The Unexpected Love

The Unexpected Love
Tentang Masa Lalu



" Tapi walaupun begitu aku gak akan pernah bisa benci kamu," ucapnya lagi seraya mengeratkan pelukannya dan Nayla pun membalasnya dengan cara yang sama.


Pundak kedua gadis itu naik turun pertanda keduanya sedang sama-sama menangis dengan terisak. "Ma-maafin aku, Mel... Aku tak bermaksud untuk menipu atau menyembunyikannya darimu," Nayla merasa dirinya benar-benar bersalah karena telah menyimpan cerita itu sendirian. Padahal Elang adalah kakak dari sahabatnya itu.


"Aku gak ngerti, Nay. Bagaimana mungkin kamu bisa suka sama si kulkas 12 pintu it ?" tanya Amelia dan itu membuat Elang terkesiap mendengarnya.


" Bagaimana bisa kamu naksir si es balok itu ? apa yang terjadi sama kamu ??"


" Amel !!" Protes Elang tak terima.


Nayla yang mendengar itu hanya terkekeh geli. Amelia pun menguraikan pelukan mereka. Wajahnya dan Nayla sama-sama sembab dengan puncak hidung yang memerah.


Amelia dan Nayla sama-sama tertawa melihat wajah sembab mereka. "Ayo, ke kamar aku ! Aku pengen denger semua ceritamu dengan si es balok itu," ucap Amelia seraya menarik lengan Nayla untuk ikut dengannya.


Elang yang melihat itu menjadi cemas seketika. Ia takut Amelia mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nayla menjadi ilfil padanya.


" Mel, please... Jangan racunin kepala calon istri aku," Elang menahan pundak gadis itu agar tak pergi.


" Dia itu sahabat aku !" Balas Amelia tak kalah sengitnya. Ia memelototkan kedua matanya pada Elang.


Mami Elang yang entah sejak kapan berada di sana, menahan lengan anak lelakinya itu agar membiarkan sang adik berbicara dari hati ke hati bersama Nayla sebagai sahabat.


" Tapi Mi... Elang takut Amelia ngomongin yang enggak-enggak," ucap Elang yang tak bisa menyembunyikan rasa cemas dan takutnya.


"Biarkan mereka saling berbicara, Elang. Tak mungkin Amelia berkata-kata yang tak baik tentangmu," ucap sang Mami berusaha menenangkan Elang yang terlihat begitu gelisah.


Elang dudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruang keluarga. Matanya selalu melihat ke arah tangga yang kini terlihat kosong karena calon istri dan adiknya telah menghilang ke dalam kamar Amelia.


Elang keluarkan benda pipih dari dalam saku celananya dan mencari nama Nayla di sana.


"Sayang, kalau Amelia ngomongin aku yang nggak-nggak jangan percaya ya," tulis Elang pada kontak dengan nama "Mine♥️" (milikku ♥️) tapi sayangnya pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas membuat Elang semakin cemas.


Elang kembali melihat ke ujung tangga yang kosong. Berharap Nayla menampakan dirinya sebentar saja di atas sana, tapi harapan Elang harus pupus karena nyatanya Nayla tak juga keluar dari kamar sang adik.


Elang berdecak kesal. Ia pun beralih pada ponselnya dan mencari nama sang adik dalam kontak teleponnya. Ia mengklik kontak Amelia dan mengiriminya sebuah pesan singkat. "Mel, please jangan ngomongin aku yang aneh-aneh. Aku sayang banget sama Nayla," tulis Elang di sana.


Seperti halnya Nayla, Amelia pun hanya membaca pesan singkat itu tanpa membalasnya. Membuat Elang semakin frustasi saja. Ia sandarkan tubuhnya yang terasa lemas di sofa dan menyalakan televisi berlayar 40 inchi di depannya.


" Elang kirim pesan sama kamu juga, Mel ?" Tanya Nayla dan Amelia tertawa membenarkan.


"Biarin Nay, gak usah di balas biar belingsatan. Tuman !!" Ucap Amelia sambil mendelikkan matanya dengan judes.


Nayla mengangguk setuju. Ia pun tertawa. Kapan lagi bisa mengerjai Elang.


" Jadi mana cincinnya ?" Tanya Amelia. Kini keduanya tengah duduk bersila di atas ranjang dengan saling berhadapan.


Malu-malu Nayla menunjukkan sebuah cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya. Dan Amelia menarik pelan tangan sahabatnya itu agar ia bisa melihatnya dengan lebih jelas.


"So beautiful... and im so happy for you, i really do... " ( Sangat cantik.... dan aku sangat bahagia untukmu, aku benar-benar bahagia untukmu...," ucap Amelia tulus. Bahkan gadis itu tak bisa menahan laju air mata bahagianya.


Begitu juga Nayla yang matanya sudah memburam karena air bening yang menggenangi nya. "Terimakasih, Mel," sahut Nayla diantara isakkan tangisnya.


"Aku bahagia, benar-benar bahagia," lanjut Nayla. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya dari sang sahabat.


"Soo.. jadi sejak kapan semuanya bermula ?" Tanya Amelia.


"Apanya ?"


" Kamu dan Elang ?" tanya Amelia lagi.


"A-aku menyukai Elang sejak kita pertama kali bertemu di bioskop. Saat kak Bimo dan mbak Nadia masih berpacaran," jawab Nayla. Ia tak mau lagi merahasiakannya.


Mata Amelia membola saat mendengarnya. Sungguh ia merasa tak percaya. "La-lalu kamu kenapa tak pernah cerita ?"


"Bukannya itu akan terasa aneh? Aku menyukai adik dari pacar kakakku sendiri ?" Nayla balik bertanya dan Amelia pun menganggukkan kepalanya membenarkan. "Iya sih...,"


"Lalu... Kita pun jadi bersahabat. Aku kira perasanku pada Elang akan pudar seiring waktu tapi yang tarjadi malah sebaliknya. Aku... Aku semakin menyukainya...," Ucap Nayla.


"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan perasaanmu,Nay ?" Tanya Amelia. "Eh tapi kan kamu memang pendiam dan tak banyak bicara jadi pantas saja gak keliatan," Amelia menjawab pertanyaannya sendiri.


" Aku berusaha untuk menghilangkan rasa itu tapi tak pernah bisa. Rasa sukaku lama-lama berubah cinta. Tak ada lagi laki-laki yang menarik untukku kecuali Elang," Nayla malu-malu saat mengatakannya.


"Setalah kak Bimo dan Mbak Nadia putus, kenapa kamu gak maju aja ?" Tanya Amelia.


" Look at me.. ( lihat aku..)" ucap Nayla.


"Aku hanya gadis biasa yang menyukai seorang Elang si cowok popular sekolah. Bisa berdekatan dengannya saja udah bikin aku seneng. Aku gak pernah berharap lebih. Hanya melihat Elang dari kejauhan saja udah bikin aku bahagia," jawab Nayla.


" Oh my God, Nay...," Wajah Amelia terlihat sedih saat mengatakannya.


" Kamu tahu ? Aku punya mantra khusus agar kedua kakiku selalu menapak di bumi. Mantra agar aku selalu sadar diri dan tak berharap pada Elang,"


" Oh ya ? Mantra apa ?" Tanya Amelia penasaran.


"Janji gak ketawa ya, Mel," Nayla terlihat malu-malu juga sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Mmmhhhhh...," Nayla menatap mata Amelia dengan sedikit ragu. Ia merasa malu untuk mengatakan mantra rahasianya.


"Nay.... Apa ? Aku janji gak ketawa," desak Amelia tak sabaran.


" Mmmhhh... Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap," jawab Nayla dan itu membuat Amelia menaikkan kedua alisnya dengan mulut yang membola tak percaya.


"Mantra itu aku ucapkan setiap hari di depan kaca. Tepat sebelum aku pergi ke sekolah. Tapi sialnya mantra itu sama sekali tak berguna ! Buktinya aku gak bisa berhenti suka," Nayla mencebikkan bibirnya karena kesal dan Amelia tertawa terbahak-bahak melihatnya.


" Ya Tuhan, aku gak nyangka sahabatku sendiri naksir si ubin mesjid," Amelia terkekeh geli seraya mengusap ujung matanya yang basah.


"Tau gak, Mel ? Sebenarnya aku hampir mau cerita soal Elang pas kita masih SMA,"


"Benarkah?" Tanya Amelia sedikit terkejut.


"Hu'um... Kamu ingat kejadian yang menimpa kak Rafa ?"


Deg !!


Amelia menelan salivanya saat nama laki-laki itu disebut. "Ke-kenapa dengan dia ?" Tanya Amelia.


" Bukan tentang kak Rafa... Tapi tentang aku... Setelah kejadian pengeroyokan pada kak Rafa, Elang datang ke sekolah untuk jemput aku,"


" Ya, itu karena musuh Elang kirim foto kamu ke Elang. A-aku yang takut akhirnya meminta Elang untuk pergi padahal dia sedang dalam masa hukuman Papi," potong Amelia. Walaupun sebenarnya alasan lain mengapa ia bersekongkol dengan Elang adalah agar sang kakak juga melihat keadaan Rafa.


"Elang anterin aku pulang ke rumah...dan...," Nayla menjeda ucapannya karena ia merasa sedikit malu.


"Daannnnn ?" Tanya Amelia tak sabaran.


" Dan... Dan Elang cium bibir aku," jawab Nayla seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan pipinya yang sudah terasa panas dan pastinya bersemu merah.


" Oh...my... God....," Pekik Amelia tak percaya.


"Elang cium aku di trotoar depan rumah," lanjut Nayla.


"Terus ?"


"Untuk sesaat aku menjadi gadis paling bahagia sedunia. Aku menghubungimu berulang kali untuk menceritakannya. Aku kira dengan begitu, aku dan Elang resmi jadian,"


"Ah ! Aku ingat ! Kamu mengirimkan aku pesan sangat banyak dan mengatakan ingin menceritakan sesuatu. Hari itu ponselku di sita Papi karena aku membantu Elang untuk melarikan diri dari rumah. Terus besoknya kita bertemu di sekolah dan melihat....," Amelia menjeda ucapannya sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"dan melihat Elang berjalan dengan kak Vony sambil bergandengan tangan. Mereka baru jadian," Nayla melanjutkan kalimat sahabatnya itu.


"Bagaimana mungkin aku bercerita padamu bahwa Elang menciumku sehari sebelumnya. Siapa yang akan percaya ? Oleh karena itulah aku selalu menyembunyikannya. Karena aku yakin seorang pun tak akan percaya dengan ceritaku," lanjut Nayla.


" Setelah itu kamu berlari ke toilet dan mengurung diri di sana dalam waktu yang sangat lama. Sampai-sampai aku aku menghubungi kamu berulang kali. Jadi sebenarnya... Kamu bersembunyi di toilet bukan karena sakit, Nay ?"


Nayla menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan sakit fisik, Mel. Tapi hati....," Jawab Nayla.


" Dasar es balok, awas saja dia !!" Amelia menyingsingkan lengan bajunya dan hendak pergi untuk menghajar sang kakak tapi Nayla menahan gadis itu untuk pergi.


"Tenanglah, Mel !! Itu dulu, semua sudah berlalu,"


"Jadi si es balok suka kamu dari masa sekolah juga ya, Nay ?"


"Kata Elang sih begitu," jawab Nayla.


" Pantas saja selama ini dia gak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Sampai-sampai aku merasa takut jika Elang menjadi penyuka sesama jenis karena ia lama tinggal di luar negeri. Eh gak taunya karena dia cinta sama sahabat aku sendiri" ucap Amelia sembari tersenyum.


" Dan aku benar-benar merasa bahagia... Kakakku dan sahabatku akhirnya bersatu. kita akan jadi sodara beneran, Nay !!" Lanjut Amelia lagi. Ia tersenyum lebar karena rasa bahagia yang sedang dirasakannya.


"Maafkan aku yang kemarin tak datang ke acara kalian. Katanya Elang, hanya ingin bersilaturahmi saja. Tapi tau-taunya malah langsung nentuin tanggal nikah!"


"Mmhhh iya... soalnya...," tiba-tiba saja perkataan Nayla tercekat di tenggorokan.


"Soalnya... Ketahuan ciuman ?" Tanya Amelia sembari tertawa.


Wajah Nayla berubah merah seketika. Dirinya benar-benar merasa malu.


"Ngomong-ngomong soal ciuman...," Ucap Amelia ragu.


" Kenapa ? Kamu juga pernah ciuman ? Dengan siapa ? Kak Rafa ya ?" Tanya Nayla dengan sangat antusias. Matanya berbinar saat bertanya.


Amelia menganggukkan kepalanya membenarkan tanpa berkata-kata.


" Dia mencuri ciuman pertamaku di pesta ulangtahunku itu, Nay. Setelah itu kami langsung terpisah tanpa aku bisa bercerita pada siapapun,"


"Ya ampun Mel...,"


" Rafa bilang mau cari aku, tapi nyatanya nggak ! Aku benci dia, Nay !! Benci dia yang selalu membuatku menunggu hingga aku tak ingin dengan lelaki lainnya karena aku terus menunggunya. Aku benci Rafa, Nay...,"


to be continued ♥️