The Unexpected Love

The Unexpected Love
Menguping



Selamat Membaca ♥️


"Sambil menunggu kemana kami akan mengirimkan kamu setelah kejadian ini. " lanjutnya kemudian.


Elang menegang, wajahnya kian pias saat mendengar apa yang Papinya ucapkan. Sekelebat bayangan wajah Nayla terlintas dalam kepalanya.


Sudah menjadi perjanjian tak tertulis dengan kedua orangtuanya jika Elang melakukan kenakalan lagi maka ia harus siap-siap untuk menerima hukuman yaitu pindah sekolah. Entah itu bersama omanya yang berada di luar negeri atau pindah ke kota lain di sekolah yang peraturannya lebih ketat lagi dan jika perlu Papinya akan mengirim Elang ke sebuah pesantren agar putranya itu mendapatkan pendidikan yang terbaik.


Sebenarnya tidak masalah jika Elang harus bersekolah dimana saja. Elang bisa menyesuaikan diri dengan cepat dan dengan kecerdasan yang Elang miliki ia bisa mengikuti semua pelajaran dengan mudahnya.


Tapi bagaimana dengan Nayla ? hati Elang akan tertinggal padanya kemanapun Elang melangkahkan kakinya. Semua orang bilang cinta putih abu itu hanya cinta monyet semata tapi kenapa perasaan Elang begitu dalam pada gadis lugu dan pemalu itu. Sampai-sampai Elang tak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri hanya demi bisa melindungi Nayla.


Apalagi saat ini keberadaan Nayla benar-benar dalam ancaman karena kehadiran Leo juga Vony. Elang tak siap untuk pergi.


"Pi, beri Elang kesempatan lagi," Elang memberanikan diri memohon kepada Papinya yang masih diselimuti emosi itu.


"Papi sangat lelah, El..." sahutnya pelan. Lelaki dengan guratan-guratan halus di wajahnya itu menghela nafas dengan berat. Lingkaran hitam di bawah matanya juga memperlihatkan bagaimana ia begitu lelah dengan beban pikiran yang di dalamnya pasti ada Elang.


Elang tundukkan kepala, menyesali diri karena telah menjadi beban bagi seseorang yang sangat disayanginya.


"Tahukah kamu, Nak ? setiap Papi mendapatkan berita buruk tentangmu membuat jantung tua ini teremas ngilu. Di dalam sini, terasa sakit karena takut hal buruk terjadi padamu. Begitu juga yang Mami mu rasakan,"


Elang mengangkat wajahnya dan balas menatap wajah sang ayah. "Maaf," gumam Elang pelan.


"kamu sudah berulangkali berjanji pada kami, tapi lihatlah apa yang kami dapatkan ? lagi-lagi harus menemuimu di rumah sakit atau di kantor polisi," kata Papi Elang.


"Maaf," hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Elang.


"kami sangat menyayangi Kamu, tapi kenapa kamu tak menyayangi dirimu sendiri El ? apa yang sebenarnya kamu inginkan ?"


Elang kembali terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Papinya itu.


Sebenarnya Elang telah banyak berubah, tak lagi bermain dan berkumpul dengan teman-teman yang membawa pengaruh buruk padanya. Setelah Elang merasakan jatuh cinta pada Nayla, yang memenuhi hati dan pikiran Elang hanya tentang gadis itu saja.


Nayla mampu mengalihkan dunia Elang, tapi sayangnya Elang tak bisa begitu saja pergi dari dunianya karena ada saja yang membuat Elang terseret kembali ke dalamnya seperti Leo yang terus menyeret Elang agar pemuda itu kembali dalam kubangan yang sama.


"Elang sudah berubah, Pih... percayalah... Beri Elang sedikit waktu. Sampai naik kelas 12 saja. Setelah itu Elang akan turuti apapun yang Papi mau, tapi tolong jangan pindahkan Elang dulu," Ya Elang akan membereskan dulu masalahnya dengan Leo hingga ia bisa meninggalkan Nayla dalam keadaan aman.


Sedari tadi Bimo hanya memperhatikan adiknya saja. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang membuat Elang begitu bersikeras untuk tetap berada di sekolahnya. Bahkan ia berani memohon pada Papinya dalam keadaan seperti ini.


***


Keesokkan harinya Vony segera mencari tahu keberadaan Elang pada Rafa teman Elang. Tapi sayang Rafa tak mengatakan apapun bahkan ia pun bingung bagaimana Vony bisa tahu jika Elang hari ini tak masuk sekolah. Saat itu juga Vony jadi gelagapan dan segera pergi. Ingin Vony bertanya pada Amelia tapi pasti gadis itu pun akan merasa kebingungan bagaimana dirinya bisa tahu tentang Elang.


Tapi Vony benar-benar merasa khawatir. Sampai-sampai semalam ia membayar orang untuk melihat keadaan Elang tapi katanya Elang sudah tidak ada di tempat yang Vony sebutkan. Seseorang sudah membawa pemuda yang terluka itu ke sebuah rumah sakit.


Saat Vony diam di depan kelasnya, lewatlah 2 orang dewasa yang ia yakini sebagai orang tua siswa karena jika dilihat dari usia keduanya sangat pantas disebut sebagai orangtua.


Ternyata tak hanya Vony yang memperhatikan tapi para siswa lainnya juga karena salah satu dari mereka terlihat begitu mencolok. Wanita paruh baya yang mengenakan stelan blazer berwarna coklat kopi kini menjadi pusat perhatian mereka.


Kulitnya yang putih pucat dan rambutnya yang berwarna coklat madu, sangat berbeda dari ciri-ciri umum penduduk asli negara Indonesia. Ditambah badannya yang tinggi menjulang bagi ukuran seorang wanita, hidungnya yang mancung dan netra matanya yang berwarna abu-abu perak menandakan ia seorang warga negara asing.


"Mami, Papi !!" seorang gadis berseragam menyambut kedatangan dua orang tersebut.


"Sayang," sambut wanita yang berambut coklat itu seraya merengkuh pundak si gadis yang ternyata adalah Amelia.


"Oke, apa kalian datang untuk membicarakan tentang Elang ?" tanya Amelia.


"Ya," jawab maminya singkat.


Apa yang mereka bicarakan terdengar jelas oleh Vony hingga gadis itu dengan diam-diam mengikuti mereka.


"pantas saja Elang ganteng banget, ternyata emaknya bule," batin Vony dalam hati sembari terus mengikuti langkah ketiganya yang berjalan menuju kantor kepala sekolah.


"Ini Mih, masuk aja. Tapi Amel gak bisa nemenin karena harus kembali ke kelas. Jam istirahatnya sudah habis,"


"iya gak apa-apa, terimakasih ya," ucap maminya itu seraya mengelus puncak kepala anak gadisnya.


Amelia segera membalikkan tubuhnya untuk berlalu pergi dan tanpa sengaja hampir bertabrakan dengan Vony yang berjalan membututi. "Sorry," ucap Amelia hingga membuat Vony terkejut dan takut ketahuan mengikuti.


"its ok," sahut Vony. "Eh Mel, kak Vony gak lihat Elang hari ini. Dia gak masuk ya ?" tanya Vony kemudian.


"iya,"


"kenapa?" tanya Vony lagi.


"Sakit," jawab Amelia sambil berlalu pergi dan itu membuat Vony kesal karena tak puas dengan jawaban yang diberikan Amelia.


Vony pun memberanikan diri untuk memasuki ruangan kantor yang di dalamnya terdapat banyak meja yang diperuntukkan bagi para guru-guru yang mengajar di sekolah itu. Karena ini jam istirahat, ruangan itu nampak lenggang. Hanya ada beberapa orang saja di dalamnya.


Jauh di sudut ruangan terdapat meja besar untuk kepala sekolah dan terlihat kedua orang tua Elang tengah duduk di sana.


Diam-diam Vony berjalan mendekati dengan tujuan untuk menguping pembicaraan mereka. Ia melakukan hal itu sambik berpura-pura mencari sesuatu.


"Elang sedang di rawat di Rumah Sakit XY karena mengalami sebuah kecelakaan, dan sepertinya tidak akan bisa mengikuti pelajaran dalam waktu yang cukup lama," terdengar papi Elang sedang menerangkan kondisi anaknya.


Vony menarik nafas lega saat tahu Elang berhasil diselamatkan oleh warga.


"Bagaimana keadaannya ? Apa Elang mengalami luka parah ?" tanya bapak kepala sekolah.


"Elang mengalami gegar otak ringan, dan sepertinya akan membutuhkan waktu istirahat yang cukup lama. Selain itu kedatangan saya juga untuk menanyakan prosedur pindah sekolah,"


'braakk'


Vony menjatuhkan sebuah globe saat ia mendengar apa yang papi Elang utarakan.


Perhatian bapak kepala sekolah menjadi teralihkan pada Vony. "Ngapain kamu di situ ?" tanyanya dan itu membuat Mami Papi Elang tolehkan kepala mereka dan melihat kw arah Vony.


"I-ini pak, saya di suruh mengambil ini untuk keperluan praktek di kelas," jawab Vony sambil menunjukkan sebuah globe yang tadi ia jatuhkan.


"oh cepat ambil dan keluarlah !"


Vony pun pergi sembari berdecak kesal karena tak berhasil menguping seluruh pembicaraan. Tapi ia berhasil mendapatkan informasi jika kedua orang tua Elang berniat untuk memindahkan anaknya itu.


Vony harus mencari akal agar Elang tidak dipindahka. Kalau Elang pindah sekolah bagaimana ia bisa melihatnya nanti. Orangtua Vony memiliki pengaruh di sekolah ini. Ia akan meminta bantuan orangtuanya agar Elang tak pindah sekolah.


to be continued ♥️


thanks for reading