The Unexpected Love

The Unexpected Love
Emosi



Tiba-tiba saja Leo ingin mengangkat wajahnya dan melihat ke arah lapang yang ternyata dirinya sudah ditatapi nyalang oleh Elang.


Ya pemuda yang tengah bermandikan keringat itu memperhatikan Leo sedari tadi. Ia tak rela jika gadis yang disukainya di perhatikan oleh musuh besarnya.


Leo tersenyum miring melihat pada elang dan a pun mengacungkan kedua jari tengahnya. "F*ck y*u" gumam Leo dengan sangat pelan dan Elang bisa membaca pergerakan bibir Leo dengan begitu jelasnya hingga laki-laki jangkung itu mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku-buku tangannya memutih.


Entah apa yang dilakukan Leo hingga Ia membuat Nayla menolehkan kepala kepadanya dan berbicara. Tak hanya itu, Nayla juga tersenyum pada Leo dan tentu saja itu dilihat oleh Elang dari tengah lapang.


Dada Elang bergemuruh tak karuan, dia ingin berlari ke sana dan menyembunyikan Nayla dari musuh besarnya. Atau elang memberikan banyak bogem mentah pada wajah Leo agar lelaki itu tak lagi bicara pada Nayla. Kalau perlu Elang ingin sekali merobek mulut lelaki yang berani tersenyum pada gadis yang disukainya itu.


"El, lu ngapain ?" Tanya Rafa sambil setengah berlari karena elang melewatkan operan bola basket dari tangannya hingga bola itu berhasil direbut lawan dan sang lawan pun mencetak angka.


"El ? Woi !!" Dengan terpaksa Raffa mengikut Elang agar lelaki itu kembali ke alam sadarnya.


"Sorry, "sahut Elang dan ia pun kembali ke permainan.


Elang yang sedang dirundung emosi bermain dengan kasar. Tak sekali dua kali lawannya merasa kesakitan karena sikap kasar Elang dan saat lawannya itu protes maka Elang akan melawannya lebih galak lagi.


Melihat sikap Elang yang seperti itu akhirnya pelatih meminta waktu untuk beristirahat. Elang berjalan ke tepian lapang yang di mana di sana ada Leo sedang duduk bersama Vony dan tak jauh dari Nayla.


Salah elang yang terlalu khawatir dan tak ingin berbagi Nayla dengan siapapun. Bahkan ia tak rela jika laki-laki lain hanya sekedar melihat atau tersenyum pada Nayla. Oleh karena itu saat sang pelatih memberikan pengarahan padanya dan juga nasihat agar Elang tidak bermain kasar, pemuda itu mendengarnya sambil lalu. Ia terus fokus pada Nayla yang juga melihat ke arahnya dengan malu-malu.


Beberapa kali Nayla membuang muka berusaha untuk mengakhiri tatapannya lebih dulu dari Elang tapi lelaki jangkung itu terus memperhatikannya tanpa jeda.


Kedua telapak tangan Nayla yang basah akan keringat saling meremas di atas pangkuannya. Dadanya berdebar menggila karena mendapatkan tatapan yang begitu tajam dari Elang. Nayla seperti dalam sebuah halusinasi, sulit percaya dengan apa yang tengah terjadi. " Elang lihat kamu !! Elang lihat kamu!! " Kata-kata itu berulang dalam pikiran Nayla.


"Kamu ngerti, El ?" Tanya pelatihnya pada Elang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban padahal yang sebenarnya terjadi ia tak tahu apa yang diutarakan oleh pelatihnya itu.


Pertandingan pun akan segera dimulai alih-alih pergi ke tengah lapang Elang lebih memilih untuk menghampiri sang adik dan juga Nayla tentu saja. " Sebaiknya kalian pulang, "kata Elang.


"Hah kenapa ? Aku masih pengen di sini menonton pertandingan Bang El sampai habis, "Jawab Amelia.


Elang terdiam tak bisa memberikan alasan yang kuat bagi keduanya. " Oke tapi setelah ini kita pulang, "lanjut Elang.


" Begitu juga kamu, Nay. setelah ini kamu juga pulang bareng kita, "kata Elang lagi dan kemudian laki-laki itu pergi ke tengah lapang tanpa memberikan Nayla kesempatan untuk berbicara.


"Kenapa dia? "Tanya Amelia terheran.


"Nghh nggak tahu," sahut Nayla terbata-bata. Padahal Elang hanya berbicara singkat namun itu mampu membuat hati Nayla porak-poranda. Bolehkan Nayla merasa jika Elang peduli padanya? Apakah mimpi Nayla terlalu tinggi? Rasa bahagia, senang, takut, tak percaya bercampur aduk dalam hati Nayla saat ini.


"Kenapa Elang mengajaknya pulang bersama? Bukankah Elang sedang dalam masa pengawasan orang tuanya?" Batin Nayla dalam hati.


Dan sepertinya Amelia pun mempunyai pikiran yang sama dengan Nayla. "Kenapa kamu harus ikut pulang juga ya Nay?" Tanya nya.


"Ooh mungkin Elang tahu tentang perseteruan kita dengan Voni tadi," bisik Amelia pada Nayla menjawab pertanyaannya sendiri. "mati aku kalau Mami sampai tahu," Amelia terlihat frustasi.


"kalian ngobrol melulu, ayo angkat bendera nya," ucap Zia seraya memberikan Nayla dan Amelia bendera yang sudah dituliskan nama-nama pemain basket yang tengah bertanding.


Nayla tersenyum puas saat menerima nama Elang. Dirinya segera melambai-lambaikan bendera kecil itu. Begitu juga Amelia dengan semangat ia melambaikan bendera yang bertuliskan nama Rafa padahal Gadis itu terus meneriakkan nama sang kakak sepertinya Amelia tidak tahu jika Zia mengerjainya.


Di belakang mereka, Vony terlihat bersungut-sungut kesal melihat Nayla dan rombongannya yang membawa bendera. Ia merasa tugasnya sebagai pemandu sorak untuk memberikan semangat diambil alih oleh para juniornya yang menurutnya hanya rakyat jelata sekolah yang tak berarti kecuali Amelia. Ya.. adik Elang itu memang termasuk salah satu gadis populer di sekolah.


"Noraaakkk bangeeetttt sih sumpah!!!" Kesal Vony sembari menghentak-hentak kan kakinya tak karuan. Beberapa kali Leo harus menenangkan adik sepupunya yang sedang seperti kerasukan setan itu.


Sedangkan di tengah lapang Elang masih saja bermain dengan kasar. Konsentrasinya terpecah belah antara memenangkan pertandingan juga melindungi Nayla.


Untung bagi Elang karena tak lama setelah itu pertandingan pun usai dan ia kembali berhasil membawa timnya menang. Besok Elang akan masuk ke babak final.


Nayla sangat sibuk dengan pikirannya sendiri tentang elang sampai-sampai ia tidak sadar jika ada pemuda yang sedari tadi terus memperhatikannya bahkan pemuda itu ikut tersenyum saat Nayla tersenyum. Padahal dia tahu Nayla tersenyum bukan untuknya.


" Ngapain sih senyum-senyum segala kayak orang bego ?" Ucap vony kesal pada sepupunya itu.


"Lagian lo marah-marah mulu," sahut Leo kesal.


"Gue nyuruh Lo kesini biar lo lihat gimana si Elang beneran naksir sama anak culun itu, biar lo percaya. Bukan nyuruh lo ikut-ikutan merhatiin anak kampung itu," bisik Vony tak terima.


"Awas ya kalau lo sampai suka sama dia !! Gue benci banget sama tuh anak !!" Geram Vony. Saking bencinya pada Nayla membuat gadis itu tak Rela jika sepupunya ikut-ikutan memiliki rasa pada Nayla.


"Bukannya kalau gue dapetin dia, lo bisa sama Elang?" Bisik Leo.


"Gak mau !! Gue sakit mata lihat cewek kampung itu. Lo cari yang lain aja !!" Jawab Vony sembari berjalan menuruni tangga guna mendekati para pemain yang sudah berada di pinggir lapang meninggalkan Leo duduk sendiri di bangkunya.


"Selamat ya, El," ucap Vony sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman tetapi elang hanya menatapnya dingin dan tak menanggapi uluran tangan itu. Vonny pun menurunkan tangannya seraya menatap Elang dingin.


Elang melap keringatnya dengan handuk yang ia bawa kemudian mulai berbenah untuk pergi.


Merasa diabaikan Elang, untuk membunuh rasa malu maka Voni pun berbicara dengan pelatih basket. "Pak, selamat ya.. Bapak hebat," ucapnya penuh rayuan mencari muka


"Saya mewakili tim pemandu sorak ingin meminta maaf karena tidak bisa memberikan dukungan yang heboh kepada tim basket bapak, karena ada yang lebih dulu melakukan itu. Bukan saya yang nyuruh loh ya pak ! Mereka memaksakan diri untuk memberikan dukungan sampai-sampai harus mengenakan baju olahraga bukan seragam seperti kita," lanjut poni sembari menunjukkan pada Nayla dan Amelia juga teman-teman yang lainnya yang masih mengibarkan bendera kecil mereka. Vony berharap Nayla Amelia dan teman-temannya mendapatkan teguran dari pelatih basket yang terkenal galak itu.


Pak Yosef selaku pelatih langsung mengikuti arah jari telunjuk Vonny dan dan melihat pada sekelompok siswa perempuan yang menggunakan kaos olahraga yang bertuliskan nama SMA mereka.


Tak hanya sang pelatih, tapi para tim pemain basket pun melihat ke arah mereka termasuk Rafa. "Wiiihhh hebat mereka kreatif," ucap Rafa sambil bertepuk tangan.


"Kok kreatif sih? "Protes Vonny. "Norak tau gak, " lanjutnya lagi dengan nada ketus.


Apa Yosef selaku pelatih basket langsung menghampiri gerombolan anak perempuan tersebut. Vonny yang melihat itu langsung melengkungkan senyuman miring di bibirnya ia sudah tak sabar melihat gadis-gadis itu mendapatkan teguran.


"Terimakasih ya !! Kalian luar biasa !! Berkat dukungan kalian Kita bisa menang. Kalau bisa beri dukungan lagi seperti ini karena tim basket kita memasuki babak final," ucap Pak Yosef dan itu membuat Vonny membulatkan mata dengan mulut terbuka. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat juga didengarnya. Emosi Vony semakin menjadi-jadi, gadis itu berjalan kembali menaiki tangga untuk duduk bersama Leo. Entah berapa kata makian yang keluar dari bibir tipisnya.


Rafa mendekati pelatihnya itu dan ia tersenyum sumringah saat mendapati Amelia mengibar-ibarkan bendera yang bertuliskan namanya. "Karena dukungan Amelia,Rafa jadi bisa menang," gombal pemuda itu terdengar manis di telinga Amelia.


Namun sayangnya belum juga Amelia berbicara, terdengar suara seorang gadis yang berasal dari belakangnya. "Rafa, kita jadi pulang bareng kan? " Tanya Angela yang duduk tepat di belakang Amelia.


"Hah ? Aku kan harus latihan dulu, " jawab Rafa.


"Nggak apa-apa aku tungguin," kata Angela bersikeras.


Tanpa aba-aba, Amelia langsung mematahkan kayu kecil penyangga bendera yang dipegangnya di depan Rafa. Matanya melihat sinis pada pemuda itu.


Rafa menulan ludahnya paksa melihat apa yang Amelia lakukan. "Mel...," Ucapnya tapi sayang Amelia langsung berdiri karena Elang telah memanggilnya untuk pulang. Diikuti oleh Nayla yang terlihat prihatin pada Rafa.


Setelah Memberikan pujian pelatih itu kembali ke tim basketnya dan mengatakan pada mereka bahwa besok babak final akan dimulai pukul 10.00 pagi dan yang menjadi lawan mereka adalah SMA "Bakti Bangsa"


Elang yang sedang berbenah langsung menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah pelatihnya dengan tak percaya. Nama yang disebutkan pelatihnya tadi adalah nama sekolah Leo dan pemuda itu juga berada dalam tim basket. Berarti besok ia harus berhadapan dengan Leo


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚