The Unexpected Love

The Unexpected Love
Cemburu



Telah berlalu satu bulan lamanya sejak Nayla berteman dengan Rio. Ya, hubungan mereka masih sebatas berteman. Meskipun begitu keduanya kerap pergi bersama. Baik itu untuk makan siang atau nonton film bioskop di hari Minggu.


Rio telah lakukan berbagai cara untuk mendekati Nayla tapi gadis itu sepertinya telah membangun benteng tinggi untuk melindungi diri hingga sangat sulit didekati secara intim.


Sedangkan Nayla, walaupun ia telah berusaha untuk membuka hati tapi nyatanya dirinya begitu sulit untuk menerima kehadiran laki-laki lain dalam hidupnya. Separuh cintanya sudah Elang bawa pergi.


Di sisi lain, Bimo yang mengetahui jika Nayla sedang dekat dengan seorang pemuda membuatnya lebih banyak bertanya tentangnya pada sang kakak, Nadia.


Bimo akan dengan sengaja menghubungi Nadia untuk sekedar menanyakan sesuatu tentang Nayla dan apa yang sedang dilakukan gadis itu.


Perhatian berlebihan Bimo pada Nayla membuat Nadia curiga. Ie mengira jika Bimo sang mantan kekasih, menaruh hati pada adiknya.


Sebenarnya tidak masalah jika Bimo menyukai Nayla. Toh hubungan mereka juga telah lama berakhir dan Nadia pun sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Tapi masalahnya Bimo saat ini sudah bertunangan dan tak lama lagi mereka akan menikah. Membuat Nadia menjadi cemas.


" Aku tak habis pikir kenapa Bimo terus bertanya tentang Nayla," keluh Nadia saat ia berduaan saja dengan Alex di atas ranjang mereka.


Alex yang sedang bekerja dengan MacBook di atas pangkuannya melihat heran pada Nadia.


Tak hanya sekali ini istrinya mengeluh soal sang mantan pacar yang kini perhatian pada sang adik. Radar dalam diri Alex menerima lain, ia cemburu.


" Kamu keberatan jika Bimo menyukai Nayla ?" Tanya Alex penuh selidik. Terdengar nada tidak suka dalam perkataannya. " Bukankah Bimo seorang laki-laki yang baik ? Seharusnya kamu tidak keberatan karena itu, atau....," Alex menjeda ucapannya.


" Atau apa ?" Nadia balik bertanya sembari menatap Alex curiga.


" Atau kamu merasa cemburu padanya?" Tanya Alex.


" Oh my God, Alex !!!" Pekik Nadia tak terima dengan tuduhan suaminya.


" Aku sudah menikah denganmu hampir 9 tahun lamanya dan kita sudah punya anak. Bahkan aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu !! Bagaimana bisa kamu menuduh aku cemburu ?"


" Tak sekali dua kali kamu mengeluh soal ini, Nadia !! Adikmu itu sudah dewasa. Dia cantik dan pintar. So pantas saja jika laki-laki dewasa seperti Bimo tertarik padanya," sahut Alex tak kalah sengitnya.


" Aku tahu !! Tapi masalahnya Bimo sebentar lagi akan menikah,"


" So what ?? Dia belum resmi menikah kan ? Mungkin sekarang dia sadar akan perasaannya pada adikmu,"


" Jika ia memang menyukai Nayla kenapa dia masih bertunangan dengan kekasihnya? Bukankah itu sesuatu yang buruk ?" Tanya Nadia.


Alex memicingkan matanya, melihat sinis pada Nadia. Dan sumpah demi apapun ia sangat membenci pikirannya sendiri. " Mungkin Bimo....," Lagi-lagi Alex menjeda ucapannya.


Nadia menarik nafas dalam, sunguh ia merasa tidak akan suka dengan apa yang akan diucapkan suaminya itu.


" Mungkin Bimo tidak mencintai kekasihnya dan masih mengharapkan kamu,"


" What ???" Nadia membulatkan matanya tak percaya.


" Mungkin dia sebenarnya tidak bisa melupakan kamu, dan akhirnya menaruh rasa pada adikmu sebagai pengganti kamu karena dia tahu kalau aku tak akan mungkin lepasin kamu, Nadia !!" Desis Alex penuh emosi.


" Dan kamu gak bisa terima dia suka dengan adikmu. Kenapa ? Kamu masih ada rasa juga ?" Tanya Alex yang kini tak bisa lagi menyembunyikan rasa cemburunya.


" Alex !!" Pekik Nadia tak terima.


" you are jealous !! You are so f*cking jealous !!" Alex letakkan MacBook miliknya di atas nakas dan ia pun keluar dari kamarnya seraya membanting pintu sekeras mungkin. Meninggalkan Nadia yang sudah berkaca-kaca.


" Dasar bodoh !!! Dari dulu, hanya kamu satu-satunya lelaki yang aku cinta! Bagaimana mungkin kamu bisa menuduh ku begitu," ucap Nadia sembari mengusap pipinya dengan punggung tangan. Sungguh ia merasa kesal pada Alex yang masih saja mengira dirinya cemburu.


***


Esok paginya Nayla berjalan dengan setumpuk berkas di tangannya. Di perjalanan ia bertemu dengan Joy, sekretaris Alex.


" Mau ketemu boss ?" Tanya Joy dan Nayla pun menganggukkan kepalanya membenarkan.


" Boss lagi di tempat ' biasa', Mbak ?" Tanya Nayla.


" Nggak, Boss lagi ada di ruangannya,"


" Hah ? Kok tumben ? Biasanya kalau pagi-pagi begini masih di tempat pawangnya," ceplos Nayla membicarakan sang kakak dan suaminya.


" Hahaha iya, tapi sejak tadi pagi Pak Henry ( Alex ) ada di ruangannya,"


" Oke kalau begitu, aku langsung masuk aja ya, Mbak," ucap Nayla.


" Oke, aku mau bikin kopi dulu ya Nay. Semalam begadang anakku sakit." Joy pun melanjutkan langkahnya menuju pantry.


Nayla berjalan menuju ruang kerja bossnya yang merupakan kakak iparnya itu. Pelan-pelan ia mengetuk pintu hingga terdengar kata " masuk !" Dan Nayla pun membuka pintu itu dengan perlahan.


Terlihat wajah Alex yang tak se-ramah biasanya. Laki-laki itu hanya mengangkat wajahnya sebentar pada Nayla dan kembali pada layar MacBooknya.


" Duduk, Nay !" Titah Alex.


"Kak, ini laporan dalam bentuk fisik yang kakak minta," ucap Nayla sembari menyimpan berkas itu di atas meja Alex.


" Nay, gimana hubungan kamu sama Rio ?" Tanya Alex dengan tiba-tiba.


Nayla terkejut luar biasa, ini kali pertama Nayla ditanyai hal pribadi oleh sang kakak ipar.


"Mmm.. tak ada hubungan apa-apa, kami masih berteman biasa saja," jawab Nayla sejujurnya.


" Kalau kamu tak suka jangan dipaksakan, ok ? Kurasa dia juga kurang cocok untuk kamu," lanjut Alex.


" Bagaimana dengan Bimo ? Kamu suka padanya ? Dia laki-laki yang baik," tanya Alex yang kini menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap dalam adik iparnya itu.


" Bi- Bimo ?"


" Hu'um, Bimo mantan kekasih Nadia yang dulu. Aku dengar dia selalu menanyakan kabarmu pada Nadia. Apa kalian ada sesuatu ? Apa Bimo menyukaimu atau mungkin kamu menyukai nya ?" Tanya Alex terlihat lebih serius dari sebelumnya.


" Apa ? A-aku tak menyukai kak Bimo," jawab Nayla terbata-bata


" Bukan Bimo, tapi Elang," jawab Nayla dalam hatinya.


" Tapi menurut Nadia, Bimo selalu bertanya tentang kabarmu," ucap Alex.


" Atau mungkin itu hanya alasan saja agar dia bisa menghubungi Nadia ?" Lanjut Alex.


" Mereka masih bersahabat, ku rasa kak Bimo bisa menghubungi kak Nadia kapan saja tanpa menjadikan aku alasan,"


" Apa menurutmu Bimo menyukaimu karena ia tak bisa mendapatkan kakak mu ?" Tanya Alex sembari berdiri dan berjalan mendekati sang adik ipar yang nampaknya sudah gemetaran karena mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga.


" Me-menurut aku sih nggak. Gak mungkin jika Bimo masih ada perasaan pada mbak Nadia,"


" Atau mungkin Nadia yang masih ada perasaan padanya ?" Potong Alex.


" Itu lebih tak mungkin lagi, aku tahu Mbak Nadia hanya cinta sama Kak Alex saja," jawab Nayla dengan yakinnya.


Pada akhirnya ia mengerti kenapa Alex bertanya panjang lebar tentang masalah ini. Rupanya si kakak ipar sedang merasa cemburu.


" Mungkin kak Bimo hanya peduli karena dia menyayangi aku seperti adiknya sendiri dan kebetulan aku dulu bersahabat dengan adiknya yang bernama Amelia tapi sayangnya kami kehilangan kontak begitu saja karena mereka pindah rumah,"


" Benarkah ?" Tanya Alex sembari mengusap dagunya. Sepertinya ia masih merasa ragu.


" Iya, dan aku rasa semua ini tak ada hubungannya dengan kak Nadia," ucap Nayla.


Alex terdiam, sungguh ia merasa takut juga cemburu karena kehadiran Bimo yang belum lama ini datang dari luar negeri dan herannya laki-laki itu sering bertanya tentang adik iparnya pada sang istri.


" Kak Alex jangan khawatir, aku yakin mbak Nadia hanya mencintai kakak saja," ucap Nayla.


" Aku tahu," ucap Alex lirih dengan senyum yang ia paksakan " Kamu boleh kembali bekerja, makasih Nay," ucap Alex.


Nayla pun berdiri dan berpamitan. Ia membuka pintu ruang Alex untuk pergi meninggalkannya, berbarengan dengan Nadia yang sudah berdiri di luar pintu.


" Mbak," ucap Nayla penuh maksud.


" Kami gak apa-apa," ucap Nadia seolah paham maksud sang adik.


Nayla tersenyum dan ia pun berjalan menjauhi, sedangkan Nadia ia berjalan memasuki ruangan suaminya. Jika biasanya sang suami yang selalu mendatangi dirinya tapi kini yang terjadi sebaliknya.


" Joy, aku sedang tidak mau menerima tamu," ucap Alex tanpa mengangkat wajahnya. Ia kira Joy yang datang ke ruangannya.


Nadia terus berjalan hingga mendekati kursi sang suami. Ia putarkan kursi itu ke hadapannya, dan duduk di pangkuan Alex begitu saja. Alex ingin protes tapi Nadia lebih cepat bergerak. Ia mengalungkan tangannya di leher Alex. " I miss you so much, jangan marah lagi," bisik Nadia dengan manja di leher suaminya.


Mata hitam Alex berkilat tajam, ia tersenyum miring melihat istrinya. " Kamu tahu resikonya datang ke sini bukan ?" Tanya Alex dan Nadia pun anggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


" Aku akan mengurungmu seharian di sini, Nadia," bisik Alex terdengar parau.


" Then im yours, Daddy," ( kalau begitu aku milikmu, Daddy ) jawab Nadia dengan mata sayunya yang penuh goda.


***


Di tempat duduknya Nayla berpikir tentang apa yang baru saja terjadi. Ia tak mengerti mengapa Bimo banyak bertanya tentangnya. Sangat tak mungkin jika Elang yang menyuruhnya.


Tadi malam Rio memintanya untuk menjadi kekasih setelah mereka melakukan pendekatan selama satu bulan lamanya. Hati Nayla tak menyukai Rio sedikitpun tapi dirinya juga tak mau menjadi duri di rumah tangga kakaknya.


Apa ia terima saja pernyataan cinta Rio? Hingga dengan begitu Bimo tak lagi banyak bertanya tentangnya pada sang kakak.


Rasanya kepala Nayla berputar memikirkan itu semua.


***


Sementara itu di salah satu gedung pencakar langit di negera kaya minyak di timur tengah sana, seorang pria tinggi dengan mata coklat karamel tengah duduk dan berbicara serius dengan seorang laki-laki lainnya yang merupakan boss besarnya.


" Jadi anda yakin untuk memilih pergi ke Indonesia dan menjalankan perusahaan di sana? Padahal saya akan memberikan posisi yang sangat bagus jika anda berkenan tinggal lebih lama disini," ucap bos besar itu.


" Saya harus kembali ke Indonesia dalam waktu dekat," jawab pria bermata coklat itu.


" Apakah ada sesuatu yang mendesak Mr. Wiguna ?"


" Ya, saya akan pulang ke Indonesia untuk menikah," jawab Elang tanpa ragu.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


Vote yuu mumpung Senin.


Maaciw zheyeenk 🥰♥️