
Selamat membaca ♥️
POV Nayla.
Jantungku berdetak lebih cepat saat Kak Elang kembali turun dari motornya untuk mengambil hoodie hitam miliknya yang tadi ia pinjamkan padaku, dan masih aku kenakan pada saat ini. Bukannya aku tak ingin memakainya lebih lama, tapi aku tak ingin orang yang aku sukai, aku sayangi terkena air hujan dan membuatnya sakit.
Kak Elang menambah kerja jantungku lebih ekstra lagi dengan membukakan simpul tali di leherku. Aku tak berani melihat ke arahnya karena pipiku yang terasa panas pastilah sudah merona merah.
Beberapa kali aku menelan ludahku dengan paksa, berusaha menenangkan diri. Aku tak berani menatapnya hingga yang kulihat saat ini hanya dadanya saja yang berbalut kaos hitam.
"Hati-hati ya Nay... jaga diri baik-baik. Aku nggak bisa selalu ada buat kamu," ucap Kak Elang dengan begitu jelasnya hingga membuatku dengan tanpa sadar menengadahkan kepala dan melihat ke arahnya.
Tak ku sangka mata coklat karamel itu juga membalas tatapanku dengan teduh. Kak Elang tak tersenyum, tapi ia juga tak memperlihatkan wajah dingin dan datar seperti biasanya. Kak Elang terlihat sangat berbeda hari ini.
Saat pikiranku melayang kemana-mana, tiba-tiba Kak Elang tundukkan kepalanya dan menyentuh daguku dengan jempolnya hingga pandangan kami pun bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.
Aku tak tahu apa yang terjadi, yang aku rasakan kemudian bibir Kak Elang sudah bersentuhan dengan bibirku. Tubuhku tersentak, dan rasanya dunia berhenti berputar untuk sesaat.
" Kami berciuman !!!" Jerit batinku.
Mataku membola, jantungku yang berdegup kencang ingin loncat keluar dari tempatnya. Rasa lemas menyerang kedua lutut ku, padahal Kak Elang hanya melakukannya dengan cepat.
Secepat kilat...
Bibir kami hanya saling menempel saja tak lebih dari itu. Tak seperti ciuman yang aku lihat di film-film. Walaupun hanya seperti itu, tapi membuatku merasa melayang tinggi di awan.
Bayangkan !! aku dicium oleh seseorang yang sudah bertahun-tahun aku sukai. Hingga tanpa terasa ujung mataku terasa basah.
Basah karena rasa haru bahagia, membuatku merasa aku lah gadis paling beruntung dan paling bahagia di muka bumi saat ini.
Apakah ini yang dinamakan dengan ciuman pertama ? Apa dengan begitu Kak Elang juga memiliki perasaan yang sama denganku ? Apakah dengan ini kami resmi bersama ?
Setelah ciuman itu, untuk pertama kalinya Elang melengkungkan senyum di wajahnya. Senyum yang hanya ditujukan untukku seorang.
Setelah itu kami hanya berdiri dengan mata saling memandang. "Hujan Nay, ayo cepat masuk," ucap Kak Elang seraya mengacau puncak kepalaku dengan telapak tangannya.
Puncak kepalaku yang dikacaukan, tapi hatiku yang porak poranda. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang terjadi hingga aku tak mampu berkata-kata.
"Aku pergi... Jaga dirimu, Nay," ucapnya seraya tersenyum dengan wajah sendu. Kali ini ia benar-benar berjalan menuju motornya dan langsung mengenakan helm hitam miliknya.
Aku masih tak bisa berkata-kata, yang bisa kulakukan hanyalah menganggukkan kepala sembari menatap kepergiannya.
Sebelum melajukan motornya, Kak Elang sempatkan diri untuk menoleh ke arahku lagi. Dengan isyarat matanya, ia menyatakan berpamitan.
"Bolehkah aku menyebutnya sebagai ciuman pertama ?" Tanyaku dalam hati sembari tersenyum melihat kepergiannya.
Aku masih berdiri di pinggir jalan dengan senyuman yang tak mau surut dari bibirku. Hujan yang turun mulai deras dan membasahi tubuhku dengan cepat, tapi aku tak ingin beranjak dari tempat ini, agar aku tahu bahwa yang baru saja terjadi bukanlah sebuah mimpi.
" I love you, Kak Elang. You are my one and only," ucapku sembari menyentuh bibirku yang beberapa saat tadi sudah Elang kecup untuk pertama kalinya.
Aku masih ingin berdiri di sini, menikmati rasa bahagiaku yang luar biasa tapi suara panggilan dari ibu menyadarkan aku. "Nayla, Cepat masuk ! Jangan berdiri di tengah hujan nanti kamu sakit !!"
"Iya Bu," sahutku dan aku pun berjalan sembari sesekali melihat ke arah belakang, ke tempat paling bersejarah untuk diriku.
"Kenapa hujan-hujanan?" Tanya ibu.
Tapi aku tak menjawab pertanyaan beliau, yang aku lakukan adalah memeluknya erat sebagai bentuk pelampiasan rasa bahagiaku yang teramat sangat.
" Ditanya malah meluk-meluk, mana basah lagi !! Ayo cepat ganti bajumu !"
"Baik ibu Sayang," ucapku sembari mencium pipi beliau dengan penuh kasih sayang.
Aku segera berlari ke kamarku dan dengan bajuku yang masih basah, aku langsung mencari spidol berwarna merah muda yang akan aku gunakan untuk menulis sesuatu.
Setelah mendapatkannya, aku berjalan menuju sebuah kalender yang terletak di atas meja. Ku raih kalender itu dan segera menggambar emoji hati pada tanggal yang menurutku sangat penting. Hal ini aku lakukan untuk mengenang kejadian di hari ini, hari yang tak akan pernah aku lupakan dalam seumur hidupku.
Jika memungkinkan, aku pun tak ingin mencuci muka atau berganti baju karena semuanya mengandung kenangan tentang Elang dan ciuman pertama kami.
Dengan berat hati akhirnya aku pergi mandi dan merelakan baju seragamku yang syarat akan kenangan ini masuk ke dalam mesin cuci.
Masih dengan euforia bahagia karena ciuman pertama, aku pergi ke kamarku dan mencari ponselku yang aku simpan di dalam tas sekolah.
Seandainya saja aku mempunyai nomor ponselnya Kak Elang, aku akan beranikan diri untuk bertanya padanya tentang kejadian tadi.
Apakah dengan kejadian tadi, kini kami resmi berpacaran ? Atau kata teman-temanku "jadian"
Dan apa yang Elang lakukan sekarang? Apakah ia terus memikirkan ciuman pertama kami seperti aku yang selalu memikirkannya ?
Tak tahan lagi !
Aku harus segera menceritakan tentang hari bahagia ini dengan seseorang, karena rasanya diriku mau meledak gara-gara rasa bahagia yang tak terkira ini.
Ku putuskan untuk menghubungi Amelia dan bercerita padanya. Mungkin dengan begitu Amelia bisa menjembatani antara aku dan Elang agar hubungan ini mempunyai status yang pasti.
Setelah menunggu beberapa saat, dan menghubunginya berulang kali ternyata nomor ponsel Amelia tak bisa aku hubungi baik itu lewat pesan ataupun melalui panggilan telepon. "Aneh," ucapku pelan. Tak seperti biasanya sahabatku seperti itu.
Aku putuskan untuk membaringkan tubuhku di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar dengan senyuman lebar di wajahku. Aku berguling ke kanan dan ke kiri masih dengan senyuman yang tak mau pergi.
Rasanya sudah tak sabar untuk berganti hari. Aku ingin segera pergi ke sekolah dan menjadikan Amelia, orang yang pertama tahu tentang kejadian ini.
Aku ingin menceritakan pada sahabatku tentang cinta pertamaku dan ciuman pertamaku ini.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚