
Walaupun berusaha untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya hati Nayla berdarah-darah menahan ngilu dan sakit saat melihat itu semua.
Rafa pun jengah melihatnya. Segera ia palingkan muka agar tak melihatnya. "Kapan mereka jadian ?" Tanya Rafa pada Nayla yang masih melihat pasangan baru itu dengan nanar.
"Eh ?" Nayla tersentak dari pikirannya sendiri saat Rafa bertanya padanya.
"Kurang lebih 2 Minggu lalu, sehari setelah kak Rafa mengalami pemukulan itu," jawab Nayla tanpa keraguan.
Gadis itu ingat benar dan tak mungkin salah. Nayla ingat karena sore hari setelah kejadian nahas yang menimpa Rafa, Elang menjemputnya pulang. Mereka naik motor besar Elang dengan Nayla yang memeluk pinggang Elang dengan erat.
Bila biasanya Nayla hanya memeluk Elang secara tak langsung melalui hoodie hitam yang Elang pinjamkan padanya tapi waktu itu Nayla benar-benar memeluk tubuh Elang secara nyata.
Mereka tiba di rumah Nayla saat rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, lalu keduanya berbicara di atas trotoar di bawah rintikan air hujan.
Setelah itu...
Ingatan Nayla melewati bagian dimana Elang memberinya ciuman pertama. Nayla anggap itu hanya khayalannya semata. Kemudian malam harinya Nayla merasa bahagia karena bisa pulang dengan Elang.
Keesokan paginya ia berangkat sekolah dengan penuh semangat. Berharap bisa bertemu dengan Elang yang kemarin telah membuat Nayla semakin jatuh hati padanya.
Tapi... Kenyataan tak seindah harapan.
Pagi itu perasaan Nayla sedang menggebu bahagia. Hatinya dipenuhi bunga-bunga cinta yang bermekaran, wajahnya ceria karena senyuman tak mau surut dari bibirnya.
Hanya dalam hitungan detik semuanya berubah. Semua rasa bahagia Nayla musnah sudah saat ia melihat Elang dan Vony berjalan sambil bergandengan tangan.
Bagaikan diangkat ke angkasa namun sedetik kemudian dihempaskan ke dasar bumi. rasa cinta Nayla langsung hancur berantakan.
Hingga saat ini Nayla masih bisa mengingatnya dengan jelas. Bahkan rasa sakitnya masih bisa Nayla rasakan.
"Bukannya dia suka sama ka....,"
'Teeetttttt' bel tanda masuk sekolah pun berbunyi tanpa memberikan Rafa kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.
Kelas Rafa yang letaknya cukup jauh menjadikan pemuda itu harus segera pergi dari sana.
"Nay, aku masuk dulu ya," pamit Rafa. Ia pun melambaikan tangannya sambil setengah berlari. Tak lupa juga ia lambaikan tangannya pada Amelia hingga pipi pucat gadis itu berubah merah.
Jam pelajaran akan segera di mulai. Guru yang bertugas pun memasuki kelas dan para siswa pun duduk di bangkunya masing-masing termasuk Nayla yang duduk sebangku dengan Amelia.
Amelia senyum-senyum sendiri gak jelas. Tapi Nayla tahu alasan kenapa Amelia tersenyum seperti itu. Ia pun merangkul bahu sahabatnya itu dan memeluknya erat. Tanpa kata-kata, Nayla mengatakan jika ia ikut bahagia dengan sehatnya Rafa.
Amelia tolehkan kepala pada sahabatnya itu dan tersenyum dengan mata memerah menahan tangis. Tak usah mengatakan apapun keduanya sudah saling mengerti.
Nayla benar-benar merasa ikut bahagia karena Amelia. Gadis itu berpikir jika sahabatnya itu sangatlah beruntung karena disukai oleh seorang Rafa yang menjadikannya satu-satunya dan memperlakukan Amelia seperti ratu. Walaupun pemuda itu selalu menggombal, tapi ia lakukan itu hanya pada Amelia seorang.
Nayla menghela nafas dalam, ia pun sangat ingin merasakan cinta yang seperti itu juga. Dicintai dengan sangat oleh laki-laki yang dicintainya. Siapa lagi jika bukan Elang.
Sudah satu Minggu ini perasaan Nayla menjadi tenang karena ketidakhadiran Vony di sekitarnya. Hingga ia tak harus melihat kemesraan gadis itu dengan laki-laki pujaannya, Elang.
Melihat Elang yang kembali sendirian selama satu Minggu kemarin membuat Nayla senang. Sampai-sampai Nayla menolak halus segala perhatian yang Maxi berikan tapi pemuda itu tak menyerah juga. Tapi kini semuanya berubah, mimpi indah Nayla berakhir sudah.
Tadi, Vony dan Elang kembali bersama. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan dengan Vony yang mengenakan hoodie hitam milik Elang. Kehadiran keduanya sangat menyilaukan mata. "Pasangan yang benar-benar serasi," lirih Nayla hampir tak terdengar.
"Why would you ever kiss me ? (Kenapa kamu menciumku ?) " Batin Nayla dalam hati sembari menidurkan kepalanya di atas meja dengan lengan sebagai bantalannya. Ia miringkan kepala sembari mengerjakan tugas yaitu mengisi LKS mata pelajaran Bahasa Inggris. Walaupun Nayla mati-matian melupakan tentang ciuman pertamanya tapi saat ia melihat Elang, kenangan itu menari-nari dalam kepalanya.
Tangannya menuliskan jawaban di atas kertas, tapi pikirannya terus melayang pada Elang dan kisah bahagianya yang hanya secepat kilat.
Nayla tak mengerti kenapa Elang harus menciumnya jika pada akhirnya pemuda itu melabuhkan cintanya pada gadis lain.
"Karena dia jauh lebih cantik dan juga lebih sempurna. Dia adalah gadis yang paling pas untuk menjadi pendamping Elang," ucap Nayla dalam hatinya.
Nayla ingin membenci bahkan ia ingin melenyapkan gadis bernama Vony itu dari hati Elang tapi tentunya dirinya tak bisa lakukan itu semua.
Elang dan Vony tak bersalah. Yang salah itu dirinya sendiri yang terlalu berharap pada Elang. Nayla pun mendesah lelah.
Lelah dengan perasaannya pada Elang yang tak mau hilang. Apa dirinya harus mulai membuka hati pada laki-laki lain ?
***
Di tempat lain Rafa baru saja memasuki kelasnya. Seisi kelas Rafa menjadi heboh melihat kedatangan teman mereka yang sudah 2 Minggu ini absen.
Semua menyambut dengan rasa haru bahagia, karena Rafa memang pemuda yang baik hati, tidak sombong dan ada manis-manisnya gitu sehingga teman sekelas Rafa memang menyukai pemuda itu.
Rafa memasuki kelas dengan berdadah-dadah ria ala Miss universe. Tak lupa juga, ia layangkan ciuman jauh di udara dari bibirnya. Layaknya seorang idola bertemu dengan para Fansnya.
"Tenang-tenang.... Rafa juga kangen kalian," ucapnya sambil mengumbar senyum. Padahal sudah ada guru di kelasnya itu, tapi untungnya beliau tidak marah karena ia pun tahu bagaimana sikap Rafa yang sebenarnya selama ini. Ibu guru yang bertugas di kelas Rafa pun ikut tersenyum melihat tingkah laku anak didiknya itu.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Fa ?" Tanya ibu guru itu.
"Alhamdulillah baik Bu. Ini pasti karena do'a tulus kalian," ucap Rafa sembari melayangkan ciuman jauhnya dan teman-teman sekelasnya pun kembali riuh.
"Alhamdulillaah ya, Fa. Kamu udah siap belajar ?"
"Insyaallah siap, Bu !!" Jawab Rafa penuh keyakinan.
"Syukurlah kalau begitu. Silahkan kamu duduk di bangku karena pelajaran akan segera di mulai," titah ini guru lagi.
Rafa berjalan ke arah tempat duduknya. Matanya bersitatap dengan Elang yang sedari tadi memperhatikannya.
***
Pukul 10 pagi semua siswa berhamburan ke luar kelas untuk menikmati waktu istirahat siang mereka. Tapi tidak dengan Elang dan Rafa karena pemuda jangkung ini menahan tubuh temannya untuk keluar. "Gue harus ngomong sesuatu sama elu," ucap Elang.
Rafa pun kembali dudukkan tubuhnya di atas kursi guna mendengarkan apa yang akan Elang katakan padanya.
Belum juga Elang memulai ceritanya, Rafa sudah bertanya tentang sesuatu yang mengganjal pikirannya. "Lu ngapain sih pacaran ma sund*l bolong itu, El ?" Tanya Rafa tak sabaran.
"Lo tahu kan kalau dia itu jahat banget ? Jahat dalam artian sebenarnya," lanjut Rafa.
"Iya gue tahu, gue dekatin dia biar leo gak berbuat lebih jauh lagi. Setelah kejadian yang nimpa lu, Leo mengancam akan membidik Nayla dan mungkin orang-orang yang dekat dengan gue lainnya. Tapi Leo janji dia akan berhenti seandainya gue mau jadi pacar adek sepupunya itu,"
"Vony ?" Tanya Rafa sembari berkerut alis.
"Iya,"
"Terus si Leo nepatin janjinya?" Tanya Rafa lagi.
"Sejauh ini sih iya,"
" Terus Nayla ?"
"Gue masih punya perasaan yang sama, sama dia. Tapi kayanya dia benci gue sekarang," jawab Elang dengan suara memelas.
"Ya iyalah ! Jangan salahin dia, gue aja kesel lihat lo jadian ma nenek lampir itu. Awas El kebablasan !! Taunya lo suka beneran ma tuh kuda poni,"
"Gak mungkin lah, gila !!"
"Buktinya lo mesra banget ma dia, gue aja jijik lihatnya," sahut Rafa dengan berpura-pura ingin muntah.
"Terpaksa! Kemarin dia sakit sampai di rawat di rumah sakit. Kayanya sih karena gue bersikap dingin sama dia,"
" Lebay !! Hati-hati El !! Pacar lo itu manipulatif. Dia bisa saja pura-pura tak berdaya buat dapetin simpati lo,"
"Iya gue tahu," potong Elang.
"Dia janji mau cerita tentang semuanya termasuk kejadian yang menimpa lo. Maafin gue ya, Fa.... Gara-gara gue, lo jadi kebawa-bawa," lanjut Elang penuh sesal.
Rafa hanya manggut-manggut paham.
"Terus si Poni udah ceritanya ?"
"Belumlah. Dia baru masuk hari ini setelah dirawat di rumah sakit," jawab Elang.
"Lo harus gerak cepat El, cari informasi secepatnya,"
"Iya pasti ! Gue juga gak mau lama-lama deket sama dia ! Gue pengen semuanya cepat kelar biar bisa cepet pergi dari sini," ucap Elang.
"Maksud lo ? Pergi dari sini ?"
"Gara-gara semua ini, bokap gue mau mindahin sekolah gue ke tempat yang jauh," jawab Elang.
"Hah seriusan ?" Tanya Rafa sembari menegakkan tubuhnya karena terkejut.
"Iya, sebagai hukuman buat gue. Dan mungkin sebagai cara agar gue jauh dari masalah yaitu Leo,"
"Pacar lu ?"
"Mau gue putusin lah !! Setelah gue dapat info yang dibutuhkan untuk mengungkapkan kejahatan Leo. Bantu penyelidikan bokap hue juga," jawab Elang.
"Dan Nayla ?
"Gue titip dia sama elu ya, Fa. Lakukan apapun biar gak ada cowok yang berani deketin dia,"
"Kaya yang kita lakuin ke si Arya?" Tanya Rafa, dan Elang menganggukkan kepala membenarkan.
"Mmm dan bukan hanya gue aja yang pindah,"
"Hah ? Maksud lo ?" Tanya Rafa tak paham.
"Adek gue juga ikut pindah,"
"Hah ? Amelia ? Emang kenapa ?" tanya Rafa. Rasa terkejut dan takut kehilangannya terdengar jelas dalam nada suara Rafa.
"Karena dia bantuin gue buat kabur dari rumah saat lo dipukulin itu. Amelia tahu kalau Leo berusaha buat celakain Nayla. Jadi dia bantuin gue kabur supaya gue bisa mastiin Nayla baik-baik saja. Selain itu juga untuk....," Elang menjeda ucapannya.
"Untuk apa, El ? Buat apa Amelia nekad bantuin lo kabur dari rumah ?" Tanya Rafa tak sabaran.
"Amelia bantuin gue kabur juga buat mastiin keadaan lo, Fa,"
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️l
jangan lupa tinggalkan jejak ya