The Unexpected Love

The Unexpected Love
Fitting Baju Pengantin



Seorang gadis berdiri di dalam toilet dengan wajah pucat pasi. Ia baru saja mengeluarkan isi perutnya karena rasa mual yang menderanya. "Ya Tuhan...," Gumamnya pelan sembari membersihkan bibirnya dengan air.


Sudah beberapa bulan ini gadis berambut cokelat dan judes itu menjalani koasnya sebagai dokter dan selama itu juga ia masih tak tahan dengan darah dan yang lainnya.


"Bagaimana aku mau jadi crazy rich aunty jika seperti ini terus," keluhnya kesal.


Amelia tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia lebih suka untuk bepergian keliling dunia atau apapun itu yang berkaitan dengan traveling dan menjelajah.


Ia lebih suka dengan pakaian dan makanan. Cita-citanya sebagai model profesional atau chef tak pernah kesampaian karena sang ayah menentangnya.


Disinilah ia sekarang. Menjadi dokter koas di tempat yang sama dengan ayahnya. Amelia merasa terjebak dalam dunia yang tak diinginkannya.


Mungkin salah satu jalan untuk lari dari ini semua adalah sebuah pernikahan tapi sayangnya Amelia tak lagi percaya dengan yang namanya cinta.


"Cinta tak diciptakan untukku," Amelia mengatakan itu berulang kali agar ia tak lagi berharap dengan sesuatu yang berhubungan dengan kata cinta. Kata-kata itu Amel jadikan mantra seperti halnya Nayla sang sahabat yang juga punya kata-kata mantra.


Tok-tok.


"Ada orang di dalam ?" Terdengar seseorang mengetuk pintu toilet karena Amelia yang telah terlalu lama berada di dalamnya.


"Ya.. tunggu," cepat-cepat Amelia membersihkan diri. Saat ini ia berada di dalam toilet yang berada di ruang gawat darurat.


Tadi, dirinya langsung berlari saat usai membantu memberikan pertolongan pada korban kecelakaan lalu lintas.


Amelia menarik nafas dalam sebelum ia keluar dari toilet itu. Berusaha menenangkan dirinya dan melanjutkan hari yang pastinya akan terasa sangat berat.


Wajah Amelia masih terlihat pucat saat ia duduk di bangkunya. "Mel, dari tadi ponsel kamu yang ada di dalam tas getar-getar terus ," ucap seorang gadis bernama Cindy yang juga sama seperti dirinya sedang mekar dokter koas.


"Oh ok. Makasih," sahut Amelia.


"Kamu masih mual ?" Tanya gadis itu.


Amelia tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Dan tentu saja Amelia berbohong. Ia masih saja merasa mual tapi tak ingin mengakuinya.


"Mel, lusa kamu kebagian jaga malam ya ?" Tanya Cindy.


" Hu'um," jawab Amelia singkat. Sungguh ia tak bersemangat jika harus berbicara tentang pekerjaannya.


Amelia membuka tasnya dan melihat panggilan dari nomor tak dikenal lagi. Rupanya si penelepon tak menyerah walaupun Amelia telah memblokir dua nomor sebelumnya.


Amelia melihat ada beberapa pesan singkat dan salah satunya berasal dari sang sahabat, Nayla.


Hari ini setelah pulang kerja, Nayla mengajaknya untuk pergi ke butik dan membantunya memilih kebaya pengantin. Mata Amelia berbinar bahagia saat membacanya.


Jika pada awalnya gadis itu tak suka dengan rencana pernikahan Nayla dan kakaknya sendiri tapi sekarang Amelia lah yang paling mendukungnya. Malah ia banyak membantu Nayla untuk menyiapkan pernikahan yang akan digelar sekitar sebelas Minggu lagi itu.


Mungkin begitulah jika memang jodoh. Nayla menunggu Elang sepuluh tahun lamanya untuk saling menyatakan perasaan. Dan hanya dalam beberapa Minggu saja mereka akan meresmikan hubungan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Semua serba sat set karena waktu mereka yang sangat terbatas tapi anehnya apapun yang Nayla dan Elang inginkan untuk pernikahan mereka pasti akan didapatkan. Tuhan benar-benar memberikan kemudahan dalam hal ini.


Di mulai dari wedding organizer ternama yang sangat padat jadwalnya. Tapi untuk pernikahan Nayla-Elang yang terbilang dadakan, WO itu dinyatakan bisa untuk digunakan jasanya.


Termasuk hotel yang Nayla inginkan untuk diadakannya resepsi pernikahan. Katanya sudah penuh jadwal tapi tiba-tiba mereka mengabari jika tanggal sekian, Nayla dan Elang bisa menggunakannya.


Juga designer kebaya pengantin yang menjadi pilihan Nayla. Sangatlah sibuk hingga tak bisa melayani, tapi nyatanya hari ini Nayla diminta untuk datang ke butik mereka.


Jika memang sudah waktunya menikah, maka Tuhan mudahkan semuanya.


Amelia pun membalas pesan Nayla dan mengatakan jika ia sangat senang dan tak sabar untuk menemaninya.


Di daftar pesan Amelia, urutan paling atas diduduki olehnomor tak dikenal itu. Ternyata ia telah mengirimkan banyak pesan. Isinya selalu sama yaitu permintaan maaf dan memohon pada Amelia untuk menerima panggilannya. Laki-laki itu mengatakan jika dirinya ingin segera bertemu tapi saat ini ia masih berada di luar negeri karena urusan pekerjaannya.


Dan untuk ke sekian kalinya Amelia memblokir nomor asing lagi. Ia tak ingin berurusan dengan pria terutama yang bernama Rafa.


***


Amelia amati Nayla yang tengah mencoba kebaya untuk acara akad. Sahabatnya itu terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih padahal wajahnya tanpa riasan make up.


"Cantik banget,Nay," puji Amelia tulus.


Di sana tak hanya ada Amelia saja, tapi juga ada Nadia yang tentunya bersama sang suami yang selalu menempel padanya. Juga Bimo beserta calon istrinya.


Alex berada di ruangan lain bersama Bimo dan Elang yang sama-sama sedang mencoba jas mereka. Pernikahan Bimo dan Elang hanya berselang 1 bulan saja.


"Kamu gak mau nyoba, Mel ? Iseng-iseng aja," tanya Nadia.


"Gak ah, Mbak ngapain ?" Tanya Amelia sambil tertawa.


Amelia edarkan pandangannya ke sekeliling dan ia melihat banyak kebaya juga gaun pengantin yang dipajangkan di sana. Cantiknya desain mereka membuat Amelia menjadi ingin mencobanya.


"Aku cobain gaunnya gak apa-apa ya, Mbak ?" Tanya Amelia.


" Nggak, ayo pilih ! Mbak bantu ya," Nadia pun ikut antusias melihatnya.


Sedangkan Nayla tengah berbicara dengan salah satu pelayan butik. Mereka membicarakan tentang kebaya yang diinginkan Nayla.


Tanpa Nayla sadari Elang telah berdiri tegak di belakangnya. Laki-laki jangkung itu langsung meletakkan tangannya di atas puncak kepala Nayla dan mengacaknya gemas. Tinggi tubuh Nayla yang 165cm itu hanya sebatas dada Elang.


"Sayang... Kebiasaan !" Ucap Nayla sembari meraih telapak tangan Elang dari puncak kepalanya.


Ya akhir-akhir ini Elang sering melakukan itu. Tiba-tiba saja ia akan meletakkan telapak tangannya tepat di atas puncak kepala Nayla jika keduanya tengah sama-sama berdiri.


"Habis gemes !!" Sahut Elang. Lalu ia pun tersenyum dan berdecak kagum saat melihat Nayla dalam balutan kebaya putih pengantin.


"Wow.. cantik banget, Yang. Aku sampai nahan nafas lihatnya," ucap Elang dan itu membuat pelayan butik itu tersenyum mendengarnya.


"Bukan ini kebayanya, tapi modelnya kira-kira seperti ini. Hanya ditambah dengan payet dan detail lainnya lagi," jelas Nayla.


Elang tak menanggapinya karena ia masih terkagum-kagum pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Merasa terus diperhatikan membuat Nayla menjadi salah tingkah. "Kamu juga ganteng. Aku suka jasnya," sahut Nayla.


"Kak Bimo mana ?" Tanya Nayla lagi. Ia masih berusaha untuk mengalihkan perhatian Elang agar tak tertuju padanya terus.


"Kak Bimo lagi sama calon istrinya," jawab Elang.


" Oke, semua... Coba lihat ini....," Ucap Nadia tiba-tiba.


Nayla dan Elang pun segera tolehkan kepalanya dan melihat pada Nadia.


"Siap ya.. 1.. 2.. 3... Tadaaa !!" Ucap Nadia lagi dan munculah Amelia mengenakan gaun pengantin putih yang terlihat begitu sempurna di tubuh langsingnya.


"Oh my God.... Mirip princess Disney, Mel !!" Puji Nayla. Ia segera berjalan menuju sahabatnya itu.


" Ya ampun, Mel ! Seriusan cantik banget," puji Nayla tanpa dibuat-buat.


" Cantik banget, Mel," puji Elang tulus pada adiknya itu.


Melihat kekasih dan adiknya sendiri mengenakan baju pengantin membuat Elang mengeluarkan benda pipih dari saku celananya.


" Ayo kalian berdua lihat ke sini," titah Elang. Ia berniat untuk mengabadikannya.


"Gak mau ! Kamu mau kirim fotonya ke mana ?" Tanya Amelia curiga.


"Mami lah, biar dia bisa lihat anaknya yang cantik ini," jawab Elang dengan nada serius.


"Awas kalau kirim ke yang lain !" Ancam Amelia sembari memelototkan matanya.


"Bawel ! Cepat pose !" Titah Elang ketus.


Amelia memelototkan matanya pada Elang dan Nayla hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum manis ke arah kamera.


Tak hanya sekali Elang mengambil gambar keduanya. Nayla dan Amelia berpose dengan senyuman cantik mereka.


"Mana ? Aku pengen lihat," ucap Amelia pada kakaknya itu saat Elang selesai mengambil foto keduanya.


Amelia dan Nayla pun melihat-lihat hasil jepretan kamera Elang. "Tuh kan... Kamu cantik banget, Mel," puji Nayla.


Amelia melihat fotonya sendiri dalam balutan gaun pengantin. Ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia terus amati foto dirinya tanpa berkata-kata.


"Aku mau ganti baju dulu," ucap Amelia yang tak ingin terbawa perasaan. Ingat, ia sudah putuskan untuk tak menikah dan akan mengejar karir saja. walaupun itu bukanlah yang disukainya.


"Kirim ke Mami yang foto akunya paling jelek," titah Amelia.


Elang hanya manggut-manggut saja saat Amelia mengatakan itu.


Elang mengirimkan 2 foto yang menunjukkan Amelia dan Nayla dengan tampilan terbaik mereka. Senyuman cantik dan pose yang terlihat serius. Tak lupa Elang pun menuliskan keterangan di foto itu. "Fitting baju pengantin," tulis Elang sebelum mengirimnya pada seseorang.


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️


mumpung Senin vote yuuuuu