
" Rafa bilang mau cari aku, tapi nyatanya nggak ! Aku benci dia, Nay !! Benci dia yang selalu membuatku menunggu hingga aku tak ingin dengan lelaki lainnya karena aku terus menunggunya. Aku benci Rafa, Nay...," Ucap Amelia menumpahkan segalanya rasa yang dipendamnya selama ini.
" Aku benci rafa yang telah mencuri ciuman pertamaku beserta seluruh perasaanku, hu..hu..hu...," Amelia memejamkan matanya meresapi perasaan sakitnya sendiri.
Kini Amelia merasa sedikit lega, karena beban perasaan yang dipikulnya selama ini akhirnya bisa terbagi juga
Nayla menepuk-nepuk pundak Amelia untuk menenangkan. " Jika memang jodohnya pasti bertemu. Sejauh apapun, sesulit apapun itu pasti akan menyatu pada akhirnya,"
"Seperti kamu dan Elang ?" Tanya Amelia seraya mengusap pipinya yang basah dan Nayla pun mengangguk pelan membenarkan.
Amelia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Walaupun dia kembali aku sudah tak mau, Nay. Aku udah putuskan untuk tidak menikah,"
"A-apa ? Hush jangan ngomong sembarangan, Mel ! gak baik," Sahut Nayla.
"Aku gak mau jatuh cinta lagi," ucap Amelia tegas.
"Kenapa ya kisah cinta orang lain kayanya adem ayem, aman sentosa tapi cerita cinta aku ngenes begini," keluhnya dengan suara memelas.
"Akupun Mel !! Kisah cintaku sangatlah suram selama ini. Aku tak menyangka jika Tuhan memberikan sesuatu yang manis di akhir ceritanya. Mungkin kamu pun akan seperti aku,"
"Entahlah... Tapi jujur saja, aku tak ingin berharap banyak. Cukup 8 tahun tersiksa dengan rasa cinta ini dan aku tak mau merasakannya lagi. Pokoknya aku putuskan untuk tidak akan menikah. Titik !" Amelia masih bersikukuh dengan pendiriannya.
Nayla yang mendengar itu hanya tersenyum menanggapinya, ia tak ingin mendebat sahabatnya yang sedang dalam rasa emosional.
Dalam hati Nayla, ia ingin melihat Amelia bersanding dengan laki-laki yang dicintai dan juga mencintainya. Nayla ingin melihat Amelia membangun sebuah keluarga dan berbahagia. Tapi ia akan katakan itu di saat yang tepat, saat Amelia sudah dalam keadaan yang jauh lebih tenang.
Mereka pun melanjutkan obrolan, saling bertukar cerita yang sebelumnya dirahasiakan. Keduanya tertawa-tawa, bagai dua gadis yang baru saja memasuki masa remaja mereka.
Cukup lama Nayla dan Amelia bertukar cerita. Dan selama itu terjadi, Elang beberapa kali mengirimkan pesan untuk keduanya tapi tak ada seorangpun dari mereka yang membalas pesan Elang.
"Makan siang anak-anak !!" Terdengar teriakan Mami Amelia dari lantai bawah. "Ayo kita makan dulu, terus lanjutin ngobrolnya sambil nonton film ? Gimana ?" Tanya Amelia.
Nayla pun tersenyum lebar menyetujui. "Oke, aku setuju !"
"Kamu, duluan aja ke bawah. Aku harus ganti pembalut dulu,"
Nayla pun kembali menganggukkan kepalanya. Dan ia sedikit tersenyum, memahami kenapa Amelia begitu emosional yang ternyata dipengaruhi oleh hormon kewanitaannya.
Seperti yang diperintahkan oleh sang sahabat. Nayla keluar lebih dulu dari kamar gadis itu. Baru saja Nayla melangkahkan kakinya, sebuah tangan kekar telah menarik dan menyudutkan tubuhnya ke salah satu dinding.
Nayla hampir berteriak, tapi sebuah telapak tangan bergerak lebih cepat untuk menutup mulutnya. "Sayang, ini aku. Jangan berteriak," ucap Elang. Ia melihat sekeliling takut ada seseorang yang memergokinya.
"Ikut aku sebentar," ajak Elang seraya menarik lengan Nayla untuk mengikutinya.
"Mau kemana ? Aku gak mau !!" Tolak Nayla mengingat bagaimana Elang jika mereka sedang berduaan saja.
"Sebentar saja," bujuk Elang yang membawa Nayla ke dalam kamarnya. Meskipun berusaha memberontak tapi tenaga Elang jauh lebih besar hingga Nayla pun kalah. Dengan terpaksa gadis itu memasuki kamar kekasihnya itu.
" Elang, bagaimana jika ada yang lihat !!" Protes Nayla, dan ia pun semakin membolakan matanya saat melihat Elang telah memutar kunci pintu kamarnya.
"Bagus jika ada yang melihat, mungkin kita akan langsung dinikahkan hari ini juga dan aku akan dengan senang hati melakukannya," jawab Elang sambil tersenyum miring penuh maksud.
"El..,"
Belum juga Nayla menyelesaikan kalimatnya, Elang sudah membawa gadis itu pada dekapannya. "Apa kamu lupa ? Jangan panggil nama aku," ucap Elang penuh tuntutan. Kedua tangannya merengkuh tubuh Nayla dengan eratnya. Matanya menatap sayu dan hangatnya deru nafas Elang dapat Nayla rasakan di puncak kepalanya.
"Sa-sayang...," Cicit Nayla hampir tak terdengar. Elang selalu mampu membuatnya lemas bagaikan jelly.
"Good girl," ucap Elang dan ia pun uraikan pelukannya dengan perlahan.
"Mmhhh sebaiknya kita cepat-cepat l pergi ke bawah. Mami dan Amelia pasti mencari kita," ajak Nayla takut-takut.
"Sebentar lagi," tahan Elang.
"Kenapa kamu mengajak aku kemari ?"
" Apa saja yang Amelia katakan padamu ?" Bukannya menjawab, tapi Elang malah balik bertanya pada kekasihnya itu.
"Rahasia !" Jawab Nayla sambil tertawa.
"Apa dia cerita kenakalan aku dulu ? Atau cerita kebiasaan jelek aku ?"
"Rahasia !" Jawab Nayla lagi sembari menghindari tangan Elang yang hendak menggelitiknya.
" Apa Amelia masih menentang hubungan kita ? Karena kalau iya, aku akan membawamu kawin lari," lanjut Elang dan lagi-lagi Nayla menjawab "rahasia!" Sembari menghindari gelitikan tangan Elang.
Nayla hamlpir terjatuh ke atas ranjang dan Elang yang berusaha untuk menahan gadisnya itu agar tak terjatuh malah menindihnya.
Kini tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Hanya terhalang oleh pakaian yang masih melekat sempurna di tubuh keduanya.
Pandangan mata keduanya saling terkunci dengan nafas memburu tak beraturan.
Dapat Elang rasakan tubuh hangat Nayla dalam kuasanya. Dan Nayla dapat merasakan tubuh kekar Elang menguasainya.
Kedua mata mereka telah sama-sama meredup sayu. Elang menatap Nayla penuh damba, sedangkan Nayla menatap Elang penuh puja.
Tak tahan lagi, Elang pun membenamkan bibirnya dia atas bibir Nayla dengan sempurna. Lalu ia mengulumnya rasa-rasa dan Nayla membalas dengan cara yang sama. Keduanya memejamkan mata dan menikmati ciuman mereka.
Elang ingin perdalam ciumannya tapi teriakan sang Mami menyadarkan keduanya dari kegiatan tersebut.
"El.. Sa-sayang...," Lirih Nayla saat kesadarannya telah kembali ke tempatnya.
Elang pun segera menarik tubuhnya dari atas tubuh Nayla dan membantu gadisnya itu untuk bangkit. "Maafkan Aku," cicit Elang.
Ia membantu Nayla untuk merapikan diri. Elang sisir rambut kekasihnya itu dengan jemari agar rambut Nayla yang panjang tidak terlalu berantakan.
Nayla terdiam membisu. Bagaimana mungkin ia hanya menyalahkan Elang saja, karena dirinya pun membalas ciuman Elang sama inginnya.
Diamnya Nayla membuat Elang menyimpulkan jika gadisnya itu merasa marah dan juga kecewa padanya. Elang benar-benar merasa bersalah.
"Nay... Maafin aku..," lirih Elang lagi.
"Sudahlah... Ini gak semuanya salah kamu. Kita emang gak boleh berdua-duaan," sahut Nayla.
"Aku janji untuk bisa lebih menahan diri. Aku sayang banget sama kamu,Nay. Maafin aku,"
Nayla tersenyum, mengisyaratkan bahwa ia telah memaafkan kekasihnya itu.
***
"Kalian dari mana ?" Tanya Mami Elang yang sudah duduk di meja makan dengan suaminya. Tak ada Amelia di sana.
" Tadi Nayla ingin ke toilet, dan Amelia sedang menggunakannya. Jadi Elang anterin Nayla ke toilet yang lainnya," jawab Elang yang merasa beruntung karena sang adik belum menampakkan dirinya.
"Tapi kamu gak apa-apain Nayla kan ?" Tanya sang Papi galak.
"Nggak lah Pi, ini Nayla di sini tanpa kekurangan sesuatu apapun," jawab Elang. Takut-takut Elang melirik Nayla dengan ujung matanya.
Mami Elang yang sedang sibuk melayani suaminya itu pun memberikan komentarnya. "Papi takut kamu kaya dia, El," ucap Mami Elang.
"Papi juga dulu orangnya jutek, judes, dingin, sampai Mami frustasi deketinnya. Tapi setelah resmi pacaran ngajakin mojok terus dan ganasnya luar biasa," lanjut Mami Elang yang kini mendapatkan delikkan mata sengit dari suaminya. Elang dan Nayla yang melihat itu menahan tawa mereka agar tak meledak.
Tak lama Amelia pun datang bergabung dengan mereka. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. " No phone saat kita makan, Sayang," peringat Maminya.
Sudah menjadi peraturan tak tertulis dalam keluarga Elang jika tak seorangpun boleh memainkan ponselnya saat makan bersama.
"Sudah aku simpan, Mi," jawab Amelia.
Baru saja Amelia mengisi piringnya dengan banyak makanan tapi ponselnya kembali berdering. "Orang gila," sahut Amelia pelan saat ia melihat nomor tak dikenal tertera di layarnya.
"Siapa ?" Tanya papi Elang penuh selidik.
" Gak tau, gak kenal," jawab Amelia singkat tanpa mau mempedulikannya.
Suara dering ponsel kembali terdengar. Kali ini sumber suara itu bukan berasal dari ponsel milik Amelia melainkan berasal dari ponsel milik Elang yang berada dalam sakunya.
Karena peraturan di rumah itu adalah tak boleh menerima telepon saat makan bersama maka Elang pun menolak panggilan itu berulang kali. Hingga pada akhirnya orang itu menyerah dan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Elang.
Elang mencuri-curi kesempatan untuk membaca pesan singkat itu saat Maminya tengah fokus melayani sang Papi.
Cepat-cepat Elang membacanya. "El, bilang sama adek lu yang judes itu angkat telepon gue. Please...,"
to be continued
thanks for reading 🥰
jangan lupa komentar yang banyak ya
jangan lupa juga like vote dan hadiah