
Selamat membaca ♥️
"Hanya Aku yang akan selalu menjadi ciuman pertamamu dan ciumanmu yang selanjutnya. Karena kamu gadis yang aku suka dan selamanya akan seperti itu. Aku akan kembali untuk kamu, jadi tunggu aku,"
Mata seorang gadis terbuka saat kata-kata itu muncul kembali di mimpinya bersamaan dengan bunyi alarm jam yang membangunkannya.
"Aahhh shiiiit," makinya pelan saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Segera ia matikan bunyi dering alarm itu dan dengan secepat kilat ia berlari ke kamar mandi untuk bersuci dan melaksanakan ibadahnya yang sangat terlambat itu.
Ternyata bunyi alarm ini adalah yang ke dua kalinya setelah yang pertama pukul 04.00 pagi berbunyi dan gadis itu matikan karena ingin meneruskan tidur selama 5 menit saja namun nyatanya ia tertidur selama 2 jam lebih.
Saking terburu-burunya, gadis itu tak sempat melipat kain yang telah digunakannya untuk beribadah. Ia segera melesat kembali ke dalam kamar mandi di apartemennya untuk membersihkan diri dan segera pergi bekerja.
Sebelum mandi, gadis itu membasuh muka di wastafel sembari menggosok gigi. Setelah selesai ia keringkan wajahnya dengan handuk kecil sembari bercermin.
Gadis itu menatapi bayangan dirinya sendiri dalam cermin sembari memikirkan mimpinya tadi pagi. Mimpi yang masih saja mendatanginya padahal sudah berlalu hampir 8 tahun lamanya sejak pemuda jangkung bermata coklat karamel itu mengatakan kata-kata itu tepat di depan wajahnya setelah ia berusaha untuk mencium bibirnya yang ke dua kali.
"Aku akan kembali untuk kamu, jadi tunggu aku,"
"liar !!" ( pembohong ) Ucap gadis itu sambil tertawa samar.
Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu. Nyatanya setelah hampir 8 tahun berlalu pemuda itu tak pernah datang ataupun memberi kabar. Kepergiannya bagai ditelan bumi.
Masih jelas dalam ingatannya, apa yang terjadi setelah pemuda itu mengatakan kata-kata cintanya.
Tiba-tiba saja seseorang memanggil-manggil namanya. "El, Elang !! Cepat bersiap !! Mobil yang akan membawamu sudah ada di depan,"
Ya, pemuda itu harus pergi lebih dulu dari sang adik yang masih merayakan hari ulang tahunnya karena ternyata mereka akan tinggal di tempat yang berbeda.
Suara itu memanggil-manggil namanya lagi, pemuda jangkung itu hanya menatap mata sang gadis dan mengusap lembut lengannya sebagai tanda perpisahan. Ia tak mengatakan akan pergi kemana, dengan siapa dan berapa lama. Semua terjadi begitu cepat.
Sang gadis belum sempat menjawab pernyataan cinta si pemuda itu karena ia tergesa pergi meninggalkan si gadis seorang diri di ruangan yang tak ada siapapun di dalamnya.
Tak hanya itu saja, si pemuda itu juga meninggalkan si gadis terjebak dalam cinta pertama yang tak berkesudahan.
"Lo mau sampai kapan beginu terus,Nay ?" Tanya nya pada diri sendiri. Menyadari rasa cinta atau mungkin sekarang menjadi benci pada pemuda yang jadi cinta juga ciuman pertamanya.
Tak ada yang tahu tentang kisah cintanya. Gadis itu simpan rapat-rapat ceritanya sendirian. Karena siapa yang akan percaya padanya ??
Si pemuda telah pergi, dan tak ada seorangpun dari temannya yang pernah menyaksikan kedekatan keduanya. Jika gadis itu bercerita pastilah dianggap halu oleh teman-temannya.
Tak ada seorang teman pun yang pernah melihat pemuda itu diam-diam mengantarnya pulang setiap si gadis selesai mengikuti les atau kegiatan ekstrakurikuler.
Tak ada seorangpun yang tahu jika keduanya kerap main mata jika berada di dalam satu tempat yang sama.
Tak ada seorangpun yang tahu jika pemuda itu mencuri ciuman pertamanya di bawah rintikan hujan.
Jika ia ceritakan semua pada teman-temannya pastilah dirinya akan di bully habis-habisan karena terlalu tinggi berkhayal.
Pada akhirnya, si gadis merasa cinta dan juga benci secara bersamaan pada pemuda yang tak kunjung membuktikan ucapannya.
Adik perempuan si pemuda itu pun sama bohongnya. Katanya setelah berpisah mereka masih akan bersahabat dan berhubungan satu sama lain. Tapi nyatanya si gadis galak itu mengganti nomor ponselnya dan menonaktifkan semua akun media sosialnya.
Yang tersisa hanya sang ayah si kakak beradik itu. Beliau pun bungkam seribu bahasa jika ditanya perihal keberadaan anaknya.
Lalu sang kakak, yang merupakan mantan kekasih kakaknya sendiri. Namun berulang kali si gadis menanyakan keberadaannya pada sang kakak, kakaknya itu akan menjawab "Bimo kini sering keluar negeri, jadi kak Nadia jarang bertemu dengannya. Lagian Alex... Masih sering cemburu saja kalau kakak berusaha untuk menghubunginya. Emang kenapa sih kamu nanyain dia terus ?" Tanya sang kakak dengan nada curiga.
Tak ingin dicurigai, akhirnya si gadis berhenti bertanya. Dan itu terjadi beberapa tahun yang lalu, sebelum si gadis memutuskan untuk menyerah dan akan melanjutkan hidupnya saja dengan cara mengubur kisah cintanya di masa sekolah.
Tapi sialnya mimpi itu selalu hadir. Mimpi tentang bagaimana pemuda itu menciumnya untuk yang kedua kali. Walaupun saat itu si gadis menolak ciuman si pemuda dengan menutup bibirnya dengan telapak tangan, tapi nyatanya si pemuda tak mengurungkan niatnya. Ia tetap melabuhkan bibirnya di atas bibir si gadis walaupun harus terhalang jemari tangan gadis itu.
"Halah Nay !!! Udah tahu telat masih aja ngelamun !!" Kesal si gadis bernama Nayla yang kini sudah berusia 23 tahun.
Jika dilihat dari luar, orang akan mengira jika hidup gadis bernama Nayla itu nyaris sempurna. Hanya satu yang kurang darinya, ia tak pernah berhubungan serius dengan pria manapun.
Bukannya gak ada yang naksir Nayla, tapi setiap lelaki yang mendekatinya akan segera pergi meninggalkan si gadis tanpa alasan yang jelas. Sebagai contoh misalnya Arya juga Maxi yang melakukan pendekatan dengan gencar namun kemudian pergi begitu saja saat Nayla mencoba membuka hati dan sederet nama pria sesudahnya yang berperilaku sama.
Apa yang para lelaki itu lakukan pernah membuat Nayla berkecil hati dan merasa jika dirinya tak pantas untuk dicintai.
"Am i not loveable at all ?" Apa aku sma sekali tak pantas untuk dicintai ? Kata-kata itu sering terlintas dalam benak Nayla.
"Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap," Nayla mengucapkan lagi kata-kata mantra yang sering diucapkannya dulu saat ia masih sekolah. Mantra yang tak berguna sama sekali karena pada kenyataannya Nayla terus saja menyukai Elang.
Nayla tersenyum dalam cermin saat mengingat itu semua dan segera mandi untuk bersiap pergi ke kantornya.
***
Nayla berjalan dengan setumpuk berkas laporan yang diminta oleh bosnya. "Selamat pagi Bu Joy, Boss ada di dalam ?" Tanya Nayla pada seorang wanita yang bernama Joy dan usianya terpaut jauh di atas dirinya. Wanita itu merupakan sekretaris dari boss besarnya.
Wanita bernama Joy itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika boss besarnya itu tidak ada dalam ruang kerjanya.
"Boss, di tempat biasa ?" Tanya Nayla lagi dan kali ini wanita bernama Joy itu menganggukkan kepala.
"Dari pagi si boss belum datang ke sini, beliau langsung datang 'ke sana', " ucap Joy sang sekretaris dan Nayla pun tahu juga paham di mana boss besarnya berada.
"Ya udah saya ke ruang sana saja ya, Bu. Padahal tadi pagi si boss nelepon saya dan meminta berkas laporan keuangan diantarkan ke ruangannya," ucap Nayla dengan setumpuk berkas laporan keuangan perusahaan terakhir di pelukannya.
"Saya pergi ya, Bu," Nayla pun berpamitan dan kemudian menuju ruangan lain di mana boss besarnya itu selalu berada.
Setelah berjalan cukup jauh, kini Nayla berada di depan sebuah pintu ruangan yang berwarna coklat. Ia berdiri dengan perasaan harap-harap cemas.
Cemas karena takut mengganggu apa yang boss besarnya lakukan di dalam sana. Terakhir kalinya Nayla masuk ke dalam ruangan itu, si boss besar sedang memagut mesra bibir wanita yang duduk di pangkuannya. Sungguh mata perawan Nayla menjadi ternoda.
Nayla mengetuk pintu berwarna coklat itu dengan sedikit keras agar siapapun yang ada di dalamnya bisa mendengar dengan jelas.
Cukup sekali Nayla mengetuk pintu itu karena ia mendengar seseorang mengatakan kata "masuk !" Dari dalam ruangan.
Dengan perlahan Nayla memutar gagang pintu dan mendorongnya pelan sembari berharap mata perawannya tak ternoda lagi.
"Masuk, Nay !" Perintah boss besarnya yang ternyata sedang duduk di atas sofa dengan laptop di pahanya. Tak sesuai dengan tebakan Nayla, ternyata si boss sedang bekerja.
"Tadi kamu datang ke ruangan aku ?" Tanyanya dan Nayla menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Sudah ku katakan berapa kali padamu, Alex ! Bekerjalah di ruanganmu sendiri agar para karyawanmu tidak bingung," ucap seorang wanita yang dulu pernah berpagutan bibir dengan bossnya itu.
"Apa salahnya aku bekerja satu ruangan dengan istriku sendiri ??" Si boss besar balik bertanya pada wanita bernama Nadia yang ternyata adalah istrinya.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya
Tadinya mau update senin
Tapi ternyata komennya banyak.
Terimakasih ♥️♥️
yang baru mampir ke cerita Elang ini, bisa baca kisah Nadia ( kakaknya Nayla ) di novel in love. klik profil aku aja untuk menemukannya.