The Unexpected Love

The Unexpected Love
Amel Gue



"Untuk apa, El ? Buat apa Amelia nekad bantuin lo kabur dari rumah ?" Tanya Rafa tak sabaran.


"Amelia bantuin gue kabur juga buat mastiin keadaan lo, Fa,"


"Hah ?" Tubuh Rafa rerasa lemas, benarkah apa yang ia dengar saat ini ? Amelia peduli padanya ?


Rafa menatap wajah Elang lekat-lekat, menunggu pemuda jangkung itu mengatakan kata "prank" tapi setelah menanti beberapa saat, Elang tak kunjung mengatakannya. Tubuh Rafa yang tadinya tegak, ini bersandar di kursinya dengan lemas. "Yaa Tuhan... Jika benar apa yang dikatakan Elang, itu berarti Amelia juga suka kan sama Rafa... tapi... Tapi... Kenapa... Kenapa... Kenapa baru saja perasaan Rafa terbalaskan, terus sekarang akan segera dijauhkan lagi," Rafa meraung-raung dalam hatinya.


"Huuwaaaaaa," raung Rafa sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja. Membuat Elang keheranan.


"Lu kenapa, Fa ?" Tanya Elang sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rafa agar pemuda itu menjawab pertanyaannya atau segera sadar dari pikirannya.


"Why... God... Why....," Raung Rafa sembari menengadahkan kedua tangannya ke atas seperti orang yang sedang berdo'a.


Elang ingin bertanya lebih jauh lagi tapi seseorang sudah menunggunya di depan pintu kelas. Seorang gadis yang masih mengenakan hoodie hitam milik Elang. "El," sapanya sembari melambaikan tangannya. Tak lupa senyuman semanis gulali yang tersemat di bibirnya dan itu hanya untuk Elang seorang.


Rafa pun melihat ke arah pintu karena sapaan Vony yang cukup keras pada Elang. "Pinky pie, lo udah datang !!" Ucap Rafa judes, tak ada senyuman sedikit pun di wajahnya. Kadar ketidaksukaannya pada Vony meningkat dengan pesat saat ia tahu Amelia akan segera pindah sekolah karena terkait serentetan kejadian yang berkaitan dengan Leo dan tentunya ada nama Vony di dalamnya.


"Pinky pie apaan sih lo ? Ngaco !!" Sahut Elang seraya menampar halus pundak sahabatnya itu.


"Pinky pie, anggota per-kuda ponian" jawab Rafa dengan mimik wajah serius. "Gue punya botol minumnya, kalau lu mau," tawar Rafa.


"Ck ! Ogah gue !" Jawab Elang yang kini paham tentang apa yang dimaksudkan oleh Rafa.


"Iya lah, satu aja bikin enek ya apalagi kudu punya barang yang bikin kita inget sama tuh kuda, pasti tambah enek," ucap Rafa dengan kejulidan yang sedang ada dalam level maximal.


"El !!!" Kali ini Vony setengah berteriak memanggil nama Elang karena pemuda itu masih saja berada di dalam kelasnya tak bergeming. Sedangkan Vony pun tak ada niat untuk masuk ke dalam kelas Elang karena ia ingin semua warga sekolah tahu jika dirinya dan Elang masih bersatu, masih baik-baik saja. Maklumlah, Vony takut ada paparazi yang menyebar fitnah atau berita tak benar tentang dirinya.


Dengan terpaksa Elang pun pergi menemuinya. Ingat, tujuan Elang untuk mendapatkan informasi mengenai Leo belumlah tercapai. Jadi ia masih harus bermanis-manis ria pada kekasihnya itu. Elang masih harus memainkan perannya sebagai kekasih idola tahun 2022. Syukur-syukur kalau Elang sampai dapat hadiah, tapi siapa yang mau memberinya ? Elang hanya bergantung pada kebaikan reader untuk memberikan like, komen, vote dan hadiah mereka. ( Maaf konten mengandung palakkan )


Sebelum beranjak dari tempatnya berdiri, Elang menarik paksa kedua ujung bibirnya agar ia terlihat tersenyum. Dan dengan malas Elang memutar tubuhnya untuk melihat pada Vony. "Tunggu," kata Elang sembari berjalan mendekatinya masih dengan senyuman yang dipaksakan.


Sedangkan Rafa, ia tengah dikerubungi oleh teman-teman sekelas yang menanyakan kabar pemuda itu. Dengan senang hati Rafa menjawab pertanyaan-pertanyaan para temannya itu sebelum mereka pergi ke kantin untuk mengisi perut.


***


Rafa berjalan bergerombol menuju kantin sekolah. Pikirannya masih kacau karena memikirkan gadis galak yang ternyata peduli padanya.


Rafa langsung melihat kehadiran Amelia di salah satu bangku kantin. Walaupun banyak siswa lainnya tapi bagi Rafa hanya Amelia yang paling terlihat mata.


Mata Rafa membulat penuh saat ia melihat dua orang laki-laki berseragam sekolah seperti dirinya duduk satu meja dengan Amelia. Dan gilanya lagi, Amelia terlihat tertawa-tawa dengannya.


Darah Rafa mendidih karena rasa cemburu. Ya, ia tak rela gadis yang disukainya bercengkrama dan bercanda ria dengan pemuda lain.


Bukannya memesan makanan, yang rafa lakukan adalah langsung mendatangi meja Amelia. "Mel...," Sapa Rafa dengan wajah merah padam menahan rasa marah.


Maklumlah baru kali ini Rafa naksir seorang gadis, walaupun dulunya ia pernah berpacaran dengan gadis lainnya. Itu pun terjadi karena Rafa tak tega menolak pernyataan cinta gadis itu. Tapi untunglah hubungan tanpa cinta itu hanya berlangsung beberapa Minggu saja karena si gadis memutuskan tali cinta mereka dengan alasan Rafa yang tak pernah perhatian.


Bagaimana mungkin Rafa bisa perhatian, kalau hatinya tidak mencintai gadis itu. Berbeda dengan Amelia, Rafa memang merasakan getaran aneh namun menyenangkan saat ia melihat gadis judes itu.


Amelia menghentikan tawanya dan melihat heran pada Rafa karena pemuda itu terlihat menekuk muka. "A-apa ?" Tanya Amelia.


Bukannya menjawab pertanyaan Amelia, Rafa malah melihat heran pada dua laki-laki yang ternyata adalah adik kelasnya dan mereka sama-sama satu grup basket dengan Rafa.


"Maxi, lu ngapain duduk di sini sama Amel gue, eh Amelia ??" Tanya Rafa dengan sedikit emosi.


Semua yang duduk di bangku itu senyum-senyum sendiri saat mereka mendengar Rafa salah menyebutkan nama. "Amelia" menjadi "Amelgue".


Begitu juga Maxi yang mengulum senyum geli di bibirnya. "Gue gak ngomong sama Amel lu tapi sama Amel temen gue dari SMP, tapi paling pokoknya sih gue lagi ngobrol sama Nayla, iya kan, Nay ?" jawab Maxi. Intonasi suara pemuda itu berubah lembut saat menyebutkan nama Nayla.


"Kenapa semuanya jadi begini ? Rafa gak sekolah berapa lama sih sampai berasa di tempat aneh karena gak tau apa-apa," gumam Rafa terheran. Saat ini situasinya sangat berbeda dengan 2 Minggu lalu.


Elang yang menyukai Nayla kini sudah bersama gadis lain. Nayla yang malu-malu pun kini sudah dengan terang-terangan makan siang dengan pemuda lain.


"Eh ini masih tahun 2022 kan ?" Tanya Rafa yang dijawab dengan anggukan kepala oleh semua yang duduk satu meja dengan Amelia.


"Eh terus lu, Dika ! Ngapain duduk disini sama Amel gue eh Amelia ? Astaghfirullah lidah Rafa belibet banget sih," ucapnya gelagapan hingga memancing senyum orang-orang yang mendengarnya.


Pemuda yang bernama Dika itu terheran karena melihat Rafa yang melotot marah padanya. "Gu-gue kan cowoknya si Zia temen Amelgue eh Amelia," jawab Dika yang ikut-ikutan gelagapan.


Amelia memelototkan matanya pada Dika yang ikut-ikutan salah dalam menyebutkan namanya.


"Hah ? Oh ya ? Lupa gue," sahut Rafa sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal. Sebenarnya ia menjadi malu sendiri dengan rasa cemburu butanya dan marahnya yang tak beralasan karena ia sebenarnya bukan apa-apa bagi Amelia. Dia tak memiliki hubungan apapun dengan gadis galak itu.


" Nah lu ngapain ke sini ?" Tanya Maxi pda Rafa.


"Gue ? Nghhh... Gue...," Jawab Rafa yang tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk kedatangannya.


"Braaakkk," terdengar suara meja yang digebrak dengan keras hingga membuat semua mata kini tertuju padanya.


Suara keras itu ternyata berasal dari meja Elang yang duduk berduaan dengan Vony. Entah apa yang mereka bicarakan hingga Elang kehilangan kendali dan melakukan hal itu.


Terdengar suara lirih Vony yang menangis dan memohon kepada Elang untuk kembali duduk di hadapannya. Bahkan gadis itu mengatupkan kedua tangannya agar Elang mau menuruti keinginannya.


Tak hanya itu, Vony juga terdengar menyebutkan nama "Elang sayang," berulang-ulang seolah sudah hilang rasa malunya.


"Drama ikan c*pang," ucap Amelia yang ia tujukan pada sang kakak dan kekasihnya itu.


"Jijik gue," lanjut Amelia dengan pandangan mata yang terlihat sangat muak.


Terlihat Elang mendudukkan kembali tubuhnya di hadapan sang dan Vony langsung membawa tangan Elang ke dalam genggamannya.


Nayla menelan ludah saat melihat itu semua. Dadanya terasa ngilu dengan hebatnya. Ternyata hati Nayla masih terasa sakit saat melihat itu semua.


"Tadi kamu ngajakin aku kemana, Max ?" Tanya Nayla memecahkan kebisuan karena tayangan drama Elang.


Maxi tolehkan kepala dan melihat pada Nayla. Pemuda itu tersenyum sebelum ia berbicara. "Aku ngajakin kamu makan sama nonton hari Minggu besok Nay. Mau ?" Tanya Maxi penuh harap.


"Ayo ! Kita ketemuan di sana aja ya, soalnya hari Minggu mau nemenin ibu dulu arisan di rumah sodara" jawab Nayla.


"Gak aku jemput aja?"


"Gak usah Max, sodara aku banyak yang suka julid. Kamu ngerti kan ?"


"Oke, kita ketemu di mall aja," Maxi pun menyunggingkan senyum lebar bahagia.


Pada akhirnya Nayla memutuskan untuk membuka hati pada pemuda lain dengan harapan bisa melupakan Elang.


to be continued ♥️


jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaaa.


makasih..


maaf kalau banyak tipo. tolong komen aja soalnya belum aku revisi.