
Rafa menyerahkan ponsel serta air Bud milik Elang setelah ia selesai mendengarkan hampir seluruh rekaman. Walaupun Tak semuanya Rafa dengar tapi pemuda itu bisa menyimpulkan bahwa Leo dan Vony adalah dua orang yang sangat jahat dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Rafa menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar
"Setelah ini rencananya apa, El ?" tanya Rafa sambil berbisik.
"Gue mau ngasih lihat rekaman ini sama bokap gue, " jawab elang dengan cara yang sama.
Rafa manggut-manggut paham, ia tahu jika Papi Elang sedang menyelidiki ini semua. Tapi karena ayah Leo adalah seorang pejabat dan orang yang berpengaruh di kota itu membuat Papi Elang sedikit kesulitan dalam memecahkan masalah.
"Semoga setelah masalah ini kelar, gue bisa secepatnya pergi," lanjut Elang sambil memelas.
Rafa yang mendengar itu langsung melihat pada Elang. Menatapi sang sahabat yang sedang sibuk menulis. Sebenarnya Elang adalah seseorang yang yang sangat baik hati dan Rafa suka berteman dengannya. Hanya saja dulu pergaulan Elang memang kurang baik.
"Ngapain sih El, lu harus pergi segala ?" Tanya Rafa sambil kembali berbisik. Belum apa-apa Rafa sudah takut kehilangan Elang.
"Biar gue nggak nyusahin orang-orang melulu," jawab Elang dengan entengnya.
" Kok ngomong gitu sih, El? Nyusahin apaan ? Lo kan ke mana-mana nggak minta gue gendong,"
Elang tolehkan kepalanya pada Rafa yang setengah merajuk. "Lu kemarin babak belur juga gara-gara gue, Fa," jawab Elang dengan tersenyum kecut mengingat kondisi Rafa yang sangat memprihatinkan hanya gara-gara Rafa menjadi sahabatnya.
"Kalau jodohkan gak akan ke mana, kita bisa ketemu lagi," ucap Elang sambil tertawa kecil.
Rafa yang mendengar itu bergidik ngeri. " Gue maunya berjodoh sama adik lu, sama elu sih ogah. Kalau 'belok' juga gue milih-milih, El," jawab Rafa penuh ledekan.
"Siallan lu," ucap Elang sembari menampar halus bahu sahabatnya itu.
Lalu Rafa mengingat kejadian tadi di kantin, saat Nayla menyetujui kencannya dengan Maxi. "Mending lu pikirin gimana Nayla, emangnya dia nggak akan ada yang naksir pas lu tinggal pergi ?" Tanya Rafa dan itu membuat Elang langsung meletakkan ballpoinnya di atas buku. Pikirannya langsung tertuju pada Nayla.
"Lo nggak tahu kan kalau Nayla mau pergi dating?" Panas Rafa.
"Dating apaan ?" Tanya Elang dengan tatapan matanya yang tajam.
"Dating !!! Kencan elah, pacaran !!!" Jawab Rafa.
Tanpa sadar Elang pun langsung berdiri sambil menggebrak meja dengan keras ketika ia mendengar ucapan sahabatnya itu.
Sontak apa yang Elang lakukan membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Bapak guru dan seluruh temannya yang berada di dalam kelas langsung melihat ke arahnya
"Kenapa El ?" Tanya Pak guru.
"Mmm... Ini Pak, Rafa katanya sedikit pusing," ucap Elang bohong sambil menarik pundak Rafa agar sama-sama berdiri seperti dirinya.
"Pusing apaan ?" Tanya Rafa dengan wajah polosnya dan Elang langsung memelototkan matanya agar pria itu diam.
"Pak, saya izin antarkan Rafa dulu ke UKS ya,"
Pak guru melihat ke arah Rafa dan ia pun sadar jika anak didiknya itu baru hari pertama mengikuti kegiatan belajar mengajar lag i." Oh iya, kamu baru sembuh ya Fa ? Sebaiknya jangan memaksakan diri ayo sana ke UKS istirahat, " sahut pak guru yang masih sibuk menulis di papan tulis.
" Gue udah sehat, El," bisik Rafa pada temannya itu tapi Elang tak mau mendengarnya Ia tetap menyeret paksa tubuh Rafa agar keluar dari kelas.
" Nayla mau pergi pacaran sama siapa? Maxi?" Tanya Elang beruntun saat mereka sudah berada di luar kelas.
Rafa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban karena saat ini Elang tengah meremas kuat kerah kemeja Rafa dengan kedua tangannya.
" Sabar El, sabar... Dan lepaskan cakalan tangan lo dari baju gue, "ucap Rafa.
" Lo tau dari siapa, Fa ?" Tanya Elang dengan wajah cemasnya.
" Kapan mereka akan pergi kencan dan di mana tempatnya? " Tanya Elang lagi dengan beruntun tanpa memberikan Rafa kesempatan untuk berbicara.
"Makanya tenang dulu El, masa kita bahasnya di sini ntar ada guru yang lewat,"
"Jadi gimana ?" Tanya Elang.
"Ayo kita pergi ke taman belakang sekolah," ajak Rafa pada Elang.
Di belakang sekolah mereka memang terdapat sebuah taman dan beberapa bangku kayu yang bisa diduduki. Biasanya sebagian siswa akan berkumpul di taman itu ketika waktu istirahat. Tapi jika jam-jam pelajaran seperti ini tempat itu akan kosong dan sepi.
Elang pun menuruti apa kata sahabatnya itu. Mereka berjalan beriringan dan akan mengatakan bahwa keduanya hendak pergi ke UKS setiap ada orang yang bertanya.
Disinilah mereka, duduk berdua di bangku taman dengan wajah Elang yang ditekuk karena masih merasa resah, cemburu, dan takut.
Takut jika Nayla benar-benar jatuh cinta pada pemuda lain, selain dirinya. Elang pun menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menenangkan diri dan mengontrol emosi.
Kalau saja Elang mengikuti hawa nafssunya, Elang yakin saat ini dirinya sudah memberikan bogem mentahnya pada Maxi tanpa ampun. Ia tak akan berhenti walaupun pemuda itu memohon dan mengiba agar Elang berhenti. Suruh siapa berani-beraninya mendekati Nayla-nya. "Nayla-ku," lirih Elang sembari terduduk lesu dan meraup wajahnya frustasi.
" Ya udah sih, El... Biarin Nayla bahagia, toh bentar lagi juga lo pergi...," Spontan Rafa mengehentikan ucapannya saat ia dapati tatapan nyalang dari Elang.
Elang menyipitkan matanya, melihat Rafa bagai buruan. Nafasnya menderu tak beraturan. " Nayla punya gue, dan akan selalu begitu," ucap Elang tanpa ragu.
" Terus lo mau ngapain ? Mau nekan si Maxi kaya si Arya ?" Tanya Rafa, tapi sedetik kemudian ia terkekeh geli.
"Kenapa lo ?" Tanya Elang.
"Kan disini tempatnya gue, Rendi dan anak-anak yang lain nekan si Arya," jawab Rafa saat dia ingat bagaimana menakut-nakuti pemuda bernama Arya agar menjauh dari Nayla. Tentunya dengan perintah dari Elang.
" Kapan mereka pergi kencan ?" Tanya Elang.
"Denger-denger sih hari Minggu besok jam 01.00 siang di mall xxx,"
"Masih ada waktu 2 hari hingga hari kencan mereka," ucap Elang sambil berdiri.
"Lo mau bikin si Maxi kaya si Arya ? Biar gue sama Rendi....,"
"Gak usah, kali ini gue yang bakal beresin sendiri," ucap Elang lalu ia pun pergi meninggalkan taman itu.
"Woiiii El !!! Elo yang ngajakin gue keluar kelas, lu juga yang ninggalin," teriak Rafa yang tak terima dirinya ditinggalkan.
Elang berjalan meninggalkan Rafa sendirian. Pemuda jangkung itu terlihat lebih dingin dari biasanya. Ia melihat datar pada setiap orang yang berpapasan dengannya, bahkan Elang pun tak membalas setiap sapaan mereka.
Elang berdiri sebentar tepat di pintu kelas Maxi. Senyum seringai muncul di wajahnya yang tampan. Ia tak akan pernah merelakan Nayla pada siapapun.
to be continued ♥️
bismillah crazy up 🤩
pantengin yaaa