
Happy reading ♥️
"Ngh...Nggak, aku gak pernah ciuman dengan siapa pun," jawab Nayla.
Jawaban Nayla membuat wajah Elang menjadi merah padam. Pemuda jangkung itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Merasa tak terima karena Nayla tak menganggapnya ada.
"Bohong kamu, Nay !" Tuduh Zia.
"Serius !! Aku kan belum pernah pacaran. Kalaupun pernah ciuman pasti dengan mahluk astral !" Jawab Nayla lagi.
Mendengar itu membuat Elang semakin tak terima. Bagaimana mungkin Nayla menganggap dirinya sebagai mahkluk gaib, padahal kejadian ciuman itu nyata adanya. Terbukti dengan sakitnya Nayla yang diakibatkan oleh air hujan. Masih terbayang jelas dalam ingatan Elanng bagaimana rintik-rintik hujan yang menjadi saksi ciuman pertama mereka.
Elang bergerak dengan kasar hingga Nayla bisa merasakan punggungnya bergesekan halus dengan Elang yang duduk tepat di belakangnya.
"Terus kok kamu udah tau, Nay ?" Tanya Zia penasaran.
"Mmm... Lihat di film-film, atau baca di novel cinta. Percaya deh, i never been kissed ( aku gak pernah berciuman )" lanjut Nayla dengan penekanan di setiap kalimat yang diucapkannya. Ia merasakan ngilu di hati saat mengatakan itu semua.
"Nay !" Tiba-tiba Elang berdiri dengan wajah memerah dan nafas menderu.
Deg !
Mendengar namanya dipanggil oleh lelaki yang mati-matian Nayla coba lupakan membuat jantung Nayla hampir lompat dari tempatnya.
Sedangkan kini Elang menjadi pusat perhatian karena semua mata tertuju padanya.
Nayla menarik nafas dalam sebelum ia tolehkan kepalanya pada Elang. "Ah maaf, tempat duduknya sempit ya, Kak ?" Tanya Nayla dengan sangat tenang. Ia pun berdiri seperti Elang dan menatap pemuda itu tanpa rasa takut, seolah-olah tak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Zia, aku ikut duduk dengan kalian ya. Kasian kak Elang kurang leluasa bergerak," ucap Nayla menggeser duduknya. Menjauhi laki-laki itu.
Amelia pun ikut mendelikkan matanya pada sang kakak, sedangkan Vony tersenyum lebar. Ia merasa puas karena Nayla terusir.
"El, duduk ! Sekarang udah gak sempit lagi," ucap Vony sembari menarik lengan Elang untuk kembali duduk di dekatnya.
"Tidak !! Bukan... Bukan begini inginku," raung Elang dalam hati. Bukan ini yang Elang inginkan, bukan membuat Nayla menjauh darinya.
Ada dalam diri Elang yang tak terima saat Nayla mengingkari apa yang telah terjadi pada mereka berdua. Jelas-jelas Elang melakukan itu agar ia menjadi bagian hidup Nayla. Seperti Nayla yang sudah menjadi bagian dalam masa remajanya.
Elang lebih diam dari sebelumnya, ia benar-benar merasa tersiksa.
"Sebenarnya, bisa jadi Nayla mengalami ciuman pertama lebih dulu daripada kita," celetuk Amelia.
Elang kembali menegakkan telinganya untuk menguping, tak hanya Elang tapi Vony juga.
"Ngaco kamu, Mel," sahut Nayla sembari mengaduk-aduk minumannya yang kini terasa hambar.
Se-hambar perasannya saat ini karena bisa melihat Elang dan Vony duduk bersama dengan jelasnya.
"Serius," lanjut Amel.
"Nayla tuh dari dulu banyak disukain cowok-cowok. Yang naksirnya juga gak kaleng-kaleng,"
Belum juga hati Elang sembuh dari penolakan Nayla tadi, kini Amelia sang adik sudah menabur cuka di atasnya. Membuat Elang kembali meradang saat mendengar pernyataan sang adik.
"Jangan dengerin Amel !!" Titah Nayla.
Vony pun memasang kuping untuk mendengar siapa saja yang pernah menyukai gadis culun yang berhasil membuat Elang tertarik padanya. Dirinya sungguh tak habis pikir bagaimana mungkin seorang Nayla ditaksir banyak laki-laki. Secara bagi Vony, Nayla itu jauh dibawah levelnya.
Vony tersenyum meremehkan. Dirinya yakin jika yang menyukai Nayla hanyalah laki-laki culun yang satu level dengannya.
Nayla memelototkan matanya pada sang sahabat dan Amelia hanya tertawa saja.
"Ayooo Mel, cerita siapa aja pacar Nayla!!" Desak Calya. Ia penasaran tentang cerita cinta Nayla karena gadis itu sangatlah lugu dan pendiam.
"Nggak ada ! Amelia cuma ngarang aja !" Sahut Nayla. Ia berpikiran jika sang sahabat pasti mengada-ada.
Jika dibandingkan dengan dirinya, Amelia lebih banyak ditaksir oleh para laki-laki. Gadis berambut dan bermata coklat itu, sedari dulu sudah menjadi idola. Tapi Amelia mempunyai sifat judes yang juara, hingga hanya sedikit saja laki-laki yang berani mendekatinya dan akan berakhir dengan penolakan. Sejauh ini hanya Rafa yang bisa membuat gadis itu kesal juga menciptakan desir yang berbeda di hatinya.
"Masih pengen tahu gak ?" Terdengar suara Amelia sedikit berbisik-bisik.
Vony menyedot minumannya dengan tersenyum merendahkan, tak sabar untuk mengetahui siapa nama anak laki-laki yang akan disebutkan Amelia. Dan ia sudah siap untuk tertawa terbahak-bahak karenanya
"Maximilian !!" Jawab Amelia dan itu membuat Vony tersedak minumannya hingga terbatuk-batuk karena Amelia menyebutkan nama seorang siswa junior yang cukup terkenal karena ketampanannya. Siswa dengan wajah oriental dan berkulit putih itu adalah salah satu anggota tim basket Elang dan sering menjadi bahan pembicaraan oleh Vony dan teman-teman pemandu soraknya.
"Ya ampun Von, jijik ih ! Minuman lo kena muka gue !!" Rajuk Angela yang ternyata ikut serta dalam meja Vony. Gadis itu tak berani mengganggu Amelia karena ada Elang di sana.
"Maaf... Maaf...," Vony menyerahkan beberapa lembar tisu pada teman yang kemarin ia jelek-jelekan namanya pada Elang.
Elang hanya bisa pejamkan matanya saat mendengar itu semua. Ia rasakan luka hatinya kian perih saja. Amelia berhasil menyiram banyak cuka di atas lukanya.
"Maxi ???" Tanya teman-teman Amelia kompak dengan penuh rasa tak percaya.
Tak hanya teman-teman Amelia yang tercengang. Di meja sebelah pun, Vony dan yang lainnya kini menjadi senyap karena sibuk menguping.
"Jangan percaya !" Ucap Nayla.
"Seriusan !! Selama Nayla gak sekolah, Maxi selalu datang ke kelas hanya untuk menanyakan bagaimana keadaan Nayla," sahut Amel.
"Mungkin itu hanya alasan agar Maxi bisa ketemu kamu !" Nayla melayangkan tuduhan pada sahabatnya itu.
"Nggak mungkin, Nay ! Soalnya Maxi hanya datang buat nanyain kabar kamu. Katanya dia kirim pesan sama kamu tapi gak dibalas-balas,"
"Ya kenal lah, dulu kami pernah satu kelas pas masih SMP," jawab Nayla.
Mendengar perkataan Nayla membuat Vony lega. "Pantesan aja kenal, ternyata pernah satu kelas. Kirain karena daya tarik si culun, kampung, dekil, dan norak itu," ucap Vony dalam hati.
"Kalau hanya sekedar teman sekelas, kenapa Maxi sangat peduli sama kamu, Nay ?" Tanya Amelia yang hanya dijawab gerdikan bahu oleh Nayla.
Bagai pucuk di cinta, ulam pun tiba. Maximilian yang kini menjadi bahan pembicaraan Amelia dan teman-temannya, datang memasuki kantin bersama 2 orang temannya.
"Tuh Maxi !! Bentar ya aku panggilin dan kalian bisa lihat gimana reaksinya," ucap Amelia antusias.
"Mel, jangan ! Ngapain sih ??" Nayla memelototkan mata pada sahabatnya itu.
Sedangkan Amelia tak peduli, ia hanya tertawa sembari berdiri dan melambaikan tangan pada pemuda yang bernama Maxi.
Pemuda itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih. Ia pun berjalan menuju meja Amelia.
Kedatangan Maxi di sambut tatapan sinis dari meja sebelah yang katanya sedang merayakan hari jadi. Tapi sedari tadi tak ada riuh rasa bahagia di sana hingga Amelia pun tak bisa menahan mulut pedasnya.
"Kok perayaannya sepi banget sih ? Ini perayaan atau kalian sedang berdukacita ?" Sindir gadis berambut coklat itu.
Vony mati-matian menahan diri untuk tak membalas, begitu juga Angela yang sudah melihat sinis pada Amelia. Keduanya tak berani karena adanya Elang di sana. Vony pun sudah tak berani mengadu pada Leo karena mereka telah sepakat tidak akan membebani Leo apa-apa lagi setelah Elang resmi menjadi kekasihnya.
Sedangkan Amelia hanya tertawa melihat wajah mereka yang kesal.
Tak lama Maxi pun tiba di meja Amelia. Pemuda itu melayangkan senyum pada Elang dan teman-temannya karena mereka berada dalam tim basket yang sama. Tapi sayang, sapaan hangat Maxi dibalas tatapan mata dingin oleh Elang.
Maxi yang memiliki wajah setampan artis Korea itu pun langsung menuju meja Nayla saat melihat kehadiran gadis itu di sana.
"Nay, kamu udah masuk sekolah ?" Tanya Maxi.
Dan Amelia langsung terlihat jumawa karena ia merasa apa yang dikatakannya tentang Maxi adalah benar adanya.
"Hu'um, baru hari ini masuk," jawab Nayla.
"Syukurlah, Nay. Aku kirim pesan berkali-kali gak kamu balas," lanjut Maxi. Amelia pun semakin melebarkan senyumnya.
Sedangkan di meja sebelah yang katanya sedang merayakan hari jadian terdengar kian sunyi saja.
"Ah.. yang mana, Max ? Gak ada kok," jawab Nayla.
"Masa sih, Nay ? Aku kirim WA setiap hari nanyain kabar kamu,"
"Gak ada nama kamu Maxi ! Kalau ada, pasti sudah aku balas," sahut Nayla.
Maxi mengeluarkan sebuah ponsel dengan logo apel tergigit di ujungnya dan memiliki kamera bulat boba. Ponsel keluaran terbaru yang cukup membuat mata para anggota pemandu sorak menjadi berbinar karena terpesona.
"Ini !" Maxi menunjukkan bukti-bukti pesan yang ia kirimkan pada Nayla.
"Ya ampun, Max !! Kamu kirim pakai nomor baru ? Maaf aku gak tahu itu kamu jadi gak aku balas," ucap Nayla.
"Ciiih sombong banget serasa jadi si paling ditaksir cowok keren," sindir Vony yang tak bisa lagi menahan mulutnya agar tak berbicara.
"Seenggaknya Nayla gak usah tampil heboh dan pake makeup cuma untuk narik perhatian cowok keren," Amelia membalas sindiran kekasih kakaknya itu.
Vony langsung tegakkan tubuhnya, menghindari Amelia. "Tuh kan aku gak ngerti kenapa adik kamu benci banget sama aku," rengek Vony pada Elang.
Elang terus berdiam diri. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak menyeret Nayla dari tempat duduknya dan menginterogasi gadis itu, siapa saja anak laki-laki yang suka mendekatinya. Sungguh Elang sedang merasakan cemburu layaknya seorang kekasih yang sedang dikhianati.
Melihat Elang tak bereaksi membuat mood Vony semakin buruk. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ia makan.
"Sakit apa kamu, Nay ?" Tanya Maxi.
"Flu dab demam," jawab Nayla tak panjang lebar.
"Syukurlah kalau kamu udah sembuh, aku senang bisa lihat kamu di sekolah lagi," sahut Maxi tulus.
Maxi masih ingin berada di sana, tapi kedua temannya memanggil- manggil pemuda itu.
"Oke Nay, aku ke sana dulu ya," pamit Maxi.
"Perasaan gue deh yang manggil elu, Max. Tapi pamitnya sama Nayla aja," goda Amelia.
Lagi-lagi sang adik berhasil menyiram cuka di atas luka Elang.
"Hahahaha, sorry... Aku pamit yaa," ucap Maxi pada semuanya dan ia pun pergi dari meja Amelia.
Kepergian Maxi ditatap sinis oleh Elang dan Vony. Elang karena rasa cemburunya, sedangkan Vony karena ia merasa tak terima pemuda se-keren Maxi bisa tertarik pada seorang Nayla.
Belum juga rasa kesal keduanya hilang, pemuda bernama Maxi itu menghentikan langkahnya dan memutar tubuh untuk berjalan kembali menuju meja Amelia.
"Ada apa Max ? Ada yang ketinggalan ?" Tanya Amelia.
"Mmm nggak kok, aku cuma mau...,"
"Mau apa ?" Tanya Amelia tak sabaran.
"Mau nganterin Nayla pulang sekolah, mau ya Nay ?" jawab Maxi dan didengar oleh semua termasuk Elang, Vony, dan beserta jajarannya.