The Unexpected Love

The Unexpected Love
Si Paling



"Kalau gak percaya tanyain sama bundanya Rafa. Ntar sekalian Rafa kenalin sebagai calon istrinya Rafa mau ya ?"


Amelia langsung membulatkan matanya, sedangkan di belakangnya Nayla beserta teman-teman Amelia yang lain terdengar menahan tawa mereka.


Rafa nyengir kuda. Padahal dirinya sudah tahu bahwa Amelia itu adalah gadis yang pemarah dan galak tapi entah mengapa Rafa selalu ingin menggoda gadis cantik itu.


"pergi sana! kan udah aku bilang stand ini tutup," usir Amelia.


"tapi kan rotinya masih banyak Mel, Rafa beneran lapar, " ucap Rafa memelas dengan mata puppy eyes agar Amelia mau mengasihani dirinya.


"roti ini nggak dijual, mau kami makan sendiri," sahut Amelia.


"ya udah tapi kalau Rafa pingsan kamu yang tanggung jawab ya Mel. kamu yang harus bawa Rafa ke UKS dan nungguin Rafa di sana. Nggak boleh sama yang lain, hanya sama Amel saja, " ucap Rafa sama keras kepalanya.


Para siswa yang tadinya mengantri untuk membeli roti isi, kini semuanya menepi karena asik melihat drama antara Rafa dan Amelia. Dari kemarin kedua orang itu telah menjadi buah bibir setelah pertengkaran mereka di tengah lapang dan kini mereka sedang bertengkar lagi.


" kalian lihat apaan? "tanya Amelia galak tapi tak seorangpun yang berani menjawab pertanyaan gadis cantik itu.


" cepat pergi !" usir Amelia pada Rafa sembari memelototkan matanya.


"Gak mau," sahut Rafa.


Tak ingin menjadi tontonan akhirnya Amelia pun mengalah ia merubah tanda "tutup" menjadi "buka" usahanya untuk mengusir laki-laki itu gagal total karena Rafa begitu gigih bertahan.


"Mau pesan rasa apa kak? "Tanya Zia pada Rafa.


"Mmm... Rasa apa saja asal yang bikinnya calon jodoh Rafa," ucap Rafa pelan dan Zia tertawa mendengarnya.


Amelia sungguh kesal, akhirnya ia kembali mengalah dengan melayani keinginan pemuda itu agar ia cepat-cepat pergi dari hadapannya.


Amelia menyiapkan dua lembar roti tawar kemudian ia mengisinya dengan satu lembar keju dan selai coklat sesuai pesanan Rafa. dengan telaten gadis cantik itu membuat roti isi hingga jadi dan cepat-cepat menyerahkannya pada Rafa yang dianggapnya sebagai laki-laki paling menyebalkan di sekolah.


"terima kasih sudah mau mengaku jadi calon jodohnya Rafa," Ucap Rafa saat ia menerima roti isi yang telah disiapkan oleh Amelia


Lagi-lagi Amelia membulatkan matanya karena kesal tapi kali ini diiringi rona merah di pipinya yang putih mulus.


"Sana pergi !" usir Amelia lagi. pipinya terasa panas dan ia tak mau Rafa melihatnya dalam keadaan seperti ini.


Rafa tersenyum, menikmati wajah cantik Amelia yang merona merah untuk sesaat. Pemandangan yang jarang Rafa lihat karena biasanya gadis itu akan memandangnya dengan tatapan mata galak.


"Gemesin banget sih calon jodoh Rafa," ucapnya lagi seraya menarik nafas lega bagai menghirup udara di pegunungan dan Rafa cepat-cepat pergi saat melihat Amelia sudah mengayunkan wajan teflon ke arahnya.


"Sarangbeo ayank," ucap Rafa sembari menyilang kan jempol dan jari telunjuknya membentuk tanda cinta ala-ala oppa Korea.


Dan Amelia membalasnya dengan serangkaian kata-kata bahasa asing yang hanya dimengerti oleh dirinya saja.


***


Waktu bagai berlari, berlalu begitu cepat. Tak terasa kegiatan "Bulan Prestasi" tinggal tersisa beberapa hari saja. Hari ini adalah pertandingan bola basket yang sudah memasuki babak semi final. Tim sekolah yang dikapteni oleh Elang sudah berhasil melaju sampai di babak ini.


Selama beberapa hari terakhir ini stand jualan milik Amelia dan Nayla yang paling banyak dikunjungi. Kedatangan Rafa untuk berbelanja adalah salah satu daya tarik bagi pengungsi lain untuk berdatangan.


Setiap hari Nayla dan teman-temannya yang lain selalu mengganti jenis barang dagangan mereka tapi Rafa selalu mempunyai alasan untuk datang ke stand mereka dan berbelanja.


Begitu juga Elang, selalu berkedok membantu sang adik padahal yang sebenarnya terjadi adalah untuk bisa melihat seorang gadis yang diam-diam disukainya.


Karena hari ini adalah hari penentuan tim Elang untuk masuk ke babak final atau tidaknya membuat Amelia memutuskan untuk tidak berjualan karena ia ingin melihat sang kakak yang bertanding di pagi hari.


Amelia mengajak Nayla untuk sama-sama menonton pertandingan basket itu dan mendukung sang kakak. Amelia bahkan membuat bendera-bendera kecil bertuliskan nama sekolah mereka dan juga nama-nama anggota tim basket yang akan mengikuti pertandingan itu. Ada satu nama yang tak Amelia tulis yaitu Rafa. Tapi diam-diam Nayla menuliskan nama Rafa tanpa sepengetahuan sahabatnya itu.


Amelia mengajak teman-teman sekelasnya yang lain untuk mendukung sang kakak. Hari ini semuanya kompak mengenakan pakaian olahraga yang di punggungnya tertera nama SMA mereka.


Penampilan Amelia, Nayla dan teman lainnya cukup mencolok karena berbeda dengan siswa lain yang hanya mengenakan seragam sekolah biasa.


Vony dan team cheerleader nya merasa 'gerah' melihat Nayla, Amelia dan yang lainnya. " Padahal kan udah ada kita ya yang bertugas sebagai pemandu sorak, tapi mereka lihatlah... pura-pura lugu padahal cari-cari perhatian dengan cara murahaan," ucap Vony sambil menunjuk pada Nayla, Amelia dan teman-temannya.


"Ya ampun caper banget sih..," timpal yang lainnya.


" biasalah ngerasa si paling-paling," sahut salah satu anggota pemandu sorak yang ternyata menyukai Rafa.


Ya... walaupun seringkali bertingkah laku konyol tapi Rafa mempunyai banyak fans di sekolah itu. Dan nama Rafa semakin mencuat setelah perseteruannya dengan Amelia mengegerkan sekolah.


Nayla pun menjadi bahan gibah setelah beberapa waktu lalu ia berlalu lalang dengan mengenakan hoodie hitam milik Elang.


***


Nayla, Amelia dan beberapa temannya berjalan secara bergerombol menuju ruangan yang di dalamnya terdapat lapang basket. Mereka datang ke sana untuk memberikan semangat pada tim basket kebanggaan sekolah yang dikapteni oleh Elang.


"Dan si paling lugu padahal bitchiii abis," sahut yang lainnya dengan maksud menyindir pada Amelia dan Nayla. Lalu anggota pemandu sorak yang lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan kedua temannya itu.


Nayla langsung tundukkan kepala mendengar sindiran itu, tiba-tiba saja kedua lututnya terasa gemetar karena sebelumnya ia belum pernah mendapatkan kata-kata seperti itu. Sedangkan Amelia terlihat santai karena ia tak merasa bahwa kata-kata itu ditujukan untuknya.


"Si paling cuek karena merasa si paling laku," ucap Angel yang selama ini menyukai Rafa. Lagi-lagi ia menyindir pada Amelia.


"Iihhh kalian jangan begitu," ucap Vony seolah-olah menenangkan padahal dirinya sendiri yang lebih dulu memprovokasi.


"Meell...," Nayla menggenggam jemari Amelia agar gadis itu melambatkan laju langkahnya.


"Apaan Nay ?" tanya Amelia.


"Mmmm... itu...," ucap Zia takut-takut.


"Si paling ngerasa lugu padahal si paling cari perhatian para cowok, iya gak Von ? jijik yaaa,"


"ish udah-udah, kalian ini kenapa sih ?" ucap Vony sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya sungguh ia merendahkan Nayla dan yang lainnya. Ia pun tak peduli pada Amelia yang ada di sana. Walaupun dia adiknya Elang, tapi Vony tak suka karena menurutnya Amelia sangat sombong.


"Maksud mereka sama kita ?" tanya Amelia.


"Entahlah tapi sepertinya begitu," sahut Zia.


"Udahlah jangan dianggap, yuk kita pergi aja" kata Amelia yang saat ini tengah malas beradu argumen.


"Si paling PD ternyata gak ada apa-apanya hahahah" Angel kembali menyindir.


Amelia hentikan langkahnya, lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju Angel berdiri. Angel adalah kakak seniornya yang setingkat dengan Rafa.


"udah puas nyindirnya ?" tanya Amelia tepat di wajah gadis bernama Angel itu.


"Nyin-nyindir apaan ?" Angel balik bertanya dengan wajah memerah karena tak menyangka jika Amelia akan berani mendatangi dirinya.


"Udah-udah Angel gak bermaksud nyindir Amel kok" ucap Vony sok melerai.


"Lalu ngomong sama siapa ?" tanya Amelia tapi semua gadis pemandu sorak itu tak ada satu pun yang menjawab.


"Si paling nyindir itu biasanya si paling sirik. Lo tau kenapa ? karena sirik itu tanda tak mampu," lanjut Amelia.


"Lo....," Angel mengepalkan tangannya penuh emosi.


"Ah sorry ya... gak mungkin gue syirik sama cewek culun lugu tapi diam-diam caper sama cowok kaya temen kamu itu," ceplos Vony sambil menunjuk Nayla. Ia langsung menutup mulutnya saat kedoknya terbuka.


"Apa kak Vony perlu kaca ? biar tahu siapa yang suka ngejar-ngejar cowok dengan agresif. kayanya seluruh sekolah juga tahu deh." jawab Nayla dengan tenang menyindir Vony yang selalu agresif mendekati Elang. Entah darimana datangnya keberanian pada Nayla hingga ia berani menjawab tuduhan Vony. Sepertinya itu adalah tumpukan kekesalan dan rasa cemburu Nayla pada gadis itu.


Amelia tertawa nyaring mendengarnya "Dan kakak gue gak pernah nganggap lo sama sekali, hahhahahah," ucap Amelia menanggapi perkataan Nayla.


Wajah Vony merah padam seketika, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarahnya yang siap meledak. Sedangkan teman-temannya pemandu sorak yang lain saling berbisik-bisik karena sudah menjadi rahasia umum jika Vony mengejar cinta Elang.


"Lo akan dapat balasannya," desis Vony hampir tak terdengar.


Lalu hening kemudian..


"Kok pada diam? udahan nih ? gue di dalam sana kalau kalian masih belum puas." ucap Amel seraya menunjuk sebuah gedung yang akan digunakan untuk pertandingan bola basket.


Beberapa pasang mata melihat pertikaian mereka, ada yang memihak pada Vony karena gadis itu memang jago bermain drama sebagai perempuan teraniaya. Tapi tak sedikit juga yang memihak pada Amelia dan karena walaupun gadis itu judes pada Rafa tapi sesungguhnya dia adalah gadis yang baik dan juga rendah hati pada teman-temannya.


"Good Nay !!" ucap Amelia sembari merangkul pundak sahabatnya itu.


"Kok aku bisa ngomong kaya begitu ya Mel?" tanya Nayla tak percaya.


"Gak apa-apa, kalau memang tak merasa bersalah kita harus berani membela diri," ucap Amelia.


"Keren Nay dan Amel !!" seru teman-temannya yang lain.


Nayla, Amelia dan teman-temannya pun meninggalkan Vony dan tim pemandu soraknya. Mereka berjalan menuju lapangan guna memberikan dukungan pada Elang.


Di dalam ruangan itu mereka duduk dalam satu baris yang letaknya tak jauh dari para pemain karena Elang yang memberikan mereka bangku kosong untuk diduduki. Tentu saja agar Elang bisa lebih dekat dengan gadis yang disukainya. Ini adalah pertama kali Amelia dan Nayla menonton pertandingan basket lagi setelah insiden tas Rafa.


Seperti biasa Rafa datang terlambat. Amelia langsung melihat ke arah pemuda itu dan entah kenapa hatinya harap-harap cemas menanti dimana Rafa akan menyimpan tasnya.


Amelia merasa lega bercampur kecewa saat Rafa menyimpan tasnya bersama teman-temannya yang lain tidak pada gadis itu lagi. Sepertinya Rafa tak mau membuat Amelia marah lagi.


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️