The Unexpected Love

The Unexpected Love
Makan Siang



Makan Siang


Jika suatu hari Elang datang Nayla ingin sekali memukul-mukul tubuh pemuda itu dengan membabi buta karena telah membuatnya terjebak dalam pahit manisnya cinta pertama yang tak berkesudahan.


Elang tak pernah tahu jika apa yang telah ia lakukan pada Nayla sangat berpengaruh bagi kehidupan gadis itu.


"Maaf jadi membuat kalian kehujanan," ucap Alex seraya membukakan pintu untuk istrinya. Nadia pun masuk dan duduk di sebelah sang suami yang sedang mengendalikan kemudi. Sedangkan Nayla duduk tepat di belakang sang kakak, Nadia.


"Ada apa, Alex ?" Tanya Nadia saat Alex menarik tangan Nadia ke dalam genggamannya.


"Aku takut kamu kedinginan," jawab Alex seraya mencium punggung tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Aah Alex," sahut Nadia terdengar manja.


" Woi lah... Ada aku di sini, please jangan siksa aku !!" Raung Nayla dalam hatinya.


Untuk mengalihkan perhatiannya dari kemesraan sang kakak dan suaminya itu Nayla palingkan wajahnya ke arah luar jendela. Bulir-bulir air hujan menempel pada kaca mobil. Ada yang bertahan ada juga yang meluruh jatuh.


Mata Nayla menjadi sendu saat Alex menghentikan mobilnya dengan sempurna di lampu merah bertepatan dengan sebuah sekolah SMA yang baru saja mengakhiri waktu belajar mereka.


Para siswanya berdiri di trotoar. Banyak dari mereka yang berdiri dalam hujan yang memang tak besar itu.


Apa yang Nayla lihat saat ini, membawanya kembali ke kenangan masa lalu ketika ia masih remaja dan duduk di bangku SMA. Masa-masa merasakan cinta pertamanya. Dan tentu saja itu membawanya kembali mengingat Elang.


"Ya Tuhan... semoga hujan ini segera reda, agar rindu ini tak terlalu dalam mengorek luka," gumam Nayla sembari tak bisa melepaskan pandangannya dari anak-anak SMA itu.


Tak ingin tenggelam terlalu dalam kenangan masa lalunya, Nayla pun palingkan wajahnya. Tapi bagai buah simalakama, melihat keluar Nayla akan terjebak dalam kenangan masa lalunya dan jika ia berdiam diri saja maka ia akan disuguhi kebucinan sang kakak ipar yang tak ada tandingannya itu.


Nayla memilih untuk merogoh ponselnya dari dalam tas dan mengambilnya untuk dimainkan. Nayla usap layar dan masuk ke dalam laman sosial medianya. Memberikan tanda cinta pada postingan temannya yang ada di beranda.


Tak hanya itu saja, ia juga membaca gosip gosip terbaru yang disajikan oleh beberapa akun gosip ternama. "Kenapa isinya berita sedih semua sih ?" Nayla bermonolog saat yang ia baca hanya berita tentang KDRT dan perselingkuhan.


Ia pun menekan icon bergambar kaca pembesar untuk mencari sesuatu yang sekiranya dapat mengurangi rasa jenuhnya


Nayla mendengus kesal saat ia sadar apa saja yang tertulis di mesin pencariannya.


Elang


Elang Edgar Wiguna


Wiguna


Basket Nasional


Atlet basket


Three points


Hoodie


Hoodie Hitam


Amelia Sarah Wiguna.


Amel


" Ya Tuhan..," gumam Nayla saat dirinya sadar jika selama ini yang ia lakukan hanya memikirkan dan mencari keberadaan Elang saja. "So stup*d," makinya pada diri sendiri.


Merasa begitu bodoh karena setelah 8 tahun berlalu dirinya masih saja setia menanti.


Nayla pun menghapus daftar pencariannya itu satu persatu dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu lagi. Tapi nyatanya ini bukan kali pertama Nayla melakukan itu, menghapus daftar pencarian yang selalu tertulis nama Elang di sana.


Sibuk dengan apa yang dilakukannya, membuat waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Nayla pun sudah sampai di tempat tujuannya untuk makan siang.


Alex memakirkan mobilnya di gedung pencakar langit di mana di salah satu lantainya terdapat restoran mewah yang biasa didatangi oleh orang-orang tertentu saja.


"Gak apa-apa aku ikut ?" Bisik Nayla pada Nadia. Ia takut jika Alex hendak bertemu dengan klien bisnisnya di sana dan kehadirannya akan mengganggu kakak iparnya itu.


Alex berjalan lebih cepat dari keduanya. Sebenarnya laki-laki itu ingin menggandeng Nadia sang istri tapi ia pun sadar jika Nayla akan merasa tersisihkan jika ia melakukan hal itu. Oleh karena itu Alex memilih untuk berjalan mendahului mereka.


Sesampainya di restoran itu, Alex diantarkan oleh seorang pelayan kemeja yang sebelumnya sudah dipesan. Di meja itu sudah menunggu dua orang laki-laki.


Satu orang laki-laki yang sudah memasuki usia awal 50-an dengan perut buncit dan kacamata bulat di wajahnya. Satunya lagi masih terlihat sangat muda. Jika dilihat dari penampilannya mungkin berusia tak jauh beda dengan Nayla.


"Kenalkan ini pak Budi Adiguna dan keponakannya Rio," ucap Alex memperkenalkan dua orang tamunya itu pada Nadia dan Nayla.


Kedua orang laki-laki itu berdiri dan menyambut ramah kedatangan Alex beserta istri dan adik iparnya.


"Ini istri saya, dan yang satunya lagi adalah adik ipar saya," ucap Alex saat tamunya itu berjabat tangan dengan Nadia.


Lelaki bernama Budi Adiguna itu ternyata pemimpin perusahaan yang baru-baru ini menjalin kerjasama dengan Alex sedangkan yang duduk di sebelahnya adalah Rio Pratama Adiguna yang merupakan keponakannya sekaligus juga asistennya.


Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak formal. Membicarakan kegiatan sehari-hari juga bisnis yang sedang dilakukan bersama. Selain itu juga laki-laki bernama Budi itu banyak memberikan penjelasan yang bernilai positif tentang Rio si asisten seolah-olah ingin mempromosikannya pada Alex.


Dan sialnya Alex pun melakukan hal yang sama. Kali ini ia banyak membicarakan hal positif tentang Nayla. Bisa dipastikan pertemuan ini ditujukan untuk memperkenalkan Rio pada Nayla.


Nayla tertunduk lesu di tempatnya duduk. Ia tak menyangka jika Alex benar-benar mengenalkannya pada seorang laki-laki. "Ya Tuhan....," Gumam Nayla hampir tak terdengar.


Rio yang hendak dikenalkannya duduk tepat di hadapan Nayla. Pemuda itu memperhatikan Nayla yang terus menundukkan kepala. Ia tersenyum gemas melihat sikap Nayla yang malu-malu.


Sesekali pemuda itu pun berbicara menimpali ucapan pamannya. Sedangkan Nayla dia hanya diam sambil mencuri pandang pada pria itu.


Rio adalah seseorang yang pintar dan mudah beradaptasi dengan orang-orang sekitarnya. Ia begitu supel dan penuh percaya diri.


Makan siang itu berlangsung sekitar 90 menit lamanya. Waktu yang sangat lama untuk hanya makan siang saja.


Walaupun tidak terang-terangan dikatakan sebagai perjodohan tapi nyatanya makan siang kali ini memang salah satu tujuannya adalah untuk memperkenalkan Nayla dan pemuda bernama Rio itu.


"Alex, apa kamu yakin Rio laki-laki yang baik ?" Bisik Nadia saat mereka telah berpisah dengan kedua tamunya. Walaupun kakaknya itu berbicara dengan pelan tapi Nayla masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Dia bersih," jawab Alex.


"Sebelum mengenalkannya pada Nayla aku sudah memerintahkan Heru untuk mencari latar belakang pemuda itu. Jika dibandingkan dengan Rio, aku lebih brengseek darinya saat berkenalan denganmu," lanjut Alex.


"Iya ! Kamu kan buaya yang belum bisa move on dari masa lalunya," sahut Nadia ketus dan tak lupa ia memelototkan matanya pada Alex.


Alex langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat ia sadar perkataannya dapat memancing emosi sang istri.


"Tapi itu dulu kan, Yank... Sekarang aku udah takluk sama kamu," bujuk Alex seraya merangkul pundak Nadia dan menariknya untuk mendekat. Tak lupa Alex berikan banyak ciuman di puncak kepala istrinya itu. Membuat Nayla yang single hampir seumur hidupnya itu melihatnya dengan malu.


Sepanjang perjalanan Alex terus bersikap manis pada sang istri yang sedikit merajuk karena ingat bagaimana sakitnya ia saat awal-awal menikah dengan Alex.


Alex benar-benar telah salah bicara.


***


Waktu pun terus berlalu, sudah satu minggu sejak makan siang itu. Tak ada kemajuan yang berarti bagi Nayla dan Rio. Bahkan pemuda itu tak pernah menghubungi Nayla walaupun mereka sudah bertukar nomor telepon.


Hingga pada suatu sore hari Sabtu, ponsel Nayla bergetar karena sebuah pesan masuk. Dan ia melihat nama Rio di sana.


Dalam pesannya Rio mengatakan jika ia sangat sibuk membantu pamannya selama seminggu terakhir ini dan sangat ingin untuk mengajak Nayla jalan-jalan di hari Minggu besok sebagai penghilang penat dari kesibukannya yang telah lalu.


Nayla membaca pesan itu berulang-ulang sebelum Ia memberi keputusan dari ajakan pemuda bernama Rio itu.


Nayla menatap pantulan dirinya dalam cermin. Kini dirinya sudah bukan gadis remaja lagi. Usianya sudah menginjak 23 tahun tapi belum juga mendapatkan pasangan hidup. Menanti Elang sepertinya akan menjadi sia-sia saja. Mungkin sekarang saatnya bagi Nayla untuk membuka hati dengan serius pada pemuda lain.


"Baiklah, kamu bisa jemput aku di apartemen ya. Tunggu aku di lobi," tulis Nayla dalam pesannya. Pada akhirnya gadis itu menyetujui ajakan kencan dari pemuda yang baru saja dikenalnya. tapi karena Alex yang mengenalkannya, Nayla yakin jika Rio adalah seseorang yang baik hati


kali ini Nayla meminta agar si pemuda itu untuk menjemputnya di apartemen. Jikalau pemuda itu tak datang dalam kencan pertamanya seperti yang pernah Nayla alami dahulu sebelumnya. Maka dirinya tak usah susah-susah untuk pulang.


Nayla berharap dalam hati kencannya kali ini tidak gagal total.