
Sesampainya di apartemen, Rafa tak langsung tidur. Ia cukup terkejut saat mendapati apartemennya rapi, bersih dan juga wangi. Tapi Rafa rasa itu tak cukup untuk menunjang rencana malam pertama mereka. Rafa ingin ini menjadi sesuatu yang istimewa dan akan dikenang oleh keduanya.
Rafa letakkan kopernya di sudut kamar. Alih-alih mengeluarkan isinya, Rafa lebih untuk membuka laptopnya dan menyimpannya di atas kedua pahanya. Ia manyalakan benda itu dan menunggunya siap dengan tak sabaran.
"Ide.. kamar... Romantis...," Tulis Rafa di mesin pencarian sejuta umat. Tak perlu menunggu lama, sederet hasil pencarian mesin itu pun terpampang nyata di layar.
Rafa membacanya satu persatu dan memilih beberapa yang menarik perhatiannya. Ia terlihat serius memperhatikan layar di hadapannya yang menunjukkan beberapa ide menciptakan suasana romantis di dalam kamar.
Setelah membaca dan mengamati banyak halaman. Rafa pun menyimpulkan jika ia memerlukan bunga mawar, lilin hias dan juga aromaterapi. Tak lupa lagu-lagu yang bisa meningkatkan mood untuk berc*nta. Rafa mengigit bibir bawahnya, membayangkan apa yang akan ia lakukan pada gadis pujaannya itu.
Cukup lama Rafa melakukan riset kecil-kecilannya itu hingga waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia pun mematikan benda berbentuk persegi panjang itu dan segera membersihkan diri dan berganti baju.
Setelah itu Rafa menaiki ranjangnya yang terasa luas karena tak ada Amelia di sana. Ia miringkan tubuhnya dan membelai lembut ranjang kosong disebelahnya. "Jam setengah 2 pagi dan kamu masih bekerja," gumam Rafa. Ada rasa sedih bercampur khawatir di dalam dadanya.
Saat Rafa terbaring di ranjang empuk dan berbalut selimut tebal, sang istri tengah berjuang melakukan kewajibannya. "Huuufft," desah Rafa terdengar nelangsa.
Ia pun berusaha untuk menutup matanya walaupun pikirannya masih tertuju pada sang istri. Rafa berencana untuk menjemput istrinya itu pagi-pagi dan membuatkannya sarapan. Rafa tersenyum dan berharap pagi segera datang menyapanya agar ia bisa segera bertemu dengan Amelia. "Aku tidur dulu ya, Sayang," gumam Rafa di dalam rasa sepinya.
***
"Aaarghh," Amelia regangkan tubuhnya yang terasa penat. Pagi telah datang, matahari pun sudah menampakkan sinarnya yang cerah. Sudah waktunya Amelia untuk pulang.
Ada yang berbeda dengan Amelia di pagi hari ini. Jika biasanya ia akan pulang dengan raut wajah lelah, tapi kali ini Amelia tersenyum ceria pada semua orang yang menyapanya. Amelia bersemangat untuk pulang karena seseorang yang dirindukannya sudah menunggu di apartemen. Rafa yang kelelahan karena telah menempuh perjalanan jauh dengan waktu cukup lama, pasti sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
"Dok, ada yang mencari anda di lobi depan," ucap seorang gadis yang mengenakan seragam perawat.
Amelia sedikit berdecak kesal, ia sudah ingin pulang pada suaminya tapi kini datang seseorang yang mencarinya. Amelia yakin jika yang datang untuk menemuinya itu adalah salah satu pasiennya.
"Oke, akan aku temui sekarang. Terima kasih," sahut Amelia pada gadis itu.
Amelia menyimpan alat-alat medis yang ia gunakan semalam, lalu ia sampirkan tali tasnya di bahu dan bersiap-siap untuk pulang. Bahkan ia tak menemui Papinya dulu yang praktek di pagi hari. Amelia benar-benar ingin cepat pulang.
Wajahnya yang ditekuk kesal hingga kesan judes tercetak jelas di wajahnya, kini mencair seiring senyuman yang tercipta di bibir merah mudanya.
Seseorang yang Amelia kira adalah pasiennya ternyata Rafa sang suami yang datang menjemputnya.
"Sayangnya Rafa," sapa lelaki itu sambil berdiri dan berjalan mendekati sang istri.
Amelia menghampiri suaminya itu dengan setengah berlari. Wajahnya yang merona merah tersenyum manis pada suaminya. Dan tanpa malu-malu, Amelia menghambur pada tubuh Rafa dan memeluknya erat. "Terimakasih udah mau jemput. Aku tahu kamu pasti cape," ucap Amelia sembari mengeratkan pelukannya. Ia tak peduli jika kini beberapa pasang mata melihat padanya.
"Mulai deh," sahut Amelia seraya memutar bola matanya malas. Rafa sudah mulai mengeluarkan kata-kata manisnya.
Rafa pun tertawa melihatnya, "pulang yuk ? Sayangnya Rafa pasti capek," ucap Rafa yang dijawab anggukan kepala oleh Amelia.
Keduanya berjalan keluar dari rumah sakit dengan jemari yang saling bertautan. Entah apa yang dikatakan oleh suaminya itu hingga Amelia tertawa lebar. Tanpa mereka sadari, Papi Amelia memperhatikan nya dari kejauhan.
***
"Kamu yang siapin ini semuanya ?" Tanya Amelia dengan raut wajah terkejut, tak percaya. Saat ini ia dan Rafa sang suami, dulu berseberangan dengan banyak makanan di atas meja. Ada segelas jus jeruk segar, nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan beberapa potongan buah segar. Dan semuanya disiapkan Rafa sebelum ia pergi menjemput istrinya di rumah sakit.
"Hu'um, Rafa yang bikin dan ini pakai resep rahasia," jawabnya penuh percaya diri.
"Rahasia apa?" Tanya Amelia penasaran.
"Coba dulu, nanti Rafa kasih tau,"
Amelia pun menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. "Enak," ucapnya dengan mulut penuh. Tak sabaran untuk mendengar apa resep rahasia yang dimiliki Rafa.
"Rafa masaknya pakai cinta, makanya jadi enak," sahut Rafa cengengesan dan Amelia kembali memutar bola matanya malas.
"Seudah makan, sayangnya Rafa tidur ya. Istirahat..," ucap Rafa lembut dan matanya menatap sayu penuh cinta pada istrinya itu.
"Mmm... Bu-bukannya kita mau-"
"Istirahat dulu... Jujur... Rafa pun udah gak kuat buat ngelakuin itu, tapi Rafa juga gak mau sayangnya Rafa kecapean," potong Rafa cepat membuat Amelia berkaca-kaca karena terharu dengan ucapan suaminya itu.
To be continued
Thanks for reading
Mumpung Senin vote yuuu
Dobel update kalo votenya banyak yes
Ini detik-detik menuju pemersatu bangsa ya kwkwkkwkw