The Unexpected Love

The Unexpected Love
Selanjutnya



Rafa pun uraikan pelukannya, tapi dirinya masih enggan untuk melepaskan. Rafa m meraih tangan Amelia pada genggamannya. Keduanya berjalan menuju dalam rumah dengan jemari yang saling bertautan.


Ini pertama kalinya bagi Rafa dan Amelia berjalan bersama dengan saling bersentuhan dan tanpa perdebatan. Amelia tundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya.


Sedangkan Rafa, ia nyengir kuda dengan wajah sumringah. Mati-matian menahan diri untuk tak melakukan gerakan reog karena saking senangnya. Seorang pun tak ada yang tahu jika di dalam sana hatinya tengah bergoyang Pantura.


Bayangkan saja !


Bila biasanya yang Rafa terima adalah delikkan mata judes dan kata-kata penolakan tapi kali ini jemari mereka saling bertautan dengan rasa yang sama yaitu cinta.


Bahkan tadi Rafa berhasil mencium bibir gadis pujaannya itu layaknya seorang pria dewasa. Tak lagi hanya menempelkannya bibirnya saja lalu melepaskannya secepat kilat. Kali ini ia melakukannya dengan penuh perasaan dan penghayatan.


Semua orang yang melihat pada Rafa dan Amelia pasti akan melengkungkan senyumnya. Terutama anggota keluarga Amelia yang kini terlihat lega karena sebelumnya mereka dihantui rasa takut jika Amelia akan menolak perjodohan ini.


"Kalian makan dulu !" titah Mamih Amelia pada keduanya. "Mel, ambilin makan buat calon suami kamu," lanjut sang Mami pada anak gadisnya itu.


"Ka-kamu mau makan sekarang ?" Tanya Amelia malu-malu pada Rafa.


"Emang boleh makan kamu sekarang ?" Tanya Rafa setengah berbisik. Ia sangat kesulitan untuk mengendalikan dirinya.


Amelia mendelikkan matanya dengan sengit pada pemuda itu sembari edarkan pandangannya, melihat ke sekelilingnya dan memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Beruntung bagi Amelia karena tak ada seorangpun yang mendengarnya hingga ia bisa bernafas dengan lega. "Awas ya kalau ngomong kaya begitu lagi !" Ancamnya kesal. Tak lupa Amelia mencubit gemas lengan calon suaminya itu sebagai tanda marah.


"Yang di cubit lengan, tapi kok malah terasanya di dalam hati yaa ?" Gombal Rafa sambil tersenyum lebar hingga mengundang tawa orang-orang yang mendengarnya.


Amelia menarik nafas dalam. Ia harus terbiasa dengan lelaki konyol itu. Lelaki yang seringkali membuatnya kesal tapi juga tak bisa ia lupakan.


Amelia pun memilih untuk pergi ke ruang makan dan menyiapkan makanan untuk Rafa. Pikiran Amelia melayang pada apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia masih tak percaya jika ia baru saja di lamar oleh lelaki yang dengan susah payahnya Amelia coba hindari.


Masih dengan perasaan tak percaya, Amelia meraba dan memainkan liontin berlian yang tergantung indah di leher jenjangnya. Rafa memang tak romantis seperti lelaki lainnya yang memberikan sebuah cincin pada gadis yang dilamarnya. Tapi walaupun begitu Amelia tetap suka dengan sikap Rafa yang sat set sat set.


"Kalungnya indah banget, Mel," puji Elang dengan tulus. Tanpa Amelia sadari sang kakak sudah berdiri di sebelahnya. Ini adalah kali pertama keduanya saling berbicara setelah pertengkaran mereka kemarin malam.


Amelia tolehkan kepalanya pada Elang dan tersenyum canggung karenanya.


"Maafin Bang El," ucap Elang lagi. Ia sungguh menyesal karena ucapannya semalam pada sang adik.


" Its ok," sahut Amelia singkat.


" Selamat untuk pertunanganmu... Aku yakin Rafa sangat mencintaimu dan akan membuatmu bahagia. Aku juga merasa tenang karenanya Rafa yang menjadi pendampingmu,"


"Mmhh... Terimakasih," sahut Amelia singkat.


"Mengenai semalam... Bang El benar-benar merasa menyesal...,"


"Aku yang salah," potong Amelia cepat.


"Seharusnya aku mengerti dan bisa menerima Jika Nayla adalah istrimu sekarang, bukan lagi sekadar sahabatku saja. Maafkan aku karena telah bersikap egois," lanjut Amelia.


"Kita berdua yang salah dan tak mau saling mengalah," sahut Elang dan Amelia pun tertawa mendengarnya.


"Setelah pulang dari Bali, aku akan kembali untuk menyelesaikan pekerjaanku. Selama itu kamu bisa menyiapkan detail pernikahanmu dengan Nayla,"


"Ya, aku akan meminta bantuan Nayla untuk menyiapkan semuanya. Terimakasih," sahut Amelia.


"Jangan peluk calon istri gue lama-lama, El," ucap Rafa yang menyela momen berbaikan adik kakak itu.


"Ya elah.. adek gue ini," protes Elang.


"Iya, tapi calon istri gue ! Sana ! Lo peluk bini lo aja !" Titah Rafa seraya menunjuk Nayla dengan matanya.


" Ish belum apa-apa udah posesif aja," ledek Elang.


"Bo-do a-mat," sahut Rafa seraya menarik Amelia pada genggamannya dan gadis itu hanya tersenyum geli melihat perseteruan sang kakak dengan calon adik iparnya itu.


***


Waktu bagai berlari, berlalu dengan sangat cepatnya hingga tak terasa hari pernikahan Rafa dan Amelia pun tiba.


Amelia terlihat cantik dalam balutan kebaya putihnya. Selama bersiap ia ditemani oleh Nayla sang sahabat.


Tak henti-hentinya Nayla melayangkan tatapan mata kagum pada sahabatnya itu. "Aku deg-degan," ucap Amelia sembari mengatur nafasnya sendiri.


"Semua akan baik-baik saja, dan kamu akan menjadi gadis paling bahagia di dunia,"sahut Nayla berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Keduanya tengah melihat bayangan mereka di dalam cermin. Nayla dengan kebaya pink muda sedangkan Amelia dalam balutan kebaya putih pengantin.


Nayla dan Amelia sama-sama tersenyum pada cermin dengan isi pikiran yang sama. Rasanya baru kemarin keduanya berusia 16 tahun dan mengenakan seragam putih abu-abu.


Menghabiskan waktu di akhir pekan dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan berburu buku novel bersama.


Rasanya baru kemarin Nayla dan Amelia membuat stand jualan di acara bulan prestasi dan beradu mulut dengan Vony dan jajarannya.


Susah senang sudah keduanya lewati bersama dan itu membuat ikatan persahabatan mereka semakin kuat. Ditambah lagi kini Nayla sudah resmi menjadi istri Elang. Menjadikan gadis itu tak hanya sahabat tapi juga saudara perempuan yang sebenarnya.


"Udah siap ?" Tanya seseorang yang ditugaskan untuk menjemput Amelia karena Rafa akan segera mengucapkan kata-kata ijab Kabulnya.


"Sudah," Nayla yang menjawab pertanyaan itu.


"Ayo Mel, sudah waktunya," ucap Nayla seraya menggandeng tangan sahabatnya itu untuk pergi menuju tempat di adakannya akad nikah.


Semua orang menatap kagum pada Amelia yang terlihat sempurna di hari pernikahannya. Wajahnya yang khas indo itu terlihat cantik dalam riasan natural ala pengantin Sunda.


Rafa sang calon suami pun terkesima melihatnya. Mulutnya terbuka secara refleks dengan pandangan mata penuh puja. hampir saja ia meneteskan air liurnya karena saking terpesonanya. "Cantik banget jodoh gue," gumam Rafa yang tak bisa menahan diri untuk tak mengatakannya. Tanpa sadar ia berdiri untuk pergi menjemput calon istrinya itu.


"Sabar mas Rafa..., Nanti Amelia juga akan duduk di sebelahmu," ucap petugas KUA pada Rafa yang terlihat tak sabaran itu.


Rafa nyengir kuda menahan malu, sedangkan tamu yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat Rafa.


to be continued ♥️


belum revisi.


maaf telat update yaa..


aku lagi ngejar pelajaran anakku yang tertinggal setelah 10 hari gak masuk sekolah karena sakit tipes


terimakasih atas pengertiannya 🙏