The Unexpected Love

The Unexpected Love
Menyerah



Selamat membaca


Elang POV


"Naaayyy mau ke mana ? Masuk woooiiiii,"


Aku tolehkan kepala saat kudengar seseorang meneriakkan nama seorang gadis yang sangat aku suka. Gadis yang tadi menatapku dengan dingin. Gadis yang ku curi ciuman pertamanya karena terpaksa.


Ya..


Aku terpaksa lakukan itu karena aku benar-benar menyukainya dan tak ingin ciuman pertamaku dan juga ciuman pertamanya menjadi milik orang lain. Aku ingin dia menjadi bagian hidupku yang akan ku kenang selalu. Katakanlah aku egois, atau sangat egois tak apa. Aku siap menerimanya.


Masih jelas dalam ingatan bagaimana tubuh Nayla menjadi kaku saat aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Aku selalu tersenyum ketika membayangkannya. Hanya itulah yang membuatku bisa bertahan hingga sekarang.


"El... Kamu lihat apa ? Aku ada di sini, di sisimu.... Bisakah kamu melihat padaku saja ?" Tanya Vony membuyarkan lamunanku karena aku terus melihat pada Nayla hingga tubuh gadis itu hilang dari pandangan.


"Maaf," ucapku pelan.


"Ayo ku antar sampai masuk kelas," ajakku pada Vony yang tak mau melepaskan tautan jemarinya dari genggamanku. Aku berusaha bermain peran menjadi seorang pacar yang baik untuk Vony di sisa waktuku di sekolah ini.


" Beneran kamu mau anterin sampai kelas ?" Tanya Vony terdengar manja dan matanya yang berbinar.


Aku anggukan kepala sebagai bentuk jawaban, dan gadis itu pun tersenyum ceria.


"Tapi nanti kamu akan terlambat masuk kelas,"


"Nggak pa-pa, aku akan cari alasan kenapa bisa terlambat," jawabku.


Vony mengulum senyum dengan wajah merona merah, ia ayunkan genggaman tangan kami saat berjalan. Bagai anak kecil yang sedang merasa bahagia karena mendapatkan apa yang ia inginkan.


Sedangkan aku ? Hatiku telah mati rasa. Aku tak merasakan apapun lagi. Jiwaku terasa kosong karena tak bisa bersama dengan gadis yang sebenarnya aku suka.


"El....tuh kan kamu melamun lagi," keluh Vonny sambil mencebikkan bibirnya karena kesal.


"Hah ?" Aku berkerut alis tak paham.


"Kelas aku udah kelewatan," Vony menunjukkan sebuah kelas yang pintunya sudah tertutup rapat.


"Ah sorry," ucapku.


"Atau mungkin kamu sengaja melakukan itu agar kita bisa terus bergandengan tangan ?"


Aku tak menjawab pertanyaan gadis itu, aku hanya tersenyum saja menanggapinya.


Kami berjalan menuju kelas Vony yang cukup jauh terlewati itu karena aku terlalu asik dengan pikiranku ini.


"El... Istirahat makan bareng ya ?" Tanya vony sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"El... Aku pengen kamu yang jemput aku ke sini ya," ucapnya lagi tepat di saat aku akan melangkahkan kaki.


"Baiklah," jawabku lalu pergi meninggalkannya.


Aku berlari sekuat tenaga, mencoba mencari keberadaan gadis yang sangat aku sukai itu. Pada kenyataannya aku tak bisa berhenti untuk peduli padanya.


Langkahku terhenti saat melihat gadis itu di papah oleh dua orang petugas UKS dan masuk ke ruangan mereka.


Dadaku begitu sesak bagaikan terhimpit batu besar. Mati-matian aku menahan diri untuk tak berlari padanya dan bertanya ada apa. Karena aku yakin itu akan menambah rasa sakit hatinya. Yang bisa ku lakukan hanya memandangnya dari kejauhan dan berharap Nayla baik-baik saja.


Aku berjalan gontai menuju kelas dan mendapatkan teguran karena terlambat tapi aku hanya diam tak berkata apa-apa, bahkan aku tak mengatakan alasan kenapa aku bisa datang terlambat. Yang aku lakukan adalah duduk di bangku paling belakang sembari membuang pandangan ke arah luar jendela dan berharap pada Tuhan agar aku bisa pergi dari sekolah ini secepatnya.


Ibu guru menjelaskan materi di depan kelas tapi pikiranku melayang pada kejadian yang terjadi kemarin.


Kemarin...


Saat melihat foto Rafa yang terkapar tak berdaya. Aku sangat marah pada Leo. Sudah terbayangkan serangan balasan apa yang akan ku berikan pada si breng-sek itu. Akan aku ajak teman-temanku yang dulu untuk menyerangnya.


Tapi saat aku melihat foto Nayla yang akan dijadikan target selanjutnya. Hatiku merasa cemas luar biasa. Tubuhku gemetar karena ketakutan.


Takut jika Leo benar-benar akan menyakitinya hingga rasa dendamku yang tengah berkobar langsung mati bagai api yang padam karena siraman air.


Detik itu juga aku putuskan untuk menyerah


Aku langsung pergi menuju sekolah untuk memastikan gadisku baik-baik saja dan mengantarkannya pulang untuk terakhir kalinya. Oleh karena itu aku meminta Nayla untuk memelukku erat.


Bahagia dan rasa sakit luar biasa aku rasakan secara bersamaan saat Nayla lingkarkan tangannya di atas perutku.


Sepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi oleh gadis yang tengah memelukku dengan erat ini. Ak ingin menjadi bagian hidupnya dan dia jadi bagian hidupku. Maka dengan berani aku putuskan untuk menciumnya.


Sebelum mencium Nayla aku sudah membuat keputusan besar yang akan membuatku dibenci oleh banyak orang, bahkan aku pun membenci diriku sendiri yang lemah tak berdaya.


Aku putuskan untuk menyerah pada Leo, akan aku ikuti apapun yang pemuda itu inginkan asal dia tak lagi menyakiti orang-orang yang ku sayang. Termasuk memacari adik sepupunya, Vony. Penderitaan Rafa sudah lebih dari cukup. Aku tak ingin hal yang lebih buruk terjadi lagi.


Nayla adalah kelemahan terbesarku. Hingga aku tak bisa berpikir apa-apa lagi selain mencari jalan keluar tercepat untuk menyelamatkannya. Dan satu-satunya jalan adalah menyerahkan diri pada Leo.


Aku biarkan Nayla mengenakan hoodie hitam kesayanganku dan akan aku tinggalkan padanya sebagai kenang-kenangan agar Nayla ingat bahwa aku adalah ciuman pertamanya.


Ku pejamkan mata saat melakukan itu dengan rasa lega luar biasa, seolah-olah itu adalah obat penawar bagi rasa sakit yang akan aku rasakan setelahnya.


Sakit karena Nayla akan membenciku, juga sakit karena setelah itu aku tak akan pernah bisa mendekatinya lagi. Sakit karena aku harus berpura-pura menyukai gadis lain.


Oh ya.. aku juga merasa bahagia tak terkira saat Nayla tak menolakku saat aku menciumnya ! Apa dengan begitu aku boleh berharap bahwa Nayla menyukai ku juga ?


Tapi sayangnya hoodie hitam itu Nayla kembalikan dengan alasan tak mau aku kehujanan Perhatian kecil yang efeknya luar biasa untukku. Aku merasa Nayla juga peduli padaku.


Aku tolehkan kepala sekali lagi sebelum pergi. Ku lihat Nayla berdiri dengan buram di mataku karena air bening yang sudah menggenang di pelupuk mata. Hari kemarin aku menjadi laki-laki paling cengeng sedunia.


Di waktu yang sedikit ini banyak sekali yang harus aku lakukan. Aku harus bertemu dengan Leo dan meyakinkan pemuda itu tidak akan berbuat jahat lagi, kemudian aku harus melihat keadaan Rafa.


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan aku bertemu Leo di tempat umum di tengah keramaian. Leo tersenyum puas saat aku mengatakan padanya bahwa "Aku menyerah"


"Itu emang jualan keluar yang paling tepat yang harus lo pilih," ucap Leo.


Yang pertama yang harus aku lakukan sebagai tanda menyerah adalah mundur dari kapten tim basket sekolah. Rupanya benar, kemarahan Leo semakin menjadi jadi karena aku mengalahkannya dalam pertandingan itu.


Yang kedua jika aku ingin Nayla selamat adalah aku harus memacari adik sepupunya Vony. Dengan begitu ia akan melihatku menderita karena tidak bisa mendapatkan orang yang aku suka. Dan bagi Nayla, yang Leo sebutkan sebagai gadis tak tahu diri dan sombong akan merasakan Jika dia bukan siapa-siapa karena aku tak lagi menyukainya.


Yang ketiga aku harus menjauh darinya, Leo tak ingin aku melakukan apapun yang bisa menjadikan aku sebagai saingannya.


Jika semua syarat bisa aku lakukan dengan baik maka Leo pun tak akan berurusan lagi denganku dan juga orang-orang yang dekat denganku seperti Rafa.


Tanpa perlawanan apapun, aku menyetujui semua syarat yang Leo ajukan. Dan aku juga meminta pada Leo untuk memegang ucapannya sendiri.


Setelah pertemuan itu aku langsung melajukan motorku menuju rumah sakit di mana sahabatku Rafa terbaring lemah.


Dadaku terasa sesak saat melihat ibunya menangisi sang anak dengan terisak-isak. Rafa belum juga sadarkan diri, di hidungnya tertancap selang untuk membantunya bernafas. wajahnya dihiasi banyak lebam. Rafa yang ceria kini terbaring tak berdaya


Aku menangis untuk kedua kalinya karena melihat keadaan Rafa yang seperti itu.


Aku benar-benar menyesal karena telah membuatnya terlibat dalam urusanku. Aku meminta maaf pada ibunya walaupun ibu Rafa terlihat kebingungan. Sepertinya beliau tidak tahu masalah yang menimpa rafa adalah karenaku


Waktuku sangat sedikit mengingat aku keluar rumah pun dengan cara melarikan diri. Cepat-cepat aku pulang setelah melihat keadaan Rafa.


Sesampainya di rumah, kepulanganku sudah ditunggu oleh Mami dan Papi yang ternyata sudah sampai dari luar kota.


Hal pertama yang Papi lakukan saat melihatku adalah melayangkan tamparan di pipiku untuk pertama kalinya. Tamparan itu sangat kuat hingga membuatku menolehkan kepala dengan sudut bibir pecah dan mengeluarkan darah.


Mami yang biasanya membelaku hanya terdiam tak berkata-kata. Ia biarkan papi melakukan apa yang ia mau.


"Apa kamu ingin kami cepat mati, Elang ? Apa kamu sudah merasa jagoan ?" Teriak Papi tepat di depan wajahku.


Aku menunduk malu.


Malu karena selalu membuat orang tuaku susah dan menjadi beban bagi mereka. Oleh karena itu aku pun menyerah kepada Papi. Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi padaku pada Papi. Tak ada lagi yang aku sembunyikan.


Aku bercerita tentang bagaimana Leo mencelakaiku di rumah kosong, mencelakai Rafa melalui orang lain, dan juga rencana Leo yang akan mencelakai Nayla.


Aku tahu batasan ku, aku tak mampu menyelesaikan sendirian, dan kini Aku mengutarakan semua pada Papi beserta bukti-bukti yang aku dapatkan dan memohon pertolongannya tentang Leo dan juga memohon agar papi sekuat tenaga menyelamatkan Rafa.


Tak hanya itu aku juga minta agar Papi memindahkan sekolahku ke tempat yang jauh.


Dari sekian banyak yang aku ceritakan, Papi hanya menanggapi satu.


"Sudah Papi duga, kamu pasti menyukai Nayla. Tapi sampai kapanpun Papi tak akan menyetujuinya,"


Ucapan Papi membuatku terkejut.


"Papi tak akan setuju karena kamu tak pantas untuk gadis sebaik dirinya. Pantaskan dirimu untuknya, Elang ! jika kamu benar-benar menyukainya,"


Setelah itu Papi pun menjelaskan padaku keputusan yang telah diambilnya. Tak lama lagi beliau akan memindahkan aku ke suatu tempat yang jauh. Tak hanya aku saja tapi Amelia pun ikut serta sebagai hukuman karena telah membantuku melarikan diri.