The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kembali ke Sekolah



Nayla POV.


Yang kudengar saat ini hanya tetesan air hujan yang jatuh di atas atap seiring jatuhnya air mata yang terus membasahi pipi walaupun aku berulang kali berusaha mengeringkannya dengan punggung tangan.


Sakit yang kurasakan tak kunjung hilang, setiap aku berusaha melupakan kak Elang semakin aku ingat hal manis yang pernah dia lakukan padaku. Walaupun mungkin baginya tak pernah berarti apa-apa.


Hari ini aku resmi patah hati. Menyedihkan bukan ?


"Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap," gumamku pelan sambil tertawa dan mengusap air mata secara bersamaan.


Di akhir cerita si Kopi Starbak harus bersanding dengan seseorang yang satu level dengannya yaitu gadis primadona sekolah. Pangeran tampan hanya bersanding dengan royal princess ! Ingat itu ! Kisah cinta di buku dongeng itu tak pernah nyata.


Dan dengan bodohnya aku menganggap apa yang pernah Kak Elang lakukan padaku adalah karena ia menyukaiku. Harusnya aku sadar diri dan kembali mengucapkan mantra itu. "Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap" agar aku tak terlalu atau jangan pernah berharap sama sekali.


Pada akhirnya aku beranggapan bahwa yang terjadi kemarin sore itu hanya khayakanku semata. Ciuman pertama itu tak pernah terjadi.


Tadi, setelah aku melarikan diri dan bersembunyi dalam keadaan yang menyedihkan di toilet sekolah. Amelia datang mencari ku ditemani oleh Zia dan teman sekelas kami yang kebetulan hari ini bertugas di UKS.


Mereka datang setelah Amelia terus menghubungi aku untuk menanyakan keberadaan ku. Dengan berat hati aku harus berbohong pada sahabat ku sendiri bahwa aku menangis karena sakit kepala. Untungnya Amelia percaya karena badanku yang demam.


Ya..


Tubuhku tiba-tiba mengalami demam. Entah itu karena terlalu syok dengan apa yang kulihat atau buntut terkena guyuran air hujan kemarin sore. Hatiku mencelos sedih saat ingat kejadian kemarin. Kejadian yang akan aku yakini tak pernah terjadi.


Aku ingat tadi pagi waktu aku masih di UKS dan menunggu jemputan ojek online, Amel bertanya tentang sesuatu yang akan aku ceritakan padanya. Gadis itu terus mendesak saat aku katakan bahwa aku lupa dengan yang akan ku ceritakan.


Tentu saja Amelia tak percaya. Sahabatku itu sempat merajuk dan mengancam tak mau berbagi ceritanya denganku lagi, tapi aku hanya tersenyum saja karena tak mungkin aku mengatakan jika Elang sang kakak Amelia telah mencuri ciuman pertamaku.


Siapa yang akan percaya padaku, saat aku bercerita tentang kejadian kemarin sore ? Karena pada kenyataannya, hari ini Elang mengumumkan pada semua siswa sekolah bahwa ia berpacaran dengan Vony si Primadona sekolah secara resmi. Orang yang mendengar ceritaku pasti akan beranggapan bahwa aku sedang halu atau berkhayal.


Oleh karena itulah aku memaksa diriku sendiri untuk melupakan atau bahkan beranggapan bahwa yang kemarin sore itu tak pernah terjadi.


"Why would you ever kiss me ?" ( Kenapa kamu menciumku ) kalau ternyata kamu lebih menyukai dia daripada aku" gumamku sembari memejamkan mata dan berjanji pada diriku sendiri bahwa ini terakhir kalinya aku memikirkan tentang ciuman itu.


"Itu tak pernah terjadi,Nay. Itu tak pernah terjadi...," ucapku lirih.


***


Author POV


Sudah 3 hari Nayla tak pergi ke sekolah karena demam dan flu yang singgah di tubuhnya. Sore ini, Amelia menjenguknya seorang diri dan hanya diantarkan oleh supir pribadi sang ayah.


Amelia berkeluh kesah tentang kekesalannya pada Elang karena sang kakak memacari Vony si Primadona sekolah yang menurut Amelia sangat menyebalkan.


Bukan tanpa alasan Amelia berkata seperti itu. Vony yang dari luarnya terlihat begitu baik, tapi ternyata sering menekan siswa lain yang lemah dengan sindiran-sindiran halus yang keluar dari mulut manisnya seperti yang ia lakukan pada Nayla. Hingga gadis itu pernah beberapa kali berselisih paham dengan Amelia yang membela sahabatnya itu.


Ingin rasanya Nayla mengatakan pada Amelia bahwa ia tak hanya kesal saja pada Elang tapi juga merasa kecewa, marah atau mungkin benci pada laki-laki itu setelah apa yang Elang lakukan pada perasaannya. Tapi lagi-lagi Nayla menahan diri untuk tak bercerita pada siapapun karena pasti mereka tak akan percaya dan Nayla pun tak ingin apa yang terjadi antara dirinya dengan Elang akan merusak persahabatan keduanya.


Yang bisa Nayla lakukan hanya mendengarkan keluh kesah Amelia sembari menasihati gadis itu agar bisa menerima dan melihat Vony dari sisi baiknya. Setidaknya Vony tak pernah berani untuk menyakiti Amelia.


Gadis itu menarik nafas dalam sembari membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Nayla. "Tapi aku gak suka sama Kak Vony, sulit dipercaya Bang El suka tipe cewek kaya begitu. Aku kira dia berbeda, aku kira dia akan menyukai seseorang karena hati bukan karena kepopuleran," desah Amelia.


"Mungkin di mata Elang, Kak Vony memang baik," ucap Nayla sembari merutuki dirinya sendiri karena terus membela Elang yang seharusnya dia benci.


Hening beberapa saat karena Amelia terus melamun, menatapi langit-langit kamar di atasnya.


"Bagaimana dengan Kak Rafa ?" Tanya Nayla memecahkan keheningan.


"Kata Papi, Keadaan Rafa sudah jauh lebih baik," jawab Amelia terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Rafa udah bisa duduk walaupun masih harus dibantu untuk bangkit. Di wajahnya masih terdapat beberapa luka lebam, tapi dia sudah bisa makan walaupun itu makanan halus," jelas Amelia.


"Alhamdulillah... Aku yakin kak Rafa akan segera sembuh," ucap Nayla tulus.


"Nay, kamu juga cepat sembuh dong. Aku kesepian di sekolah tahu !!" Amelia merajuk.


Nayla yang mendengar itu tersenyum samar, padahal di kelas Amelia juga mempunyai banyak teman tapi memang gadis itu sangat dekat dengannya.


"Besok juga aku masuk kok,"


"Beneran ?" Tanya Amelia sembari tersenyum dengan mata berbinar.


"Iya ! Besok aku masuk sekolah"


***


Setelah beristirahat selama 3 hari di rumah, Nayla memutuskan untuk kembali ke sekolah. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Nayla melantunkan banyak do'a agar dirinya baik-baik saja saat bertemu Elang nanti.


Tak hanya itu, Nayla juga meyakinkan diri sendiri bahwa kejadian ciuman pertama itu tak pernah terjadi. Jadi ia tak boleh merasakan sesuatu yang berlebihan pada Elang.


"Jangan hujan-hujanan lagi, Nay," ucap Dimas sang kakak saat ia menurunkan Nayla di sekolah sebelum dirinya pergi ke kampus.


"Iya Kak," ucap Nayla patuh.


Kedatangan Nayla disambut heboh oleh Amelia yang ternyata sudah lebih dulu tiba di sekolah.


Tak jauh dari Amelia berdiri, terdapat Elang dan Vony yang sedang berjalan bersama. Cepat-cepat Vony menggandeng tangan Elang saat gadis itu melihat kedatangan Nayla sedangkan Elang sepertinya masih belum menyadarinya.


Amelia menggenggam tangan Nayla dan berjalan cepat mendahului sang kakak seraya menyenggol punggung Elang dengan bahunya sendiri. Dengan sekuat tenaga Amelia melakukan itu hingga tubuh laki-laki jangkung itu tak seimbang dan menabrak Vony dengan cara yang tidak menyenangkan. Vony pun mengaduh kesakitan seraya melepaskan genggaman tangannya.


"Amell !" Hardik Elang yang marah bukan karena Vony kesakitan tapi ia marah karena dirinya merasa terkejut dengan tindakan kasar sang adik.


Tapi seketika Elang menjadi bungkam saat ia melihat Nayla yang telah masuk sekolah dan berjalan berdampingan dengan sang adik. Gadis itu tak lagi melihat ke arahnya. Nayla berjalan tanpa menolehkan kepalanya sama sekali. Elang pun merasakan sedih di sudut hatinya yang paling dalam.


"El, aku gak ngerti kenapa adikmu gak suka aku. Padahal aku gak pernah jahat sama dia. Yang waktu itu bermasalah adalah Angela. Gadis itu memang jahat.....," Dan Vony pun mulai menjelek-jelekkan sahabatnya itu.


Sedangkan Elang tak peduli dengan apa yang diceritakan oleh Vony. Ia terus menatapi kepergian Nayla dan berharap gadis itu mau melihat ke arahnya walau hanya sekilas saja. Tapi harapan Elang tak sesuai kenyataan. Nayla telah masuk ke dalam ke kelasnya tanpa sekalipun menoleh pada Elang.


Elang merasa gadis itu sudah tak peduli lagi padanya.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️