
" Tinggalkan laki-laki itu demi aku, Nay... Aku janji akan mencintaimu lebih besar, lebih dalam, lebih segalanya dari dia. please 🥺...," Tulis Elang di pesan terakhirnya.
Di lain tempat, di sebuah rumah berlantai dua dan dengan design minimalis. Seorang laki-laki jangkung yang kini sudah beranjak dewasa, duduk bersandar di kepala ranjang dengan dada berdebar hebat.
Ia menanti dan tunggu balasan pesan dari gadis yang sangat dicintainya itu. Bukannya Elang tak ingin mengucapkannya secara langsung, tapi Nayla tak juga menerima panggilannya. Padahal Elang sudah tak kuasa untuk menahan rasa di dalam dirinya yang siap meledak hebat jika Elang terus-terusan menahannya.
" 8 tahun, Nay ! 8 tahun ! Untung saja aku gak gila," ucap Elang lirih seraya menatapi layar ponselnya. Cintanya untuk Nayla terlalu besar hingga ia tak menginginkan gadis lainnya.
Ceklek
Pintu kamar Elang dibuka lebar dan berjalan masuklah seorang gadis dengan rambut coklat yang sama seperti dirinya. Gadis itu masih mengenakan jas putihnya seperti sang ayah.
" I hate my job !!!" ucapnya seraya melemparkan dirinya ke atas ranjang yang diduduki Elang.
Cepat-cepat Elang menekan tombol 'home' dan melemparkan ponselnya asal. Ia tak mau gadis yang tengah berkeluh kesah itu mengetahui kegalauannya. Karena akan sangat lama sekali ia mengejek Elang.
" Aku benci pekerjaanku dan bekerja di tempat yang sama dengan papi semakin memperburuknya," keluhnya lagi.
Gadis itu adalah Amelia yang kini bekerja sebagai dokter umum. Sebuah profesi yang sangat tak diinginkannya. Amelia benci darah dan sebagainya. Tapi karena 3 diantara ke 4 anaknya tak ada yang menjadi dokter, maka Amelia di tuntut untuk meneruskan profesi sang ayah. Dan itu adalah salah satu hukuman yang diterimanya karena dulu bersekongkol dengan Elang.
Hingga sekarang Elang masih merasa bersalah karena melibatkan sang adik dalam masalahnya. Oleh karena itu hingga detik ini Elang masih tak berani mengatakan bahwa dirinya jatuh cinta pada sahabat sang adik yang bernama Nayla.
Elang hanya terdiam tanpa ekspresi saat ia mendengar adiknya berkeluh kesah. Jujur, Elang tak tahu harus berbuat apa.
Amelia menutup wajahnya dengan sebelah lengan. Sepertinya hari ini benar-benar berjalan buruk baginya.
" Kenapa ?" Tanya Elang pada akhirnya.
" Baru pertama masuk, baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, Papi udah nempatin aku di bagian gawat darurat," jawab Amelia.
" Kenapa Papi gak jodohin aku sama anak orang kaya saja, biar aku gak usah kerja kaya begini,"
Elang tertawa mendengarnya. " Siapa yang mau dijodohin sama cewek galak kaya kamu," sahut Elang terkekeh geli.
" Diam kamu es balok !!" Timpal Amelia sengit.
Di usianya yang akan menginjak 23, Amelia masih betah menyendiri. Entah kenapa Amelia seperti itu, padahal Elang tahu jika banyak pemuda yang menyukai juga berusaha untuk mendekatinya.
Amelia yang sekarang tak jauh beda dengan dirinya yang dulu. Masih judes juga galak. Hanya seorang pria saja yang bisa menaklukkannya. Siapa lagi jika bukan Rafa, dan tak ada seorangpun yang tahu tentang ciuman pertama mereka.
Amelia tak pernah menceritakannya pada siapapun, karena siapa yang akan percaya ? Mereka langsung berpisah setelah ciuman itu terjadi dan tak pernah lagi berhubungan lagi setelahnya. Sepertinya karma Elang menimpa adik kesayangannya. Seperti halnya Nayla, Amelia menyimpan rapat kisah cintanya.
Cinta monyet yang masih mempengaruhi dirinya hingga detik ini.
" OMG... Percuma ngomong sama kamu !!!" Amelia bangkit dari tidurnya sembari mendengus kesal. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan kamar Elang. Sebenarnya Amelia jarang berkeluh-kesah pada kakaknya itu, tapi sepertinya hari ini ia lalui hari yang sangat beratnya hingga sudah tak bisa menahan diri lagi untuk membaginya.
Gadis cantik dan judes itu masuk ke dalam kamarnya dan melepaskan semua pakaiannya dengan kesal. Secepat kilat Amelia berganti baju, lalu membasuh wajah dan mencuci tangan hingga bersih. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Padahal sang Mami sedang menyiapkan makan malam tapi Amelia memilih untuk tidur saja.
Keluarga Wiguna kini tinggal di Jakarta, tak lagi di Bogor seperti dulu. Papi Elang memutuskan untuk pindah tempat tinggal, guna meninggalkan seluruh cerita masa lalu yang mengharuskan mereka berurusan dengan hukum.
***
Nayla duduk di atas ranjang masih dengan berbalut handuk. Ia mengigit bibir bawahnya dengan cemas. Membaca pesan yang Elang tuliskan berulang kali. Ia masih tak percaya karena Elang lagi-lagi menyatakan perasaan cintanya.
Nayla senyum-senyum sendiri, tentu saja ia merasa amat sangat bahagia. Ini adalah sesuatu yang diimpikannya.
Nayla mengetikkan balasan untuk Elang tapi ia pun segera menghapusnya lagi. Gadis itu masih mencari kata-kata yang tepat untuk membalas pesan Elang.
Nayla tak mau salah mengetikkan kata, tapi satu hal yang pasti Nayla tahu langkah apa yang akan diambilnya. Nayla akan memilih Elang tentu saja, dan mengakhiri hubungannya dengan Rio secepatnya.
" Ya Tuhan... Berikan aku alasan yang kuat untuk berpisah dengan Rio dan semoga pilihan yang aku ambil ini memang yang terbaik," gumam Nayla sembari kembali mengetikkan pesan untuk Elang.
" Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya," balas Nayla pada akhirnya.
Ia segera mematikan daya ponselnya karena tak ingin Elang menghubunginya. Nayla belum siap berbicara pada Elang, karena ia yakin Elang akan banyak bertanya tentang rencananya yang Nayla sendiri tak tahu seperti apa.
***
Pagi-pagi sekali Nayla sudah bangun. Semalaman ia tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan pernyataan cinta Elang yang hampir seluruh hidup Nayla menunggunya. Tak hanya itu, Nayla juga memikirkan bagaimana berpisah dengan Rio, karena tak adil bagi laki-laki itu jika Nayla memutuskannya tanpa alasan yang kuat.
Hal pertama yang Nayla lakukan ketika membuka mata adalah menyalakan benda pipih yang tergelak mati daya tepat di sebelahnya.
Dada Nayla berdegup kencang hanya karena akan menyalakannya saja. Ia berpikir pasti Elang banyak menghubunginya semalam.
Tepat seperti dugaannya, laki-laki jangkung itu mencoba menghubunginya berkali-kali bahkan ia memberikan pesan yang bernada frustasi. " Baiklah jika kamu tak ingin berbicara, tapi satu hal yang pasti... Aku akan selalu menunggumu. Hanya kamu yang aku tunggu," tulis Elang di sana.
Jika Nayla menunggu Elang 8 tahun lamanya, mungkin tak masalah jika sekarang membuat Elang menunggu Nayla sebentar saja. Sampai hubungannya dengan Rio usai.
Rio juga menghubungi Nayla semalam tapi memang tak se-intens Elang. Laki-laki itu berhenti menanyakan keadaan Nayla setelah gadis itu mengatakan jika ia sudah berada di apartemennya.
Nayla rentangkan tubuhnya, ia segera melesat ke kamar mandi dan bersuci. Setelah melaksanakan kewajiban ibadahnya di pagi hari, Nayla kembali bergelung di dalam selimut dan membaca pesan cinta Elang berulang-ulang sambil senyum-senyum sendiri. " Kamu terlalu starbak untuk aku yang kopikap," gumam Nayla sembari tertawa. Mantra itu benar-benar tak berguna karena nyatanya cinta Nayla tak juga sirna.
Alih-alih menulis pesan untuk Elang, Nayla lebih memilih untuk mengirimkannya pada Amelia. Memastikan janji temu mereka di hari ini. Tempat makan kekinian di sebuah mall menjadi titik temu bagi keduanya.
" Can't hardly wait to see you, Nay 😍🥰" tulis Amelia dalam balasan pesannya.
Nayla yang Membaca itu tersenyum lebar. Seperti halnya Amelia, ia pun sangat antusias untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
***
Pukul 11 siang lebih beberapa menit saja, Nayla sudah bersiap-siap untuk pergi.
Tadi, ia sedikit berselisih paham dengan Rio yang melarangnya untuk pergi. Laki-laki itu tak memberikan alasan yang pasti kenapa melarang Nayla untuk keluar dari apartemen padahal ini hari libur dan Nayla hanya akan bertemu dengan sahabatnya saja.
Saking tidak bolehnya Nayla pergi keluar, Rio sampai memesankan banyak makanan melalui aplikasi online untuk gadisnya itu. Ia lakukan agar Nayla tetap duduk manis di apartemennya.
Tapi Nayla tak mengindahkan peringatan Rio. Ia tak suka Rio mengatur-aturnya tanpa alasan yang pasti. Nayla pun memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada kekasihnya itu.
" Hotel XXX ya, Pak." Nayla pun memasuki taksi yang dipesannya secara online. Amelia memindahkan tempat pertemuan mereka karena ternyata gadis itu tak bisa lama-lama meninggalkan seminar kesehatan yang diikutinya itu. Ia hanya mempunyai waktu luang pas jam makan siang saja.
Meskipun begitu, Nayla tak merasa kecewa. Bisa bertemu dengan sahabat di masa sekolahnya dulu sudah membuat Nayla sangat merasa bahagia.
Amelia sudah berdiri di depan pintu utama hotel itu saat Nayla tiba. Gadis berambut coklat itu makin terlihat cantik dan senyumnya masih seperti dulu tak berubah sama sekali.
" Nayla !!!! " Amelia berlari heboh menuruni beberapa anak tangga untuk bisa mencapai Nayla yang baru saja turun dari taksi online yang membawanya.
" Amel !!!" Nayla berhambur pada pelukan gadis yang kini mempunyai tinggi badan yang jauh melebihi dirinya.
Keduanya berpelukan dengan sangat erat, bahkan Nayla dan Amelia sama-sama menitikkan air matanya. Kehebohan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu itu menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berada di sekitarnya.
"Aku kangen, Mel," ucap Nayla sambil terisak. Ia tersenyum juga tertawa di waktu yang bersamaan.
Amelia pun melakukan hal yang sama, ia menangis haru dalam rasa bahagia tak terkira. Dan dirinya sangat bersyukur karena sikap Nayla tak berubah setelah ditinggalkannya.
" Langsung masuk yu, Nay ? Maaf ya kita harus ketemu di sini,"
" Its oke, Mel. Yang penting kita bisa bertemu," sahut Nayla seraya menggandeng tangan sahabatnya itu dan melangkahkan kaki mereka ke restoran yang terdapat di dalamnya.
Keduanya saling berbicara tanpa rasa canggung. Tak ada yang berubah sama sekali. Baik Nayla maupun Amelia sangat bersyukur karena jarak dan waktu yang memisahkan mereka tak membuat persahabatan di antara keduanya menjadi buruk.
Amelia memilih meja yang letaknya sedikit menjauh dari rekan-rekan dokternya yang lain. Ia ingin bisa berbicara dengan leluasa bersama Nayla.
Mereka duduk dengan saling berhadapan, senyuman tak juga surut dari wajah cantik keduanya. " Ayo kita pesan dulu sebelum mengobrol," ajak Amelia dan Nayla pun menyetujuinya.
" Setelah ini aku akan menceritakan apa yang terjadi selama 8 tahun terakhir ini," ucap Amelia. Dan sumpah demi apapun Nayla ingin mendengarnya dari sisi Amelia karena Elang hanya menjelaskannya sebentar saja. Pemuda jangkung itu malah sibuk memberikan ciuman kedua Nayla dengan panasnya.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️