The Unexpected Love

The Unexpected Love
Masuk Sekolah



selamat membaca ♥️


Mendengar Elang bersiap untuk pergi membuat Vony langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah kekasihnya itu. " Tu- tunggu Elang !!" Ucap Vony liri tapi Elang tak menggubrisnya.


"Ba-baiklah akan aku ceritakan semuanya padamu," ucap Vony terbata-bata. Cinta buta nya pada Elang membuat gadis itu akan melakukan apa saja asal Elang mau membalas perasaannya.


Elang terdiam dan urungkan niatnya untuk pergi, ia serasa mendapatkan angin surga saat Vony mengatakan hal itu. Ia berharap Vony mau mengatakan hal sebenarnya agar urusannya cepat selesai dan Elang akan pergi sejauh mungkin. Lalu ia akan kembali untuk Nayla. Ya hanya untuk gadis itu akan kembali suatu hari nanti !


Sikap keras Elang pun melunak pada Vony. Sampai-sampai Elang menarik paksa kedua ujung bibirnya, menciptakan sebuah senyuman palsu di wajahnya yang tampan. Vony yang melihat itu mengigit bibir bawahnya karena debaran jantungnya yang menggila karena saat ini Elang tersenyum hanya untuknya !


Elang dudukkan kembali tubuhnya. Tak seperti tadi yang duduk di kursi, kali ini Elang sengaja duduk tepat di sebelah Vony. Di atas ranjang rawat gadis itu, membuat Vony semakin tersanjung.


Bagai gurun tandus yang diguyur air hujan, hati Vony yang merana kini berganti rasa bahagia yang tak terkira. Senyuman palsu Elang sungguh telah menenangkan jiwa dan raganya.


"Kamu harus sembuh dulu," bujuk Elang dengan suara lembut, tak dingin lagi seperti biasa. Vony pun mengangguk pelan sambil berderai air mata haru bahagia.


"Setelah sembuh kita akan bicara berdua saja. Hanya kamu dan aku," lanjut Elang, masih dengan bujuk rayunya.


Mata Vony berbinar saat mendengar apa yang Elang ucapkan. Ia pun kembali menganggukkan kepalanya dengan tangis dan senyum haru bahagia.


"Makan yang banyak dan diminum obatnya, biar kamu cepat sembuh. Aku tunggu kamu di sekolah. Maaf setelah ini aku tak bisa menghubungi kamu lagi karana aku masih sangat dibatasi dalam menggunakan ponsel," bohong Elang. Padahal yang sebenarnya terjadi yaitu Elang enggan menerima panggilan atau pesan dari Vony, karena gadis itu pasti akan menghubungi Elang terus-terusan.


Lagi-lagi Vony hanya mengangguk patuh. Setiap ucapan Elang bagaikan mantra cinta. Hanya karena mendengar Elang berucap kata aku-kamu saja maka Vony menjadi patuh pada setiap perkataan Elang.


Tak lama setelah itu Elang pun berpamitan pulang.


***


Telah berlalu satu Minggu setelah Elang melihat keadaan Vony di rumah sakit. Gadis itu sembuh dengan cepatnya. Tak lagi menolak makan, minum obat pun tidak dengan paksaan karena Vony menuruti apa kata ayank.


Seperti yang Elang katakan sebelumnya, ia tak bisa lagi melihat keadaan Vony karena masih dalam masa hukumannya.. Maka Vony pun bersabar, yang penting sikap Elang sudah melunak padanya.


" Kamu udah bilang sama teman kamu itu soal kepindahan kita ?" Tanya Elang pada Amelia. Setelah perang dingin beberapa waktu lalu, kini sikap Amelia mulai mencair. Elang pun menjelaskan alasannya bisa berpacaran dengan Vony karena untuk mencari bukti soal kejahatan Leo. Alasan utamanya agar Nayla terhindar dari tindakan jahat Leo tak Elang ceritakan pada adiknya itu.


Elang tak pernah menceritakan secara gamblang tentang perasaannya pada Nayla. Entah mengapa, tapi Elang lebih suka menyimpannya sendiri. Apalagi bercerita pada Amelia sangatlah berbahaya gadis itu pasti akan meledeknya sepanjang waktu.


Paling beberapa teman paling dekatnya yang tahu, itu juga bukan karena Elang bercerita tapi karena sikap Elang yang tak bisa disembunyikan saat ada Nayla. Tapi dengan begitu, Elang bisa meminta bantuan para temannya untuk menghalau para pria yang menyukai Nayla.


"Aku belum cerita apa-apa sama sama Nayla," jawab Amelia sembari mendesah lesu.


"Kenapa ?"


"Karena bukannya aku takut Nayla yang akan menjadi sedih, tapi aku takut akulah yang nangis kejer karena akan berpisah dengannya," jawab Amelia lagi dengan mengusap ujung matanya yang basah.


"Aaarrgghh," erangnya tertahan.


Bagaimana mungkin ia bisa berjauhan dengan Nayla. Mereka telah berteman sejak jaman putih biru. Selama berteman, keduanya hampir tak pernah berselisih paham. Sikap Amelia yang keras dan jutek akan diredam oleh sifat Nayla yang pendiam dan tenang. Seperti waktu Amelia yang berbicara keras pada Leo hingga pemuda itu merasa kesal, maka Nayla yang maju untuk meminta maaf atas nama sang sahabat agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Setiap ada masalah, Nayla akan berada disisinya untuk memberikan semangat. Gadis itu juga akan sangat perhatian jika Amelia sakit. Seperti beberapa waktu lalu saat Amelia sakit, Nayla akan datang menjenguk sembari membawa catatan pelajaran yang dibuatnya sendiri.


Jika ada yang mengadu domba keduanya, Nayla tak mudah termakan hasutan karena ia lebih percaya pada sahabatnya dibandingkan dengan perkataan orang lain. Nayla juga tak pernah memanfaatkan keadaan Amelia yang kaya raya. Di mana lagi Amelia akan mendapatkan seorang sahabat seperti itu ?


Elang pun menghela nafas, ia pun merasakan hal yang sama dengan sang adik. Yaitu merasa berat akan berpisah dengan Nayla sang gadis pujaannya.


"Teman-teman Bang El udah tau ?" Tanya Amelia dan Elang pun mengangguk pelan sebagai jawaban. " Cuma Rafa yang belum tahu," lanjut Elang menambahkan.


Sudah dua Minggu pemuda itu tidak masuk sekolah karena masih mendapatkan perawatan intensif. Papi Elang yang menjadi penanggung jawabnya. Beliau dengan rutin mendatangi kamar inap Rafa dan memeriksa perkembangannya.


Elang pun merasa lega saat Papinya memberikan kabar bahwa Rafa sudah diperbolehkan pulang sejak 2 hari yang lalu.


Gadis itu juga bersikap biasa saja pada Elang, seolah ciuman pertama mereka tak pernah terjadi. Memikirkan hal itu membuat Elang menekuk muka.


Setelah lama berkendara, keduanya pun tiba di sekolah. Seperti biasa sang supir menunggu mereka hingga jam pulang sekolah tiba. Hanya untuk memastikan Elang dan Amelia benar-benar berada di lingkungan sekolah. Pak Ujang melakukan hal itu karena perintah sang majikan yaitu Papi Elang.


Seorang gadis telah berdiri tegak di pintu gerbang sekolah. Penampilannya jauh lebih segar dari saat terakhir Elang bertemu dengannya. Pipinya lebih berisi, dan senyumannya lebih cerah dari sinar mentari di pagi ini.


"Ayanknya Bang El udah sembuh," sindir Amelia sembari tertawa geli.


Elang pun melihat malas pada gadis itu. Ia menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum turun dengan senyuman palsunya untuk Vony.


"Elang !!" Vony melambaikan tangan pada pemuda yang belum sempurna keluar dari kendaraan yang membawanya. Ini adalah hari peta Vony sekolah dan sudah tak sabar lagi untuk bertemu Elang.


Elang tersenyum tanpa membalas lambaian tangan itu. Malas-malas Elang berjalan menemui Vony, sedangkan Amelia berjalan mendahului mereka. bahkan gadis itu tak memberikan sapaannya pada kekasih sang kakak.


"Bruk !!"


Tanpa Elang sangka, Vony berlari kecil dan menabrakkan dirinya pada tubuh Elang serta memeluk erat pemuda jangkung itu. Melalui bahasa tubuhnya, Vony meluapkan rasa rindunya yang membuncah pada Elang. Seperti adegan-adegan dalam drama romantis.


Elang tersentak sambil memaki pelan. Ia merasa kaget dan juga malu karena kini dirinya menjadi pusat perhatian. Untung saja Vonny tidak mendengar kata makiannya.


"Elang,aku kangen," ucap Vony tanpa melepaskan belitan tangannya di pinggang Elang. Ia tidurkan pipinya di dada Elang.


"Von, lepas !! Malu dilihatin orang," ucap Elang.


Kepala Vony menengadah melihat pada Elang dengan matanya yang sudah memburam karena air mata.


"Kamu gak kangen, El ?" Tanya Vony yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya.


Elang gelagapan, ia tak tahu harus berkata apa. Ditambah kehadiran Nayla di pintu gerbang yang terdiam terpaku melihat Elang yang tengah dipeluk kekasihnya membuat lidah Elang semakin kelu saja.


Mata Elang dan Nayla pun beradu pandang. Wajah gadis itu terlihat datar tanpa ekspresi.


"El... Kamu kangen aku gak ?" Tanya Vony masih dengan kepala menengadah menatap Elang dengan seksama.


Mau tak mau Elang pun harus akhiri tatapan matanya pada Nayla dan beralih pada gadis yang tengah memeluknya erat. "Gue...," Ucap Elang ragu-ragu.


"El... Udah aku bilang berulang kali... Panggil aku-kamu," rengek Vony manja.


"A-aku inget sama kamu. Sekarang lepas tangannya ya," pinta Elang yang sudah ingin melarikan diri.


Vony pun melepaskan pelukannya dan Elang benar-benar merasa malu saat ini. Untungnya tak ada satu orang pun guru yang berada di sana dan melihat apa yang mereka lakukan.


Nayla melewati Elang begitu saja, seolah tak mengenalnya. Elang menelan ludahnya paksa saat Nayla lakukan itu. Ia terdiam membeku di tempatnya berdiri. Pandangan mata Nayla terlihat muak padanya.


"Ayo kita masuk ke kelas," ajak Vony sembari menggelayut manja di lengan Elang.


Langkah Elang terhenti saat sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.


"El, lu ngapain?" Tanya pemuda itu dengan wajah terheran sembari melihat lengan Elang yang tengah dipeluk oleh Vony.


To be continued ♥️


Thanks for reading 🥰


Maaf telat update anakku lagi sakit.