
Minggu siang Nayla sudah bersiap-siap. Seperti biasa, ia adalah gadis yang tak suka mengenakan pakaian kurang bahan. Cara berpakaiannya dari remaja masih terbawa sampai saat ini. Nayla masih suka mengenakan baju-baju serba panjang walaupun dirinya masih belum berhijab.
Rio berjanji akan menjemputnya pukul 02.00 siang untuk pergi menonton film dan makan di tempat yang sedang hits di kota Jakarta.
Nayla berdandan natural. Ia hanya merapikan alisnya, memakai lipstik berwarna bibir dan mengenakan pemerah pipi tipis-tipis agar terlihat lebih segar.
Ya, gadis polos itu sudah mulai mengenal makeup sederhana. Tak lupa ia semprotkan parfum beraroma vanila yang lembut di setiap titik nadinya. Tak lagi cologne bayi seperti dulu. Nayla sudah berubah, bukan gadis remaja lagi. Bentuk tubuhnya pun sudah sempurna layaknya wanita dewasa.
Sebenarnya Nayla tidak begitu bersemangat dalam menyambut kencan ini dan ia pun tak berharap banyak. Entah kutukan apa yang elang berikan padanya hingga ia selalu gagal dalam percintaan.
"Lagi-lagi Elang !!"Nayla mendengus kesal.
Ia jatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu mengambil remote televisi dan mencari-cari acara yang sekiranya menarik untuk di tonton. Masih ada sekitar 10 menit hingga waktu yang ditentukan Rio untuk menjemputnya tapi Nayla sudah selesai bersiap-siap.
Gadis itu memilih untuk menonton televisi sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa daripada ia harus menunggu pemuda bernama Rio itu di lobi apartemen. Jika Rio tak datang pun ia akan langsung tidur siang di atas sofa itu.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang tepat tapi Rio belum juga datang. Nayla pun tersenyum samar. Ia sudah menduga jika "gagal kencan" akan terjadi lagi.
Setelah yakin jika kencannya akan gagal Nayla pun menggelung asal rambutnya, lalu berdiri dan berjalan menuju lemari es. Ia ,mengambil satu botol air dingin. Tak lupa juga ia membuka laci stok makanan yang berisi banyak makanan ringan, aneka coklat dan keripik kentang. Nayla memilih untuk menghabiskan waktu menonton film di rumah saja karena ternyata dirinya tak mengantuk sama sekali padahal tadi ia sudah berencana untuk tidur siang di atas sofa.
Tanpa berganti baju lebih dulu, Nayla duduk bersila di atas sofa. Memilih icon Netflix di layar televisinya dan mencari film yang sekiranya ia akan tonton. Gadis itu menyukai film bergenre komedi romantis karena jenis film itu bisa membuatnya menangis haru bahagia karena sebuah cerita cinta padahal dirinya sendiri belum pernah merasakan suatu hubungan romantis yang sebenarnya.
Dengan Elang ?
Nayla anggap itu sebagai khayalannya saja !
Film sudah berjalan selama hampir 30 menit. Mata Nayla tertuju pada layar tv yang sedang menunjukkan adegan ciuman pertama dari pemeran utamanya.
Si gadis membolakan matanya saat si pria menciumnya dengan tiba-tiba. Tanpa sadar Nayla pun meraba bibirnya sendiri. Walaupun sudah berlalu 8 tahun lamanya tapi euforia bahagia dari ciuman pertama masih bisa Nayla rasakan dengan begitu jelasnya karena hanya Elang satu-satunya pria yang pernah mencium bibirnya.
"Aahh siaall !!" pekik Nayla. Ia terkejut karena ponselnya berdering tepat ketika ia mengkhayalkan ciuman pertamanya sehingga membuat keripik kentang yang ada dalam pangkuannya terjatuh dan berserakan di atas lantai.
Nayla pun berdiri sembari menyimpan setengah keripik kentang yang masih bisa diselamatkan. Ia melihat ke arah layar ponselnya dan melihat nama Rio di sana.
Sudah terbayang dalam benaknya apa saja yang akan dikatakan pemuda itu padanya. "Nay, maaf kita gak bisa pergi keluar karena aku ada keperluan yang lain dan selanjutnya pun kita tak bisa bertemu lagi," batin Nayla dalam hati. Jadi sebaiknya ia tak usah mengangkat panggilan itu.
Nayla lebih memilih untuk membersihkan remahan keripik kentang di baju, sofa dan juga di atas lantainya. Ia biarkan ponselnya berbunyi hingga akhirnya mati sendiri.
Setelah rapi dan bersih Nayla pun duduk kembali di atas sofa dan melanjutkan menonton film yang tadi ia jeda pemutarannya.
Namun belum juga ia mulai menonton, ponsel Nayla kembali berbunyi dan layarnya menampilkan nama Rio untuk yang ke-dua kalinya.
Malas-malas Nayla menerima panggilan itu. "Halo," ucap Nayla tanpa ekspresi.
"Halo, Nay. Kamamrmu nomor berapa ? Aku udah di bawah," jawab lelaki itu.
Nayla terdiam terpaku merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki itu. Ia pun mencubit pahanya sendiri dengan keras agar yakin jika ini bukanlah sekedar halusinasi.
"Aawww," Nayla mengaduh sakit karena cubitan tangannya sendiri.
"Nay ? Are you ok ?" Tanya Rio di ujung telepon. " Apartemen kamu nomor berapa ? Biar aku naik ke atas," lanjutnya lagi.
"Hah ? Apa ?" Nayla masih belum bisa fokus.
"Kamar apartemen kamu nomor berapa ?" Tanya Rio entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Oh.. tunggu ! Aku saja yang turun. Kamu tunggu saja di lobby," jawab Nayla cepat. Ia tak akan biarkan pria yang baru dikenalnya itu untuk masuk ke dalam apartemennya.
Nayla merapikan diri untuk sesaat. Ia membuka gelungan rambutnya lalu menyisirnya dan mengaplikasikan lipstik lagi di bibirnya. Menyambar tas dan ponselnya, Nayla pun segera pergi untuk menemui teman kencannya.
Rio berdecak kagum melihat penampilan Nayla yang sederhana namun elegan. Padahal Nayla mengenakan baju serba panjang tapi entah mengapa gadis itu terlihat sangat cantik dan menarik.
"Maaf aku terlambat karena harus mengurus dulu sesuatu," ucap Rio.
"Its ok. Padahal kita bisa mengundur janji temu ini jika kamu memang masih ada keperluan,"
"No ! Semua udah selesai kok," sahut Rio cepat. Ia tak mau Nayla berubah pikiran dan membatalkan kencan mereka.
"Pergi sekarang aja ya ?" Tanya Rio.
Nayla tak langsung menjawab, ia malah menatap wajah Rio lekat-lekat. "mmm... kamu yakin mau pergi sama aku ?" tanya Nayla yang masih tak percaya karena teman kencannya kali ini benar-benar muncul di hadapannya.
"kok nanya gitu sih ? ya pasti aku yakin banget pengen pergi sama kamu," jawab Rio sedikit terheran. " kamu gak mau pergi ? kita bisa hang out di apartemen kamu kalau kamu gak mau pergi," lanjut Rio.
" hah ? sebaiknya kita pergi sekarang saja," ajak Nayla dan Rio pun menyetujuinya.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Rio yang terparkir di halaman gedung apartemen Nayla. Pria itu tak henti-hentinya melihat pada Nayla. Sangat sulit baginya untuk mengalihkannya pandangannya ke arah lain karena kecantikan Nayla seolah-olah menghipnotisnya.
Pria itu membukakan pintu mobil untuk Nayla masuki "terimakasih," ucap Nayla dan Rio tersenyum penuh arti menanggapinya.
Tercium wangi parfum lembut perempuan saat Nayla mendudukkan tubuhnya di dalam mobil Rio. Entah urusan apa yang membuat pemuda itu datang terlambat. Nayla pun tak berusaha untuk mencari tahu karena itu bukanlah urusannya.
"Langsung nonton apa makan dulu ?" Tanya Rio saat ia telah duduk di balik kemudinya.
" Mmm... Aku sebenarnya masih belum lapar tapi terserah kamu aja." Jelaslah Nayla belum merasa lapar karena ia baru saja menghabiskan hampir satu kantong besar keripik kentang.
Mendengar jawaban Nayla membuat Rio paham. "Ya udah kita nonton aja ya ?"
"Oke," jawab Nayla singkat.
***
Sesampainya di mall keduanya langsung menuju bioskop dan memilih film yang sebentar lagi diputar dan ternyata itu adalah sebuah film horor menegangkan. Film jenis lainnya masih harus menunggu sekitar 40 menit dan itu pun paling cepat.
Setelah membeli cemilan keduanya pun masuk ke dalam bioskop. Nayla memilih untuk duduk di jajaran yang ramai oleh pengunjung lain. Ia berpikiran jika kursinya penuh maka tiga akan membuatnya terlalu takut karena kini tak ada Elang yang akan melindunginya dengan memberikan jaket hoodie hitam kesayangannya.
"Aahhh Elang....," Desah Nayla frustasi. Meskipun sedang berkencan tapi Nayla masih saja mengingat laki-laki jangkung itu.
Entah ia berada dimana dan sedang melakukan apa. "Apa kamu pun memikirkan aku seperti aku yang selalu memikirkan kamu ?" Batin Nayla dalam hatinya.
"Minuman dan makanan kamu," Rio memberikan Nayla segelas kopi dingin machiato dan roti isi coklat dan selai kacang. Keduanya adalah kesukaan Elang.
"katanya kamu belum lapar tapi kok beli roti isi ?" tanya Rio.
" keduanya adalah kesukaan aku," jawab Nayla bohong. Ia tersenyum konyol karenanya. merasa bodoh karena masih saja memikirkan Elang.
Nayla mendesaah frustasi saat sadar Elang 'tetap hadir' bersamanya padahal ini adalah kencan pertama Nayla yang tak gagal seperti sebelum-sebelumnya.
to be continued ♥️
thanks for reading 🥰
maaf telat update yaa.. jagoan aku lagi demam.
terima atas pengertiannya