
Sampai bel pertanda masuk kelas pun Nayla dan Amelia tak menampakan batang hidungnya lagi. Elang melewati kelas keduanya dengan masih bergandengan tangan dengan Vony, atau lebih tepatnya digandeng paksa oleh gadis itu.
"Kayanya satu sekolah udah tahu kalau gue cowok lo, jadi kayaknya gak usah deh gandengan tangan melulu. Lo dan gue sama-sama gak buta kan ?" Ucap Elang terdengar kesal.
Vony hentikan langkahnya dan melihat pada Elang. "El, aku-kamu ! Udah aku bilang gak boleh panggil gue-lo," kata Vony mengingatkan.
"Lagian kita baru beberapa hari jadian, El. Masa sih udah gak mesra lagi ?" Vony mencebikkan bibirnya karena kesal.
" Cepat masuk ! Jam pelajaran udah dimulai," titah Elang yang lagi-lagi harus mengantarkan Vony sampai pintu kelasnya.
"Nanti istirahat kita makan barengan ya, El. Jemput aku !" Ucap Vony seraya masuk ke dalam kelasnya tanpa memberikan Elang kesempatan untuk berbicara.
Laki-laki jangkung itu berjalan memutar untuk kembali ke kelasnya dan ia sudah terlambat. Tak habis pikir kenapa Vony selalu minta diantar hingga depan pintu kelasnya padahal gadis itu masih punya 2 kaki yang sehat dan 2 mata yang normal.
Pelan-pelan Elang mengetuk pintu kelasnya sendiri. Bapak guru yang bertugas hari ini sudah duduk manis di bangkunya. Do'a sebelum pelajaran dimulai pun telah dibacakan, tapi Elang tak ikut serta karena harus mengantarkan si pacar ke kelasnya.
"Masuk," ucap bapak guru yang bertugas di kelas Elang itu.
"Maaf, saya terlambat," ucap Elang seraya memasuki kelas dengan kepala tertunduk menghindari tatapan mata dari teman sekelas yang melihat padanya.
Bukan hanya hari ini saja Elang terlambat, tapi 3 hari kemarin juga. Sejak ia dan Vony resmi berpacaran dan itu menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.
"Elang, setiap hari kamu datang terlambat," tegur pak guru dan Elang hanya bisa bergumam pelan mengucapkan kata "maaf"
"Pacaran boleh, tapi jadikan itu sebagai penyemangat untukmu. Bukan sebaliknya,"
Kini semua mata tertuju pada Elang dan ia tak menyukainya. "F*ck," maki Elang kesal saat ia ingat Vony lah yang membuat dirinya selalu terlambat.
Boro-boro sebagai penyemangat dirinya, berpacaran dengan Vony malah membuatnya semakin tertekan. Tapi di sisi lain, Leo tak lagi mengancam akan menyakiti Nayla.
"Elang bucin, Pak," celetuk salah satu orang temannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Elang. Sedangkan teman sekelasnya yang lain tertawa terbahak-bahak.
Temannya itu langsung bungkam saat dia ingat bagaimana sosok Elang yang sebenarnya.
Wajah Elang berubah dingin dan tanpa banyak bicara yang mengeluarkan buku dari tas ranselnya. Elang tak lagi menanggapi teman-teman yang lain bahkan gurunya berbicara pun Elang hanya diam saja.
Sungguh ia merasa sangat tersiksa dan ingin segera pergi dari sekolah itu.
"Lo kenapa sih, El ?" Tanya Rendy yang duduk tepat di hadapannya. Pemuda itu memutar tubuhnya dan bertanya kepada Elang.
Tapi Elang sedang tak ingin bicara, dia diam seribu bahasa tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
Sedangkan di kelas Nayla, hadirnya Gadis itu disambut antusias oleh teman-temannya. Walaupun Nayla bersahabat dengan Amelia tapi ia pun berteman baik dengan teman-teman yang lain.
"Naaay, seneng banget deh kamu udah masuk," ucap Zia yang duduk di jajaran bangku yang lain. Gadis itu sengaja mendekati Nayla untuk menyampaikan rasa senangnya. Tak hanya Zia Tapi beberapa teman yang lain juga mendatangi bangku Nayla dan mengucapkan betapa senangnya mereka melihat Nayla kembali sekolah.
"Nay, kamu masuk sekolah di waktu yang tepat," ucap Naura yang merupakn salah satu teman sekelas Nayla dan Amelia.
"Hah kenapa ?" Tanya Nayla penasaran.
"Si Zia kan....,"
Belum juga Naura menyelesaikan kalimatnya guru yang bertugas di kelas Nayla pun memasuki kelas dan terpaksa mereka kembali ke bangku masing-masing.
Naura yang duduk sebangku dengan Zia menolehkan kepalanya kepada Nayla dan juga Amelia. " Zia nanti mau bercerita tentang sesuatu," ucap Naura sangat pelan tapi Nayla masih bisa membaca gerak bibir itu dengan jelas.
"Apaan?" Tanya Amelia semakin penasaran.
Bukannya menjawab tapi Naura malah mengangkat kedua tangan dengan jemarinya yang bersatu dan dan mengerucut kemudian gadis itu menempelkan kedua tangannya sendiri berulang-ulang seolah mengisyaratkan sebuah tanda ciuman.
"Apaan sih?" Tanya Nayla berkerut alis tak paham.
"Susah jelasinnya, "jawab Naura dan Gadis itu segera disikut oleh Zia teman sebangkunya.
"Kalian kalau mau mengobrol silakan pergi keluar kelas," ucap Ibu Zainab yang merupakan guru yang bertugas mengajar di kelas Nayla saat ini.
"Maaf Bu," ucap keempatnya secara kompak. Lalu pandangan mata mereka saling bertemu seolah saling menyalahkan hingga mereka mendapat teguran.
"Ntar jam istirahat aja kita bahasnya di kantin," ucap Naura yang nampak masih bersemangat tentang suatu berita yang akan disampaikannya.
Amelia dan Nayla hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban. Keduanya sudah tak sabar untuk menunggu jam istirahat dan mendengar apa yang akan Naura dan Zia sampaikan.
Setelah belajar selama kurang lebih 3 jam waktu istirahat pertama pun tiba. Amelia dan Nayla dengan semangat berdiri dan berjalan menuju kedua temannya itu.
"Kalian mau cerita apa sih ?" Tanya Amelia yang sedari tadi sudah penasaran.
"Zia dan pacarnya udah ciuman," jawab Naura polos yang seketika itu juga mulutnya dibungkam oleh kedua tangan Zia yang wajahnya sudah merah padam karena malu
"Diam ih," kata Zia dengan bola mata yang membulat. "Nanti ada yang dengerin."
"O..M..G benarkah ??" Tanya Amelia heboh. "Pokoknya kamu harus cerita, Zia!"
"Apa ini ciuman pertama kamu ?" Tanya Nayla sambil tersenyum-senyum tak percaya padahal hatinya terasa ngilu saat bertanya tentang hal itu.
Zia mengangguk membenarkan dengan pipinya yang berubah merah. Zia dan kekasihnya Dipta sudah berpacaran selama hampir 6 bulan. Semalam, Zia baru mendapatkan ciuman pertamanya dari sang kekasih.
"Pokoknya wajib cerita! Ayo ke kantin !!" Amelia dengan semangat menarik lengan temannya itu ia sudah tak sabar ingin mendengar cerita selengkapnya.
Sesampainya di kantin bangku-bangku masih terlihat kosong karena kelas Nayla beristirahat lebih awal dari jam yang seharusnya.
"Ayo kita duduk di sana!" Naura menunjuk bangku kosong yang berada di pojok ruangan. Semuanya setuju dengan bangku yang dipilih Naura mereka pun jalan beriringan menuju bangku kosong itu dan duduk secara saling berhadapan.
"Pesan makan sama minum dulu sebelum memulai cerita," usul Calya yang merupakan bagian dari rombongan itu.
Semua memesan makan dan minuman yang dicatat oleh Naura. Gadis-gadis itu terlihat antusias untuk mendengarkan cerita tentang ciuman pertama
Maklum saja, hampir dari semua gadis itu belum pernah berpacaran dan melihat adegan ciuman hanya melalui tayangan film saja. Jadi, ketika ada teman dekat mereka yang sudah mengalaminya, semuanya begitu bersemangat untuk mendengarkan cerita.
Di luar kantin berdirilah Vonny yang masih betah menggelayut manja pada lengan Elang. Gadis itu Tengah memamerkan hubungannya dengan Elang pada semua orang. Ia sangat senang menjadi pusat perhatian dan membuat iri para gadis-gadis.
Mata poni berbinar dan senyuman miring terukir di bibirnya yang tipis saat ia melihat bangku kosong yang letaknya persis sebelah Nayla dan temannya berada.
Vonny pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia akan menggunakannya sebagai ajang pamer dan juga memanas-manasi Nayla.
"Eh, makannya aku yang traktir ya... Soalnya aku sama Elang mau ngerayain hari jadian kami," ucap Voni pada teman-temannya dan juga teman-teman Elang yang kebetulan berada di sana.
"Lu apaan sih ?" Wajah Elang terlihat merah dan gusar.
"Aku pengen rayain hari jadi kita. Emangnya salah ?" Tanya poni dengan memasang wajah merasa bersalahnya.
"Gue nggak mau, "kata Elang.
"Kamu kok jahat banget sih El sama aku?" Vony mulai bermain peran, seolah dirinya adalah seorang wanita yang tersakiti di sinetron ikan terbang.
Vony mulai merajuk manja dengan tetes air mata yang mulai bercucuran. Seketika Elang dan Vony pun menjadi pusat perhatian.
Tak ingin jadi bahan gibahan, malas-malas Elang menuruti kemauan gadis itu. Keduanya memasuki kantin diikuti oleh banyak teman dari kedua belah pihak. Mata Elang langsung tertuju pada Nayla yang sedang duduk di pojok bersama dengan adiknya.
Tak ingin menyakiti gadis itu, Elang memilih bangku yang jaraknya cukup jauh. Tapi poni dengan sengaja memilih tempat duduk yang letaknya tepat di sebelah Nayla. Bahkan ia memilih bangku yang letaknya paling dekat dengan gadis itu.
"El, disini !!" Teriak poni dengan sengaja agar seluruh kantin melihat padanya. Elang mendengus kesal karenanya..
Mendengar suara poni yang melengking tinggi membuat Nayla dan Amelia menolehkan kepala dan mereka cukup tercengang mendapati Vonny dan juga Elang duduk bersebelahan dengannya. Amelia hanya menatap dingin pada sang kakak tanpa menyapanya.
Bahkan punggung Elang dan Nayla tepat saling bertolak belakang. Punggung keduanya akan saling bersentuhan jika salah satu dari mereka bergerak mundur sedikit saja.
Mati-matian Nayla mengendalikan diri agar dirinya terlihat baik-baik saja karena tepat di belakangnya poni berbicara pada Elang dengan kata-kata lembut yang mesra.
Tak lama pesanan Nayla dan Amelia pun tiba lebih dulu karena mereka memang yang pertama memesan di kantin itu.
Vony tolehkan kepala dan melihat pada meja milik Nayla yang sudah dipenuhi oleh banyak jajanan yang beraneka rupa.
"Mel, duduk di sini saja. Aku mau traktir makan loh dalam rangka merayakan hari jadi aku dan Elang," ucap Vony dengan kelembutan yang dibuat-buat dan y hanya ditujukan pada Amelia saja. Bahkan gadis itu tidak melirik teman-teman Amelia yang lain termasuk Nayla.
Amelia tolehkan kepala, menatap Vony dengan tajam dan dingin. "Kenapa ? Takut gak cukup duitnya buat nraktir ? Sampai-sampai ngajak aku segala," ucap Amelia terdengar ketus dan begitu merendahkan hingga pecahlah tawa dari teman-temannya.
Apa yang Amelia ucapkan membuat wajah Vony merah padam. Ie kepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Gadis itu marah karena Amelia mempermalukannya.
"Mel udah deh," ucap Elang menenangkan sang adik. Bukannya Elang membela poni tapi ia sadar jika gadis itu akan sangat nekat pada orang yang tidak disukainya dan elang takut Vony akan mencelakai Amelia.
Amelia tak menjawab, ia hanya menatap sinis pada kakaknya itu. Semenjak Elang resmi berpacaran dengan poni hubungannya dengan sang kakak kian memburuk.
Mati-matian Vony menahan tangisnya karena kata-katanya pedas yang berasal dari mulut Amelia. "Kalian boleh pesan apa aja, bebas! Uang aku cukup kok. Malah kalau mau aku bisa beli sama kantin-kantinnya !" Ucap Vony dengan suara meninggi, menyindir pada Amelia.
Vony dan teman-temannya sedang sibuk memesan, sedangkan Nayla dan rombongannya sudah menikmati jajanan mereka sambil bersiap-siap mendengarkan cerita Zia tentang ciuman pertamanya.
"Jadi gimana rasanya cuman pertama itu, Zia?" Tanya Naura tak sabaran.
Elang memasang telinganya untuk menguping pembicaraan Nayla dan teman-temannya.
"Mmmm... Gimana ya rasanya... Sulit untuk dijabarkan," jawab Zia sambil menerawang jauh membayangkan ciuman pertamanya kemarin malam.
"Rasanya itu seperti.....,"
"Rasanya seperti dunia berhenti berputar untuk beberapa waktu, saat bibir kita saling bersentuhan dengannya, " jawab Nayla. Dengan tanpa sadar ia memotong ucapan temannya Zia.
Sontak semua mata kini tertuju kepadanya, membuat Nayla langsung terdiam mati kutu.
Sedangkan di belakangnya, Elang terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
"Ya benar !!! Seperti itu rasanya," ucap Zia dengan mata berbinar.
"Kok kamu tahu, Nay? Kamu udah pernah ciuman ?" Tanya Zia dan semua orang melihat ke arah Nayla menunggu jawaban gadis itu dengan antusias.
Tiba-tiba saja tubuh Nayla menjadi gemetar. Rasa sesak dan ngilu mengisi hatinya saat ia ingat sesuatu yang sangat ingin dilupakannya. Yaitu ciuman pertamanya dengan Elang.
"Ngh...Nggak, aku gak pernah ciuman dengan siapa pun," jawab Nayla.
Jawaban Nayla membuat wajah Elang menjadi merah padam.
to be continued ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 🥰