
Siapa yang dipilih.
"Nayla !!! Aku yang anterin kamu pulang !!!" Teriak Elang dengan wajahnya yang sudah berubah merah padam. Nafasnya memburu, dengan tangan terkepal.
Nayla urungkan niatnya untuk menaiki motor besar Maxi. Gadis itu tolehkan kepala dan terkejut melihat kehadiran Elang yang tak jauh darinya.
"Turun, Nay... Biar aku yang anterin kamu pulang," ucap Elang lebih tenang dari sebelumnya. matanya yang menatap tajam kini meredup sayu penuh mohon.
Mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain. Dada keduanya terasa sesak, ada sesuatu yang dalam diri mereka namun tak terucapkan. Keduanya sama-sama menahan diri untuk tak mengutarakan perasaan masing-masing karena keadaan yang tak memungkinkan.
"Please, Nay...," Bibir Elang bergetar saat mengatakan hal itu.
"El, kamu apa-apaan sih ? Ada aku di sini," ucap Vony sembari menggoyang-goyangkan lengan Elang. Wajah gadis itu sudah terasa panas dengan mata yang memburam menahan air bening agar tak terjatuh di pipinya.
Elang tolehkan kepala pada gadis yang terlihat menyedihkan itu. Vony berdiri tepat di sebelahnya. Lalu Elang alihkan lagi pandangannya pada Nayla yang tengah melihat dirinya bersama Vony.
Nayla melengkungkan senyum yang tak bisa Elang artikan karena bibir gadis itu tersenyum tapi tidak dengan matanya.
Mata nayla meredup sendu saat ia lihat Vony yang terus bergelayut manja di lengan Elang. "terimakasih tawarannya, Kak El. Tapi aku pulang sama teman aku aja," tolak Nayla dengan halus. Bahkan ia tersenyum manis saat mengatakannya.
Walaupun hatinya terasa remuk redam tapi Nayla masih bisa mengontrol emosinya. Ia berkata dengan tenang seolah dirinya baik-baik saja.
Maxi pun tolehkan kepala karena Nayla tak juga naik ke atas motornya. "Nay ?" Tanya pemuda itu sembari membuka penghalang helmnya.
"Ah sorry," sahut Nayla seraya menaiki motor Maxi.
"Kak El, kita duluan ya," ucap Maxi saat ia melewati laki-laki jangkung itu. Sedangkan Nayla menyembunyikan raut wajah sedihnya di balik helm. Matanya pun sudah basah, dengan nafas memburu.
Bohong jika Nayla merasa baik-baik saja, sikap manis Elang membuatnya semakin terjebak dalam perasaan cinta sendiri yang tak berkesudahan.
"Pegangan, Nay !" Titah Maxi karena pemuda itu mulai menaikkan kecepatannya.
Nayla hampir saja melingkarkan tangannya, tapi ia urungkan niatnya saat wajah Elang melintas dalam kepalanya. Bayangan saat Elang melihatnya nanar terus menari dalam benak Nayla.
Kenangan tentang ciuman pertama mereka pun selalu menghantui Nayla walaupun gadis itu mati-matian berusaha untuk melupakannya.
Sudah beberapa malam ini Nayla terbangun dengan tiba-tiba. Gadis itu bermimpi tentang ciuman pertamanya yang selalu hadir hampir di setiap tidur malamnya.
Pipi Nayla akan basah saat ia terbangun, apa yang telah Elang lakukan padanya, yaitu mencuri ciuman pertamanya, sungguh-sungguh membuat Nayla tersiksa. "You don't know what you did to me," ( kamu tak tahu apa yang kamu lakukan padaku ) ucap Nayla dalam hati. Ia masih saja tak bisa berhenti memikirkan Elang.
"Nay, pegangan !" Ulang Maxi karena Nayla tak juga menurutinya. Bukan hanya karena pemuda itu ingin dipeluk oleh Nayla, tapi Maxi juga merasa khawatir Nayla akan terjatuh.
Nayla tak mungkin melingkarkan tangannya di perut Maxi. Jadi, yang gadis itu lakukan hanya memegang kain jaket yang Maxi kenakan.
Lagi-lagi Nayla berusaha setia pada laki-laki yang bukan kekasihnya itu.
***
Di pelataran parkir Elang masih berdiri dengan wajah sendu dan mata sayu menatap kepergian gadis yang disukainya dengan laki-laki lain.
"What the hell did i do ?" ( Apa yang sudah aku lakukan) gumam Elang frustasi dan penuh sesal.
Niatnya ingin melindungi Nayla dari kejahatan Leo, tapi yang terjadi malah Elang harus kehilangannya. Gadis itu mulai berjalan menjauh dari hidupnya.
Senyum manis yang Nayla berikan tadi membuat Elang ingin mati saja.
Elang berdiri menatap kosong ke sembarang arah, pada akhirnya ia merasakan apa yang Nayla rasakan beberapa hari lalu. Yaitu melihat orang yang kita sukai bersama dengan yang lain.
"El...," Lirih Vony dengan wajah sembab karena gadis itu tak bisa lagi menahan laju air matanya yang jatuh dari pelupuk mata.
"Sebaiknya lo cepat pulang," ucap Elang terdengar sangat dingin di telinga Vony.
"Sampai kapan kamu mau kaya begini ? Tak bisakah kamu menerima kehadiran aku ?" Tanya Vony dengan air mata berhamburan.
Belum juga Elang menjawab, Amelia menurunkan jendela mobilnya dan melihat galak pada sang kakak. "Mau pulang gak sih ?" Tanya Amelia tanpa memperdulikan kehadiran Vony.
"Gue balik," ucap Elang seraya membuka pintu mobilnya dan bergerak masuk. Meninggalkan Vony yang berdiri terpaku seorang diri di pelataran parkir sekolah.
***
Masih jelas dalam ingatan Vony, bagaimana Elang melihat pada Nayla. Sangat berbeda dengan cara melihat pada dirinya.
Pada Nayla, Elang akan meredupkan pandangannya. Pemuda itu juga berbicara dengan nada suara yang lebih lembut dan dengan tata bahasa yang halus.
Tak seperti pada dirinya. Elang akan melihat Vony dengan tatapan mata tajam dan dingin. Bicara pun seperlunya, dengan menggunakan bahasa yang sedikit kasar. Tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya.
Sampai-sampai Vony harus mengingatkan Elang berulang kali hanya untuk mengganti panggilan Lo-Gue manjadi aku-kamu.
"Aarrrggggghhhh, benci banget !!!" Ucap Vony seraya meremas rok seragamnya.
"Kenapa, Non ?" Tanya supir pribadi Vony.
"Tidak apa-apa, Pak. Bisakah lebih cepat ? Saya ingin segera sampai rumah," jawab Vony terdengar ketus. Ia ingin segera pulang dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
Vony juga tak akan menunggu telepon atau pesan yang dikirimkan Elang untuknya. Karena lelaki itu tak pernah melakukannya.
Padahal mereka belum lama jadian, tapi Elang benar-benar tak menginginkannya. Vony kira setelah jadian, sikap dan hati Elang akan melunak karena terjerat pesona dirinya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kini Vony lah yang menuntut hati Elang untuk mencintainya.
***
Di dalam mobil yang lain, Elang duduk dengan resah hati tak karuan. Membayangkan tangan Nayla yang melingkar pada pinggang laki-laki lain selain dirinya. Sungguh Elang merasa sangat tidak rela.
Seandainya saja Elang tidak dalam masa hukuman, ia akan langsung menarik Maxi ke tempat sepi dan memberikan pemuda itu banyak hadiah berupa banyak bogem mentah di wajahnya karena telah berani mendekati Nayla.
Tak hanya itu, Elang juga akan memberikan ancaman yang tak main-main agar pemuda itu tak lagi mendekati gadis yang disukainya.
Elang menarik nafas dalam, menyesalkannya pilihan yang Nayla ambil.
"Tahukah kamu, Nay ? Aku cemburu !!" Raung Elang dalam hati. Ia benar-benar merasa tersiksa.
Rasa tersiksa itu Elang tunjukkan dengan wajahnya yang terlihat murung dan juga tak bersemangat.
Amelia sang adik masih asik dengan ponselnya. Ia tak sekalipun peduli pada sang kakak yang sedang dalam keadaan galau akut .
***
Keesokan harinya Elang disuguhi pemandangan yang menusuk hati. Tepat di hadapannya Nayla baru saja turun dari motor yang dinaikinya.
Jika pada biasanya gadis itu diantarkan oleh sang kakak, tapi tidak pagi ini.
Yang mengantarkan Nayla pagi ini adalah pemuda yang kemarin mengantarnya pulang. Siapa lagi jika bukan Maximilian.
"OMG... Kalian berangkat barengan ?" Tanya Amelia heboh.
"Eh Nggak ! Bukan gitu, Mel," jawab Nayla gelagapan.
Sedangkan Elang langsung memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat itu semua. Elang berjalan lebih dulu memasuki sekolah dan langsung menuju kelasnya.
Hati Elang yang meradang semakin berdarah-darah karena apa yang baru saja dilihatnya.
"Tumben lu El sendirian ? Kembar siam lo mana ?" Tanya Rendi yang tiba-tiba berjalan di sebelahnya.
Kembar siam adalah ledekan Rendi pada Vony yang selalu menempel padanya.
Sibuk dengan pikirannya tentang Nayla membuat Elang tak sadar jika gadis yang sudah dipacarinya selama beberapa hari ini tak menampakkan batang hidungnya padahal biasanya Vony sudah berdiri dengan manisnya di pintu gerbang sekolah menanti kedatangan sang pujaan hati.
Elang mengerdikkan bahunya tanda tak tahu, dan ia pun tak ingin tahu kemana perginya Vony.
to be continued ♥️
makasih banyak vote nya yaaa
semoga rezeki kalian semakin lancar.