The Unexpected Love

The Unexpected Love
Pergi



Elang eratkan tautan jemarinya, beberapa menit lagi ia akan terbang ke negara timur tengah dan mengais rezeki di sana. Meninggalkan istri tercintanya untuk beberapa Minggu ke depan.


Saat ini keduanya tengah berada di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Nayla sandarkan kepalanya di lengan lelaki jangkung itu.


Ini kali ke dua Elang meninggalkan Nayla. Dan rasanya selalu seperti ini. Sangat terasa berat luar biasa. Belum apa-apa, Elang sudah merasakan rindu pada Nayla.


Dari dulu Elang memang sudah sering merasakan rindu itu. Dan kini setelah resmi menikah, rasa rindu itu kian bertambah.


Nayla pun membalas genggaman Elang sama eratnya. Mengisyaratkan jika ia akan sangat merindukan suaminya itu. Mati-matian Nayla berusaha menahan panas juga buram dimatanya karena air bening yang telah menggenang di sana.


'Panggilan terakhir untuk penerbangan....,'


"Aku harus pergi sekarang, Yang...," Ucap Elang saat ia mendengar pengumuman yang berisikan peringatan untuk segera menaiki pesawat.


"Baiklah," sahut Nayla sembari mengusap pipinya dengan punggung tangan.


Elang merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Ia tundukkan kepalanya, mencium dahi Nayla dengan dalam sembari memejamkan matanya.


Begitu juga Nayla, ia pejamkan matanya. Menikmati ciuman mesra dari suaminya. Lalu Nayla pun merasakan benda kenyal yang menyesap bibirnya perlahan. Rupanya Elang tengah mencium bibirnya. "Aku cinta kamu... Baik-baik di rumah ya... Nanti aku kabari," gumam Elang lirih sembari memberikan pelukan erat seolah sangat berat untuk meninggalkan.


"Pergilah nanti ketinggalan pesawat," titah Nayla karena lelaki itu tak juga pergi padahal peringatan dari pihak maskapai telah diumumkan.


"Baiklah... Aku pergi...," Ucap Elang. Ia uraikan pelukannya walaupun terasa sangat berat. Elang raih tas travelnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Nayla.


Elang berhenti untuk sesaat dan tolehkan kepalanya. Lalu ia tersenyum pada Nayla sebelum menghilang di balik ruangan yang diperuntukkan hanya untuk para penumpang.


Nayla lambaikan tangannya dan membalas senyuman Elang walaupun air matanya tak mau berhenti membasahi pipinya.


Perasaannya kacau tak karuan. Melihat lelaki yang sangat dicintainya pergi membuat Nayla merasakan hampa dalam hatinya. Susah payah Nayla berusaha mengeringkan pipinya yang terus saja basah.


Begitu pun Elang. Melihat Nayla menangis seperti itu membuat dirinya sangat berat untuk meninggalkan istrinya itu. Tapi ia pun harus bertanggung jawab pada pekerjaannya. " Tunggu aku, Sayang. Aku akan pulang padamu," gumam Elang pelan sembari terus berjalan dengan matanya yang mulai basah.


Saat ini Elang berjalan melewati lorong yang di depan sana terlihat pintu pesawat yang terbuka lebar. Dua orang pramugari cantik tersenyum menyambut kedatangannya.


Dengan menarik nafas dalam, Elang langkahkan kakinya memasuki pesawat yang akan membawanya terbang tinggi, menuju sebuah negara yang letaknya sangat jauh dari Nayla.


Tapi...


Setinggi apapun Elang terbang, Nayla adalah tempatnya untuk pulang.


Sejauh apapun Elang pergi, hanya pada Nayla lah Elang akan kembali.


"Huuftttt..," Nayla menarik nafas dalam saat Elang tak lagi ada dalam jangkauan matanya.


"Hati-hati sayang... Ya Tuhan, berikan Elang keselamatan sampai ia kembali pulang ke sisiku," gumam Nayla hampir tak terdengar.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang saat Nayla melihat jam yang membelit pergelangan tangannya. Jam tangan keluaran designer ternama dan merupakan hadiah dari Elang beberapa waktu lalu. Lagi-lagi Nayla menarik nafas dalam karena apapun itu akan selalu mengingatkannya pada Elang.


Nayla rogoh ponselnya yang berada di dalam tas, lalu meraihnya untuk menuliskan sebuah pesan singkat yang akan dikirimkannya pada sang Kakak, Nadia.


Hari ini Nayla meminta izin khusus pada bos besarnya yang sekaligus berperan sebagai kakak iparnya yaitu Alex.


Nayla meminta izin untuk datang ke kantor setelah ia mengantarkan Elang sang suami ke bandara. Untunglah Alex mau mengerti dan memberinya izin.


Tak hanya pada Alex juga, tapi Nayla juga melakukannya pada Nadia. Ia lakukan itu agar Nadia tak mengkhawatirkan dirinya yang tak datang ke kantor sejak pagi.


Sebenarnya Nayla masih bisa datang ke kantor untuk setor muka. Tapi, Elang yang akan pergi jauh meminta Nayla untuk memberinya banyak 'bekal'.


Entah berapa kali mereka melakukan pergumulan penuh peluh dan lenguh. Tak hanya di dalam kamar saja tapi juga di ruangan- ruangan lainnya seperti dapur, sofa ruang TV dan kamar mandi.


Tak heran jika saat ini Nayla merasakan tubuhnya remuk redam.


"Oke. Hati- hati," balas Nadia singkat.


Nayla pun segera pergi untuk bertemu Amelia dan menikmati makan siang mereka.


***


Seorang gadis berambut cokelat dan panjang duduk sendirian di sebuah coffee shop yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat dirinya bekerja.


Seperti yang sudah di janjikan sehari sebelumnya, ia akan melakukan janji temu makna siang bersama sahabat dan sekaligus kakak iparnya itu.


Walaupun ia telah memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan tapi kehadirannya di sana menjadi pusat perhatian karena ia memanglah seorang gadis yang sangat cantik himgga menjadi pusat perhatian para kaum Adam yang berada di sana.


Walaupun banyak mata lelaki yang melihat padanya, tapi Amelia tak menanggapinya karena ia memang merasa tak peduli tentang itu semua.


Amelia malah merasa jengah, ia tak suka dengan tatapan banyak pria itu. "Apakah mereka tak tahu malu ? Melihat pada istri orang adalah sesuatu yang memaluka !" Ucap Amelia dalam hatinya.


Dan untuk menunjukkan jika ia adalah seorang wanita bersuam. Amelia memainkan Cincin pernikahannya yang melingkar indah si jari manisnya.


Beberapa orang lelaki mengerti dengan kode yang Amelia berika. Mereka akhiri pandangan matanya dan melihat ke arah lain. Tapi ada juga yang terus memperhatikan tanpa memedulikan kode cincin yang Amalia berikan pada mereka.


Bagi Amelia, tak ada lagi lelaki yang menarik di matanya selain Rafa. Dan itu bukan karena ia telah menikah dengan lelaki itu. Sudah sejak remaja, Amelia membentengi dirinya karena rasa cintanya sudah tercuri seluruhnya oleh Rafa sang suami.


"Maaf terlambat, jalan macet banget," ucap Nayla yang kini duduk di hadapannya.


"Its ok Nay," sahut Amelia yang merasa senang karena kedatangan Nayla hingga kini ia tak terlalu tersiksa dengan tatapan mata para lelaki itu.


"Sedih aku... Ditinggal mulu... Kapan aku bisa punya anak kalau begini terus," ucap Nayla terdengar nelangsa.


"Lah aku... Aku lebih parah Nay... Aku sudah menikah tapi ditinggal-tinggal Rafa masih dalam keadaan GADIS !!" Sahut Amelia tak ingin kalah.


To be continued


Belum revisi.