
Hai, Nungguin ya ?
Happy riding..
Malam kian larut, sepasang pengantin itu baru saja menyelesaikan ibadahnya dengan Elang sebagai imam. Ini pertama kali bagi keduanya melakukan ibadah itu secara berjamaah.
Nayla mencium punggung tangan Elang dan suaminya itu membalas dengan mencium dahi Nayla dengan penuh perasaan cinta.
"Sebaiknya kita beristirahat. Aku yakin kamu pasti merasa sangat lelah," ucap Elang dengan lembutnya.
Nayla mengangguk pelan membenarkan. Walaupun Elang mengajaknya untuk beristirahat tapi Nayla masih saja merasakan debaran jantungnya kian kencang.
Elang dan Nayla menyingkap kain satin penutup ranjangnya yang bertaburkan banyak kelopak bunga mawar. Wanginya yang lembut menguar dan memanjakan indra penciuman keduanya. Kelopak-kelopak mawar itu dibiarkan berserakan di atas lantai.
Nayla naik ke atas ranjang dan di susul oleh Elang di sisi ranjang yang lainnya. Saat ini Nayla mengenakan piyama satin bewarna merah maroon dengan celana yang panjangnya hanya setengah paha. Padahal Elang telah memberikan banyak baju malam dalam seserahan yang dibawanya. Tapi mungkin Nayla masih belum percaya diri untuk mengenakannya.
Gadis itu juga terlihat sangat gugup. Ia melihat canggung pada Elang dan tentu saja suaminya itu mengerti. "sini, mendekatlah... kita akan tidur saja jika kamu merasa belum siap," ucap Elang seraya menarik Nayla dalam dekapannya. Ia berusaha untuk membuat Nayla nyaman berada di dekatnya.
Padahal Elang dan Nayla pernah berciuman dengan panas menggelora dan hampir saja kehilangan kendali. Tapi kini, saat keduanya sudah halal untuk melakukannya. Rasa gugup menghampiri Nayla dan Elang tak mau memaksakan kehendak pada istrinya itu. Meskipun sebagai lelaki dewasa yang normal Elang setengah mati ingin melakukanya.
"tidurlah... aku akan Memelukmu," ucap Elang lagi seraya mencium mesra puncak kepala istrinya itu.
Nayla pejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh lelaki yang sangat dicintainya itu. Ia beranikan diri untuk membalas pelukan Elang.
keduanya saling berpelukan dengan mesra tanpa berbicara. Yang terdengar hanya bunyi jarum jam yang bergerak di setiap detiknya. Cukup lama mereka lakukan hal itu. Berpelukan dengan mesra dalam sunyi hingga pertanyaan Elang memecahkan keheningan diantara mereka.
"Nay, sayang... kamu udah tidur ?" tanya Elang karena ia rasakan pergerakan tubuh Nayla dalam dekapannya.
"sudah," jawab Nayla dan itu membuat Elang tertawa.
"mana ada orang yang udah tidur tapi masih bisa jawab pertanyaan," sahut Elang seraya mengangkat dagu Nayla agar gadis itu melihat ke arahnya.
Kedua mata mereka bertemu dan saling terkunci untuk beberapa saat. Elang mengulum senyumnya, Nayla terlihat begitu menggemaskan di matanya.
"Aku juga gak bisa tidur. Bagaimana kalau kita nonton film saja ?" ajak Elang.
"Boleh," jawab Nayla sambol anggukan kepalanya..
"kalau begitu ayo !" Elang pun berdiri, lalu berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari ranjang mereka. Tepat di hadapan sofa itu terdapat sebuah televisi layar datar 40 inchi.
"Sebentar, aku mau pesan makanan dan minuman. Sayang mau apa ?" tanya Elang seraya meraih ponselnya dan menggulirkan layar. Elang mencari aplikasi pemesanan makanan online. Sedangkan Nayla langsung duduk di atas sofa.
"Aku mau... mmm... Mau keripik kentang goreng, pizza dan thai tea dingin," jawab Nayla.
Elang tersenyum pada istrinya itu. Berdekatan dengan Nayla membuat Elang bahagia. "As you wish, Sayang," ucap Elang.
Elang pun memesan apa yang Nayla inginkan dan juga apa yang dirinya mau. Setelah itu Elang letakan ponselnya dan akan segera menyusul Nayla untuk menonton film.
Melihat Nayla dalam balutan piyama satin membuat Elang menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Sebagai lelaki normal yang bergitu tergila-gila pada Nayla, tentunya Elang sangat menginginkan gadis itu menjadi miliknya secara utuh.
Jadi, yang Elang lakukan adalah mengambil selembar selimut dari atas ranjang mereka dan mengenakannya pada Nayla. "Takut kamu kedinginan," ucap Elang dan Nayla pun tersenyum pada suaminya itu. Perhatian kecil yang Elang berikan membuat Nayla sangat bahagia.
"Nonton yang romantis ya, Yang ?" tanya Elang.
Sebenarnya Elang lebih menyukai film bergenre action atau thriller. Tapi jika bersama Nayla, ia akan memilih film beraliran romantis. Bukan tanpa alasan Elang lakukan itu semua.
Dulu saat dirinya masih remaja, Elang sudah jatuh cinta pada Nayla. Tak heran jika Elang selalu mau jika disuruh maminya untuk menjadi supir pribadi sang adik dan menemaninya menonton film. karena dengan begitu ia bisa bertemu Nayla.
Elang selalu berharap jika Amelia memilih film bernuansa cinta. Dengan harapan Nayla akan terbawa perasaan seperti dirinya dan membuat gadis itu menyadari perasaan Elang padanya.
Tapi nyatanya Amelia selalu memilih film horor uang menakutkan membuat Elang tak punya kesempatan untuk bisa menunjukkan rasa sukanya.
Walaupun begitu, Elang masih merasa senang karena bisa meminjamkan hoodie hitam miliknya sebagai pelindung untuk Nayla.
Dan kini setelah dewasa, Elang senang impian nya terwujud. Akhirnya ia dan Nayla bisa menonton film romantis dan apa yang Elang bayangkan selama ini pun terjadi.
Nayla akan sandarkan kepalanya di bahu Elang saat gadis itu terbawa perasaan dari cerita film yang ditonton nya. Dan Elang sangat menyukai itu semua.
"Katanya mau nonton film tapi malah senyum-senyum sendiri," ucap Nayla terheran. Ia tak tahu jika Elang tengah memikirkannya.
"Gak apa-apa," sahut Elang sembari tersenyum manis pada istrinya itu. ia pun meraih remote control dan mencari-cari film yang akan ditontonnya. Beruntung bagi Elang karena tak butuh waktu lama, Nayla sudah menemukannya.
Saat film diputar sekitar 50 menit lamanya, bel pintu kamar mereka pun berbunyi dan Elang yang membukanya. Ternyata pesanan mereka telah datang.
"Sayang, Pizza-nya udah datang," kata Elang sembari meletakkan semuanya di atas meja.
Tapi Nayla tak segera membukanya, ia masih berkonsentrasi pada film yang ditontonnya. Di layar televisi tengah menunjukkan adegan berciuman dari dua orang pemeran yang ceritanya baru saja 'jadian' membuat Nayla terbawa perasaan.
Bukannya melihat pada layar televisi, tapi Elang lebih suka untuk memperhatikan Nayla. Ia pun dudukan tubuhnya tepat di sebelah Nayla.
Seperti adegan pada film yang tengah ditonton oleh Nayla, Elang pun tundukkan kepalanya dan meraih bibir istrinya itu dengan bibirnya. Lalu mengulummnya dengan penuh perasaan.
Nayla balas ciuman Elang sama lembutnya. Bahkan ia kalungkan tangannya di leher Elang dan meremas gemas rambut suaminya itu.
Makin lama, ciuman itu makin penuh tuntutan hingga kini Elang menindih tubuh Nayla di atas sofa dengan bibir mereka yang masih saling bertautan.
Nafas Elang sudah terdengar memburu, menandakan ia sudah sangat menginginkan Nayla. "Aku cinta banget sama kamu," ucap Elang saat bibir mereka terurai. Mata mereka saling bersitatap dengan jarak yang sangat dekat.
"Bolehkah aku memilikimu sekarang ?" tanya Elang penuh harap. Matanya menatap penuh mohon pada istrinya itu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Elang membuat jantung Nayla bekerja ekstra. Dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia pun merasakan cinta yang sangat menggebu pada lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Nayla anggukan kepalanya pelan sebagai persetujuan. Dan itu membuat Elang tersenyum senang karenanya.
Elang bangkit dari atas tubuh Nayla dan mengulurkan tangannya untuk Nayla raih.
"aaww," pekik Nayla saat Elang memangkunya bagai koala dan membawanya ke ranjang pengantin mereka untuk melakukan sesuatu yang hanya diperbolehkan bagi pasangan yang sudah menikah.