
Amelia tak menjawabnya yang ia lakukan adalah berhambur pada pelukan suaminya itu dan tanpa aba-aba, Amelia jinjitkan kakinya lalu meraih bibir Rafa dengan bibirnya dan menyesapnya perlahan.
Rafa terhenyak, mendapatkan serangan mendadak dari Amelia membuat tubuhnya melonjak satu langkah ke arah belakang. Mata Rafa membulat saat ia rasakan bibir istrinya itu menyesap bibirnya dengan perlahan. Mati-matian Rafa berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjatuh.
Rafa pejamkan matanya. Membalas ciuman Amelia sama inginnya dan merengkuh tubuh istrinya itu agar lebih padu dengannya. Satu tangannya Rafa letakkan di punggung Amelia, dan tangan yang lain merengkuh pinggang sang istri dengan posesif. Darahnya berdesir hebat dan ia rasakan pening untuk sesaat. Hingga Amelia menguraikan tautan bibirnya pun, Rafa masih belum mau melepaskan belitan tangannya.
" I miss you," ucap Amelia dengan matanya yang berkaca-kaca.
Bola mata Rafa bergerak-gerak, ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia tatap mata Amelia dalam-dalam, mencari tahu apakah yang dikatakan istrinya itu nyata adanya.
Ini kali pertama Amelia bertindak dan berkata-kata mesra padanya. Bahkan saat melakukan panggilan video pun Amelia tak pernah mengatakan kata-kata rindu itu. Yang terjadi malah sebaliknya. Rafa lah yang mengatakan kata rindu berulang kali pada istrinya.
" Say it again, katakan kamu kangen aku," pinta Rafa. Kata rindu Amelia menjadi candu baru baginya.
"I miss you... So... Much !" Jawab Amelia dengan perlahan dalam pengucapannya agar Rafa paham dan mengerti apa yang dirasakannya. Amelia pun melingkarkan tangannya di tubuh kekar sang suami. membalas pelukan Rafa dengan eratnya.
Rafa tersenyum sembari menarik nafas lega. Matanya meredup sayu, menatap sayu penuh damba pada istrinya itu. "Aku lebih kangen lagi sama kamu," ucap Rafa.
Ia tundukkan kepala dan membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia lalu me-lumatnya penuh perasaan. Rafa sesap juga hisap bibir istrinya itu secara bergantian. Lidahnya melesak masuk saat Amelia dengan sengaja membuka sedikit mulutnya.
Lidah keduanya saling membelai satu sama lain, Rafa jelajahi mulut hangat istrinya itu dengan lidahnya. "Nghh," lenguh Amelia terdengar merdu di telinga Rafa. Mendengar lenguhan Amelia membuat tubuh Rafa berdesir hangat dan ia menginginkan lebih dari itu.
Masih dengan satu tangannya yang merengkuh tubuh Amelia erat. Tangan yang lainnya telah bergerilya memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu di tubuh Amelia.
Tangan Rafa sudah ditempat yang ia inginkan di tubuh istrinya itu. Ia rasakan benda kenyal memenuhi satu telapak tangannya lalu ia meremasnya gemas. "Nghh," lagi-lagi Amelia melenguh, menikmati sentuhan dari suaminya itu.
"Sayang, aku menginginkanmu seutuhnya...," Ucap Rafa lirih di atas bibir istrinya yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya itu. Matanya yang sudah terlihat sayu menatap penuh mohon pada Amelia. Rafa merasakan inti tubuhnya mulai menggeliat hidup dan ingin segera menunjukkan aksinya.
"Tapi aku masih harus bekerja," jawab Amelia sama lirihnya.
Rafa menutup matanya sembari menggigit bibir bawahnya karena frustasi. Sungguh saat ini ia menginginkan Amelia untuk menjadi miliknya secara utuh. Hal yang sudah dinantikannya sejak lama.
"Maaf..," wajah Amelia memperlihatkan rasa bersalah yang begitu kentara saat mengatakannya. Matanya berkaca-kaca, lalu ia tundukkan kepala. Tak berani melihat pada suaminya itu. Amelia merasa dirinya tak berguna sebagai seorang istri.
"Aku sungguh seorang istri yang tak berguna," ucapnya sambil terisak-isak.
"Hei, jangan katakan itu !" Ucap Rafa. Ia angkat dagu Amelia dengan jempolnya agar istrinya itu melihat padanya.
Rafa tersenyum gemas saat melihat wajah Amelia yang cemberut manja dengan ujung hidungnya yang merah karena tangisnya. "Jangan berkata seperti itu lagi ! Kamu adalah istri yang sangat sempurna," sahut Rafa.
"Pulang jam berapa ?" Tanya Rafa.
"Pukul 7 pagi," jawab Amelia.
" Baiklah, kita akan melanjutkannya besok pagi. Udah gak datang bulan kan ?"
Amelia menggelengkan kepalanya pelan. "Udah nggak," jawabnya malu-malu.
"Yess !!!" Sahut Rafa sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat sebagai tanda rasa senangnya dan itu membuat Amelia tertawa melihatnya.
"Katanya pulang besok siang ?" Tanya Amelia.
"Hu'um, tapi aku majukan jamnya karena aku udah kangen banget sama sayangnya Rafa,"
'sayangnya Rafa' adalah dua kata yang sangat Amelia rindukan hingga ia tersenyum saat mendengarnya.
"Seneng karena udah pulang ?" Tebak Amelia.
"Ya, dan juga senang karena sayangnya Rafa bilang kangen. Kayanya habis ini hati Rafa bakal hajatan 7 hari 7 malam di dalam sana," jawabnya penuh gombalan.
Amelia ingin marah tapi ia ingat bagaimana rasa rindunya yang dalam akan gombalannya receh suaminya itu. Jadi yang Amelia lakukan hanyalah senyum-senyum saja.
"Oh iya dengerin nih... Rafa udah latihan ini buat sayangnya Rafa,"
"Apa ?" Amelia bertanya sembari menatap hangat mata suaminya itu.
"Ikan hiu makan tomat, i Love you so much," jawab Rafa dan itu membuat Amelia tertawa saat mendengarnya.
"Wait, masih ada lagi ! Ada ranting ada kayu, im nothing without you," lanjut Rafa dan lagi-lagi membuat Amelia tertawa.
" Makan sop pake bumbu, i cant stop loving you,"
Belum juga Rafa melanjutkan pantun yang berikutnya, Amelia sudah membungkam mulut suaminya itu dengan bibirnya. Ia kembali mencium Rafa sambil memejamkan matanya.
"OMG... Amelia bagaimana bisa kamu cinta mati sama Lelaki konyol kaya dia" batin Amelia dalam hati.
Rafa balas ciuman Amelia sama inginnya. Ia pun pejamkan matanya menikmati itu semua. Hingga pertanyaan dari arah luar menghentikan pergulatan bibir mereka.
"Dokter Amelia ? Dok ada pasien yang lain baru datang," ucapnya dari balik tirai.
Rafa hentikan cumbuannya walaupun ia enggan. "Aku harus kerja dulu. Kamu pulang dan beristirahatlah," titah Amelia pada suaminya itu.
Rafa memang merasa lelah karena penerbangan yang dilakukannya selama berjam-jam tapi, ia lebih membutuhkan untuk dekat dengan istrinya dari pada beristirahat. "Rafa boleh nungguin sayangnya Rafa kerja gak sih ?" Tanya nya manja.
"Aku gak akan bisa kerja kalau kamu ada," jawab Amelia apa adanya.
Lagi-lagi Rafa terkejut. Tak berjumpa hampir dua Minggu lamanya membuat Amelia banyak berubah. Kini Amelia lebih ekspresif dalam menunjukkan perasaannya. Baik itu dalam kata-kata maupun tindakan. Dan sumpah demi apapun Rafa sangat menyukainya.
"Dok ?" Tanya seseorang dari balik tirai untuk yang kedua kalinya.
"Ba- baik akan segera saya periksa," sahut Amelia seraya menguraikan pelukannya. "Pulanglah..," titahnya lagi pada Rafa.
"Baiklah," jawab Rafa dengan beratnya.
"Besok pagi, Rafa jemput ya," Sahut Rafa sembari mencium dahi Amelia dengan dalam dan lama. Rafa tak ingin pergi meninggalkan istri tercintanya itu.
"Ayooo, aku harus kerja," ucap Amelia.
"Oke Sayang," kali ini dengan sangat terpaksa akhirnya Rafa pergi meninggalkan Amelia untuk bekerja.
Rafa duduk di bangku penumpang. Saat ini ia pulang dengan menumpang sebuah mobil taksi online. Dalam kepalanya dipenuhi ide bagaimana menyambut kepulangan sang itri besok pagi.
"Besok pagi akan menjadi hari terpenting dalam hidupku juga Amelia, harus istimewa," gumam Rafa pada dirinya sendiri.
to be continued
thanks for reading
semoga gak bosen bacanya ya