The Unexpected Love

The Unexpected Love
Rencana Yang Dipercepat



Hingga sebuah suara menyadarkan keduanya. "Mama !!! Onty Nayla dan Om Elang kiss-kiss an !!!" Teriak gadis itu dengan sangat nyaring.


Mendengar Nadine berteriak, sontak membuat Nayla dan Elang saling menjauhkan wajah mereka. Wajah keduanya terasa panas dengan semburat merah yang menghiasinya.


Cepat-cepat Nadia datang dari arah dalam rumah dan segera membawa Nadine pada pangkuannya. "Itu bukan kiss, om Elang cuma sedang mengobrol sama Onty Nay," jelas Nadia berusaha untuk menyelamatkan muka sang adik.


" Ngobrolnya saling nempelin bibil ya, Ma ?" Tanya Nadine polos dengan suara khas anak kecilnya.


Nadia membolakan matanya dan cepat-cepat menutup mulut sang anak dengan kedua tangan agar gadis kecil itu tak lagi bersuara. "Sssttt stop talking, sweet heart, ( berhenti bicara, Sayang). bujuk Nadia.


Nadine pun mengangguk pelan dan Nadia pun melepaskan tangannya dari mulut gadis kecil itu. "Good girl," puji Nadia saat gadis kecilnya itu menuruti perkataannya. "ayo Mama buatkan Nadine susu coklat yang enak sebagai hadiah," lanjut Nadia sembari membawa Nadine ke dalam rumah.


Nayla dan Elang masih tundukkan kepala. Sedangkan di dalam rumah suasana jadi begitu sunyi. Bahkan suara jangkrik pun bisa terdengar dengan jelas jika memang ada. Atmosfer tiba-tiba berubah menjadi canggung di antara mereka.


" Sepertinya kita harus segera menikahkan mereka," ucap Mami Elang memecahkan kesunyian.


Wajah Elang yang tadinya menegang kini berubah sumringah setelah ia tak bisa menahan senyumnya. Sedangkan Nayla masih tundukkan kepala tak berani untuk menampakkan diri padahal ia sedang duduk di teras luar bersama Elang.


" Hu'um, saya setuju. Sepertinya lebih cepat lebih baik," sahut ibunya Nayla. Mengingat anak gadisnya itu dalam kesehariannya hidup terpisah sendirian di apartemen.


Bukannya ibu Nayla tak percaya, tapi sebagai orang tua dirinya sangat khawatir jika Nayla tergoda untuk mencoba sesuatu yang biasa dilakukan orang dewasa saat memadu kasih.


"Setelah pernikahan Bimo di akhir tahun ini, kemudian kita nikahkan Elang dan Nayla di awal tahun baru. Bagaimana ?" Tanya Mami Elang.


" Saya setuju, tapi bagaimana dengan Elang dan Nayla?"


"Setuju !" Potong Elang. Secara refleks ia pun berdiri karena begitu antusiasnya membuat orang-orang yang berada di dalam rumah tersenyum geli melihatnya.


Elang pun menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal saat dirinya sadar begitu inginnya Elang untuk segera menikah.


" Nak Dimas tak apa-apa jika Nayla melangkahi kamu ?" Tanya Papi Elang pada kakak ke dua Nayla.


Dimas yang mendapat pertanyaan itu langsung mengangguk tegas. " Saya tak apa-apa dilangkahi, karena saya memang sedang ingin membangun karir," jawab Dimas dengan penuh keyakinan.


Alex tersenyum sembari memberikan jempol pada adik iparnya itu. Alex menjadikan Dimas sebagai asisten ke duanya karena kinerja pemuda itu yang baik. Bukan karena Dimas adalah adik sang istri.


" Kamu mau meminta apa sebagai syarat dilangkahinya ?" Tanya Mami Elang pada Dimas.


Kali ini Dimas menggelengkan kepala. " Saya tak ingin apa-apa, Tante. Yang penting Elang bisa menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab pada Nayla dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Maka itu sudah lebih dari cukup untuk saya," jawab Dimas tanpa ragu. Baginya kebahagiaan sang adik adalah yang paling penting.


" Nay, El... Coba duduk di sini, kita langsung bicarakan tentang pernikahan kalian," titah Papi Elang.


" Pasti karena ciuman itu," rajuk Nayla pelan sembari menggoyang-goyangkan tangan Elang. Ia berpikir jika rencana pernikahannya itu dipercepat karena insiden ciuman tadi. Nayla sungguh tak punya muka untuk masuk ke dalam rumah dan bersitatap dengan kedua orangtuanya dan juga kedua calon mertuanya.


"Ya ampun...," Nayla menghela nafasnya kasar. Seandainya bisa, ia ingin menghilang dari sana.


"Ayo, gak apa-apa. Mereka juga pasti mengerti. Aku janji semua akan baik-baik saja," janji Elang. Ia pun mengulurkan tangannya untuk Nayla raih.


Dengan perasaan malu yang bercampur cemas Nayla meraih tangan itu dan ia mengikuti Elang untuk masuk ke dalam rumah.


Tadinya keluarga Elang datang untuk hanya mengikat Nayla untuk Elang. Tapi kini mereka langsung berbicara tentang pernikahan.


***


Menjelang sore hari keluarga Elang pun undur diri. Cukup lama mereka berembuk merencanakan pernikahan Elang dan Nayla yang akan dilaksanakan dalam tiga bulan mendatang.


Semua masalah pernikahan akan diserahkan pada wedding organizer ternama di kota Jakarta dan Nadia sebagai penanggung jawabnya. Para orang tua hanya tinggal duduk manis saja.


Nayla sangat bahagia dengan rencana pernikahannya tapi dalam hatinya yang paling dalam masih ada sesuatu yang mengganjal.


Nayla merasa sangat kecewa saat memeriksa ponselnya di dalam kamar. Benda pipih itu tak menunjukkan adanya pesan atau panggilan tak terjawab dari Amelia.


Nayla masih belum bisa juga menghubungi sahabatnya itu. Jika biasanya gadis itu akan langsung menghubunginya kembali namun kali ini tidak.


Terdengar suara pintu diketuk dari arah luar. "Nay ?" Ternyata Nadia yang berada di balik pintu itu.


"Mbak boleh masuk ya ?" Tanya nya lagi.


Nayla segera mengusap ujung matanya yang sedikit basah dengan punggung tangan. Ia sungguh merasa sedih karena Amelia yang mengabaikannya.


" Ma-masuk Mbak, nggak dikunci kok," sahut Nayla dan tak lama Nadia pun menyembulkan kepalanya dari balik pintu."aku masuk ya,""


Nadia pun melangkahkan kakinya memasuki kamar sang adik dan menutup pintunya rapat-rapat ketika ia sudah berada di dalamnya. Nadia tersenyum canggung pada adiknya itu. "Tadi... Maafin Nadine ya...," Ucap Nadia yang merasa tak enak hati pada adiknya itu.


Nayla pun tersenyum. " Nggak apa-apa, Mbak. Aku dan Elang kok yang salah," sahut Nayla malu-malu.


" Lagian kalian nekat main nyosor-nyosor aja padahal banyak orang di dalam rumah," tawa Nadia meledak saat mengatakannya.


" Lalu siapa yang sering kepergok ciuman di kantor ? Hingga merusak pemandangan mataku ini," balas Nayla sengit.


Nadia pun mencebikkan bibirnya kesal saat sang adik bisa membalasnya dengan telak. Sangat sulit untuk melarang Alex agar tak melakukan itu karena bahasa cinta Alex untuk Nadia adalah melalui kemesraan dan juga sentuhan.


" Huufftt... Love language Alex adalah melalui physical touch. Susah banget bilangin dia buat gak lakuin itu semua," keluh Nadia sembari melemparkan tubuhnya ke atas ranjang sang adik dan membaringkan tubuhnya di sana.


Tawa Nayla pecah saat mendengar keluhan kakaknya. " Jangan melarang Alex untuk berhenti melakukannya, karena itu akan menjadi beban pikiran bagi Alex," ucap Nayla.


"Hahaha benar," tawa Nadia terdengar sumbang karena itu adalah hal yang sebenarnya.


Walaupun Alex terkesan "needy" ( tak bisa lepas dan sangat ketergantungan) pada Nadia. Tapi istrinya itu merasa senang karena dengan begitu ia merasa dibutuhkan. Perjuangan cinta Nadia sangatlah tak mudah untuk mendapatkan hati Alex dulu.


" Mbak gak nyangka deh kamu udah mau nikah aja. Padahal rasanya baru kemarin Mbak pangku kamu," ucap Nadia seraya menatap mata sang adik penuh arti.


"Kamu sangat beruntung karena mendapatkan seorang laki-laki yang sangat kamu cintai dan ia pun mempunyai rasa yang sama denganmu, Nay. Percayalah... Cinta sendiri itu tak enak rasanya," lanjut Nadia.


" Aku pun pernah merasakan itu Mbak, mencintai Elang dalam diam tanpa berani mengungkapkannya selama 8 tahun lamanya," sahut Nayla.


" Cinta memang tidak mudah, sangat penuh perjuangan," Nadia mengatakan itu seraya menatap kosong langit-langit di atasnya.


" Cinta yang tanpa perjuangan, bukanlah cinta yang sesungguhnya. dan kita berjuang dengan jalan kita masing-masing" sahut Nayla seraya ikut membaringkan tubuhnya tepat di sebelah sang kakak dan menatapi langit-langit yang sama.


" Semoga kamu bahagia ya, Nay,"


" Mbak juga, semoga selalu berbahagia dengan kak Alex. Dan terima kasih banyak untuk kak Alex yang ternyata diam-diam membantu Elang,"


Nadia pun tertawa geli " Kamu tahu kenapa Alex lakukan itu? Karena katanya ia sangat mengerti perasaan Elang. Alex tahu bagaimana sulitnya untuk menaklukkan hati perempuan seperti kita ini. Apa yang Elang rasakan adalah sama dengan perasaan yang Alex rasakan padaku dulu,"


"Tapi syukurlah semua telah selesai dan kini kamu hanya tinggal menunggu hari H pernikahan. Oh ya Nay mulai besok kita akan mengurusnya bersama-sama. Kamu harus membuat daftar apa saja yang kamu inginkan dalam pernikahanmu nanti," Nadia mulai membahas tentang semua *****-bengek masalah pernikahan.


" Sebenarnya hatiku masih belum tenang, Mbak," potong Nayla.


"Kenapa ?" Nadia berkerut dahi tak paham


" Ini tentang Amelia, sepertinya gadis itu marah padaku karena aku merahasiakan tentang hubunganku dengan Elang selama ini. Aku tahu Amelia pasti sangat kecewa padaku," ucap Nayla sembari kembali mengusap ujung matanya dengan punggung tangan. Mata Nayla akan berkaca-kaca Jika ia teringat pada sahabatnya itu.


"mana mungkin aku menikah dengan Elang jika Amelia tak bisa menerimanya," lanjut Nayla.


" Kalau begitu, sebaiknya kamu berbicara langsung dengan Amelia,"


" Itulah yang akan aku lakukan. Apakah kakak bersedia untuk kembali ke Jakarta malam ini juga? Rencananya besok pagi aku akan langsung datang untuk menemuinya," Ucap Nayla dengan sangat emosional.


Nadia pun merasa prihatin pada adiknya itu. Ia tahu bagaimana eratnya hubungan Amelia dengan Nayla dulu ketika mereka sama-sama masih duduk di bangku sekolah.


" Baiklah, aku akan meminta pada Alex agar kita kembali ke Jakarta malam ini juga dan kamu bisa menemui Amelia besok pagi," sahut Nadia menyetujui.