The Unexpected Love

The Unexpected Love
Tied The Knot



Selamat Membaca


Matahari sudah menampakkan cahayanya dengan indah. Seorang gadis sudah duduk di depan cermin dengan beberapa orang makeup artist yang didatangkan khusus untuk mendandaninya.


Ini adalah hari besarnya dimana si gadis akan menyatu dalam ikatan suci pernikahan dengan lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Lelaki yang tak pernah hilang dari hati dan pikirannya sejak ia masih usia remaja hingga kini ia telah menjadi seorang wanita dewasa.


"Cantik banget, Nay," puji sang sahabat dengan tulus. Padahal ia adalah adik sang mempelai pria tapi ia memilih untuk menemani Nayla yang sudah menjadi sahabat setianya sejak lama. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Amelia saat kakaknya menikahi sahabatnya sendiri.


Nayla tersenyum pada sahabatnya itu melalui pantulan cermin. Ia masih merasa tak percaya jika hari ini dirinya dan Elang akan menikah.


Semua terjadi begitu cepat. Setelah menanti 8 tahun lamanya, akhirnya mereka akan menikah setelah Elang menepati janjinya untuk kembali 3 bulan lalu.


Mata Nayla berbinar-binar, wajahnya memancarkan aura bahagia yang sangat kentara. Ia selalu mengulum senyumnya. Nayla nampak sangat bersinar hari ini.


"You are the most beautiful bride in the key world," ( Kamu adalah pengantin tercantik di seluruh dunia ) puji Amelia lagi. Gadis itu melayangkan pandangan mata penuh puja pada sahabatnya.


"Waktu berlalu dengan cepat sekali ya, Nay. Padahal rasanya baru kemarin usia kita 16 tahun. Mengenakan seragam putih abu dan duduk di kantin sekolah untuk melihat lelaki yang kita sukai dan aku tak pernah menyangka jika lelaki yang selama ini kamu taksir adalah si es balok," ucap Amelia dan itu membuat Nayla tertawa.


Nayla merasa terbang ke kehidupan di masa remajanya yang selalu di penuhi tentang Elang. Bagaimana ia selalu membayangkan wajah lelaki itu di setiap malamnya saat ia menjelang tidur. Ditemani lagu First Love dari Nikka Costa yang benar-benar menggambarkan perasaannya saat itu. Elang adalah cinta pertama Nayla. Lelaki yang selalu Nayla impikan hampir di setiap malamnya.


Nayla ingat bagaimana perasaannya waktu itu. Ia hanya bisa melihat Elang dari kejauhan dengan hatinya yang selalu bertanya-tanya. Apakah Elang pun menyadarinya ? apakah mungkin Elang merasakan hal yang sama ? apakah suatu hari Elang akan membalas cintanya ?


"Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap," gumam Nayla pelan. Ia mengingat mantra cintanya yang sia-sia.


"Dan sekarang waktunya kamu menikmati kopi Starbakmu, Nay," sahut Amelia yang mendengar gumaman Nayla.


Lagi-lagi Nayla lengkungkan senyuman di bibirnya.


"Dan aku tak pernah menyangka jika si es balok itu pun ternyata menyukaimu. Pantas saja ia selalu datang ke sekolah pada sore hari padahal dia gak ada kegiatan apapun di sana. Ternyata ia lakukan itu untuk mengantarmu pulang les," lanjut Amelia bercerita tentang masa remaja mereka.


"dan kamu ingat gak Nay ? Elang akan memberiku banyak uang untuk jajan di kantin jika itu denganmu, ternyata dia lakukan itu untuk mentraktirmu secara tak langsung,"


"Tahukah kamu, Mel ? saat Elang meminjamkan hoodie hitamnya aku merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia," sahut Nayla menimpali. Ia tersenyum saat membayangkannya.


"Kalian sangat konyol !" kata Amelia sambil tertawa.


"ternyata tanda-tanda cinta itu sudah nampak sejak lama hanya saja kalian tak bisa mengekspresikannya," lanjut Amelia lagi.


Semua kenangan masa remaja Nayla bermunculan di benaknya bagaikan potongan-potongan film. Dan kisah mimpinya yang menjadi kenyataan terdengar seperti sebuah syair lagu cinta.


"Elangnya udah datang," ucap Nadia yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan di mana Nayla tengah bersiap-siap.


"Yaa Tuhan, Nay.... cantik banget," ucap Nadia lagi dengan mata berkaca-kaca. Ia terpesona oleh penampilan sang adik yang terlihat pangling dalam balutan kebaya putih khas Sunda.


"Elang sudah datang?" Tanya Nayla debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Hu'um, kini ia bersiap untuk mengucapkan ijab kabulnya. Kamu akan dipertemukan dengan Elang begitu ia selesai melakukannya," jawab Nadia.


"Nay, aku mau lihat kakakku mengucapkan ikrar nya," ucap Amelia yang sedari tadi terus menemaninya.


"ayo ! Mbak Nadia juga mau !" Nadia menggandeng tangan Amelia. Meninggalkan Nayla dengan beberapa orang yang bertugas untuk mendandaninya.


Pov Elang.


Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Berusaha untuk menenangkan diriku sendiri. Saat ini aku sudah duduk berhadapan dengan ayah dari seorang gadis yang aku cinta.


Gadis yang menjadi cinta pertamaku sejak usia remaja hingga kini aku menjadi seorang pria dewasa. Gadis yang tak pernah sekalipun pergi dari hati dan pikiranku.


Dia adalah Nayla. Seorang gadis pemalu dengan pipinya yang merona merah. Dan itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.


Walaupun kami terpisah jarak dan waktu tapi nyatanya cinta itu tak pernah hilang. Yang terjadi adalah sebaliknya. Aku merasa cintaku semakin kuat ketika melihatnya untuk pertama kalinya sejak 8 tahun yang lalu.


Beruntung bagiku karena Nayla pun merasakan hal yang sama.


"Tenang El, bismillah...," Rafa menepuk pundakku pelan untuk menenangkan.


Aku anggukan kepala tanpa bersuara pada sahabat sekaligus 'partner in crime' ku, Rafa. Pemuda itulah yang selalu menghalau para lelaki yang berusaha untuk mendekati Nayla. Karena aku yang mencintainya tapi juga tak bisa memilikinya.


Keadaanku tak memungkinkan untuk memiliki Nayla waktu itu, dan aku pun tak rela jika lelaki lain memilikinya.


" Siap El ?" tanya Papiku yang duduk tepat di sebelahku. Lagi-lagi aku anggukan kepala tanpa bersuara. Debaran jantungku semakin menggila saat acara ijab Kabul akan segera di mulai.


Ku lihat Mami dan adik juga kakak-kakakku ada tak jauh dariku. Mereka ingin menyaksikan bagaimana aku mengucapkannya.


Lantunan ayat suci pun terdengar mengalun syahdu menenangkan hatiku yang sedari tadi berdebar kencang tak karuan.


" Saya terima nikahnya Nayla Aulia Wirahma bintu Edi Wirahman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai !" ku ucapkan ikrar itu dengan jelas dalam satu tarikan nafas.


"sah ?"


" sah !!!" sahut saksi secara bersamaan


Kini aku pun bisa bernafas dengan lega karena saat ini aku sudah sah menjadi suami dari gadis yang aku puja.


Do'a pun dipanjatkan agar pernikahan kami dilimpahi berkah oleh Allah SWT.


Mataku terpaku pada seorang gadis yang kini berjalan ke arahku dalam balutan kebaya putih pengantin. Dia adalah cinta dalam hidupku.


Mataku berkaca-kaca saat melihat senyumnya Kecantikannya selalu membuatku terpesona, Nayla nampak begitu bersinar hari ini. Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Satu-satunya wanita dalam hidupku.


"aku mencintaimu, istriku," gumamku pelan berharap dia bisa membaca pergerakan bibirku.


to be continued


thanks for reading


karena mepet waktu jadi belum revisi.


tolong komen jika ada typo atau kalimat rancu.


terimakasih.