
" Kini hanya tentang kita, mari kita bicara," ucap Elang.
Nayla membalas senyuman laki-laki jangkung itu, dan ia pun mengangguk pelan menyetujuinya.
Elang pun kembali melengkungkan senyumnya. Wajahnya yang putih pucat kini merona merah. Ia pun menggandeng tangan Nayla untuk pergi menuju lift yang akan membawa mereka ke unit apartemen gadis itu.
" Aku mampir sebentar boleh kan, Nay ?" Tanya Elang.
Nayla kembali menganggukkan kepalanya pelan. Ia menyetujui Elang untuk masuk ke dalam apartemennya. " Tapi sebentar aja ya ?" Nayla takut hal seperti beberapa waktu lalu terulang kembali.
Kini mereka adalah dua manusia dewasa yang sama-sama sudah memiliki hasrat untuk melakukan hal nana ninu.
" Iya sebentar saja, tak akan lama," sahut Elang. Ia setuju dengan syarat yang Nayla ajukan. Elang juga sadar akan sangat bahaya jika dirinya terlalu lama di sana.
Cinta Elang terlalu menggebu. Ia takut tak dapat menahan diri dan berbuat sesuatu yang akan sangat disesalinya. Elang tak mau merusak Nayla.
Bukankah seorang laki-laki akan menjaga wanita yang paling dicintainya dengan hati-hati seolah dia adalah barang berharga yang paling rapuh. Bukan dengan merusaknya karena hawa nafs* semata.
Tapi walaupun demikian, Elang tetaplah seorang laki-laki dewasa yang normal. Tentu saja ia ingin miliki Nayla seutuhnya.
Tadi saja, saat Rio memanggil Nayla dengan kata sayang, Elang sudah tak tahan. Ingin rasanya ia memberikan pukulan membabi buta pada laki-laki itu dan berteriak tepat di wajah Rio jika Nayla hanya miliknya seorang. Elang bersyukur bisa menahan diri walaupun itu dengan sangat susah payah.
Elang memijit tombol yang tertera di sana dan mempersilahkan Nayla untuk memasuki benda berbentuk balok itu lebih dulu tanpa melepaskan tautan jemari mereka.
Di dalam lift keduanya memilih untuk berdiri di barisan paling belakang dan saat ini hanya ada mereka berdua di dalamnya. Tangan Elang yang berada dalam genggaman Nayla kini beralih.
Ia merangkul pundak Nayla agar tubuh gadis itu semakin mendekat padanya. Elang tundukkan kepalanya dan mencium puncak kepala Nayla dengan gemas.
Berulang kali Elang lakukan itu, mencium puncak kepala Nayla. Hingga gadis itu berucap lirih, " El..," mengingatkan Elang jika keduanya sedang berada di tempat umum. Seseorang bisa saja langsung memasuki lift yang mereka naiki.
" Maafin aku, Nay... Gemes banget," sahut Elang.
Bayangkan saja, Elang sudah bertahun-tahun membayangkan ini semua. Memiliki Nayla tanpa takut apapun, hingga ia tak lagi harus menyembunyikan perasaannya.
Begitu pun Nayla, dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia masih tak percaya berada dalam dekapan erat tangan Elang.
Satu-satunya lelaki yang Nayla cintai selama hidupnya. Lelaki yang dulu hanya sebagai khayalan Nayla saja, karena ia pun sadar diri jika Elang itu ' too good to be true ' terlalu Bagus untuk menjadi kenyataan.
Tring
Pintu lift pun terbuka dan keduanya berjalan keluar dari dalam lift secara bersamaan. Jemari tangan mereka kembali saling bertautan.
Tibalah mereka di depan pintu apartemen Nayla.
" Kenapa diam saja ? Gak mau masuk ?" Tanya Nayla.
Elang yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
" Password nya gak kamu ganti ?" Tanya Elang.
Nayla tersenyum dan menggeleng pelan. "Nggak," jawabnya singkat.
" Kenapa ? Apa kamu gak takut kalau aku masuk dengan tiba-tiba ?" Tanya Elang sambil tersenyum nakal.
" Aku tak ingin melupakan tanggal itu, dan aku percaya jika kamu tak akan melakukan hal itu, menerobos masuk," jawab Nayla seraya menatap dalam mata coklat karamel Elang.
" tanggal itu sangat berarti bagiku," lanjut Nayla. Ia sangat sungguh-sungguh dengan perkataannya.
" Untuk aku juga, Nay....," Sahut Elang dengan pandangan mata yang meredup sayu. Ia balas tatapan Nayla sama dalamnya.
" Seperti kamu, aku pun selalu mengingatnya," lanjut Elang lagi.
Nayla terkekeh geli saat sadar mereka hanya saling bertatapan tanpa ada yang berusaha untuk membuka pintu." Jadi kita mau masuk ke dalam atau mau berbicara di sini saja ?" Tanya Nayla.
" Ya Tuhan... Aku selalu begitu, gak bisa konsentrasi kalau ada kamu, Nay," jawab Elang. Ia pun menekan 6 angka acak yang merupakan tanggal ciuman pertama mereka.
Dan seperti halnya Nayla, Elang pun ingat tentang itu semua.
Elang mempersilahkan Nayla untuk masuk lebih dulu dan kemudian Elang menyusulnya. Laki-laki jangkung itu duduk di atas sofa tanpa Nayla persilakan.
Sedangkan Nayla melepaskan tas selempangnya dan meletakkannya di atas meja. " Mau kopi ?" Tanya Nayla dan Elang pun menganggukkan kepala.
" Tapi aku gak punya kopi machiato," sahut Nayla. Ia tahu kesukaan laki-laki itu.
Elang tersenyum, ia merasa senang karena Nayla tahu kesukaannya. " Gak apa-apa, kopi hitam aja yang...,"
" Yang airnya harus di masak dulu, gak bisa air dari dispenser," potong Nayla.
Elang yang mendengar itu kembali tersenyum, sepertinya Nayla memang tahu segala sesuatu tentangnya. " Kamu udah cocok banget jadi istri aku, Nay" sahut Elang sambil tertawa.
Nayla memalingkan wajahnya, ia tak mau Elang melihat wajahnya yang merona merah. Dengan salah tingkah, Nayla berjalan ke dapurnya dan menyiapkan kopi untuk Elang.
Tanpa sepengetahuan Nayla, Elang mengikutinya ke dapur. Ingin Elang memeluk Nayla dari arah belakang seperti kisah para pasangan romantis baik dalam novel ataupun film. Tapi ia urungkan niatnya, dan memilih untuk berdiri tepat di sebelah Nayla saja.
" Apalagi yang kamu tahu tentang aku ?" Tanya Elang.
Nayla yang ditanyai tentang hal itu hanya mengigit bibir bawahnya karena rasa gugup. Ia takut Elang mencapnya sebagai gadis aneh yang terobsesi padanya.
Elang sadar jika Nayla merasa malu, atau tidak merasa nyaman dengan pertanyaan yang Elang lontarkan. Pada akhirnya, Elang pun mengungkapkan sesuatu yang menjadi rahasia terbesar di sepanjang hidupnya.
" Aku tahu kamu sangat suka novel detektif khususnya karya Agatha Christie, kamu suka warna hitam hingga akupun ikut-ikutan suka dan itu masih berlaku sampai sekarang," ucap Elang membuat Nayla menolehkan kepalanya melihat pada laki-laki itu.
" Minuman favoritmu adalah greentea," lanjut Elang.
" Dan kamu sukanya es kopi machiato," potong Nayla.
" Dan kamu sukanya yang rasa karamel," sahut Nayla lagi.
" Kamu suka juga suka novel tentang cinta dan film komedi romantis," ucap Elang.
" Kamu suka novel fantasi terutama karya J.R.R Tolkien. Favorit kamu adalah trilogi The Lord of the Ring," sahut Nayla dan Elang mengangguk membenarkan.
" Makanan favorit kamu bakso, Nay. Rasanya harus sedikit asin. Kamu selalu menambahkan garam lagi ke dalam mangkuk bakso mu,"
Nayla pun tertawa mendengarnya. Apa yang Elang katakan memang benar adanya.
" Dan kamu suka roti panggang dengan selai coklat dan kacang untuk sarapan," ucap Nayla.
" Ya benar, sampai-sampai Mami membeli dua selai itu dalam jumlah banyak Karena aku sangat menyukainya,"
" Kamu suka lagu-lagu easy listening dan bertemakan cinta," kata Elang.
" Dan kamu sangat suka lagu rock terutama dari band Linkin Park," sahut Nayla.
" Parfum yang kamu gunakan selalu beraroma bedak dan bermerk swit*al," kata Elang lagi.
" Alat musik kesukaanmu adalah gitar listrik,"
Keduanya tertawa bersama-sama saat saling tahu kesukaan masing-masing.
" Sepertinya kita sama-sama cukup lama saling memendam rasa," ucap Elang seraya merapihkan rambut Nayla yang menutupi dahinya. Ia menatap mata gadis itu dengan lembut dan penuh cinta.
Debaran jantung Nayla kian menggila, ia menelan ludahnya paksa dan memberanikan diri untuk membalasnya tatapan mata Elang.
Tak lama teko pun berbunyi pertanda air di dalamnya sudah matang. Elang mematikan kompor itu tanpa membiarkan Nayla untuk membuat kopi.
Yang Elang lakukan adalah menarik tangan Nayla dan membawanya duduk di atas sofa. Elang sudah tak sabar untuk mengungkapkan perasaan cintanya yang sudah terpendam lama.
" Nayla... Aku suka kamu dari semenjak pertama kali kita bertemu. Mungkin kamu tak akan percaya, karena usia kita yang masih sangat muda. Aku pikir itu hanya cinta monyet seperti yang orang-orang bilang, tapi nyatanya aku masih mencintaimu sampai sekarang. Dan hanya kamu saja gadis yang aku cinta," ucap Elang seraya menatap dalam mata Nayla. Ia sungguh-sungguh dengan perkataannya.
" Akupun menyukaimu sejak saat kita pertama kali bertemu. Mbak Nadia mengajak kita menonton bioskop bersama. Waktu itu dia masih berpacaran dengan kak Bimo. Tahukah kamu ? Aku kira, aku melihat seorang turis asing. Wajahmu seperti yang sering aku lihat di film-film. Sebagai gadis remaja tentu saja aku melihatmu dari rupa. Aku kira hanya suka sesaat saja, tapi nyatanya rasa itu tak mau hilang hingga sekarang," sahut Nayla.
" Aku pun suka karena kamu cantik dan pembawaan mu yang tenang. Aku ingat kita duduk berjauhan di dalam bioskop itu tapi pasti kamu tak sadar jika aku lebih banyak melihat ke arahmu dibandingkan dengan film yang sedang diputar. Sejak saat itu, aku senang jika kak Nadia datang ke rumah dengan mengajakmu. Dan aku semakin bahagia saat kamu bersahabat dengan Amelia karena dengan begitu aku bisa...,"
" Aku bisa lebih sering melihatmu," potong Nayla.
Dan Elang pun tersenyum membenarkan.
" Aku pun merasakan hal yang sama. Aku selalu merasa senang jika Mbak Nadia mengajak aku untuk datang ke rumah kak Bimo. Aku senang bisa bersahabat dengan Amelia karena dengan begitu akupun bisa melihatmu dan bisa berada di dekatmu," ucap Nayla.
" What an unexpected love....,Sungguh cinta yang tak terduga," ucap Elang seraya membawa tangan Nayla ke dalam genggamannya.
" Ya tak pernah sekalipun aku menduga jika kamu merasakan hal yang sama," timpal Nayla.
Elang terdiam sambil tersenyum lembut, ia menatapi wajah Nayla untuk beberapa saat.
" Berapa lama kita saling memendam rasa, Nay ? 10 atau 11 tahun ?" Tanya Elang.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan. Entah berapa lama dirinya mencintai Elang dalam diam. Nayla tak pernah menghitungnya karena ia selalu mencintai Elang.
" Dan selama itulah aku mencintaimu, Nay. Aku sayang kamu dari dulu... dan selalu," lanjut Elang.
" Aku sudah menunggu lama momen ini, dan aku yakin kamu pun begitu," Elang menjeda ucapannya sedangkan Nayla menelan ludahnya paksa dan debaran jantungnya kian menggila.
" Bisakah kita bersama sekarang, Nay ?" Tanya Elang.
" What...," Lirih Nayla hampir tak terdengar.
" Aku ingin bersamamu dalam rasa yang sama yaitu cinta. Aku mencintaimu, Nayla... Maukah kamu bersamaku ? Maukah kamu terikat dengan cintaku ?" Tanya elang lagi.
Mata Nayla memburam, susah payah ia menahan air bening yang tergenang di pelupuk matanya agar tak terjatuh. " Apa kamu serius ? Aku takut setelah ini kamu pergi atau jadian sama yang lain," ucap Nayla sambil tertawa dan juga mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Ia terisak saat mengatakan hal itu.
" Aku kembali untukmu, Nayla... Aku tak akan lagi pergi kecuali denganmu. Aku tak akan mengumbar janji manis, tapi akan aku membuktikannya ke padamu," jawab Elang tanpa ragu.
Nayla kembali terisak saat Elang mengatakan itu.
" Nayla... Aku mencintaimu... Maukah kamu menerima perasaan cintaku ?" Tanya Elang.
Nayla mengulum senyum dengan wajah merona merah. " Aku mau ! Tentu saja aku mau karena aku pun mencintaimu," jawab Nayla seraya menghambur pada pelukan Elang dan menangis hebat di sana.
Sungguh tak terduga jika hari ini tiba.. hari di mana ia dan Elang menyatu dalam rasa yang sama yaitu cinta.
" Jadi hari ini kita jadian ?" Tanya Elang sambil berbisik dan ia pun membalas pelukan Nayla sama eratnya.
" Hu'um, Kak El. Kita jadian," jawab Nayla tanpa melepaskan pelukannya.
" Jadi sekarang aku sudah resmi menjadi kekasihmu dan boleh memanggilmu dengan kata sayang?" Tanya Elang.
Nayla menganggukkan kepalanya pelan.
Elang menarik nafasnya dalam dan bertanya " Jadi... Bolehkah aku menciummu sebagai seorang kekasih ? Aku tak ingin mencuri ciumanmu lagi," lirih Elang tepat di telinga kekasihnya itu.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
terimakasih yang sudah memberikan vote juga jadiah poin... semoga Allah membalasnya dengan rezeki yang berlimpah ruah. aamiin...