The Unexpected Love

The Unexpected Love
Menikahlah Denganku



" kejutan," ucap laki-laki itu sembari tersenyum lebar.


Nayla menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"A-apa yang kamu lakukan di-di sini ?" Tanya Nayla terbata-bata. Bicaranya gelagapan dan debaran jantungnya tiba-tiba menggila.


Nayla berusaha untuk segera menutup pintu agar tak ada seorangpun anggota keluarganya melihat siapa yang datang. Tapi sayangnya usaha Nayla hanya sia-sia.


" Masuk, El ! Ayah dan Ibu sudah menunggu dari tadi," ucap ayah Nayla yang tiba-tiba saja muncul di belakang gadis itu. Membuat senyum Elang semakin merrekah.


Sontak Nayla putarkan tubuhnya melihat pada ayahnya juga pada Elang secara bergantian. Nayla tak bisa berucap apapun. Mendadak lidahnya menjadi kelu dan suaranya tercekat di tenggorokan.


" Hari Sabtu begini pasti macet ya ?" Tanya ayah Nayla lagi dan Elang mengangguk membenarkan.


" Lumayan macet, Yah," jawab Elang.


" Nay, kamu kok diam aja ? Gak suruh Elang masuk ?" Tanya ayah Nayla pada anak gadisnya yang masih diliputi rasa terkejut itu. Nayla hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri.


" Om Elang !" Nadine berhambur pada Elang dan meminta laki-laki jangkung itu, untuk memangkunya.


Rasa terkejut Nayla semakin menjadi-jadi. Bagaimana Nadine yang berusia 4 tahun itu bisa begitu akrab pada Elang yang baru datang setelah 8 tahun menghilang.


Tak hanya itu, Nadia dan Alex pun menyambut kedatangan Elang dengan hangat. Seolah-olah ini bukanlah pertemuan pertama Alex dengan Elang.


" Ayo El, masuk...," Nadia mengajak Elang yang sedang memangku anaknya itu untuk masuk.


Nayla menutup pintu setelah Elang masuk dan semuanya duduk di ruang tamu. Ia masih kebingungan dengan apa yang tengah terjadi.


Elang terlihat berbicara akrab dengan Alex dan Nadine masih ingin duduk di atas pangkuan Elang.


" Nay, bikinin Elang kopi. Terus bilang sama Ibu kalau Elang sudah datang," titah sang ayah yang tak berani Nayla bantah. Ia pun berjalan menuju dapur dan melakukan semua yang diperintahkan oleh sang ayah.


Kue yang dimasak Ibunya tadi pagi sudah tertata rapi di atas nampan. Diantaranya ada kue talam yang merupakan kesukaan Mami Elang.


" Deg !"


Debaran jantung Nayla kembali menggila. Dalam kepalanya terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. "Apakah Elang akan mengumumkan pada semua tentang hubungan kami ?" Tanya Nayla dalam hati.


" Atau ia akan bekerja di perusahaan Alex juga ?" Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Nayla.


" Nay, kopinya bikin 3 cangkir ya," perkataan ibu Nayla menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


" Ba-baik, Bu," jawab Nayla gugup.


Ia ingin bertanya pada ibunya itu tentang apa yang sedang terjadi, tapi Nayla taku jika ibunya menjadi marah karena Nayla menyembunyikan hubungannya dengan Elang.


Nayla tertunduk lesu saat sadar akan sesuatu. Hubungannya dengan Elang baru berjalan satu Minggu saja setelah ia menunggu cinta laki-laki itu 10 tahun lamanya. " Apa aku harus berpisah lagi dengannya ?" Lirih Nayla hampir tak terdengar.


Nayla teringat waktu dulu Nadia terlihat tak begitu suka saat Nayla diantar pulang sekolah oleh Elang. Memang itu terjadi bertahun-tahun yang lalu tapi Nayla masih merasa cemas hingga hari ini. Ia takut keluarganya tak setuju dengan hubungannya bersama Elang.


Apalagi Elang merupakan adik kandung Bimo si mantan kekasih kakaknya sendiri. " Helo... Bagaimana dengan Alex ?" Nayla meraup wajahnya frustasi. Kakak iparnya yang bucin akut itu bisa mati berdiri karena cemburu.


Cemburu karena Bimo masih saja berkaitan dengan mereka.


" Tuuttttt," teko air yang berbunyi membuat Nayla kembali tersadar dari lamunannya. Lalu ia membuat 2 cangkir kopi instan untuk ayahnya juga Alex sedangkan untuk Elang ia meraciknya sendiri.


" Satu sendok kopi ditambah satu setengah sendok gula dan Elang tak suka ukuran cangkir, tapi harus dengan menggunakan gelas belimbing biasa," gumam Nayla sembari membuatkan kopi untuk Elang.


" Lihatlah Elang... Aku terlalu mencintaimu hingga tahu hampir semua yang kamu suka," ucap Nayla dalam hatinya.


" Sudah, tunggu sebentar," sahut Nayla.


Ia menata dua cangkir kopi dan satu gelas kopi di atas nampan, lalu berjalan menuju ruang tamu dimana semuanya berada.


Nayla berjalan pelan, menjaga kopi yang ia bawa tak tumpah. Suara gelak tawa terdengar samar-samar dari ruang tamu. " Semua akan baik-baik saja," Nayla memenangkan dirinya sendiri.


Deg !!


Kejutan untuk Nayla tak berhenti sampai di situ. Mata Nayla membola dan tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar saat ia melihat Bimo, dan kedua orangtuanya berada di sana.


Mami Elang duduk tepat sebelah ibunya Nayla dan mereka terlihat sangat akrab karena memang keduanya telah berteman lama.


" Kopinya untuk Elang, Bimo dan ayahnya," jelas ibu Nayla dan Nayla pun letakan kopi yang dibuatnya itu di atas meja. Ia melakukannya sesuai posisi 3 laki-laki tersebut.


" Tuh kan... Nayla udah tahu loh tentang kopinya Elang. Udah siap jadi istri ya, Nay?" Tanya Mami Elang tanpa basa-basi. Nayla yang ditanya seperti itu hanya bisa tersenyum canggung.


" Duduk Nay !" Titah sang ayah.


Nayla menuruti perintah sang ayah dengan mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nadia. Sesekali ia mencuri pandang pada Elang yang duduknya terpisah cukup jauh darinya. Nayla masih berpura-pura jika dirinya dan Elang tak punya hubungan yang spesial. Nayla pun tundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuannya. Nayla benar-benar merasa gugup saat ini.


" Dulu ayah kira, Bimo yang akan datang melamar Nadia eh gak taunya malah Elang yang datang untuk melamar Nayla," ucap ayah Nayla.


Deg !


Nayla mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada Elang.


" Nah itulah yang namanya jodoh, Tuhan yang mengatur segalanya. Tuhan memberikan yang terbaik bagi umatnya, " lanjut ayah Nayla. Ia berusaha menjaga perasaan sang menantu, Alex.


Sedangkan Nayla masih diliputi rasa tak percaya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Elang turunkan Nadine dari pangkuannya dan memberikannya pada sang nenek. Ia sedikit majukan tubuhnya untuk berbicara dengan serius.


" Ya.. tujuan Elang datang hari ini adalah untuk melamar Nayla. Sebagai tanda keseriusan Elang pada Nayla, Elang membawa kedua orang tua dan juga kakak kandung Elang yaitu Bimo," ucap Elang dengan begitu jelasnya.


Nayla yang mendengar itu langsung mencubit kakinya sendiri kuat-kuat. Ia lakukan itu untuk meyakinkan diri bahwa yang saat ini terjadi adalah nyata bukan khayalan.


" Nay dengerin itu." Kali ini ibu Nayla yan memerintah karena anak gaduh itu hanya diam terpaku dengan kepala tertunduk.


" Seperti yang sudah Elang jelaskan sebelumnya pada ayah dan ibu, juga pada mbak Nadia dan suaminya, bahwa Elang sudah memiliki perasaan cinta pada Nayla sejak lama, sejak kita berdua masih sama-sama masih berusia remaja," lanjut Elang.


Nayla yang mendengar itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk dab jemari tangan yang saling meremas satu sama lain karena saking gugupnya.


" Hingga detik ini perasaan Elang masih sama. Masih mencintai Nayla seperti dulu, bahkan sekarang ini perasaan cinta Elang semakin bertambah pada Nayla dan tak ingin kehilangannya lagi," lanjut Elang.


Nayla yang mendengar itu hanya bisa menelan ludahnya paksa.


" Elang sudah menunggu momen ini dalam waktu yang cukup lama. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang yang paling tepat dan bertanya-tanya pada diri Elang sendiri sudah yakinkah aku dengan pilihanku ? Dan berkali-kali jawaban ku selalu sama, yaitu Nayla," ucap Elang dengan penuh perasaan. Ia pun berdiri dan kemudian berjalan untuk mendekati gadisnya itu.


Elang bersimpuh di atas kedua lututnya, Ia membawa kedua tangan Nayla dalam genggamannya. Menatap Gadis itu penuh rasa cinta dan bertanya " Nay... Nayla... Aku mencintaimu... Aku mohon menikahlah denganku,"


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️


jangan lupa tinggalkan jejak ya.


maaciw