
"Apa-apa ?" Tanya Rafa antusias.
"Kita pergi berempat !! Lo akan pergi sama gue, adik ipar," jawab Elang sambil tersenyum miring penuh arti.
Rafa langsung terdiam terpaku dengan mulut sedikit terbuka dan mata membola. Sendok yang Rafa pegang pun tiba-tiba terjatuh dan beradu dengan piring hingga menimbulkan bunyi dentingan yang cukup nyaring. Semua mata kini tertuju padanya.
"Salah Rafa apa yaa Allah ??" Raungnya tak terima.
"Gue gak mau pergi sama elu, El. Gue mau sama sayangnya Rafa aja berduaan," lanjutnya lagi sembari merangkul pundak sang istri dengan erat.
"Kata Oma kalau bisa dalam bulan ini kita berangkat," sahut Elang yang tak peduli dengan raungan adik iparnya itu.
"Ogah El ! Gak mau sama elu !" Tolak Rafa.
"Sayang banget lo gak bisa nolak," sahut Elang sambil tertawa puas.
Rafa mencebikkan bibirnya kesal, ia sendokan nasi yang ada di atas piring dengan kasar dan memasukkannya ke dalam mulut. "Ya elah belum juga lepas perjaka masa diikutin mulu," batin Rafa dalam hati.
Jika saatnya tiba, Rafa ingin melakukannya dengan penuh perasaan. Ini adalah tentang Amelia, gadis yang Rafa cintai sejak lama. Gadis yang menjadi cinta pertamanya. Rafa ingin melakukannya dengan pelan-pelan, dan menikmati setiap momen yang tercipta. Ia akan melakukannya dengan penuh cinta bukan hanya sekedar melampiaskan nafsu semata.
"Ini pasti menyenangkan pergi berempat. Kita bisa jalan-jalan sambil shopping,Nay," sahut Amelia. Sudah terbayangkan akan berjalan-jalan dan belanja bersama sahabatnya itu.
"Terus aku gimana, Yang ?" Rafa pun mulai merajuk.
"Tentunya sama kamu juga, aku gak mungkin pergi kemana-mana kalau gak sama kamu," jawab Amelia menbuat Rafa kembali mabuk karena cinta.
Matanya berbinar bahagia dengan senyum lebar si bibirnya hingga deretan gigi putihnya yang rapih terlihat jelas.
"Sayangnya Rafa selalu bisa bikin hati Rafa goyang Pantura," sahut Rafa sembari meraih jemari istrinya dan mencium punggung tangan gadis itu.
Elang tercengang mendengarnya begitu juga Nayla. Sedangkan Amelia tersenyum samar dengan pipi merona merah.
Nayla tersenyum melihat Amelia sang sahabat yang saat ini terlihat bahagia. Rafa memang yang terbaik untuknya.
Setelah itu ke empatnya membicarakan tentang rencana perjalanan bulan madu mereka nanti. Meskipun pada awalnya Rafa merasa enggan tapi pada akhirnya ia menyetujui. Rafa tak ingin menjadi menantu durhaka bagi sang Oma.
"Tapi harus ada rencana perjalanan ke kota Paris ya. Gue udah janji untuk membawa orang yang paling gue cinta ke kota itu," sahut Rafa sembari menatap hangat pada Amelia.
"Ok, di sana kita bisa bepergian menggunakan kereta dari satu negara ke negara lainnya. Lu pasti udah tahu kan ?" Tanya Elang.
"Hu'um," Rafa menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Dan Rafa udah gak sabar untuk menjelajahi dunia ini sama sayangnya Rafa," ucap Rafa pada istrinya.
Amelia yang mendengar itu menatap Rafa dengan pandangan mata penuh binar bahagia.
***
Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk bersarapan sembari membicarakan banyak hal. Termasuk rencana kepulangan pasangan pengantin baru itu.
Amelia masih belum tahu setelah ini ia akan pulang kemana. Tapi satu hal yang pasti ia akan mengikuti kemanapun Rafa membawanya.
"Sayang, kita mau cek out hari ini atau sayangnya Rafa masih ingin tinggal di hotel ?" Tanya Rafa.
Amelia terdiam. Ia berpikir untuk sesaat. Sepertinya percuma juga berlama-lama di hotel karena keadaan dirinya yang sedang berhalangan "Kita pulang aja ya," jawabnya.
"Baiklah, kita akan pulang hari ini," jawab Rafa.
Amelia merasa tak percaya jika kini dirinya telah hidup di dunia yang baru. Kini ia akan mengabdikan diri pada Rafa sang suami. Mereka akan hidup bersama dan menghadapi segala tantanganya dengan bergandengan tangan.
***
Waktu untuk meninggalkan hotel pun tiba. Keduanya mengemas barang dan bersiap-siap untuk pulang. Ada yang berubah saat ini. Wajah Amelia terlihat sendu tak bahagia. Ia lebih banyak diam dari sebelumnya.
" Masih sakit ?" Tanya Rafa penuh perhatian.
Amelia tolehkan kepalanya dan melihat pada Rafa yang sedang mencemaskannya.
Rafa hentikan kegiatannya berbenah. "Hei, kenapa ngomong begitu ?" Tanya Rafa sembari berjalan mendekati Amelia dan mendapati mata istrinya telah berkaca-kaca.
"Bohong jika Rafa tak menginginkan itu karena aku adalah lelaki normal yang sangat cinta kamu," ucap Rafa dan itu membuat Amelia semakin merasa bersalah. Ia tundukkan kepalanya hingga air bening yang sedari tadi ditahannya pun mulai tumpah.
"Tapi....," Rafa menjeda ucapannya dan mengangkat dagu sang istri agar melihat ke arahnya.
"Tapi ada yang lebih membahagiakan dari itu semua," lanjut Rafa seraya menatap dalam mata Amelia yang merah karena tangisnya.
"Apa ?" Tanya Amelia sendu.
Rafa tersenyum penuh arti sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Rafa bahagia banget bisa nikahin Amelia. Gadis yang Rafa cintai dengan sepenuh hati. Tahukah kamu ? Rafa cinta mati sama Amelia, sampai-sampai tak ingin nikah kalau bukan sama kamu. Walaupun kita belum bisa melakukannya, tak apa-apa. Begini saja Rafa udah bahagia banget," jawabnya sembari tundukkan kepalanya dan mengecup mesra bibir istrinya.
Rafa hanya melakukan ciuman singkat karena masih banyak hal yang harus mereka lakukan.
"Rafa cinta banget sama kamu," ucap Rafa menyatakan perasaan cintanya.
"Dari dulu Rafa cinta kamu, dan kini rasa cinta itu semakin bertambah-tambah,"lanjutnya lagi. Kali ini Rafa berbicara dengan serius tanpa ada kekonyolan di dalamnya hingga membuat Amelia merasa haru bahagia.
"Terimakasih," ucap Amelia seraya memeluk erat tubuh suaminya itu. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rafa. Amelia tersenyum dan juga menangis haru di saat yang bersamaan.
Rafa lingkarkan kedua tangannya dengan erat di tubuh sang istri dan memberikan banyak kecupan penuh rasa sayang di puncak kepala Amelia.
***
"Kita mau kemana ?" Tanya Amelia saat keduanya sudah berada di dalam mobil Rafa.
Amelia bertanya seperti itu karena kuda besi yang ia tumpangi tak memilih arah ke rumah Rafa juga tak memilih jalan yang menuju rumah orangtuanya.
"Pulang," jawab Rafa sembari menolehkan kepalanya pada sang istri dan melengkungkan senyumannya. Setelah menikah, kini bibir Rafa lebih banyak tersenyum.
" Aku tahu kita akan pulang, tapi kemana ?"tanya Amelia terheran.
"Ke tempat yang seharusnya kita berada," lanjut Rafa.
Cukup lama Rafa berkendara dan akhirnya ia membelokkan mobilnya ke sebuah apartemen yang cukup terkenal di kota Jakarta.
Amelia memicingkan matanya saat melihat bangunan tinggi dengan banyak kaca itu.
"Disinilah rumah kita sekarang. Maaf aku tak bisa memberikanmu yang mewah tapi sayangnya Rafa adalah ratunya sekarang," ucap Rafa sembari memberhentikan laju mobilnya dengan sempurna.
"A-apa ?" Tanya Amelia tak percaya.
"Hanya apartemen ini yang letaknya paling strategis untuk sayangnya Rafa. Karena hanya apartemen ini yang letaknya paling dekat dengan rumah sakit tempat Ayang kerja. Dan apartemen ini juga yang letaknya paling dekat dengan apartemen Nayla dan Elang," jelas Rafa.
"Ya Tuhan...," Gumam Amelia tak percaya.
"Rafa akan banyak bertugas ke luar negeri, begitu juga Elang yang mendapatkan tawaran posisi yang lebih bagus di perusahaannya dan sepertinya ia akan mengambilnya karena Nayla pun mendukungnya, jadi selama kami pergi. kalian bisa saling berdekatan" jelas Rafa lagi.
"Tadinya aku mau membeli apartemen di tempat yang sama dengan l Elang tapi ternyata sudah tak ada yang kosong. Rafa harap sayangnya Rafa su-"
"Aku suka," potong Amelia cepat. Padahal dirinya belum melihat bagaimana isi apartemen yang baru di beli suaminya itu.
Tapi Amelia sangat bahagia karena Rafa menepati janjinya. Ia menjadikan dirinya sebagai satu-satunya ratu dalam rumah tangga mereka.
Padahal Rafa adalah anak tunggal dan rumah yang lelaki itu tinggali cukup besar dan mewah. Masih bisa untuk menampung keduanya. Tapi Rafa lebih memilih untuk hidup mandiri walaupun ia harus memulainya dari 0.
"Apartemennya masih sangat standar. Nanti sayangnya Rafa yang atur semuanya karena itu adalah rumah kita dan kamulah ratunya,"
bersambung..
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya
terimakasih ♥️