The Unexpected Love

The Unexpected Love
Berubah



Rafa yang hanya berniat menggoda, kini mati-matian menahan diri agar tak tergoda oleh gadis cantik di depannya.


Amelia duduk dengan membelakangi suaminya. Ia meraih rambut panjangnya dan menyampirkannya ke samping. Memberikan kemudahan untuk Rafa agar bisa memijat pundaknya dengan lebih leluasa.


Rafa menelan ludahnya dengan susah payah saat ia melihat leher jenjang Amelia dengan anak-anak rambut yang menghiasinya. Wangi vanila menguar lembut dari tubuh Amelia membuat Rafa mati-matian menahan hasratnya.


Amelia tolehkan kepalanya ke samping "kok diam aja ?" Tanya Amelia saat Rafa tak juga memijit pundaknya.


"Eh, oh... Sebentar," jawab Rafa dengan suaranya yang terdengar berat. Jarinya gemetar saat ia menyentuh kulit leher Amelia yang putih mulus dan terasa hangat di tangannya. Lalu memijatnya dengan perlahan dan penuh perasaan


"Ya Tuhan....," Gumam Rafa hampir tak terdengar.


"Nghhhh, enaknya..," des*h Amelia sembari sedikit menggeliatkan tubuhnya membuat Rafa dan adik besarnya tak baik-baik saja.


Rafa membenarkan cara duduknya saat ia rasakan sesak di dalam celananya. Ia tundukkan kepala dan melihat sesuatu menggeliat hidup di pangkal pahanya.


"Sa-sayangnya Rafa.." lirihnya pelan.


"Ya ?" Amelia kembali tolehkan kepalanya ke samping.


"Datang bulan itu biasanya berlangsung berapa lama ?"


"Biasanya sekitar satu Minggu, kenapa ?" Jawab Amelia.


"Ng... Nggak apa-apa. Cuma nanya aja," lanjut Rafa sembari tundukkan kepalanya lagi dan melihat pada si adik besar yang sudah berdiri dengan gagahnya. Untung saja terdapat jarak antara dirinya dan Amelia hingga istrinya itu tak tahu dengan apa yang terjadi.


"Sayang, lusa Rafa udah harus masuk kerja. Rafa harus mendampingi bapak menteri keluar negeri. Kalau sayangnya Rafa takut, nanti tinggal dulu di rumah Mami aja ya,"


"Iya, tapi..."


"Tapi apa ?" Tanya Rafa sembari terus memberikan pijatan lembut di pundak istrinya itu.


"Tapi... Apa kamu harus pergi ?" Tanya Amelia terdengar manja dan Rafa sangat-sangat menyukainya.


"Iya, Sayang... Rafa gak bisa cuti lama-lama sekarang karena Rafa mau mengajukan cuti panjang saat kita ke Eropa nanti,"


"Oh iya...," Sahut Amelia.


"Aku juga akan segera masuk kerja agar nanti bisa mengajukan cuti panjang seperti kamu," lanjut Amelia lagi.


"Baik-baik ya selama Rafa gak ada. Jangan lirik-lirik cowok lain ya, Rafa gak akan rido,"


"Terus kalau pasiennya seorang laki-laki gimana ? Apa aku harus memeriksanya sambil menutup mata ?" Amelia terkekeh geli saat mengatakannya.


"Sayangnya Rafa kasih ke dokter lain aja," jawab Rafa. Hanya membayangkan nya saja sudah membuat dada Rafa sesak karena rasa cemburu.


"Iya ! Dan Rafa rela untuk kamu periksa kapan saja," jawab Rafa dengan penuh semangat.


Lagi-lagi Amelia tersenyum saat mendengar ucapan suaminya itu.


"Udah malam, Yang. Tidur yuk ?" Ajak Rafa.


"Ayo, aku ganti baju dulu" sahut Amelia menyetujui. Ia pun bangkit dan melesat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Rafa, ia menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya di atasnya. Rafa edarkan pandangannya. Melihat ke sekeliling sambil tersenyum. Ia merasa luar biasa bahagia karena kamar itu di tata oleh tangan Amelia sang istri dan Rafa sangat-sangat menyukainya.


Amelia datang dengan setelan piyama pendeknya. Rambut panjangnya ia gelung asal memperlihatkan lehernya yang jenjang.


"Sayangnya Rafa cantik banget," puji Rafa yang tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


Amelia merasakan panas di pipinya saat Rafa memuji dirinya. Padahal bukan satu atau dua kali Rafa melakukannya tapi tetap saja selalu membuat wajah Amelia merona merah.


"Sini," Rafa menepuk tempat kosong tepat di sebelahnya. Amelia pun naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Rafa.


Rafa menatapnya untuk sesaat dan ia pun mencium kening Amelia cukup lama. "Cinta banget sama kamu," ucap Rafa sembari tersenyum lembut.


Tak ingin terbawa suasana, Rafa pun mematikan lampu tidurnya dan membawa Amelia dalam dekapannya.


Amelia lingkarkan tangannya, membalas pelukan suaminya itu dengan sama lembutnya. Rasa kantuk pun menghampirinya dengan cepat karena kegiatan beres-beres apartment membuatnya kelelahan dan pelukan Rafa yang hangat membuat dirinya sangat merasa nyaman.


***


Seperti yang Rafa katakan, lelaki itu mulai kembali bekerja. Dan selama Rafa tak ada, Amelia kembali ke rumah orangtuanya. Ia masih belum berani menempati apartemen seorang diri.


Padahal ia baru menikah selama beberapa hari saja dengan Rafa tapi efeknya begitu luar bisa. Amelia sangat merindukan kehadiran suaminya itu.


Mami dan Papi nya pun menyadarinya. Mereka melihat perubahan besar pada anak perempuannya. Amelia terlihat lebih hidup setelah pernikahannya.


Saat ini mereka tengah menikmati makan malam. Tak hanya ada orang tuanya saja tapi beberapa keluarga Amelia yang berasal dari benua Eropa pun berada di sana.


Ponsel Amelia berbunyi, ia memang tak bisa jauh-jauh dari benda pipihnya itu karena takut Rafa menghubunginya seperti sekarang ini.


Mata Amelia berbinar saat nama Rafa tertera di layarnya. "Maaf aku harus terima panggilan dari Rafaku," ucapnya sembari meniggalkan meja makan .


To be continued ♥️


Mumpung Senin vote yuuu