
Rafa menenteng keranjang plastik di sebuah toko yang menjual pernak-pernik. Memilih- milih barang yang sekiranya diperlukan untuk acara spesialnya di siang ini. Lilin hias imitasi dan lampu tidur unik menjadi pilihannya. Rafa tak ingin momen bahagianya terusak karena insiden kebakaran. Sebisa mungkin Rafa meminimalisir gangguan-gangguan yang akan terjadi karena momen sakral ini ingin Rafa lalui dengan suasana yang romantis.
Ia juga membeli kain sprei berbahan satin dan bunga mawar segar. Beberapa jenis buah-buahan dan minuman dingin tanpa alkohol sebagai pelengkapnya. Kain-kain tipis seperti bahan kelambu juga Rafa beli, walaupun ia belum tahu pasti bagaimana merangkainya.
Rafa pergi berbelanja sendirian karena Amelia sedang tidur untuk memulihkan kondisinya yang jaga malam di tambah siang ini Rafa akan meminta haknya sebagai suami membuat gadis itu benar-benar harus beristirahat.
Perasaan Rafa sudah kacau tak karuan. Harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi nanti. Tak ingin buang-buang waktu, Rafa pun segera mengakhiri kegiatan belanjanya dan segera pulang ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Amelia masih tertidur nyenyak. Rupanya ia berpindah tempat tidur karena saat ini Rafa dapati Amelia tidur tengah di atas sofa dengan TV menyala. Melihat itu Rafa pun tersenyum "kasihan banget sih sayangnya Rafa," gumamnya pelan.
Ada untungnya juga Amelia berpindah tempat karena dengan begitu, Rafa bisa mendekorasi kamar mereka dengan leluasa. Di mulai dengan mengganti sprei, menata beberapa lilin hias serta lampu tidur yang baru saja di belinya.
Rafa tutup rapat tirai kamarnya hingga sinar matahari tak bisa masuk dan digantikan cahaya temaram dari lilin dan lampu hias yang sudah di tata sedemikian rupa olehnya.
Rafa juga mencabuti kelopak bunga mawar dan menebarnya di atas lantai. Membuat jalan setapak dari kelopak- kelopak bunga itu dari dalam kamar menuju Amelia berada.
Menyiapkan lagu-lagu romantis dalam mesin pemutar lagunya. Dan mengatur suhu ruangan yang pas untuk Memadu kasih nanti.
Setelah semuanya selesai, Rafa melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia bercermin sembari berpose ala binaragawan, memastikan otot-ototnya tak mengendur agar Amelia terpesona melihatnya.
Menggosok gigi dan membersihkannya dengan benang khusus. Tak lupa, Rafa juga menggunakan obat kumur agar nafasnya segar. Ia akan memberikan ciuman panas yang memabukkan untuk istrinya itu.
Setelah itu, Rafa berdiri di bawah pancuran air shower dan mandi mengunakan sabun khusus untuk lelaki dengan aroma maskulin yang menyegarkan. Ia sabuni tubuhnya dengan menyeluruh. Tersenyum sendiri melihat inti tubuhnya. "sebentar lagi kamu akan beraksi, jadi jangan mengecewakan ya. Kita harus saling bekerjasama," ucapnya pelan. Menasehati sang adik besarnya.
Cukup lama Rafa, lakukan itu. Membersihkan diri dengan sempurna. Lalu ia pun meninggalkan kamar mandi dengan selembar handuk yang membelit di pinggang.
Ia berjalan menuju sofa di mana Amelia tertidur pulas diatasnya. Rafa akan membangunkan istrinya itu.
Amelia sudah bangun ketika Rafa datang. Ia duduk bersandar di atas kursi dengan rambut panjangnya yang tak beraturan. Kakinya terlihat jenjang karena Amelia hanya mengenakan celana yang panjangnya sejengkal tangan saja.
Kaos putih polos tipis dan dengan potongan leher v- neck membuat gadis itu terlihat semakin segsi saja di mata Rafa. Tiba-tiba saja sesuatu menggeliat hidup di pangkal pahanya. "Sayangnya Rafa udah bangun ?" Tanya Rafa pada istrinya itu.
Amelia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat Rafa yang sudah segar dengan selembar handuk putih saja membuat pipi Amelia terasa panas.
Banyaknya kelopak bunga mawar yang bertebaran membuat Amelia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"A-ku ingin ke toilet dulu," ucap Amelia terdengar gugup.
Rafa mengulurkan tangannya untuk Amelia raih dan gadis itu menurutinya. Keduanya berjalan beriringan di antara kelopak bunga mawar yang bertebaran.
Mata Amelia membola tak percaya saat ia dapati kamarnya yang telah berubah. Suasananya sangat romantis. Wangi bunga mawar yang menguar dan lagu cinta yang mendayu sendu membuat suasana kamar mereka menjadi lebih syahdu. ditambah pencahayaan yang temaram membuat nya semakin sempurna.
"sayangnya Rafa suka ?"
"Kamu tunggu ya," ucap Amelia seraya berjalan menuju toilet yang letaknya berada di dalam kamar mereka.
Secepat kilat Amelia membersihkan diri dan berganti baju dengan gaun tipis nan seeksi berwarna merah menyala yang telah di siapkannya sedari tadi. Ia sembunyikan di lemari kecil yang ada dalam toilet itu.
Amelia merias wajahnya tipis-tipis agar terlihat lebih segar. Lalu menyemprotkan parfum di setiap titik nadinya. Ia bercermin untuk beberapa saat, memastikan bahwa dirinya sudah terlihat sempurna.
Menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi itu. "Kamu pasti bisa," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Rafa mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan mengenakan celana boxer saja. Ia bergerak gelisah, menanti dan tunggu gadis pujaannya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya.
Rafa menjatuhkan rahangnya dengan mata membola tak percaya saat melihat Amelia berjalan ke arahnya dengan belitan gaun kurang bahan berwarna merah mawar. Kainnya yang super tipis membuat lekuk indah tubuh Amelia terlihat begitu sempurna.
Bola mata Rafa bergerak liar melihat dua bongkahan kenyal yang menyembul seeksi di balik gaun tipisnya. Rambut panjang Amelia yang berwarna coklat dibiarkan tergerai indah, membuat penampilan gadis itu terlihat semakin menggoda di mata Rafa.
Pandangan mata mereka bertemu, Rafa pun berdiri dan berjalan mendekati istrinya itu. Wajah Amelia terasa panas saat ia menyusuri guratan otot-otot sang suami yang terlihat liat dengan matanya.
Namun tiba-tiba ia segera buang pandangan matanya saat dadanya berdebar kian kencang saja. rasa gugup dan takut bercampur aduk Amelia rasakan
"ini Rafa.... jangan takut ," ucap Rafa sembari mengangkat dagu Amelia dengan jempolnya hingga pandangan mata mereka kembali bertemu.
"Sayangnya Rafa, cantik banget," pujinya tulus.
"Rafa cinta banget sama Amelia," ucapnya lagi. Lalu Rafa pun tundukkan kepalanya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia dan mengulumnya penuh perasaan. Kedua tangannya merengkuh tubuh sang istri hingga menempel sempurna.
Amelia kalungkan tangannya di leher Rafa dan membalas ciuman itu sama lembutnya. Kedua bibir mereka saling bertautan satu sama lain dan saling mengulum lembut.
Keduanya memejamkan mata, menikmati ciuman lembut mereka yang lama-lama berubah panas dan penuh tuntutan. Kini bibir Rafa yang basah dan kenyal merambat turun. Menciumi daun telinga, leher dalam dan tulang selangka Amelia hingga gadis itu menengadahkan kepalanya agar Rafa bisa lebih leluasa menciumnya. Rafa menghirup dengan rakus aroma tubuh istrinya itu.
Tubuh Amelia gemetar saat suaminya itu terus memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu di tubuhnya. "Rafa cinta banget sama Amelia...," bisik Rafa mengungkapkan perasaan cintanya.
" Ayang percaya sama Rafa kan ?" tanya Rafa seraya menatap lembut mata istrinya itu. Amelia pun anggukkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban.
Rafa tersenyum lembut dan menundukkan kepala untuk mencium pipi istrinya. "bolehkah Rafa milikin Amelia seutuhnya ?" bisik lekaki itu dengan lembut.
Lagi-lagi Amelia mengangguk pelan dengan pipi merona merah dan malu-malu.
"tentu saja boleh, karena Amelia sudah sah menjadi istrinya Rafa," ucap Rafa gemas dan sedetik kemudian Amelia rasakan tubuhnya melayang di udara karena Rafa sudah menggendongnya dengan cara bridal style dan membawanya je ranjang mereka.
Keduanya saling bersitatap penuh rasa cinta. "Semua terasa indah jika memang sudah sah dan halal," ucap Rafa seraya tersenyum dan kemudian membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia. Tak seperti pengantin lainnya. Ini adalah siang pertama bagi keduanya.
to be continued