
"Bukan mau lamar kerja, Bun ! Tapi mau lamar anak orang !!" Jawab Rafa dengan mata berbinar dan senyuman lebar. Tak lupa ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi bundanya itu.
"Rafa naik dulu, udah gitu turun lagi buat bawa sarapan nya. Roti isi aja ya, Bun,"
Rafa berlari kecil menuju kamarnya yabg berada di lantai 2.
Segera ia membuka lemari dan membawa fotocopy ijazah miliknya. Tak hanya itu saja, tapi juga beberapa berkas penunjang lainnya.
Rafa bergerak cepat. Membuka laci-laci meja, mengambil apa saja yang diperlukannya dan memasukkan itu semua ke dalam tas ransel miliknya.
Rafa hendak pergi tapi matanya teralihkan pada sebuah pigura yang di dalamnya terdapat sebuah foto seorang gadis yang mengenakan seragam olahraga sekolah.
Gadis itu sedang duduk di bangku penonton yang berada di sekitar lapangan basket. Foto itu diambil secara diam-diam ketika acara bulan prestasi dulu di sekolah Rafa. Sebenarnya dia tidak sendirian, tapi Rafa sudah memotongnya agar hanya ada gadis itu sendiri saja di dalam piguranya.
Sudah 8 tahun foto gadis itu berada di sana. Menjadi penunggu kamarnya. Rafa tak pernah membawa foto itu kemana-mana, karena menurutnya kamar dan gadis itu adalah tempatnya pulang.
"Hei, judes ! Tunggu aku jadi suami kamu !" Ucap Rafa sambil memelototkan matanya pada foto gadis itu.
Dalam foto itu Amelia terlihat tengah mendelikkan matanya galak. Entah Amelia melihat pada siapa karena Rafa mengambil gambar itu tanpa sepengetahuan si gadis.
Rafa kembali ke lantai bawah dan segera mengambil sarapan yang dibuatkan oleh ibunya.
"Bun, Rafa pergi ya. Doain biar Rafa sukses," ucapnya sambil mencium pipi sang bunda.
"Semangat, Rafandra Abimana !!" Sahut sang bunda dengan mengepalkan kedua tangannya. Tentu saja ia tahu gadis mana yang akan anaknya lamar itu karena Rafa selalu bercerita tentangnya.
***
Siang harinya, Elang mendatangi kantor Nayla untuk makan siang bersama. Semenjak resmi bertunangan, Elang seringkali datang untuk bertemu kekasih hatinya itu.
Saat ini keduanya baru saja memasuki sebuah restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari kantor Nayla. Mereka berjalan dengan jemari yang saling bertautan.
Elang alihkan tangannya pada pundak Nayla dan merengkuhnya gemas dan dengan rasa posesif yang begitu kentara.
Rasa-rasanya Elang tak bisa kehilangan Nayla barang sedetik saja. Tangannya harus selalu bisa bersentuhan dengan tubuh Nayla jika mereka sedang bersama.
Bahkan saat menyetir mobil pun, tangan Nayla harus berada di atas paha Elang. Jika tidak, maka Elang yang akan melakukannya. Ia akan menggenggam jemari Nayla hampir di selama perjalanan.
Dulu, Nayla seringkali mentertawakan sang kakak karena selalu dibuntuti Alex kemana saja. Sudah bukan rahasia lagi jika Alex sangat bergantung pada istrinya.
Tapi kini, ia sendiri yang mengalaminya. "Apakah semua lelaki memang seperti ini ?" Batin Nayla dalam hati. Ia menengadahkan kepalanya melihat pada Elang.
Lelaki jangkung yang sedang melingkarkan tangannya di pundak Nayla itu terlihat dingin dan misterius bagi siapa saja yang belum mengenalnya. Tapi bagi Nayla ia adalah bayi besar manja yang sangat ingin diperhatikan. Tapi meskipun demikian, Nayla sangat mencintainya dengan sepenuh hati.
Nayla pun membalas pelukan lelaki jangkung itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Elang.
Elang tundukkan kepalanya dan tersenyum pada gadisnya itu. Ia akan merasa senang jika Nayla memberikan perhatian padanya.
Kini keduanya telah duduk dan menunggu pesanan makan siang mereka tiba.
"Kamu tahu, Yang ? Di rumah lagi heboh," ucap Elang yang duduk tepat di sebelah Nayla.
Nayla tolehkan kepalanya dan menatap Elang sambil mengerutkan keningnya. "Heboh kenapa ?" Tanya Nayla.
"Amelia minta dijodohkan !"
"Hah ? Apa ?" Mata Nayla membola tak percaya.
"Hu'um. Tadi setelah pulang dinas malam ia langsung minta Papi untuk dicarikan jodoh,"
"Terus kak Rafa gimana ? Apa Amelia masih tak mau menerima panggilannya juga ? Lagian kenapa kak Rafa gak datang langsung aja sih ?" Tanya Nayla beruntun. Rasa cemas terlukis dengan jelas di wajah cantiknya.
"Rafa udah datang nemuin Amelia," Jawab Elang.
"Terus bagaimana ? Apa mereka bicara dan saling mengungkapkan perasaannya masing-masing ? Kapan mereka bertemu?" Tanya Nayla lagi.
Elang tertawa pelan, "tadi malam mereka bertemu. Boro-boro saling mengungkapkan perasaan, yang ada si Rafa digebukin Amelia pake sarung tangannya,"
"Apa ???" lagi-lagi mata Nayla membola tak percaya.
"Iya ! Kata Rafa butuh waktu lama agar Amelia menjadi tenang,"
"Padahal aku pikir hanya kak Rafa yang bisa taklukin judesnya Amelia," sahut Nayla.
"Aku setuju sama kamu, Yang !" Potong Elang.
"Tapi masa aku dimarahin Mami dan Papi ?" kata Elang lagi.
Nayla mengerutkan keningnya tak paham.
"Aku bilang sama Mami dan Papi jika Amelia itu tak memerlukan suami,"
"Terus ?"
" Amelia perlunya pawang," jawab Elang tanpa dosa dan Nayla langsung menampar Elang dengan kesal. Ia memelototkan matanya pada calon suaminya itu
"Kok kamu juga marah sih, Yang ? " keluh Elang seraya mengusap lengannya yang tak terasa sakit itu. Ia hanya ingin mendramatisir saja agar Nayla merasa iba padanya.
" Amelia itu sahabat aku ! Gak boleh ngata-ngatain !!"
"Tapi serius, cuma si Rafa yang bisa ngatasin judesnya dia. Rafa udah kebal," sahut Elang.
"Terus gimana ? Kak Rafa udah tahu Amelia minta dijodohkan ?"
Wajah Nayla kembali terlihat cemas.
" Semoga aja kak Rafa cepat bertindak ya," gumam Nayla pelan.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sudah berlalu dua hari sejak Amelia minta untuk dijodohkan.
Seperti yang Rafa janjikan, laki-laki itu tak lagi mengganggu Amelia. Ia tak datang ataupun menghubungi gadis itu melalui penggilan telepon. Bahkan mengirimkan pesan pun Rafa tak melakukannya. Amelia merasa telah berhasil mengusir lelaki itu dari hidupnya.
Amelia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 12 lebih 10 menit siang. Ia sudah merasa sangat lapar. Tadi pagi ia tidak menghabiskan sarapannya karena terburu-buru pergi.
Karena rekan-rekan sesama koasnya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Amelia pun memutuskan untuk makan siang seorang diri.
Ia memilih kantin rumah sakit sebagai tempat makan siangnya kali ini. Amelia pun menyimpan jas dokter dan peralatan yang tadi digunakannya. Tak lupa ia mencuci kedua tangannya sebelum pergi untuk makan siang.
Amelia berjalan sendirian menuju kantin yamg terletak di bagian belakang rumah sakit tersebut. Ia tundukkan kepalanya saat berjalan untuk menghindari sapaan orang-orang.
Tepat saat Amelia mengangkat wajahnya, ia melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya walaupun ia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Lelaki yang dua hari ini tak pernah muncul di hadapannya dan tak pernah menghubunginya sama sekali.
Lelaki itu terlihat sangat rapi dengan setelan jas hitam dan sepatu kulitnya yang terlihat mahal. Rambutnya juga tersisir rapi, pasti karena lelaki itu baru saja merapihkannya di barber shop.
Di tangannya membawa sebuah map yang cukup tebal. Amelia yakin jika lelaki itu membawa banyak lembaran kertas.
Merasa diperhatikan, lelaki itu tolehkan kepalanya dan melihat pada Amelia. Mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.
Dari gerakan matanya Amelia tahu jika lelaki itu tersenyum padanya. Tapi ia tak bisa melihat lengkungan senyum di bibirnya karena tertutup kain masker.
Lelaki itu memalingkan wajahnya lebih dulu dan memasuki sebuah lift. Langkahnya terhenti saat seorang perawat setengah berlari menghampirinya dan mereka berbicara untuk beberapa saat.
Setelah lelaki itu masuk ke dalam lift, Amelia menghampiri perawat yang tadi bicara padanya.
"Maaf, yang tadi Rafa.. eh Pak Rafa kan ya ?" Tanya Amelia.
"Rafandra Abimana ?" Perawat itu balik bertanya.
" Ah ya Rafandra Abimana ! Apa yang dia lakukan di sini ?" Tanya Amelia curiga.
"Oh.. Pak Rafa mau mengambil hasil medical check up nya," jawab perawat itu.
"Ooohhh," Amelia mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Ok, thanks !" Amelia pun melanjutkan langkahnya menuju kantin dengan kepala di penuhi pikiran tentang laki-laki itu. Dilihat dari penampilannya Rafa pasti sedang bekerja.
Amelia tak curiga, ia kira Rafa melakukan medical check up untuk keperluan pekerjaannya yang selalu bepergian ke beberapa negara. Amelia tahu karena Elang yang menceritakannya.
Amelia tersenyum samar penuh arti saat tahu Rafa akan pergi lagi meninggalkannya.
***
Di lantai 3 sebuah rumah sakit, seorang lelaki berdiri tegak di depan sebuah pintu dengan hati berdebar cemas tak karuan.
Berulangkali ia atur nafasnya sebelum memberanikan diri untuk mengetuknya.
"Masuk !" Sahut Seseorang dari dalam ruangan.
"Bismillah...," Gumam Rafa dan ia pun membuka pintu itu.
"Selamat siang, Om... Masih ingat dengan saya kan ?" Tanya Rafa pada seorang pria yang terlihat tampan walaupun tak lagi muda.
Ia adalah dokter Alan Wiguna, ayah dari Amelia dan juga Elang.
"Tentu ! Teman Elang dan Amelia kan ?" Tanya nya.
Rafa mengangguk membenarkan.
" Nomor telepon Elang sudah om berikan kan ?" Papi Elang terkejut akan kedatangan teman anaknya itu.
"Sudah Om, tapi Rafa datang bukan karena Elang," jawab Rafa tanpa ragu.
"Oh ya ? Sengaja mau bertemu saya ?" Tanya Papi Amelia lagi. Ia menelisik penampilan Rafa yang terlihat sangat rapi itu.
"Iya, Om," jawab Rafa lagi.
"Silahkan duduk," papi Amelia menunjuk sebuah kursi yang ada dihadapannya.
"Terimakasih," jawab Rafa sembari mendudukkan tubuhnya di sana.
"Ada keperluan apa ?" Tanya Papi Elang tanpa basa-basi.
Rafa tak menjawab, yang ia lakukan adalah memberikan sebuah map yang didalamnya terdapat banyak lembaran kertas.
Papi Elang meraihnya dengan wajah terheran. Ia pun membaca tulisan yang ada di atas berkas itu. "Husband Aplication ?" (Lamaran suami ) Gumamnya pelan.
To be continued
Thanks for reading
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya terimakasih.