The Unexpected Love

The Unexpected Love
Hasil Karya



" Halo sayang, aku di bawah di lobi apartemen kamu. Kita makan malam bersama. Aku boleh naik ya ?" Kata Rio di ujung telepon.


" Ka-kamu di bawah ?" Tanya Nayla dengan berdebar cemas karena Elang yang terus menatapnya dengan tajam.


" Hu'um, unit apartemen kamu nomor berapa biar aku saja yang naik," sahut Rio.


" Atau aku harus tanya sama....,"


" Biar aku yang turun, tunggu !" Potong Nayla cepat. Ia tak mau Rio datang ke apartemennya dan itu membuat Elang semakin memelototkan mata, menatap marah pada Nayla.


Elang hendak merebut ponsel Nayla, tapi gadis itu lebih dulu mematikan hubungan teleponnya. Nayla segera melesat masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia takut Elang menyusulnya, mengingat kejadian tadi di atas sofa.


Pipi Nayla merona merah saat ia bercermin. Ia pun tak menyangka akan melakukan hal se-intim itu dengan Elang. Cinta memang bisa membuat kita terlena dan lupa daratan. Untung saja Nayla segera sadar hingga keduanya tak bertindak lebih jauh lagi. Berbuat sesuatu yang akan sangat disesali Nayla tentunya.


" Ya Tuhan....maafin Nayla," lirih Nayla melihat pantulan dirinya di dalam cermin dengan rambut panjang yang berantakan.


Secepat kilat Nayla berganti baju. Ia hanya mengenakan hoodie hitam miliknya dan celana jeans berwarna senada. Ya semenjak jatuh cinta pada Elang, ia pun menyukai sweater hoodie hitam. Tak lupa Nayla pun mencepol rambutnya asal agar terlihat sedikit rapi. Nayla tak bisa berdandan lama karena ia takut Rio keburu datang ke apartemennya. Bahkan gadis itu tak sempat mengenakan bedak juga pemulas bibirnya.


Nayla mendapati Elang tengah duduk di atas sofa dengan wajah ditekuk marah. Rahangnya mengeras dengan bibir terkatup rapat. Ia benar-benar tak suka Nayla yang akan pergi menemui laki-laki lain.


Nayla coba abaikan Elang, dalam kepalanya Nayla terus berpikir bagaimana bisa menemui Rio secepatnya agar laki-laki itu tak mendatangi unit apartemennya.


Sedangkan mengusir Elang pun sepertinya percuma. Laki-laki jangkung itu sudah tahu password pintu apartemen Nayla dan butuh waktu beberapa saat jika Nayla ingin menggantinya.


Elang terus amati Nayla yang menurutnya sangat cantik dalam balutan hoodie hitam itu. Ia teringat bagaimana Nayla mengenakan hoodie hitam miliknya dulu, saat mereka masih remaja.


Nayla tahu jika dirinya terus diamati Elang, tapi Nayla berusaha untuk tak peduli. Nayla segera mengambil dompet serta ponselnya dari dalam tas kerjanya dan dengan mengenakan sepatu tanpa hak Nayla pergi keluar daru apartementnya.


Elang tak tinggal diam, ia langsung bangkit saat Nayla pergi ke luar. Dengan sengaja Elang tinggalkan jasnya agar ia bisa kembali ke dalam apartemen Nayla dan berbicara lagi dengan gadis itu.


Malam ini juga Elang harus meresmikan hubungan mereka. Jika Nayla bersedia, Elang akan menikahinya besok pagi. Atau malam ini juga bila perlu.


Bukan karena naf*u Elang lakukan itu. Ia hanya tak mau terpisah dengan gadis yang sudah 8 tahun ini menjadi incarannya.


" Kamu mau ngapain ?" Tanya Nayla pada Elang yang berjalan membuntutinya.


" Aku mau menemani calon istriku untuk makan malam bersama temannya," jawab Elang dengan entengnya.


" Calon istri ?" Nayla bertanya dengan berkerut dahi.


" Hu'um, dan calon istriku itu adalah kamu," jawab Elang. Mimik wajahnya sangat serius saat mengatakan itu.


" Jangan bercanda ! Dan kemana jas kamu ? Kenapa tak kamu pakai sekalian. Bukannya kamu mau pulang ?"


Bukannya Nayla tak senang dengan adanya Elang. Tapi sungguh ia sangat takut Elang berurusan dengan Rio. Nayla takut Elang membuat keributan.


Bukan tanpa alasan Nayla mengatakan hal seperti itu. Mengingat bagaimana Elang yang beringas dan suka berkelahi di masa lalunya.


" Aku gak akan kemana-mana sampai kamu pulang ke apartemen dengan selamat dan seorang diri saja. Laki-laki bernama Rio itu bisa saja jahat dan berusaha untuk memanfaatkan kamu, Nayla ! Bisa saja dia datang untuk melecehkan kamu," ucap Elang berapi-api.


"Terus siapa yang baik ? Kamu ? Apa kamu gak ingat apa yang tadi kamu lakukan sama aku ?" Tanya Nayla dengan sengitnya.


" Itu berbeda, Nay ! Aku melakukannya karena aku cinta sama kamu. Dan aku pun sudah meminta maaf," jawab Elang.


" Lagian apa salahnya melakukan hal itu dengan calon istri," lirih Elang hampir tak terdengar.


Mendengar Elang menyebutnya sebagai calon istri membuat pipi Nayla terasa panas. Ia yakin pipinya pasti merona merah saat ini.


Ponsel Nayla kembali berbunyi. Rio menghubunginya lagi dan ia malah berbicara dengan Elang di sini. " Ya ampun..," gumam Nayla frustasi. Bagaimana bisa dua pria datang dalam satu waktu padanya.


" Ku mohon Elang, jangan ikuti aku,"


" Aku pergi gak akan lama. Kamu boleh menunggu di dalam apartemen aku. Gimana ?" Bujuk Nayla agar Elang tak mengikutinya.


Tapi sayangnya Elang gelengkan kepalanya sebagai jawaban.


" Kak El ! Please... Tunggu aku hanya sebentar. Aku tak ingin ada keributan," ucap Nayla beralasan.


" Aku pergi tak akan lama. Aku janji," Nayla terlihat frustasi.


Elang yang melihat itu akhirnya luluh. " Baiklah," ucap Elang. "aku akan menunggu di apartemen. Aku tak akan pulang karena kita belum selesai bicara,"


Nayla menarik nafas lega, ia pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu lift yang akan membawanya ke tempat Rio berada. Sedangkan Elang melihat kepergian Nayla dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


***


Rio sudah menunggu tepat di depan pintu lift. Tadi ia sudah bertanya pada pengurus apartemen di mana letak unit apartemen Nayla. Tapi ternyata keamanan disini sangatlah ketat. Rio tak diberitahu karena itu adalah peraturan disana. Kecuali penghuni apartemen itu telah menyetujuinya.


" Maaf sudah membuat kamu menunggu," ucap Nayla saat ia baru saja keluar dari pintu lift dan ternyata mendapati Rio telah menunggunya.


" Its oke," sahut Rio. Ia melihat sayu pada Nayla yang saat ini tampil berbeda dari biasanya. Gadis itu terlihat menawan walaupun tanpa polesan make up. Cara berpakaian Nayla pun membuat Nayla terlihat seperti gadis ABG.


" Kamu cantik banget," puji Rio yang tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.


Nayla terhenyak mendengarnya. Sebenarnya Nayla bukan terkesan oleh pujian Rio. Hati Nayla masih tak tenang, ia takut jika Elang tiba-tiba muncul diantara mereka.


" Thanks, sebaiknya kita segera pergi," ajak Nayla.


" Kita makan malam yang tempatnya dekat-dekat sini aja ya Rio. Aku lagi banyak kerjaan di atas. Mau ada audit," ucap Nayla beralasan.


" Sure, terserah kamu, Sayang," ucap Rio seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Nayla dengan ragu.


Keduanya pun berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Baru saja Nayla melangkahkan kakinya beberapa langkah saja, terdengar suara pintu lift yang kembali terbuka.


Dengan perasaan cemas Nayla menengok ke arah belakang dan tepat seperti dugaannya seorang laki-laki jangkung dengan mata coklat karamel berjalan keluar dari dalam lift sambil tersenyum miring penuh arti.


" Ya Tuhan...," Gumam Nayla frustasi.


Elang berjalan tepat di belakang Nayla dan Rio.


Rio tak sadar akan kehadiran laki-laki yang tadi sore menabrak tubuhnya dengan sengaja. Ia terlalu asik memperhatikan wajah Nayla yang seolah-olah menghipnotisnya.


Keduanya berhenti tepat di pintu keluar karena Rio mendapatkan sesuatu yang berbeda dari wajah Nayla.


Elang pun begitu, ia mengehentikan langkahnya tepat setelah kedua orang yang dibuntutinya menghentikan langkah mereka.


" Nay, kamu kenapa ?" tanya Rio terheran.


" hah aku ? aku kenapa ?" Nayla balik bertanya tak paham.


" Bibir kamu bengkak dan sebelah sini berwarna keunguan," jawab Rio sembari memperhatikan bibir kekasihnya itu.


Mendengar pertanyaan Rio membuat Nayla menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan Elang yang mendengar itu tak bisa menahan tawanya.


Tentu saja bibir bengkak Nayla dan warna keunguan yang tercipta di sana adalah hasil karya Elang beberapa menit yang lalu.


To be continued ♥️


Insyaallah kreji up ya hari ini.


Terimakasih banyak yang sudah vote.