The Unexpected Love

The Unexpected Love
The Morning After



Elang peluk erat tubuh Nayla yang kelelahan karena ulahnya. Padahal Elang sudah berjanji untuk menahan diri tapi nyatanya ia menerkam Nayla tanpa ampun semalaman.


"Maafin aku sayang," lirih Elang seraya memberikan banyak ciuman mesra di puncak kepala istrinya itu.


"Katanya sekali aja, tapi nyatanya...," Nayla mencebikkan bibirnya kesal sembari mencubit perut telanjang Elang dengan gemas.


Ia membayangkan apa yang terjadi semalam. Semuanya terasa begitu indah dan sakral. Mengungkapkan perasaan cintanya yang menggebu-gebu di saat yang tepat adalah sesuatu yang membahagiakan.


"Ayo kita mandi, sebentar lagi subuh," ajak Elang sembari mengeratkan pelukannya.


Lagi-lagi Nayla mencebikkan bibirnya kesal. "Katanya ngajak mandi tapi malah meluk aku begini,"


Mendengar rengekan sang istri membuat Elang terkekeh geli. Tubuh hangat Nayla di pagi hari terasa sangat nikmat untuk Elang peluk hingga ia sangat enggan untuk melepaskannya.


Dan tak hanya nikmat untuk dipeluk saja, tapi dekapannya di tubuh Nayla membuat Elang merasakan nyaman yang luar biasa. Elang merasa di tempat yang seharusnya ia berada.


"Sampai kapan mau begini ?" Tanya Nayla.


Pada akhirnya Elang pun uraikan pelukannya walaupun ia merasa enggan. Elang beranjak dari ranjangnya dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Bahkan inti tubuhnya yang mulai kembali menegang itu dapat dilihat Nayla dengan jelasnya di dalam pencahayaan kamar yang temaram.


Nayla palingkan wajahnya yang terasa panas. Nafasnya kembali memburu. Ia membayangkan apa yang terjadi semalam. Pantas saja dirinya merasa begitu sakit seolah tubuhnya terbelah dua saat Elang menyatukan diri dengan sempurna untuk pertama kalinya. Nayla tak menyangka jika benda sebesar itu bisa memasuki dirinya.


"Ayo sayang, aku mandikan," ajak Elang.


Nayla merasa tubuhnya begitu luluh lantak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki Nayla berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Susah payah ia berdiri di atas dua kakinya yang masih gemetar karena sisa pertempuran semalam.


Hampir saja Nayla terjatuh, namun Elang segera berlari dan menahan tubuh istrinya itu. "Masih sakit ?" Tanya Elang dengan wajah cemasnya.


Nayla yang merasa malu hanya mengangguk pelan. Walaupun sebenarnya yang ia rasakan adalah lemas di kedua kakinya, sedangkan perih di inti tubuhnya tak begitu terasa.


"Maafin aku, Yang," sesal Elang entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Kamu duduk dulu, biar aku siapkan dulu air panasnya," lanjut Elang. Ia dudukkan tubuh istrinya di atas ranjang, sementara ia melesat ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas di dalam bathtub.


Cukup lama Elang lakukan itu, mengisi air dengan suhu yang sekiranya dapat membuat nyaman tubuh ringkih Nayla. Setelah dirasa cukup, Elang pun kembali ke kamar pengantin mereka dan memangku Nayla ala bridal style.


"Aaaww," pekik Nayla saat ia rasakan perih di inti tubuhnya yang terkena air.


"Maafkan aku, Sayang...," Lagi-lagi Elang meminta maaf penuh sesal. Rasa bersalah tak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya.


"Nggak apa-apa, mungkin setiap pengantin baru seperti kita pasti mengalami hal ini," sahut Nayla berusaha untuk menenangkan suaminya itu.


"Ini pertama kalinya untuk kita, lama-lama pasti terbiasa. Buktinya banyak pasangan yang mempunyai anak sangat banyak," lanjut Nayla lagi dan itu membuat Elang tertawa.


Elang tundukkan kepalanya dan mencium puncak kepala Nayla dengan penuh kasih sayang. "terimakasih atas pengertiannya," ucap Elang.


"Mmm... Kalau begitu aku boleh meminta hak aku lagi dong, Yang ?" Tanya Elang penuh maksud dan di balas dengan delikkan mata sengit oleh Nayla.


"Dari tadi minta maaf terus karena merasa bersalah tapi dikasih celah dikit langsung minta jatah," sindir Nayla.


Tawa Elang pecah seketika. "Jadi kapan aku boleh melakukannya lagi ? Aku sangat suka saat tubuh kita menyatu," Tanya Elang.


"Mmm nanti... Setelah aku merasa tak begitu lelah," jawab Nayla. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa senang karena dibutuhkan oleh Elang.


"Dan menurut pakar berc*nta itu adalah salah satu cara untuk mengungkap perasaan kita pada pasangan," lanjut Elang.


"Jadi jangan heran jika nantinya aku akan mengekpresikan rasa cinta aku sama kamu dengan cara seperti itu," ucap Elang seraya membelai lembut pipi Nayla.


Nayla yang mendengar itu langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Sudah terbayangkan bagaimana ganasnya Elang nanti saat mengekspresikan rasa cintanya.


***


Nayla masih bergelung dalam selimut tebalnya saat sarapan datang. Elang membiarkan istrinya itu untuk kembali tidur setelah mereka melakukan ibadah subuh bersama.


Nayla masih memejamkan mata dengan rambut panjangnya yang tak beraturan. Saat ini Elang tengah menatapi wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Ingin rasanya Elang membangunkan istrinya itu dan mengajaknya sarapan bersama karena Elang tahu tenaga Nayla yanga habis terkuras semalaman. Tapi ia merasa tak tega.


Yang Elang lakukan hanya ikut terbaring di sebelah tubuh sang istri sembari sesekali menciumnya gemas.


Kegiatan Elang yang sibuk mengawasi Nayla yang sedang tidur itu harus terganggu karena sebuah panggilan telepon yang ternyata dari Maminya.


Malas-malas Elang bangkit dan meraih ponselnya yang berasa di atas nakas. Lalu ia berjalan menjauh untuk menerima panggilan itu. Elang tak ingin suaranya menganggu tidur sang istri.


Elang pun menggulir layar dan menerima panggilan itu. "Ya, Mih ?" Ucap Elang saat panggilan itu terhubung.


"Kamu udah bangun, El ? Udah sarapan ?" Tanya sang Mami diujung telepon.


"Hu'um udah bangun lah Mih, makanya bisa jawab telepon Mamih," goda Elang pada ibunya itu.


"Dasar bocah !" Sahut Mami Elang sembari memutar bola matanya malas padahal sang anak tak dapat melihatnya.


"Aku udah bangun tapi belum sarapan,Mih. Mamih jangan khawatir, sarapannya diantar ke kamar," lanjut Elang.


"Mami gak khawatir sama kamu, tapi sama Nayla," potong sang Mami.


"Nayla udah bangun ? Udah makan ?" Tanya Mami Elang beruntun.


Elang tolehkan kepalanya melihat pada istrinya yang masih tertidur lelap. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal karena bingung harus menjawab apa pada maminya itu.


"Mmm.. udah Mi," jawab Elang bohong.


"Tapi Nayla belum makan juga. Dia lagi di kamar mandi," lanjut Elang sebelum Ibunya itu meminta berbicara pada Nayla.


"Ooohhh," sahut Maminya di ujung telepon.


"Kalian cek out besok kan ? Mau pulang ke mana ? Rencana bulan madu kalian masih 4 hari lagi ya ?"


"Ya, cek out hotel besok siang dan kayanya pulang ke apartemen Nayla sebelum kita terbang ke Bali untuk berbulan madu," jawab Elang.


"Bagaimana jika pulang ke rumah Mami saja dulu. Kasian Nayla pasti masih lelah untuk mengurus mu," tawar mami Elang.


"Mmm... aku tanya Nayla dulu ya,"


"Pokoknya Mami tunggu besok di Jakarta. Kalian pulang ke sini saja, masih banyak saudara juga yang berkumpul di rumah. Kasihan mereka datang jauh-jauh dari luar negeri," ucap Mami Elang tak ingin dibantah.


"Hmmm oke Mih," kata Elang menyetujui. Lalu ia pun mengakhiri panggilan dari ibunya itu.


"Siapa yang telepon ?" Tanya Nayla dengan suaranya yang terdengar serak. Ternyata ia terbangun karena mendengar percakapan Elang dengan ibunya di telepon.


"Mami, katanya besok kita harus pulang ke rumah Jakarta karena masih banyak saudara aku di sana. Kamu gak keberatan kan ?" Elang pun berjalan menuju istrinya yang masih berada di atas ranjang itu.


"Iya tentu saja tak apa-apa," jawab Nayla menyetujui.


"Ayo kita sarapan," Elang pun membawakan Nayla breakfast in bed. Tak lupa ada sebuah buket bunga mawar di sana.


"Ah lupa...," Ucap Elang.


"Lupa apa ?" Nayla berkerut alis tak paham.


"Lupa ini... Good morning, Wifey... I love you so much," ucap Elang seraya memberikan kecupan mesra di pipi Nayla. Hingga membuat pipi istrinya itu merona merah.


"Mor-morning," sahut Nayla yang masih saja merasa gugup jika Elang berlaku mesra padanya.


to be continued


jangan lupa tinggalkan jejak ya