
" Nay, are you ok ? Muka kamu jadi merah begitu ?" Tanya Amelia dengan polosnya. " kamu demam ?"
Nayla tersentak karena ditanya seperti itu. Dengan lancangnya pikiran Nayla membayangkan bagaimana Elang menciumnya penuh tuntutan dengan lidah yang saling membelai satu sama lain.
" Oh my Gosh...," Gumam Nayla pelan sembari menelan ludah. bagaimana bisa ia membayangkan adegan dewasa di sela-sela makan siangnya.
" Gerah gak, Mel ?" Tanya Nayla beralasan. Tak mungkin kan jika Nayla mengatakan bahwa ia tengah membayangkan ciuman panas Elang pada sang adik yang juga sahabatnya.
" Gak gerah, biasa aja," jawab Amelia.
Nayla menjadi kikuk, ia bergerak serba salah di atas tempat duduknya. " Kamu gak apa-apa, Nay ?" Tanya Amelia lagi.
" Gak apa-apa, aku cuma lapar aja," jawab Nayla berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Oh ya ampun ! Sampai lupa pesan ! " Amelia tertawa, lalu ia pun memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan makan siang mereka.
Nayla memilih menu dengan nasi sebagai makanan utamanya dan begitu juga Amelia.
" Gak makan nasi, serasa belum makan ya, Nay ?" Amelia terkekeh geli. Begitu juga Nayla.
Keduanya kembali terlibat dalam pembicaraan sembari menunggu makan siang mereka yang belum juga diantarkan.
" Gak percaya, kita bisa ketemu lagi ya Nay..."
" Jadi kemana aja kamu selama ini, Mel ? Katanya kita akan selalu saling memberi kabar tapi nyatanya kamu menghilang," Nayla mengusap ujung matanya yang basah saat mengatakan itu semua.
Amelia menarik nafas dalam, dan matanya meredup sayu penuh sesal. " Aku dan keluargaku mendapatkan masalah besar waktu itu. Sampai-sampai harus berurusan dengan pihak kepolisian...,," Amelia menjeda ucapannya.
" Dan... Semua ada kaitannya dengan Elang,"
Deg !
Nayla tersentak dan tubuhnya menegang saat Amelia menyebutkan nama Elang. Padahal Nayla sendiri sudah tahu ceritanya tapi tetap saja ia merasa terkejut.
" Kamu ingat Elang kan ? Kakak aku si tower es balok itu ?" Tanya Amelia seraya mengata-ngatai sang kakak.
Nayla langsung terkekeh geli. Tak hanya ingat, tapi Nayla juga tak bisa berhenti mencintainya. " Tentu saja aku ingat," sahut Nayla sambil tertawa.
" Elang pindah ke sekolah kita karena dia bermasalah dengan seseorang bernama Leo. Dan Leo itu adalah anak seorang pejabat yang mempunyai kekuasaan juga banyak anak buah karena ia mengendalikan semuanya dengan uang," Amelia melanjutkan ceritanya, sedangkan Nayla mendengarkan dengan seksama.
" Seperti sang ayah... Leo juga tak ingin kalah dari siapapun, termasuk Elang. Laki-laki bernama Leo itu selalu mencoba mengalahkan Elang dengan berbagai cara termasuk dengan melukainya,"
" Hah ?" Gumam Nayla.
" kamu ingat saat Elang dirawat di rumah sakit karena cedera kepala ? Itu Leo yang melakukannya. Papi sudah melaporkannya pada pihak kepolisian tapi Leo bisa lolos karena uang dan kuasa sang ayah,"
" Ya Tuhan...," Nayla bergidik ngeri mendengarnya.
" Singkat cerita... Leo sangat dendam pada Elang, hingga Rafa pun ia celakai dan ia pun mengincar... Kamu....,"
Nayla menelan minuman yang ia bawa sebelumnya dengan tergesa karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
" Kenapa aku ?" Tanya Nayla.
" Entahlah mungkin karena kamu dekat dengan kita atau mungkin karena Leo kira si es balok suka kamu,"
Nayla terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Amelia tentang dirinya dan Elang. Tapi untungnya pesanan makan siang mereka telah tiba. hingga Nayla masih punya sedikit waktu untuk merangkai kata.
" Terimakasih," ucap keduanya secara bersamaan pada pelayan yang telah membawakan makan siang mereka.
" Papi sangat marah dan ia pikir ini sudah bukan kenakalan remaja lagi. Ia mencari cara untuk menjebloskan Leo dan keluarganya. Papi pun membuat jebakan. Entah seperti apa ceritanya tapi pada akhirnya ayah Leo tertangkap tangan menerima suap dan heboh di media sosial hingga ia tak bisa mengelak. Di saat itu juga papi menyeret Leo sang anak dengan banyak bukti kejahatannya yang Papi dapatkan dari Elang. Dan kamu tahu Elang dapat dari siapa ? Vony !! Kamu ingat kan si kuda poni ? Senior kita yang sangat menyebalkan! Dia sepupunya Leo dan Elang memacarinya untuk dimanfaatkan,"
Nayla menganggukkan kepala paham. Sejauh ini cerita Amelia dan Elang sama. " Jadi kemana saja kalian 8 tahun ini ?" Tanya Nayla.
" Ternyata masalah tak langsung selesai setelah Leo dan ayahnya ditahan. Anak buah ayah Leo meneror kami hingga rumah kami dilempari batu. Bahkan papi mendapatkan surat ancaman pembunuhan. Tak hanya itu, mereka juga melacak keberadaan kami. Mereka mengatakan mata di bayar mata, papi dan anaknya harus kena juga. Oleh karena itulah kami tak diizinkan untuk menggunakan sosial media dan nomor ponsel kami pun dimatikan agar tak terlacak. Apalagi Elang, ia benar-benar diisolasi dari dunia luar. Elang masuk pesantren di pedalaman Jawa Barat, tepatnya kota Garut tapi bukan di pusat kotanya. Sedangkan aku tinggal di pinggiran kota Bandung," jelas Amelia.
" Aku pernah membantu Elang melarikan diri dari rumah, Nay. Hingga aku pun di hukum. Kami hanya boleh meneruskan sekolah jika masuk ke perguruan tinggi negeri dan dengan jurusan yang di tentukan Papi. Elang masuk ke jurusan teknik geologi di perguruan tinggi paling bergengsi di Bandung. Ia belajar dengan sungguh-sungguh dan masih pulang pergi ke pesantrennya. Karena Elang berprestasi, sebelum lulus saja ia sudah ditawari untuk bekerja di salah satu perusahaan minyak nasional. Hanya satu tahun Elang bekerja disana karena selanjutnya ia mendapatkan tawaran kerja di luar negeri dengan posisi dan gaji yang besar. Elang pun menerimanya. Sedangkan aku... Nasibku lebih sial." Amelia tertawa samar.
" Papi menentukan aku harus jadi dokter seperti dirinya padahal aku tak mau," lanjut Amelia.
" percaya gak Nay ? Mereka meneror kami bertahun-tahun lamanya hingga Papi menyuruh kami untuk pergi paling sedikit 10 tahun lamanya. Bahkan rumah kami di Bogor pun sudah dijual. Kami tak ingin kembali ke sana. Tapi sekarang Leo, Vony dan keluarga mereka tak punya kekuatan apa-apa lagi, seiring dengan kebangkrutan mereka. Kini mereka tak punya lagi pengikut setia. Tapi walaupun begitu, kami tak ingin lagi berurusan dengan mereka,"
" Lalu apa yang membuat kalian kembali lebih cepat ?"
" Si es balok ingin pulang, katanya dia pengen nikah,"
" Pffftttttt," Nayla menyemburkan minuman dalam mulutnya dengan tak sengaja.
" See ? Kaget kan ? Siapa yang mau sama laki-laki dingin kaya kulkas 12 pintu itu?" Tanya Amelia dan Nayla pun tertawa. " Aku, aku mau !!!" Jerit Nayla dalam hati.
" El-Elang mau menikah dengan siapa ?" Tanya Nayla.
" Entahlah Nay, semoga aja ada yang mau sama dia," jawab Amelia. " Kamu udah punya pacar, Nay ?" Tanya nya.
" Mmhhh udah, baru beberapa Minggu ini," jawab Nayla sejujurnya.
" Kalau kamu ?" Nayla balik bertanya
Amelia menggelengkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban. " Aku belum pernah pacaran, Nay,"
" Hah ? Seriusan ?"
" Hu'um," jawab Amelia.
" Aku ingin sekali jatuh cinta tapi sayangnya seluruh rasa cintaku telah tercuri oleh seseorang yang mencuri ciuman pertamaku," ucap Amelia dalam hatinya.
" Rafa ?" Tanya Nayla seolah bisa membaca isi pikiran sahabatnya itu.
" Aku gak tahu dia berada di mana. Mungkin juga Rafa sudah menikah,"
" Aku yakin dulu Rafa suka sama kamu,"
" Oh ya ? Aku rasa nggak, Nay...." Sahut Amelia terlihat sedih di raut wajahnya.
Amelia ingat jika Rafa berkata akan mencarinya, tapi nyatanya pemuda itu tak pernah datang untuk mencari dirinya.
" Kamu sendiri suka dia gak ?" Tanya Nayla.
Amelia hanya tersenyum dengan wajah merona merah. Tak usah Amelia jawab pun, Nayla sudah tahu jawabannya.
" Bagaimana dengan pacar kamu, Nay ?"
" Mmm namanya Rio," ucap Nayla tapi ucapannya terhenti saat keduanya mendengar lenguhan juga rintihan dari bangku sebelah yang terhalang sekat kayu yang dihiasi tanaman rambat
" Ja-jangan di siniihhh, aahhh sayanghhh," ucap seorang wanita dengan rintihannya yang bercampur desah.
" OMG... Kenapa mereka tak sewa kamar saja ?" Bisik Amelia dengan raut wajahnya yang terlihat jijik.
" Fasterrr sayanghhh," terdengar lagi rintihan dari wanita yang duduk di meja sebelah.
" Tenanglah sayang.... Nanti di dalam kamar jari-jari ini akan berganti dengan milikku seperti tadi," kini terdengar suara seorang laki-laki.
Amelia sudah menutup mulutnya karena jijik, sedangkan Nayla langsung berdiri karena ia merasa hapal dengan suara sang pria. Nayla pun berjalan menuju meja di sebelahnya.
" Rio ???" Tanya Nayla sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚
makasih.
mumpung Senin Vote yuu buat yang ikhlas aja