The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kakak Ipar



Kalah


"Jika kalian menyakiti Nayla, maka kalian berurusan denganku juga," ucap Amelia dengan jelasnya. Dia tak merasa takut walaupun yang dihadapinya saat ini adalah senior-seniornya di sekolah.


Amelia edarkan pandangan mata nyalang pada semua tim pemandu sorak yang berada di sana. Angela pun tak luput dari tatapan mata gadis berambut coklat itu.


"Apa lo ?" Tanya Angela sinis.


Amelia langsung berjalan menuju gadis itu setelah ia memastikan Nayla sang sahabat baik-baik saja.


"Jangan karena lo senior jadi merasa benar," desis Amelia di depan wajah Angela. "Dan lo semua udah ada dalam catatan pribadi gue," lanjut Amelia.


Vonny yang melihat itu segera sadar jika Amelia bisa mengadukannya pada Elang sang kakak dan tentunya nama dia akan terseret-seret. Vonny tak ingin ini menjadi masalah baginya dan Elang.


"Udah-udah, mungkin ini salah paham saja. Bisa jadi salah satu teman kami yang tidak sengaja menjulurkan kakinya hingga mengenai Nayla, atau... Nayla sendiri yang akan terpeleset karena lantai toilet yang basah," ucap Vonny berusaha menenangkan Amelia. Tak lupa ia memberikan senyum palsu pada gadis itu.


"Kalian boleh beralasan tapi gue nggak bodoh," sahut Amelia dan itu cukup membuat Vonny harus menelan ludahnya paksa. Sungguh ia takut jika Amelia mengadu pada Elang.


Nayla tak menyangka jika Amel akan membelanya seperti itu. Jika membahas tentang keberanian Amelia dan Elang memang hampir sama. Keduanya tak gentar jika merasa benar. Tapi Nayla juga tak ingin sahabatnya itu berada dalam kesulitan karena dirinya. Oleh karena itu Nayla memutuskan untuk segera membawa Amel keluar dari tempat itu. Ia tak ingin masalah ini menjadi besar.


"Mel pergi yuk? Mungkin apa yang dikatakan kak Vony ini benar adanya. Sebaiknya masalah ini jangan dibesar-besarkan. Lagian pertandingan akan segera dimulai, kamu gak mau ketinggalan kan ?" Bujuk Nayla.


Amelia pun tolehkan kepala melihat pada sang sahabat. "Aku baik-baik aja, beneran," ucap Nayla dengan pembawaannya yang tenang. Ia mencoba meyakinkan Amelia jika dirinya baik-baik saja.


Amelia anggukan kepala dan ia pun kembali kepada sahabatnya itu. "Ingat ya kalau kalian mengganggu Nayla maka berurusan denganku juga,"


"Emang siapa lo ?" Kata Angela yang masih diselimuti emosi karena gadis itu terkait dengan Rafa.


"Gue Amelia, gue gak akan tinggal diam pada siapapun yang berbuat jahat," jawab Amelia dengan mata melotot dan nada suara ketus.


"Mel, udah yuk... Peluit tanda pertandingan dimulai udah bunyi. Mending kita nonton pertandingan Elang saja daripada diam di sini nggak ada gunanya," ucap Nayla.


Mendengar kata "Elang" membuat Vony mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sungguh ia tak rela nama Elang disebut oleh gadis itu.


"Iya benar banget Nay, emang GAK GUNA berhubungan dengan mereka," ucap Amelia penuh tekanan dan ia pun menarik lengan Nayla untuk pergi dari sana.


Vonny dan Angela menatap kepergian dua gadis itu dengan tatapan mata dingin penuh kebencian.


***


Pertandingan sudah dimulai saat Nayla dan Amelia kembali dari toilet. Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan itu. Masing-masing siswa dari kedua belah sekolah berlomba memberikan dukungan terbaik pada tim yang mereka jagokan.


Begitu juga Nayla dan Amelia yang langsung mengibar-ibarkan bendera bertuliskan nama Elang dan juga Raffa.


Di tengah lapang, Leo terus mengincar Elang. Permainan begitu panas padahal belum lama dimulai. Pemuda itu tidak takut-takut untuk bermain kasar pada Elang tapi untungnya Elang selalu bisa mengunggulinya. Terbukti dari skor nilai tim Elang yang lebih tinggi.


Elang tengah membawa bola tiba-tiba Leo menghadangnya dan merebut bola Elang dengan kasar hingga laki-laki jangkung itu jatuh terjungkang. "Fault," teriak wasit karena Leo melakukan kesalahan.


Leo tersenyum sambil mengatupkan dua tangannya mengisyaratkan permohonan maaf pada wasit. Ia juga memamerkan sikap palsunya dengan berpura-pura membantu Elang untuk bangkit dari atas lantai dengan menggenggam tangan Elang.


Elang meringis kesakitan saat Leo menggenggam tangannya dengan begitu kuat seolah-olah ingin mematahkan tulang-tulangnya. "Jangan jadi b*nci ! segitu aja lo jatuh nggak berdaya," bisik Leo penuh ledekan.


Sumpah demi apapun Elang ingin memberikan bogem mentah di wajah laki-laki yang angkuh itu. Tapi ia menahan diri karena tak ingin timnya mendapatkan masalah.


Elang mengenyampingkan masalah pribadinya. Saat ini tim basketnya lebih penting bagi Elang dibandingkan urusannya dengan Leo. Elang membiarkan sindiran pemuda itu begitu saja.


Rafa memperhatikan interaksi antara Elang dan Leo yang kian memanas. Ia tahu jika Leo terus mengincar Elang dan berusaha mencelakainya. "Dasar gila," gumam Rafa.


Permainan itu berlangsung dengan sengit, Rafa selalu berusaha untuk mendekati Elang jika Leo mengincarnya. Sampai babak pertama berakhir, Leo tetap bermain kasar.


"Si Leo emang gila ya," bisik Rafa dengan nafas tersenggal-senggal.


Tapi Rafa tak bisa biarkan itu semua. Alasan yang pertama karena Elang adalah sahabatnya, yang kedua karena Elang adalah kapten tim dan pemain terbaik menurut Rafa, dan alasan yang ketiga adalah karena Elang adalah kakak dari gadis yang disukainya.


"Tenanglah kakak ipar, you can count on me," ( kamu bisa mengandalkan aku) ucap Rafa sambil nyengir kuda.


Mendengar Rafa memanggilnya dengan sebutan 'kakak ipar' membuat Elang mendelikkan mata. Tak habis pikir pemuda itu masih saja bertingkah konyol dalam keadaan genting..


Di tepian lapang Elang, Rafa dan seluruh anggota tim basket mendengarkan pengarahan dari pelatih mereka. Mati-matian Elang berusaha fokus mendengarkan walaupun sebenarnya Ia ingin melihat ke arah Nayla. Gadis itu selalu saja mencuri perhatiannya.


Setelah mendapatkan pengarahan, Elang dan timnya kembali ke lapangan untuk meneruskan pertandingan. Mata Leo selalu menatap tajam pada Elang, seolah-olah ia datang hanya untuk membidik Elang.


Waktu terus berlalu dengan skor yang berkejaran sengit. Saat ini tim Leo sedang memimpin skor, pemuda itu terlihat jumawa dan ia akan membisikkan kata-kata menghina jika berpapasan dengan Elang.


Hingga satu perkataan Leo yang tak bisa Elang terima. "Kalo gue menang, cewek culun yang bernama Nayla itu jadi milik gue," ucap Leo hingga Elang pun tersulut emosi.


Elang bermain dengan membabi buta seolah tak merasa lelah. Tubuhnya sudah dibasahi keringat yang terus menetes. Ucapan Leo tadi membuat tim Elang kembali memimpin skor hingga Leo pun berusaha mengejar dengan kembali bertindak kasar, ditambah waktu pertandingan yang semakin habis membuat Leo semakin menjadi-jadi.


Elang sedang membawa bola, laki-laki jangkung itu akan melakukan lay up shoot yaitu melakukan tembakan sambil melompat. Leo yang mengetahui itu berusaha untuk menggagalkan usaha Elang.


Alih-alih merebut bola, Leo lebih mengincar tubuh Elang dan mencelakainya. Rafa yang sedari tadi menjadi bayang-bayang Elang menyadari itu semua. Ia menyangga tubuh tinggi Elang saat Leo berusaha menjatuhkannya.


"Priiiit," bunyi peluit terdengar bersamaan dengan rintihan kesakitan dari Rafa yang tubuhnya tertindih Elang.


"Fa, lo gak pa-pa ?" Tanya Elang dengan paniknya.


Laki-laki jangkung itu tak menderita cedera karena Rafa yang menyelamatkannya, tapi nahasnya Rafa harus merasakan sakit luar biasa saat pergelangan kakinya terinjak Elang dan sepertinya kaki Rafa terkilir karena itu.


Elang pun memapah sahabatnya itu menuju tepian lapang, sedangkan Leo dikeluarkan dari pertandingan karena sikapnya yang kasar.


"Lo ngapain sih Fa, belain gue segala ?" Tanya Elang.


"Lo kapten tim, El ! Lo dibutuhin biar tim kita bisa menang. Kalahin pecundang itu," jawab Rafa sambil meringis menahan sakit.


Elang menarik nafas dalam dan bisa menerima alasan kenapa Rafa menyelamatkannya dari sikap kasar Leo.


"Kalau tim kita menang, itu buat lo," ucap Elang dan Rafa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Rafa didudukkan di kursi pemain cadangan dan seorang petugas UKS akan menolongnya tapi cepat-cepat Elang memanggil sang adik untuk menghampirinya. "Mel !!" Teriak Elang dan sang adik pun datang.


"Biar adik aku yang jaga dan tolongin Rafa. Aku punya obat pereda sakit untuk sementara," ucap Elang karena ia memang memiliki obat semprot untuk meredakan rasa sakit pada anggota tubuh yang cedera. Obat itu Elang peroleh dari ayahnya yang seorang dokter.


"Mel, jaga Rafa ya," ucap Elang sebelum ia kembali ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan.


"Oke," sahut Amelia seraya mengeluarkan obat yang Elang maksud dari tas kakaknya itu dan mulai mengobati Rafa.


"Kak, terimakasih banyak udah selamatin kak Elang ya," ucap Amelia lembut tak galak seperti biasanya dan gadis itu pun tak berani melihat pada Rafa.


Tadi Amelia bisa melihat dengan jelas bagaimana Rafa menolong Elang dengan mengorbankan dirinya sendiri.


Kaki Rafa memang sakit, tapi rasa sakitnya itu berkurang banyak karena sikap Amelia yang manis. "Apapun akan aku lakukan untuk menolong Elang," ucap Rafa.


"Kakak memang sahabat yang yang baik," ucap Amelia sembari menengadahkan kepalanya menatap wajah Rafa.


"Buat aku Elang bukan cuma sahabat, tapi juga calon kakak ipar. Jadi Rafa memang harus back up dia," gombal Rafa yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Bila biasanya gombalan Rafa akan Amelia balas dengan rangkaian kata indah dalam bahasa asing, tapi kali ini Amelia menanggapinya dengan pipi merona merah yang membuat Rafa begitu gemas.


thanks for reading 🥰


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚