The Unexpected Love

The Unexpected Love
Rintik Hujan



" hati-hati !! Pulanglah dengan selamat," ucap Amelia pada kakaknya itu sebelum mereka benar-benar berpisah. Elang anggukan kepala sebagai bentuk jawaban.


"Makasih, Mel," ucap elang dan dia pun berlari menuju garasi melalui pintu belakang.


Di teras rumah Amelia terlihat bercakap-cakap dengan sopir pribadinya itu. Sepertinya gadis itu meminta sesuatu pada orang-orang yang bekerja di rumahnya. Elang dengan pelan mendorong motor besarnya agar bisa keluar dari area rumah tanpa ketahuan. Ia melakukan itu dengan penuh kehati-hatian. Elang tak ingin rencananya yang telah Ia susun dengan Amelia menjadi gagal karena ini adalah satu-satunya jalan keluar.


Amelia melakukan perannya dengan baik


gadis itu berhasil mengecoh sopir pribadi mereka dan juga asisten rumah tangga sehingga elang bisa dengan mudah membawa keluar motornya ke arah jalan raya.


Setelah yakin jika dirinya sudah berhasil melarikan diri Elang pun menaiki motor besar miliknya dan melajukan kendaraan roda dua itu secepat yang ia bisa. Tujuan pertama Elang adalah sekolah. Ia kan pergi ke sana untuk memastikan keadaan Nayla.


Elang tiba di sekolah 15 menit kemudian. Pemuda itu memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai Elang memarkirkan motornya asal, menyimpan helmnya di atas kaca spion setelah itu ia berlari ke dalam gedung sekolah karena setahunya Nayla hari ini sedang mengikuti les matematika.


"El, kamu ngapain di sini ?" Katanya pelatih basket Elang yang kebetulan masih berada di sekolah.


"Mmm.. ada barang yang tertinggal," jawab Elang beralasan.


"Sebaiknya kamu cepat pulang ! Jangan berada dulu di sekitar sekolah,"


"Emang kenapa Pak tanya Elang ?" pura-pura tidak tahu.


Pelatih basket Elang itu terdiam untuk sesaat. Berpikir apakah sebaiknya ia mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak pada Elang. Mengingat jika Elang sahabat baik pemuda itu. Tapi lambat laun Elang juga pasti tahu karena musibah yang menimpa Rafa sudah menjadi buah bibir di kalangan siswa. Bahkan foto Rafa yang babak belur pun sudah tersebar di beberapa grup WhatsApp para siswa.


"Rafa kena musibah, tadi sepulang sekolah ada yang mengeroyoknya," ucap pelatih basket itu.


"Lalu bagaimana keadaan Rafa sekarang?" Tanya elang dengan wajahnya yang penasaran.


" Rafa sudah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit xxx. Kita doakan aja semoga dia cepat sehat,"


"Apa sudah tertangkap orang yang mengeroyoknya?" Tanya Elang.


"Belum, tapi tadi pihak kepolisian sudah datang ke sini dan menanyai beberapa orang yang sekiranya tahu tentang kejadian itu dan juga sudah membawa hasil rekaman CCTV sekolah,"


"Kok bisa kejadian seperti ini sih Pak ? Emang Pak satpam ke mana?" Tanya Elang menyesalkan kejadian buruk yang menimpa Rafa.


"Pak satpam sedang beristirahat minum kopi di kedai depan setelah ia membantu anak-anak menyeberang jalan. Pak satpam kira sekolah sudah sepi dan hanya menyisakan anak-anak yang sedang mengikuti les aja,"


Mendengar kata "les" membuat Elang menjadi ingat tujuan utamanya datang ke sekolah.


"Terus gimana Pak anak-anak yang ikut les ? Apa mereka sudah pulang ?"


"Untuk sementara kegiatan les diberhentikan dahulu dan yang sudah terlanjur ikut maka harus dijemput oleh keluarga mereka, pihak kepolisian curiga jika apa yang terjadi pada Rafa adalah dendam dari siswa sekolah lain. Jadi untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, para siswa sebaiknya pulang dengan dijemput oleh keluarga mereka," jelas pelatih basket itu.


"Apa semuanya sudah pulang Pak ?" tanya Elang.


"Belum, ada beberapa siswa yang belum dijemput. Mereka ada di gedung belakang,"


"Oke terimakasih pak," sahut elang dan ia pun pergi.


"Kamu juga jaga diri El ! Jangan ikut-ikutan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri,"


" Iya, Pak," jawab Elang singkat.


Bukan tanpa alasan pelatih basket Elang mengatakan hal seperti itu. Beliau tahu jika Elang sebenarnya adalah seorang siswa yang bermasalah di masa lalunya tapi karena selama beberapa bulan terakhir ini nama Elang tidak lagi terdengar dalam berita buruk sehingga pelatih basket itu menyimpulkan jika Elang sudah berubah.


Memang benar Elang sudah berubah, pemuda jangkung itu tak lagi berulah. Hanya saja sebagian cerita masa lalunya terus mengejar dan tak ada seorangpun yang mengetahui tentang hal itu.


Elang berjalan menyusuri lorong sekolah menuju gedung di mana les matematika biasa diadakan. Ia berharap bisa menemukan Nayla di sana.


Dari luar ruangan terdengar beberapa orang yang tengah mengobrol. Elang yakin itu adalah para siswa yang mengikuti les matematika dan ia berharap Nayla adalah salah satunya yang berada di sana.


Elang baru saja akan mengetuk pintu ruangan itu dan menanyakan keberadaan Nayla, tapi belum juga Elang melakukan itu matanya telah bersitatap dengan seorang gadis yang dicari-carinya siapa lagi jika bukan Nayla.


Elang terdiam membeku begitu juga Nayla. Tatapan mata mereka saling terkunci tanpa berkata-kata.


Nayla sangat terkejut dengan kehadiran Elang di pintu ruangan lesnya. Seharusnya pemuda yang sangat Nayla sukai itu sudah berada di rumahnya sejak beberapa jam yang lalu.


" Kak Elang mau jemput siapa ?" Tanya salah satu siswi yang mengikuti les matematika yang tak Elang tahu namanya Tapi tak heran jika gadis itu mengenali dirinya karena seperti yang sudah sering diceritakan Elang adalah salah satu siswa paling populer di sekolah.


"Nay.. Nayla..." Jawab Elang seraya menatap Nayla.


"A-aku ?" Tanya Nayla terbata-bata.


"Apa ibu yang nyuruh Kak Elang untuk untuk jemput aku ? Soalnya aku telepon ke rumah katanya kak Dimas ( kakak Nayla ) masih di kampus dan aku masih harus menunggu. Ibu tak bisa menjemput karena kesehatan ayahku yang kurang baik," jelas Nayla panjang lebar.


" Ayo cepat pulang !"


Tanpa banyak pertanyaan Nayla pun menuruti perintah Elang. Dia segera membenahi tasnya dan kemudian berpamitan pada teman-temannya yang lain yang masih menunggu jemputan.


Hari masih sore tapi langit mulai gelap, sepertinya hujan akan turun lagi. Nayla dan elang berjalan beriringan menuju pelataran parkir di mana motor besar Elang berada.


Elang membuka hoodie hitamnya dan memberikan kepada Nayla " pakailah nanti kamu kedinginan," titah Elang dan anehnya Nayla mau saja menuruti perintah laki-laki itu. Untuk kesekian kalinya Nayla menggunakan hoodie hitam kesayangan Elang.


Elang segera mengenakan helm nya, dan ia merutuki dirinya sendiri yang melupa membawa helm untuk Nayla.


Mata Nayla membulat dengan sempurna saat elang membantu Nayla menggunakan penutup kepala dari hoodie hitam yang Elang punya. "Aku lupa bawa helm," ucap Elang seraya membuat simpul tali agar penutup kepala itu tak lepas.


Nayla hanya pasrah dengan apa yang Elang lakukan padanya. Dadanya berdegup kencang dan menggila. Nayla yakin Elang dapat merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang.


Seperti biasa Elang tak banyak bicara, setelah memasangkan penutup kepala pada Nayla pemuda jangkung itu langsung menaiki motornya. "Naik, Nay !" Titah Elang.


Elang memegang lengan Nayla untuk membantu Gadis itu menaiki motornya yang cukup tinggi. kemudian Elang menarik kedua tangan Nayla agar melingkar di atas perutnya.


Debaran jantung Nayla kian menggila saat ia sadar dirinya tengah memeluk Elang. "Jangan dilepaskan pelukannya," tita Elang dan Nayla menganggukkan kepalanya menyetujui dengan pipi merona merah bagai buah tomat.


"Ingat jangan dilepaskan ! Aku nggak mau kamu jatuh," Elang kembali mengingatkan dan Nayla pun menganggukkan kepalanya lagi.


Elang menyalakan mesin motornya dan dengan perlahan meninggalkan pelataran parkir sekolah menuju jalan raya. "Nay, peluk aku," ucap Elang saat ia rasa lingkaran Nayla di atas perutnya melonggar.


Lagi-lagi Nayla tersipu malu sambil menganggukkan kepalanya. Entah mengapa Elang memilih kata-kata "peluk aku" di bandingkan kata "pegangan".


Elang melajukan motornya lebih cepat dari biasanya. Itulah alasan Elang mengapa Nayla harus memeluknya dengan erat agar gadis itu tidak terjatuh.


Tak ada yang tahu jika mata elang menjadi basah di balik helm yang menutupi seluruh kepalanya. Pemuda yang belum dewasa itu tengah menikmati pelukan dari seorang gadis yang merupakan Cinta pertamanya. Seolah-olah itu adalah pelukan yang pertama dan juga yang terakhir bagi Elang.


Firasatnya mengatakan bahwa mulai hari ini dirinya tak boleh lagi menyimpan rasa pada Nayla Jika ia benar-benar menyayangi gadis itu. Agar Nayla tidak terus-terusan dalam bahaya.


Dada Elang terasa sesak, tenggorokannya menjadi kering seketika. Pemuda itu merasa kesakitan karena harus menghilangkan segala rasa cinta pada gadis pujaannya. Rasa sakit itu kian menjadi-jadi saat Elang rasakan Nayla menidurkan kepalanya di punggung Elang. "Ya Tuhan...." Gumam Elang tak terdengar.


Sedangkan Nayla, ia merasa mimpinya menjadi kenyataan. Tak menyangka jika dirinya bisa memeluk pujaan hatinya se-erat ini. Bila biasanya ia memeluk Elang hanya melalui jaket hoodie nya saja tapi kini Nayla bisa memeluk erat tubuh Elang yang nyata adanya.


Nayla berharap jika waktu berhenti saja agar ia bisa memeluk Elang seperti ini selamanya. Senyum manis terukir di wajah Nayla karena rasa haru bahagia yang tidak terkira.


Selama 15 menit keduanya menikmati rasa cinta yang tak terungkapkan dari hati masing-masing. Hingga tibalah Nayla di rumahnya. Hujan turun rintik-rintik saat mereka tiba.


Nayla berdiri di pinggir jalan masih dengan menggunakan hoodie hitam milik Elang. Gadis itu tak lekas pergi menuju rumahnya karena ia ingin mengucapkan kata terima kasih terlebih dulu pada Elang yang masih duduk di atas motor dan sedang membaca pesan di layar ponselnya.


Sadar jika Nayla menunggunya Elang pun turun dari motor. "Aku nggak bisa lama-lama karena harus pergi lagi. Salam buat ibu," ucap Elang.


Nayla menelan ludahnya paksa sebelum ia berbicara. Sungguh debaran jantungnya begitu menggila. " Te-terima kasih banyak Kak El," ucap Nayla dengan bibirnya yang gemetar.


Elang hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis pujaannya itu. "Aku pergi," pamit Elang seraya akan menaiki motornya kembali.


Tapi ucapan Nayla menahan dirinya untuk melakukan itu. "Jaket hoodie kakak !! ambillah... Aku nggak mau kak Elang kehujanan," ucap Nayla penuh perhatian.


Elang pun kembali mendekati Nayla. Bahkan ia membantu Nayla untuk membuka simpul tali di hoodie nya itu. Dapat Elang lihat bagaimana Nayla tersipu malu karena dirinya dan itulah yang sangat Elang sukai dari gadis itu.


Nayla melepaskan jaket hoodie hitam milik Elang dan memberikannya pada lelaki itu. "Terima kasih," ucap Nayla lagi.


Elang meraih hoodie hitam yang diberikan Nayla padanya. Pemuda jangkung itu tak langsung pergi, tapi ia malah menatap wajah Nayla dengan lekat dan tatapan mata mendamba.


" Hati-hati ya Nay... jaga diri baik-baik. Aku nggak bisa selalu ada buat kamu," ucap ulang dengan begitu jelasnya.


Nayla yang mendengar itu terkejut luar biasa "A-apa?" Gumam Nayla tak percaya


Elang tundukkan kepalanya dan menatap Nayla kian intens saja. Ia menarik dagu gadis itu dengan jempolnya agar Nayla melihat ke arahnya.


Tanpa aba-aba, Elang menempelkan bibirnya di atas bibir Nayla dengan sempurna. Inilah ciuman pertama mereka dengan rintik-rintik hujan sebagai saksinya.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


Kalau komentarnya banyak aku up lagi.


Maafkan aku yang suka sogokkan 🤣🤣