rafa dan lelaki itu juga yang kini menjadi ciuman keduanya dan seterusnya karena dalam hitungan bulan keduanya akan menikah.
Sekeras apapun Amelia menyangkal perasaannya sendiri dan berusaha melarikan diri dari lelaki itu tapi nyatanya ia selalu kembali padanya.
Rafa uraikan tautan bibir mereka karena sungguh ia tak akan bisa menahan dirinya jika mencium Amelia lama-lama. Sudah dipastikan ia akan memangku paksa gadis itu ke kamarnya dan melakukan lebih dari sekedar ciuman.
Bayangkan saja, perasaan cinta Rafa sudah terpendam 8 tahun lamanya. Perasaan itu sudah meletup-letup dalam dirinya ingin segera disampaikan pada gadis impiannya.
"Kamu manis banget kaya strawberry," lirih Rafa tepat di atas bibir calon istrinya itu dengan nafas yang memburu. Dahi keduanya saling bersentuhan lembut, begitu juga dengan puncak hidung mereka yang saling bergesekan pelan. Deru nafas Rafa yang hangat menerpa wajah Amelia yang merona merah karena ulahnya.
Mendengar apa yang Rafa ucapkan membuat Amelia tersenyum salah tingkah. Gadis judes itu akhirnya bisa bersikap lembut dan malu-malu.
Dan sikap itu hanya ditunjukkan pada Rafa seorang.
"Tuh kan, Amelia akan luluh kalau ketemu pawangnya," ucap Elang pada Nayla sang istri. Saat ini keduanya tengah menatap pada Rafa dan Amelia yang sedang dalam mode mesra. Bahkan tadi Elang sempat melihat keduanya berciuman.
Sifatnya sebagai kakak yang selalu ingin melindungi sang adik muncul ke permukaan. Elang sempat ingin memisahkan Rafa yang berani mencium sang adik. Sepertinya Elang lupa jika lelaki itu adalah calon suami Amelia. Untung saja Nayla datang dan mengingatkannya.
"Iya... Mereka terlihat sangat cocok. Aku yakin mereka akan bahagia," sahut Nayla menyetujui.
Elang tersenyum, melihat keduanya dari kejauhan. Ia salut pada Rafa yang mau setia dan juga sabar dalam menghadapi sang adik yang galak itu.
Cinta tulus Rafa mengalahkan kerasnya sikap Amelia.
"Kita makan yuk... Jangan ngintip yang lagi pacaran," ajak Nayla pada suaminya itu. Elang pun menyetujuinya dengan mengikuti langkah sang istri menuju ruang makan.
Sedangkan di luar sana, Rafa masih enggan untuk melepaskan Amelia dari kuasanya. Padahal dalam dadanya pun lelaki itu merasakan debaran jantungnya kian menggila.
Belum pernah Rafa bisa berhadapan sedekat ini dengan Amelia. Karena biasanya gadis itu akan bersikap galak jika Rafa mendekat padanya.
Mereka memang sudah tak lagi berciuman tapi Rafa masih enggan melepaskan Amelia dari jangkauannya. Ia memeluk gadis itu dengan erat.
"Gak mau lepasin... Rafa sengaja meluk kamu kaya begini biar digerebek terus nikah kita dicepetin kaya Elang," sahut Rafa yang tahu jika Elang dan Nayla ketahuan berciuman di hari lamarannya.
"Iihhh gak mau, kan malu," cicit Amelia dengan wajahnya yang kembali memerah.
Lagi-lagi Rafa merasa gemas pada Amelia entah untuk yang ke berapa kalinya. Gadis itu bersikap sangat berbeda dari biasanya. Rafa sadar jika perubahan sikap Amelia bermula dari ceritanya tentang kota cinta. "ternyata Rafa itu so sweet banget ya Allah...," Rafa memuji dirinya sendiri dalam hati. Ia tersenyum lebar karenanya.
"Nanti malam dinas jam berapa ?" Tanya Rafa.
"Hmm jam 4 sore aku udah berangkat ke rumah sakit," jawab Amelia.
"Rafa jemput, boleh ya ?"
Amelia menganggukkan kepalanya pelan. Ia masih tak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Ia pun tak mengerti mengapa saat ini hatinya begitu lemah pada lelaki yang tengah memeluknya erat.
"Boleh ya ?" Tanya Rafa lagi. Ia bertanya dengan lembut dan wajah penuh mohon yang begitu menggemaskan. Rafa memberikan tatapan mata puppy eyes pada gadisnya itu.
Tatapan mata yang malu-malu, penuh mohon dan juga sedikit rasa sedih di dalamnya. Tatapan mata yang bertujuan untuk menyentuh hati Amelia agar mau berbelas kasih padanya.
Ditatap seperti itu membuat Amelia kembali salah tingkah. "Iya boleh ! Dan.. dan aku gak suka ditanya-tanya terus," sahut Amelia dengan judesnya. Ia berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya yang tak juga hilang.
"Galak banget sih calon istrinya Rafa. Untung Rafanya cinta banget sama Amel, jadi Amelia marah aja Rafa makin cinta," ucapnya gombal seperti biasa.
"Mulai deh ngegombal !" Sahut Amelia seraya memutar bola matanya malas. Ia teringat bagaimana Rafa yang selalu berkata-kata manis penuh gombalan.
"Cuma sama kamu aja Rafa berani begitu, karena memang itu yang Rafa rasakan dalam hati," jawabnya beralasan.
"Tau ah !!" Sahut Amelia malas.
"Meell... Rafa... !!" Terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil nama keduanya.
"Masuk yuk ? Gak enak ini kita dicariin," cicit Amelia karena Rafa masih saja memeluknya erat.
"Nggak nunggu digerebek dulu ?" Tanya Rafa.
"Iihhh gak mau...," Rengek Amelia seraya mencubit gemas perut Rafa yang ternyata terasa begitu liat. Lagi-lagi pipi Amelia merona merah.
Rafa terkekeh, bukannya merasa sakit tapi geli lah yang ia rasakan saat Amelia mencubit perutnya.
"Ya udah deh, sepertinya kita belum beruntung karena tak ada satpam komplek yang menangkap basah kita." Ucap Rafa.
"Iisshhh," Amelia berdecak kesal mendengarnya.
"Ya udah kita masuk yuk ?" Ajak Rafa dan Amelia menganggukkan kepalanya menyetujui.
Rafa pun uraikan pelukannya, tapi dirinya masih enggan untuk melepaskan. Rafa pun meraih tangan Amelia pada genggamannya. Keduanya berjalan menuju dalam rumah dengan jemari yang saling bertautan.
to be continued
thanks for reading
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
terimakasih.