The Unexpected Love

The Unexpected Love
Firasat



Selamat Membaca ♥️


"Lo bisa diam gak sih ?" Bentak Leo pada adik sepupunya yang mengomel tak karuan itu. Vony terus mendesak Leo agar pemuda itu mencari cara bagaimana Elang bisa menjadi kekasihnya. Harga diri Vony terluka parah saat ia dikalahkan oleh seorang gadis biasa saja yang ia anggap tak selevel dengannya.


Bagaimana mungkin seorang Vony yang merupakan gadis populer sekolah, dengan kecantikannya yang paripurna dan bentuk tubuh yang nyaris sempurna bisa dikalahkan dengan talak oleh seorang Nayla.


"Gue gak rela cewek culun itu bisa dapatin Elang," pekik Vony hingga beberapa orang melihat heran padanya.


Mendengar nama 'Elang' membuat kepala Leo berdenyut hebat. Kekalahannya dari Elang telah menjadi buah bibir para remaja di lingkungan itu. Cibiran dan kata hinaan telah sampai di telinganya. Nama Elang kian meroket, sedangkan namanya kian tenggelam.


"Elang emang tak terkalahkan,"


"Leo yang banyak bac*t tapi Elang yang menang,"


"Leo always be the second best" ( Leo selalu menjadi nomor 2 )


"Taring Leo hanya bisa dikalahkan dinginnya Elang"


Itulah kata-kata yang sering Leo dengar akhir-akhir ini. Bahkan teman satu sekolahnya sendiri pun membicarakan tentang hal yang sama. Kekalahannya menjadi bahan gosip dari mulut ke mulut dan Leo sangat membencinya.


Kini kebencian leo pada Elang semakin bertambah-tambah. Tak hanya pada pemuda jangkung saja Leo menyimpan dendam tapi juga pada siapa saja yang berhubungan dengan laki-laki itu. Sudah jelas Nayla berada di dalamnya, ditambah Rafa yang dengan berani mengorbankan diri untuk Elang dan Leo sangat tidak sukai itu.


Leo membiarkan kuda poni itu terus berbicara tanpa ia tanggapi. Dalam kepalanya sudah tersusun rencana apa saja yang akan dilakukan untuk memberikan pelajaran pada Elang, Nayla dan juga Rafa.


Bukan tanpa alasan Leo memasukkan nama Nayla dalam daftarnya. Rupanya gadis itu pernah menolak saat Leo memintanya untuk berkenalan lebih jauh. Untungnya bagi Leo, tak ada seorangpun yang mengetahui perihal ini hingga ia tak usah menanggung malu yang lebih lagi.


Leo selalu mendapatkan yang ia mau. Saat Nayla menolak, harga diri dan egonya terluka parah.


"Leo, pokoknya gue gak mau tahu !! Elang harus jadi cowok gue gimana pun caranya !! Atau gue aduin kejahatan Lo yang waktu itu celakain Elang di rumah kosong !!" Ancam Vony.


"Elu juga terlibat, beg* !!!" Sahut Leo tak kalah sengitnya.


Leo mendengus kesal karena Vony terus menambah beban pikirannya. "Vony, Elang, Nayla, aarrrggggghhhh !!!" Tiga nama itu menari-nari dalam kepala Leo hingga membuat pemuda itu merasa frustasi.


Tapi sedetik kemudian, Leo lengkungkan senyumnya. Ia mendapatkan ide bagaimana membuat Elang dan Nayla menderita, dan ia juga tahu bagaimana adik sepupunya agar diam. Mengenai Rafa ? Leo pun sudah mempunyai rencana bagaimana membuat pemuda itu jera.


***


Sudah berlalu satu Minggu sejak Elang menjenguk Rafa. Pemuda yang dulunya cedera kaki dan kesulitan berjalan itu kini sudah sehat kembali dan mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.


"Makasih, makasih, makasih loh ya kalian udah doain Rafa. Berkat do'a kalian, Rafa bisa sekolah lagi. Pasti kalian kesepian banget ya gak ada Rafa di kelas," ucap Rafa pada teman-teman sekelasnya yang perempuan.


"Rafa emang ngangenin banget orangnya, jadi Rafa paham kalau kalian ngerasa kehilangan," lanjutnya lagi sambil mengumbar senyum andalannya.


Teman-teman perempuan Rafa hanya menatap malas pada pemuda yang seperti sedang memberikan orasi itu.


"Gue kira si Rafa bakal jadi waras setelah kecelakaan kemarin," ucap Rendi sambil tertawa.


Elang yang sedang duduk di bangkunya langsung melihat ke arah Rafa dan ikut tertawa melihatnya.


"Oke, Rafa mau balik dulu ya ke bangku Rafa. Kayanya mereka udah kangen juga," pamit Rafa sembari menunjuk para sahabatnya yang sedang tertawa-tawa.


"Kalau kalian kangen tinggal datang ke bangku Rafa. Gak usah nelepon atau kirim pesan,"


"Pergi gih, Fa !! Pusing dengerin Elu ngomong," usir gadis yang bernama Fanny.


"Oke, Rafa pergi. Walaupun hanya badan Rafa yang pergi, karena Rafa yakin nama Rafa pasti tinggal di hati kamu," ucap Rafa lagi berbarengan dengan datangnya seorang gadis cantik dan judes.


"Bang El ada ?"


Rafa langsung tolehkan kepala ke arah suara dan si gadis sudah menatapnya horor. "Kalian kenapa sih nahan Rafa di sini ? Kan Rafa mau duduk di bangku Rafa," lanjut Rafa sembari menyalahkan para teman-temannya kenapa Rafa bisa berada di sana.


"Fa, nama Lo ketinggalan di hati gue," celetuk Fany dan pemuda itu langsung membolakan matanya pada Fany yang sudah tertawa cekikikan.


Elang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan untuk menemui sang adik. "Kakak ipar, bilangin sama istriku jangan salah paham," bisik Rafa pada Elang yang berpapasan dengannya.


"Apaan sih lu ?" Tanya Elang sama horornya dengan sang adik.


"Yaa Allah... Kuatin Baim eh Rafa..." Ucapnya sambil mengelus dada.


Rafa duduk di bangkunya dan memperhatikan Elang yang tengah berbicara serius dengan sang adik, Amelia. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Elang banyak menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa menit saling berbicara Amelia pun pergi meninggalkan kelas sang kakak berbarengan dengan bunyi bel yang menandakan jam pelajaran akan segera di mulai.


Rafa terus memperhatikan Amalia hingga kepergian kepergian melalui jendela kelasnya. Ia sangat menyukai mata gadis itu yang berwarna coklat terang, walaupun berwarna coklat tapi cerahnya melebihi langit biru bagi Rafa. Dan itu sangat membuatnya terpesona.


Rafa juga suka cara Amelia berbicara, walaupun galak tapi dia gadis yang sangat baik. Rafa juga suka sikap Amelia yang tidak sombong karena kecantikannya. Semua tentang Amelia membuat Rafa terpesona.


Tiba-tiba dada Rafa berdetak lebih cepat saat ia memikirkan gadis itu. Sikapnya mungkin memang konyol tapi rasa sukanya pada Amelia bukan sekedar candaan. Kue yang Amelia berikan padanya, Rafa habiskan sendiri tanpa mau membagi pada ayah bundanya. Ia menikmatinya dengan pelan dan penuh penghayatan sembari membayangkan gadis yang membuatnya.


Guru yang bertugas mengajar hari ini telah masuk ke dalam kelas, doa sebelum belajar pun sudah dibacakan, tapi kenapa Rafa masih saja berpikir tentang Amelia.


Rafa bergerak gelisah di bangkunya, ia menolehkan kepala melihat pada Elang yang duduk di jajaran paling belakang karena laki-laki itu mempunyai tinggi badan yang lebih dibandingkan teman-temannya.


"Lo kenapa ?" Elang bergumam pelan tapi Rafa dapat membaca gerak bibir sahabatnya itu.


Rafa tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai bentuk jawaban. Tiba-tiba rasa resah gelisah menyelimuti pikiran dan tubuh Rafa saat ini.


Hanya karena melihat kepergian Amelia tadi, mendadak perasaan Rafa menjadi tak karuan. Ia merasakan akan pergi terpisah jauh dari gadis yang disukainya itu.


"Rafa ? Kamu mau ikut belajar atau tidak ?" Tanya ibu guru pada Rafa, karena pemuda itu masih saja menggendong tas ranselnya padahal pelajaran akan segera di mulai.


" Ma-mau, Bu," ucap Rafa seraya melepaskan tasnya dan kemudian membukanya untuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya.


To be continued ♥️


Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚