
" Kamu gak apa-apa, Nay ?" Tanya Amelia saat Nayla sudah berhenti tertawa.
" Aku baik-baik aja, Mel. You don't need to worry" (kamu tak perlu khawatir ) ucap Nayla sambil tersenyum lembut.
Amelia tatapi wajah sahabatnya itu. Padahal mereka telah terpisah delapan tahun lamanya tapi seolah itu baru terjadi kemarin karena sikap Nayla yang tak berubah sama sekali.
" Are you sure ? ( Kamu yakin ? ) Kamu baru putus loh ini," tanya Amelia meyakinkan tapi ia terkekeh geli saat mengatakannya.
Nayla menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. " Seribu persen yakin, Mel ! Aku gak pa-pa kok... Kamu jangan khawatir," jawab Nayla penuh keyakinan.
" Sepertinya kamu gak cinta dia ya, Nay ?"
Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan.
" Kok bisa jadian ?" Tanya Amelia tak habis pikir.
" Aku pengen nyoba pacaran tapi ternyata gak enak, " jawab Nayla sambil tertawa. Ingin rasanya Nayla mengatakan karena ia telah putus asa menunggu Elang.
Nayla tatapi wajah Amelia. Apa yang terjadi nanti jika sahabatnya itu tahu tentang hubungannya dengan sang kakak. Apakah Amelia akan merasa kecewa juga marah padanya ?
Nayla gelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis dugaan buruk dari pikirannya. Nayla yakin semua akan baik-baik saja, dan Amelia akan mengerti mengapa Nayla tak pernah menceritakan tentang kisah cintanya dengan Elang.
Kisah cinta yang selalu Nayla kenang dan juga coba lupakan di saat bersamaan.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa waktu untuk berpisah pun telah tiba. Amelia harus kembali ke ruangan seminar. Mau tak mau Nayla harus pulang.
" Kita nonton yu, Nay ? Minggu depan gimana ? Ada film horor yang pengen aku tonton,"
Nayla tersenyum mendengarnya. Amelia tak berubah, padahal gadis itu penakut tapi tetap saja suka menonton film horor yang nyata-nyata menakutkan.
" Kita ajak si es balok kaya dulu lagi," lanjut Amelia.
" Iya, ayo ! Kabari aku saja ya," jawab Nayla. Pikirannya melayang pada waktu dulu.
Nayla ingat dirinya begitu ketakutan saat menonton film horor itu, tapi tiba-tiba saja Elang memberikan hoodie hitam miliknya agar Nayla dapar berlindung di baliknya.
Tak ada yang tahu jika wajah Nayla tersenyum sumringah di balik kain hitam itu padahal di layar sedang memperlihatkan adegan yang sangat menakutkan.
" sudah pesan taksinya ?" Tanya Amelia dan Nayla pun mengangguk sebagai bentuk jawaban.
" Ayo aku temani samapai naik mobil," Amelia berdiri dan menggandeng tangan Nayla. Semuanya mengalir seperti air bagi Amelia dan Nayla, tak ada rasa canggung sama sekali.
" Kamu langsung pulang ?" Tanya Amelia.
" Nggak, aku mau mampir ke mall untuk mencari buku novel terbaru dan juga cuci mata," jawab Nayla.
" Cuci mata cari cowok baru ?" Goda Amelia.
" Gak lah !! Aku mau cuci mata cari diskonan... Biasalah... Im just looking im not buying," ( aku hanya melihat-lihat saja tanpa membelinya) jawab Nayla sambil tertawa.
Nayla memang tertawa, tapi tetap Amelia merasa khawatir pada sahabatnya itu.
"Bukan karena masih patah hati kan, Nay ?" Tanya Amelia entah untuk yang ke berapa kalinya ia merasa cemas pada Nayla yang baru saja putus cinta.
" Nggak lah ! Ngapain patah hati sama cowok begitu ? Cuma nagbisin energi aja," jawab Nayla. " Udah aku bilang, kamu jangan khawatir," lanjutnya lagi.
" Ok, sampai ketemu lagi ya...," Amelia menarik Nayla ke dalam dekapannya dan memeluknya erat untuk beberapa saat. Setelah itu Nayla memasuki taksi online yang telah dipesannya.
***
Nayla menginjakkan kakinya di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota Jakarta. Ia berjalan berkeliling dan melihat-lihat sesuatu yang mencuri perhatiannya.
Tapi selama itu terjadi pikirannya hanya tertuju pada Elang. Kini ia sendiri, Elang juga sendiri. Bolehkah ia bersatu dengan Elang ? Tak hanya sekedar khayalan saja.
Bolehkah Nayla memiliki Elang si starbak ?
" Tapi jika momen indah itu terjadi, aku tak ingin Elang pergi atau Elang jadian lagi sama gadis lain," gumam Nayla dalam kesendiriannya.
Nayla terus berjalan menyusuri apa saja yang ingin dilihatnya. Tapi tetap saja Elang tak mau enyah dari kepalanya.
***
Amelia tiba di rumahnya saat hari mulai berganti gelap. Ia sangat kelelahan hingga menekuk mukanya. Wajah Amelia sangat tak bersahabat saat ini. Jika saja bukan sang Papi yang menjadi pembicara di seminar itu, Amelia pasti sudah melarikan diri dan ikut dengan Nayla untuk berjalan-jalan di mall. Tapi sayangnya Amelia tak bisa melakukan itu, bahkan ia pergi dan pulang pun bersama Papinya itu.
Melihat kedatangan Amelia, Elang sangat antusias. Ia tahu adiknya itu akan bertemu dengan Nayla tadi siang. Tapi melihat penampakan Amelia yang tidak ramah membuat Elang mengurungkan niatnya.
Elang juga merasa khawatir karena pesannya pada Nayla belum terbalas juga. Padahal Elang hanya menanyakan keberadaan gadisnya itu.
" Ayo makan dulu, Mami masak kesukaan kalian," ucap Mami Elang yang saat ini sedang menata makanan di atas meja makan.
Elang bangkit dari sofa yang letaknya tak jauh dari meja makan itu. Ia berjalan dan membantu sang Mami meletakkan piring-piring di atas meja.
" Ah...kamu memang yang terbaik, Elang," ucap sang Mami sembari menjinjitkan kakinya untuk mencium pipi Elang.
Elang yang tinggi tegap itu harus membungkukkan tubuhnya agar sang Mami dapat menciumnya.
" Aku, mau langsung tidur saja," ucap Amelia malas-malas.
" Makan dulu, Mel. Mami sudah masakin makanan kesukaan kamu,"
" Amel gak lapar," sahut Amelia lagi.
" Makan dulu sedikit. Mami gak mau kamu sakit,"
" Tapi aku gak lapar, Mi," timpal Amelia bersikeras.
Amelia langsung mendudukkan tubuhnya tepat di atas salah satu kursi. Jika sang Papi bersuara maka Amelia tak berani untuk mengelak lagi.
" Padahal Mami ini bawel dan galak tapi kalian masih saja berani membantah. Kalau Papi yang ngomong, langsung deh pada nurut !" Keluh Mami Elang yang ditujukan untuk Amelia.
Amelia yang disindir hanya diam saja tak menanggapi. Ia lebih memilih untuk mulai menyendokkan nasi dan lauknya ke atas piring.
Keempatnya duduk bersama dalam satu meja dan mulai menikmati makan malam mereka. " Tadi bagaimana ketemu Nayla ?" Tanya sang Mami.
Elang yang mendengar itu langsung memasang kupingnya. Ia tak ingin tertinggal sedikitpun cerita tentang Nayla.
" Baik ! Aku tak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Aku gak ketemu Nayla delapan tahun lamanya tapi dia gak berubah sama sekali. Nayla masih sangat baik seperti dulu, bahkan ia tak marah saat aku tak memberinya kabar bertahun-tahun lamanya," Amelia bercerita dengan antusias. Rasa kesal dan lelahnya sedikit berkurang saat ia menceritakan tentang sahabatnya itu.
" Nayla memang gadis yang sangat baik, Mami suka banget sama dia. Apa kamu cerita alasan kita menghilang selama ini ?" Tanya Mami Amelia lagi.
" Tentu saja aku ceritakan semua dan Nayla pun memahaminya,"
" Apa yang terjadi tadi di ruang makan ? Kenapa kamu terlibat dalam keributan ?" Kali ini Papi Elang yang bertanya.
" Mmm... Kita menangkap basah pacar Nayla yang sedang berselingkuh,"
" Uhuk uhuk uhuk," Elang tersedak makanannya sendiri saat mendengar itu.
" Minum, El," Mami elang menyodorkan segelas air pada anaknya itu dan Amelia menghentikan ceritanya. Ia menunggu Elang untuk berhenti dari batuknya.
" Kami sengaja duduk di pojok biar bisa mengobrol dengan bebas. Nah ketika sedang asik bercerita, terdengar suara-suara yang sangat menjijikan dari meja sebelah. Kami berusaha untuk mengabaikannya, tapi ternyata Nayla hafal dengan suara si laki-laki yang sedang melakukan kegiatan tak bermoral itu,"
" Astaga !! Mereka melakukan hal itu di tempat umum?" Tanya Mami Elang tak percaya.
" Hu'um Mi, jijik kan ?"
Elang mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Ia sungguh merasa marah karena bisa-bisanya Rio menyakiti Nayla dengan cara yang murahan.
" Setelah ketahuan, laki-laki itu malah menyalahkan Nayla. Dia mengatakan jika dirinya selingkuh itu gara-gara Nayla tak mau diajak bermesraan,"
" Ya iyalah gak mau ! Nayla bukan perempuan murahan," timpal Elang. Rahangnya mengeras dan kepalan tangannya semakin kuat di bawah meja. Sungguh ia tak terima Nayla-nya diperlakukan seperti itu.
" Nah iya kan ? Terus dia juga menuduh Nayla datang ke hotel untuk menjajakan dirinya,"
Emosi Elang semakin tersulut, ingin rasanya ie merobek mulut laki-laki bernama Rio itu.
" Syukurlah Nayla bisa melihatnya dengan mata sendiri. Lebih baik sakit sekarang dari pada nanti. Apalagi jika Nayla sampai menikah dengannya," timpal Mami Elang.
" Hu'um. Betul, Mi," ucap Amelia menyetujui perkataan Ibunya itu.
" Kasian Nayla," desah Mami Elang. Ia merasakan simpati pada Nayla yang dikenalnya sebagai gadis baik-baik itu.
" Tapi Nayla gak sedih kok, Mi. Anehnya lagi ia malah senang berpisah dari laki-laki itu," ucap Amelia.
Wajah Elang yang tadinya menegang karena marah kini berangsur lega. " Terus Nayla nya gimana setelah itu ?" Tanya Elang yang sudah tak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.
Papi Elang yang sedari tadi diam, memperhatikan Elang penuh maksud.
" Dia malah jalan-jalan ke mall," jawab Amelia sembari tertawa.
" Oh ke mall," Elang pun sedikit merasa lega saat tahu dimana keberadaan kekasih hatinya.
***
" Kamu mau kemana, El ?" Tanya sang Papi saat melihat Elang mengenakan jaket kulit hitam miliknya. Pemuda jangkung itu juga membawa sebuah helm di tangannya.
" Aku mau menemui Nayla dan memastikan dia baik-baik saja," jawab Elang. Ia tak lagi menutupi perasaannya pada sang ayah.
Bahkan Papi Elang sendiri tahu alasan kenapa anaknya itu ingin cepat-cepat pulang ke tanah air. Elang dengan gentle-nya menghadap sang ayah dan meminta padannya secara langsung untuk diizinkan pulang. Dalam alasannya Elang pun menyebutkan nama Nayla.
Alasan Elang diperkuat oleh Bimo yang mengatakan pada sang ayah jika ia sudah tak sanggup lagi jadi mata-mata Elang.
Bimo merasa tak enak pada Nadia yang menganggapnya mempunyai rasa pada adiknya itu. Nadia keberatan karena Bimo telah memiliki seorang kekasih. Nadia pernah mempunyai pikiran buruk pada Bimo hanya karena ia selalu mencari tahu tentang Nayla. Padahal Bimo lakukan itu semua untuk Elang.
" Hati-hati di jalan, dan jangan melakukan hal yang bodoh. Kamu mengerti ?" Peringat sang Papi pada Elang. Ia tak mau Elang melakukan kekerasan pada mantan kekasih Nayla. Papi Elang tahu jika Elang mati-matian menahan amarahnya saat makan malam tadi.
" Tenanglah, aku tak akan melakukan apa yang papi khawatirkan," sahut Elang dan ia pun berpamitan.
***
Elang lajukan tunggangannya itu secepat yang ia bisa. Dirinya sudah tak sabar untuk segera bertemu Nayla dan memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Elang yakin Nayla sudah pulang ke apartemen.
Setibanya di apartemen Nayla, Elang langsung menuju unit apartemen gadis itu. Berulang kali Elang mengetuk pintu juga memanggil-manggil nama Nayla, tapi tak ada juga jawaban dari dalam. Cukup lama Elang melakukan itu hingga Ia pun yakin jika Nayla tak belum pulang. Pada akhirnya Elang memutuskan untuk menunggu Nayla di lobi apartemen.
Elang dulu kan tubuhnya di atas kursi yang diperuntukkan bagi tamu. Tak lama seorang lelaki yang Elang kenali datang dan juga duduk tepat di hadapannya.
Elang tahu siapa laki-laki itu. Tangan Elang terkepal kuat begitu ia melihatnya. Ingin rasanya Elang menerjang tubuh laki-laki itu dan memberikan pukulan yang membabi buta karena telah berani menyakiti hati Nayla dengan kata-kata kasarnya
" What the f*ck, ngapain sih dia datang ke sini?" Maki Elang dengan suara pelan. Bibir Elang terkatup rapat dan matanya menatap tajam pada laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.
Kedua laki-laki yang duduk saling berhadapan itu menolehkan kepala mereka secara bersamaan. Keduanya melihat pada gadis yang baru saja memasuki pintu lobi. Siapa lagi jika bukan Nayla.
Bersambung...
Terima kasih yang sudah baca..
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya.
Love you...