
"Seperti yang aku katakan 8 tahun lalu, aku akan pulang untukmu, Nayla," ucap Elang sembari menundukkan kepalanya hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat dan beraroma mint menerpa wajahku.
Wajah Elang kian mendekat dan....
Dengan refleks ku tutup bibirku dengan punggung tangan. Bagai dejavu, kejadian 8 tahun lalu terulang kembali. Aku dan pria yang sama yang mencoba menciumku.
Dan seperti delapan tahun lalu, Elang tersenyum gemas melihatku melakukan itu. Dadaku berdebar kencang seolah-olah menunggu Elang untuk mendaratkan bibirnya di atas jemari tanganku seperti dulu. Tapi kali ini Elang menarik wajahnya menjauhi aku.
Meskipun Elang menjauh, dadaku masih berdegup kencang tak karuan. Susah payah aku menelan ludahku sendiri.
Masih dengan tersenyum lembut, Elang menyentuh kan bibirnya di atas dahiku.
Cup !
Mataku membulat saat sadar Elang telah menciumku, dan tak hanya satu kali Elang melakukannya.
Cup !
Cup !
Cup !
Elang berulang kali mencium dahiku.
" Tak ada yang boleh menyentuhmu, selain aku," ucap Elang lirih dan itu membuat jantungku hampir meloncat dari tempatnya.
Lalu Elang bungkukkan tubuhnya, kali ini ia mencium pundak ku yang tadi dirangkul oleh Rio.
Aku tolehkan kepala ke arah samping dan memperhatikan apa yang Elang lakukan dengan wajah bingung tak mengerti.
Elang kembali tegakkan tubuhnya dan tersenyum lembut, " kini tak ada jejak lelaki lain di dirimu," ucap Elang yang masih mengukung tubuhku di salah satu dinding lift.
Kepalaku menengadah melihat pada Elang, dan untuk bisa membalas tatapan mataku Elang harus tundukkan kepalanya.
" Katakan kepadaku dengan jujur, Nay. Apa lagi yang pria tadi lakukan padamu ?" Tanya Elang.
" Hah ?" Aku bergumam pelan tak paham. Tiba-tiba saja lidahku terasa kelu, kata-kata tak bisa keluar dari mulutku.
" Apa dia pernah cium kamu di bibir ?" Tanya Elang dan aku menggeleng pelan sebagai bentuk jawaban.
" Di pipi ?" Tanya Elang lagi dengan tatapan matanya yang tajam.
Lagi-lagi aku menggeleng pelan.
" Berpegangan tangan ?" Tanya Elang penasaran.
Aku terdiam untuk sesaat, lalu aku pun berpikir jika aku dan Rio memang tak pernah berpegangan tangan tapi Rio pernah mencoba menggenggam tanganku jadi kali ini aku anggukan kepala membenarkan.
Reflek wajah Elang menegang. Rahangnya mengeras dengan bibir terkatup rapat dan mata menatap tajam juga sinis padaku.
Lalu ia pun meraih ke dua tanganku dan mencium punggungnya dengan lembut. Lagi-lagi Elang berusaha menghilangkan jejak Rio dari tubuhku. "Sudah aku bilang, tunggu aku !! Tapi kenapa kamu malah dengannya, Nayla ? " Tanya Elang dengan nada tak suka.
" Aku cemburu, Nay ! Kamu itu hanya milik aku," ucap Elang posesif.
Baru saja aku ingin membuka mulutku dan mengeluarkan protes dan segala unek-unek yang ada dalam hatiku. Tapi tiba-tiba saja pintu lift terbuka menandakan aku telah sampai di lantai yang aku tuju.
" Ayo," ajak Elang sembari mengulurkan tangannya untuk aku raih.
Aku tak menuruti apa kata Elang. Aku keluar dari lift dengan mendahuluinya. Bukannya aku tak suka Elang pulang. Tapi dia dengan seenaknya saja mengklaim diriku ini miliknya.
Kemana saja Elang 8 tahun ini ? Pergi tanpa kabar berita dan meninggalkan aku dalam perasaan cinta yang digantung.
Yang Elang lakukan hanya menyuruhku menunggu tanpa kejelasan hubungan, tanpa memberikan kepastian akan kembali kapan. Tapi kini tiba-tiba ia datang tepat saat aku mulai membuka hati untuk pria lain.
Tiba-tiba saja Elang muncul di hadapanku dan mengatakan dirinya cemburu juga mengkliam diriku ini adalah miliknya. " Apakah Elang tak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" Dengusku kesal.
"Tap tap tap"
Ku dengar derap langkah sepatu kulit milik Elang. Dirinya ternyata masih mengikuti aku. Bahkan ia melangkahkan kakinya lebar-lebar agar bisa menyusulku.
Tiba-tiba Elang merebut paksa buket bunga yang aku baw dan memasukkannya ke dalam tempat sampah saat kami melewati nya.
" Elang !" Hardik ku kesal.
Ahhh... Pada akhirnya aku bisa mengeluarkan suara walaupun itu hanya sebuah kata.
Bukannya marah, tapi Elang malah tersenyum mendengarnya. " Aku bahagia, sudah lama aku menantikan ini, menantikan kamu memanggil namaku," ucap Elang.
Aku pun tak mungkin menolaknya karena Elang menyerahkannya begitu saja. Aku perhatikan buket mawar itu dan mendapati beberapa bunganya telah hilang karena tangkainya yang patah.
" Suruh siapa membuat aku cemburu," ucap Elang seolah-olah paham dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Seumur hidup baru kali ini aku diberi hadiah bunga dan aku langsung mendapatkan 2 buket mawar sekaligus dalam satu hari.
Yang pertama dari Rio, pria yang kini berstatus sebagai kekasihku. Yang satu lagi dari Elang lelaki yang menjadi cinta pertamaku.
Walaupun buket bunga yang Elang berikan tidak lagi sempurna tapi di hati yang paling dalam, jujur ku akui jika aku benar-benar menyukainya dan buket bunga tak sempurna ini membuatku jauh lebih bahagia saat menerimanya.
Kami terus berjalan hingga akhirnya tiba pintu apartemen milikku. Aku hentikan langkah ku, begitu juga Elang.
" Aku sudah sampai," ucapku dengan maksud meminta Elang untuk pergi.
Bukannya tak senang Elang kembali, tapi perasaanku masih tak menentu. Di tambah kini aku sudah terikat dalam suatu hubungan asmara dengan pria lain.
" Buka lah pintunya," titah Elang tanpa berniat untuk pergi.
" Kak El...," Ucapku pelan tapi Elang sepertinya menjadikan genderang telinganya tuli karena ia malah mendekati kotak kombinasi nomor di pintu apartemen aku dan memijit 6 nomor acak versi dirinya.
" Teet," terdengar bunyi peringatan yang menandakan seseorang telah salah memasukkan kode acak pengunci pintu.
" 6 atau 4 digit ?" Tanya Elang.
" 6 digit," jawabku. " Aku gak akan bisa masuk kalau kamu 3 kali memasukkan kode yang salah,"
" Bagus ! Jadi kamu bisa ikut pulang denganku," ucap Elang sambil tersenyum lebar.
Aku melihat kesal pada Elang, " aku akan pulang ke rumah ibu atau mbak Nadia kalau emang tak bisa masuk ke apartment aku," ucapku ketus.
Tapi Elang lagi-lagi tak menggubris ucapanku, ia kembali memasukkan nomor acak dan bunyi tanda Elang telah salah memasukkan kode pintu kembali terdengar.
" Sudah ku katakan, kamu gak akan tahu," ucapku.
" Ini kesempatan terakhir aku memasukkan nomor acaknya. Jika aku benar, maka kamu harus mempersilahkan aku masuk dan jika aku salah maka aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibumu," ucap Elang terdengar percaya diri.
Aku tersenyum mendengarnya. " Setuju," ucapku dengan cepat karena aku yakin Elang tak bisa melakukannya. Nomor acak yang menjadi kunci pintu apartemenku ini sangatlah pribadi dan tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Akupun tersenyum lebar jumawa.
Cukup lama Elang berdiri, mencoba untuk memasukkan nomor acak itu. Sedangkan aku menunggu Elang melakukan kesalahan.
Terdengar Elang kembali memasukkan nomor acaknya dengan pelan-pelan.
" Ceklek," Pintu apartemenku pun terbuka lebar. Dan mataku membulat sempurna saat melihatnya.
Elang langkahkan kakinya lebih dulu memasuki apartment milikku. " Ternyata bukan aku saja yang tak melupakan tanggal pertama kali kita berciuman," ucap Elang dan itu membuat pipiku terasa panas.
Aku yakin wajahku pasti sudah berubah merah saat ini.
Berubah merah karena malu tentunya !!
" Apa yang kamu lakukan ?" Tanyaku pada Elang saat ia mulai membuka jasnya dan menyampaikannya di atas sofa.
" Seperti yang kamu janjikan tadi, aku boleh tinggal jika tahu password pintu apartemen kamu, dan aku sudah melakukannya," jawab Elang.
Aku melihat kesal pada Elang, tak bisa menerima sikap Elang yang selalu seenaknya mempermainkan perasaanku selama ini.
" Kak Elang tak bisa melakukan hal seperti ini terus kepadaku, " ucapku.
Mendengar perkataanku membuat Elang yang masih berdiri kini melihat ke arahku.
" Kak Elang tak bisa terus-terusan mempermainkan aku ! Kenapa kak Elang mencium ku ? Tapi kemudian kakak jadian dengan gadis lain. Kenapa kak Elang memintaku menunggu ? Lalu pergi menghilang selama 8 tahun lamanya. Meninggalkan aku dalam ketidakpastian," ucapku dengan suara meninggi.
" Tahukah kamu ? Bertahun-tahun aku merasa menderita, memendam perasaan ini sendirian. Aku tak bisa bercerita pada siapapun karena tak seorang pun yang akan percaya tentang cerita kita. Mati-matian aku berusaha untuk meyakinkan diri jika semua yang terjadi diantara kita tidaklah nyata. Tapi tiba-tiba kak Elang kembali padaku yang baru saja membuka hati untuk laki-laki lain. Apakah menurutmu ini adil bagiku ?" Tanyaku dengan air mata bercucuran.
Elang menatapku dengan perasaan bersalah. Wajahnya berubah sendu dan matanya meredup sayu. " Maafkan aku, Nay," ucapnya seraya merengkuh tubuhku dalam dekapannya.
Tak tahan lagi, aku pun menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
Bersambung...
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚
Maaciw zheyeenk 🥰