
A"ku lapar," ucap Elang.
"Mau makan apa ?" Tanya Nayla.
"Kamu !! " Jawab Elang seraya memangku nayla menuju mobil mereka dan tak menghiraukan teriakan Rafa.
"El ! Woy, El ! Dasar kakak ipar akhlakless !!" Teriak Rafa terdengar kesal karena Elang yang kini menurunkan Nayla kemudian meraih genggaman tangan istrinya itu menuju mobilnya.
Beberapa kali Nayla tolehkan kepalanya melihat pada Amelia tapi Elang terus menggandeng tangan istrinya itu untuk menuju mobil mereka.
"Sayang, itu Amelia dan Kak Rafa gimana?" Tanya Nayla yang dengan susah payah menyusul langkah suaminya itu.
"Gak apa-apa, Yang. Mereka udah gede ini. Kita beresin dulu urusan kita yang tadi sempat tertunda," sahut Elang sembari mengedipkan sebelah matanya penuh maksud.
Nayla mengulum senyumnya salah tingkah, seketika pipinya bersemu merah. Membayangkan kegiatan dirinya tadi siang bersama Elang.
"Lanjutin yang tadi, Yuk?" Tanya Elang dan Nayla pun mengangguk pelan menyetujui.
"Tambah gemes deh, Yang," sahut Elang.
"Tapi gimana sama mereka ?"
"Besok pagi aja kita datangi apartemennya," jawab Elang seraya membukakan pintu mobilnya untuk Nayla.
Di kejauhan sana Rafa bercakak pinggang dengan wajah ditekuk kesal. "Dasar sang*an !!" Umpat Rafa pada sahabatnya yang merangkap sebagai kakak iparnya itu. Ia menendang kerikil di hadapannya sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
Rafa masih belum mengerti bagaimana hasrat Elang sangat ingin dituntaskan karena ia belum pernah mengalaminya.
Amelia melambaikan tangannya pada Nayla yang saat ini membuka kaca jendela mobilnya. "oke," sahutnya ketika Nayla mengatakan jika besok pagi dirinya akan datang ke apartemennya. Tak lama, mobil Elang pun bergerak meninggalkan pelataran parkir pusat perbelanjaan itu untuk pulang ke apartemennya sendiri dan melanjutkan kegiatan favoritnya yang sempat tertunda tadi.
Lalu Amelia alihkan pandangannya pada sang suami yang masih menggerutu kesal. Sebenarnya bukan Rafa tak bisa mengerjakan pekerjaan itu sendirian. Tapi ia takut khilaf memakan istrinya yang masih berhalangan itu. Berduaan dengan Amelia membuat adrenalinnya terpacu. Apalagi ketika ia mulia mencium bibir istrinya itu maka akan sangat sulit untuk mengendalikan dirinya.
"Gak apa-apa, kita beresin berdua aja. Kita pasti bisa melakukannya," ucap Amelia seraya tersenyum lembut berusaha untuk m menenangkan suaminya.
Rafa mengangguk pelan menyetujuinya. senyum manis Amelia membuat hatinya lemah.
"Ayo kita pulang," ucap Rafa seraya membukakan pintu mobilnya untuk Amelia. Mereka memutuskan untuk segera segera pulang.
"Nomor 7" ucap Amelia seraya memijit tombol yang menunjukkan angak yang tadi disebutnya.
Rafa yang berdiri tepat si sebelahnya mengulum senyumnya saat sang istri berusaha menghapalkan tempat tinggal mereka. Amelia tak tahu jika Rafa terus memperhatikannya.
Benda balok itu membawa Rafa dan Amelia ke lantai yang mereka tuju. Setelah sampai, Amelia keluar lebih dulu dan di ikuti Rafa di belakangnya kedua berjalan beriringan dengan banyak kantung belanjaan.
Mata Rafa kembali Berbinar bahagia saat ia menangkap Amelia tengah memijit 6 nomer acak pintu apartemen Mereka. Sepertinya sang istri tengah menghapalkan bagaimana membuka kunci pintu apartemen mereka.
P
Amelia meletakkan kantung-kantung belanjaannya di atas meja. Lalu ia mengeluarkan benda-benda apa saja yang diperlukan untuk saat ini.
Rafa pun melakukan hal yang sama. Ia letakan kantung-kantung belanjaannya di atas meja dan mengambil benda yang sekiranya diperlukan.
"Mulai dari mana ?" Tanya Amelia.
"Kamar kita yuk?" Ajak Rafa dan Amelia pun menerutinya.
Keduanya saling bekerja sama untuk memasangkan kain sprei dan menata kamar itu agar lebih nyaman saat ditempati nanti.
"Bantu bukain yang ini," Ucap Amelia seraya menyerahkan sebotol air mineral dingin yang masih tersegel.
Sebenarnya Amelia sangat mampu membuka tutup botol itu sendiri tapi ia ingin Rafa yang melakukannya. Amelia sangat suka bermanja-manja pada suaminya itu. Hanya Rafa yang mampu membuat Amelia menjadi bersikap seperti itu.
Setelah di kamar, mereka pun menata ruangan yang lainnya dengan saling bekerja sama hingga pekerjaan mereka cepat selesai.
Setelah memkan waktu hampir 2 jam lamanya hingga semua pekerjaan selesai melaksanakan. Kini apartemen mereka terlihat lebih rapi juga nyaman untuk ditempati.
"Huuft lelahnya," ucap Amelia seraya menarik nafas dalam.
"Kalau capek Rafa pijitin mau ?" Tanya Rafa setengah menggoda istrinya itu.
"Boleh," sahul Amelia sembari pendudukan tubuhnya tepat di hadapan Rafa.
Rafa yang niat menggoda, kini mati-matian menahan diri agar tak tergoda oleh gadis cantik di depannya.